Hari Ke-32 : Mudik Dilarang

Hari Ke-32 : Mudik Dilarang
Ilustrasi saja dan dijepret jauh sebelum wabah Corona terjadi

Mudik dilarang.

Begitu kata pengumuman dari Pak Jokowi kemarin.

Tidak semua sih karena seperti biasa dikasih embel-embel “dari dan ke” wilayah yang masuk kategori zona merah Covid-19. Artinya, kalau dari dan ke daerah yang tidak termasuk, mudik masih bisa dilakukan.

Iya kan?

Agak terlambat sebenarnya, kalau menurut pandangan saya. Sudah ada ratusan ribu orang yang mencuri start dan mudik sebelum pelarangan ini diumumkan. Semua ini artinya kemungkinan penyebaran Corona sudah terjadi dengan adanya raturan ribu orang yang sudah pulang ke kampung halaman.

Bukan saya saja loh yang berpendapat demikian, banyak orang juga melihat ketidaktegasan pemerintah dalam hal ini.

Mungkin pak Presiden dan jajarannya berpikir bahwa manusia-manusia Indonesia itu adalah orang yang taat dan patuh ndawuh pada pimpinan. Padahal, sebenarnya sih boro-boro.

Orang Indonesia itu ndableg. Egois. Tidak bisa patuh pada aturan kecuali aturan itu menguntungkan dirinya.

Coba saja perhatikan di jalanan. Rambu-rambu lalu lintas, jalur busway, dan banyak hal lain yang lebih sederhana, seperti memakai helm sudah diatur oleh yang berwenang. Kenyataannya, masih banyak sekali orang yang mengabaikan.

Padahal, aturan itu merupakan hukum dan ada sanksi kalau terjadi pelanggaran. Dan, banyak manusia Indonesia yang tidak mematuhinya, bahkan tidak jarang mereka berani melawan petugas dan marah-marah ketika ditertibkan.

Ingat peristiwa emak-emak marah-marah memaki polisi saat penertiban terjadi, bahkan, sampai ada yang menggigit.

Ini cerminan keegoisan banyak manusia Indonesia.

Itulah yang bikin heran sebenarnya. Masa sih pak Presiden dan anak buahnya tidak tahu watak masyarakat Indonesia yang seperti ini? Kenapa kok mereka sampai bisa memutuskan bahwa himbauan saja cukup untuk menahan jutaan orang melakukan mudik?

Ok-lah, pak Luhut, Menteri Kemaritiman, yang sekarang sepertinya menjadi menteri apa saja sekaligus jubir pemerintah mengatakan sebagai bagian dari strategi militer.

Cuma, berarti, militer seperti apa yang membiarkan jutaan orang musuh lewat dulu dan berpotensi menimbulkan “kerusakan” baru pintu ditutup? Saya pikir, apa yang dikatakan pak LBP ini sebenarnya merupakan “kamuflase” untuk menutupi kenyataan “pemerintah” mengambil kebijakan yang salah dalam hal mudik.

Himbauan tidak cukup.

Orang Indonesia harus dikerasi, baru ngerti.

Itupun tidak dijamin berhasil karena bisa diduga bahwa akan banyak orang Indonesia, yang ngeyel akan berusaha menemukan celah dan berbagai cara untuk bisa tetap mudik.

Kengeyelan orang Indonesia dilawan!

Ini juga ilustrasi saja di Stasiun Bogor 2 tahun sebelum Covid-19 tercipta

Tapi…

Tak apalah, wajar saja kalau pemerintah bikin salah. Namanya juga masih manusia semuanya. Justru, kalau tidak ada kesalahan, hal itu akan menakutkan, karena pemerintahan isinya berarti cuma malaikat, atau jin semua.

Wajar saja kalau ada kesalahan dalam penilaian dan pembuatan kebijakan.

Meskipun, sebenarnya agak terlalu banyak dalam kondisi krusial seperti sekarang. Bukan cuma pak Presiden, tetapi Kemenhub yang tetap mengizinkan ojol mengangkut penumpang sementara Kemenkes melarang. Belum ditambah, semua orang disuruh WFH atau libur, tapi Kemenperin memberikan izin industri beroperasi.

Kelihatan sekali kurangnya koordinasi dalam tim dan biasanya berujung pada blunder yang memperlihatkan timnya kurang kompak. Tidak saling dukung.

Agak terlalu banyak kesalahan yang bikin bingung rakyatnya sendiri.

Cuma, ya itu tadi. Karena isi pemerintahan masih manusia semua, hal itu pasti akan terjadi.

Apalagi kata orang “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”.

Dan, “Mudik Dilarang Bro & Sis!”.

Setidaknya sekarang pemerintah berani mengambil resiko mengecewakan dan membuat sedih jutaan orang.

Jarang-jarang yang seperti ini dilakukan. Biasanya sih pemerintah akan menghindari karena bisa buat jelek nama mereka. Kayak masalah setop KRL saja, mereka pilih tidak mau melakukannya karena tidak mau dikutuk puluhan ribu orang.

Jadi, wis, boleh lah dipuji keberaniannya.

Pastinya, imbasnya ada jutaan orang yang kecewa dan sedih. Bagaimanapun, mudik itu adalah ritual yang tidak sesederhana pulang ke kampung halaman saja. Mudik itu bagian dari penyegaran rohani bagi banyak orang.

Sebuah kebutuhan.

ilustrasi saja

Tidak heran jutaan orang Indonesia biasanya sudah merencanakan mudik jauh-jauh hari sebelumnya. Mereka merencanakan, menabung uang, beberapa bulan sebelum pelaksanaan.

Disana ada harapan, kerinduan, dan semangat.

Sesuatu yang mendorong mereka untuk terus berkarya dan produktif di tanah rantau. Mereka berharap dengan begitu suatu waktu mereka bisa merasakan kenikmatan bertemu dengan keluarga, menyapa handai taulan, bertemu teman masa kecil, merasakan lingkungan yang berbeda, merasakan makanan yang tidak biasa, dan banyak lagi.

Ada harapan untuk bergembira bersama melepas kepenatan dari kehidupan keseharian. Ada asa untuk terlepas dari kejenuhan dan kebosanan.

Mudik adalah penyegaran bagi rohani orang yang lelah.

Bukan hanya sekedar pergi ke kampung halaman.

Dan, sekarang dilarang.

Pasti banyak yang merasa dadanya sesak karena kecewa dan sedih. Harapan yang sebelumnya ada seperti dimusnahkan dalam sekejap.

O ya, memang alasannya sangat bisa dipahami oleh mereka yang mudik, mereka cukup sadar bahwa itu demi kebaikan bersama. Apalagi, pemerintah juga sudah memindahkan jadwal mudik ke bulan Desember, jadi tetap ada pengganti.

Tapi, tetap saja tidak sama. Mudik di bulan Desember tidak memiliki satu hal. Disana tidak ada nuansa Idul Fitri atau Lebaran yang ngangeni itu. Kenikmatan setelah berpuasa sebulan penuh dan ditutup dengan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, tidak ada di bulan Desember.

Pulang kampung tetap, tapi nuansa Lebarannya tidak ada.

Pastinya akan banyak yang merasa “kosong” kalau mudik seperti itu. Tidak beda dari sekedar liburan saja.

Oleh karena itu, tidak akan heran kalau masih akan ada orang Indonesia yang berupaya dengan seribu macam cara mennyiasati larangan mudik yang dikeluarkan pemerintah. Pasti banyak. Apalagi, tahu kan orang Indonesia itu ngeyel tingkat dewa?

Jangan heran kalau setelah tanggal 24 April nanti banyak berita tentang berbagai usaha mudik.

Bagi saya sendiri. larangan mudik itu tidak berarti apa-apa. Kepedulian saya terhadap mudik lebih pada imbas pada penyebaran Corona saja, tidak lebih dari itu.

Kalau mudik saat biasa, saya mah EGP orang mau macet-macetan di jalan saat mudik. Teman bukan, saudara bukan, kenapa harus dipikirin. Lagi juga mereka menikmatinya, lalu kenapa harus dipikirkan? Toh juga saya bukan bagian dari pemerintahan, lalu untuk apa buang waktu mikirin soal mudik?

Ketidakpedulian itu mungkin karena dua hal, dan itu pasti :

1. Karena saya sudah tidak punya orangtua dan mertua. Para beliau ini sudah berpulang. Jadi, tidak ada lagi tempat yang “wajib” saya datangi untuk melepas kerinduan terhadap mereka. Mudik saya lebih mungkin dilakukan setiap saat, karena hanya bisa berdoa untuk mereka saja.

2. Kalaupun mereka masih ada, jarak yang sangat dekat dari rumah membuat nuansa mudik tidak terasa. Jarak dari rumah ke rumah orangtua dan mertua masing-masing hanya 6 kilometer saja. Cukup dengan 15-20 menit naik motor atau mobil untuk sampai kesana. Tidak ada rasa “mudik” disana. Belum lagi eyang juga semuanya tidak ada.

Jadi, saya sudah hampir tidak pernah mikir mudik lagi sejak lama.

Yang membuat saya menjadi tertarik pada mudik kali ini, ya karena pelarangan tadi, dan Corona tentunya. Berani juga pemerintah akhirnya mengambil keputusan melarang sebuah tradisi besar di Indonesia.

Tinggal menunggu, apakah masyarakat Indonesia bisa patuh dan manut atau tidak saja. Maukah masyarakat Indonesia membuang keegoisan mereka dan tidak ngeyel demi kebaikan bersama?

Tetap ada keraguan di dalam hati tentang hal yang satu ini.

Karena saya orang Indonesia.

Bogor, 22 April 2020 (pagi hari setelah selesai menyapu rumah dan ngemil dikit)

Hari Ke-31 : Catatan Di Ujung Hari

Hari Ke-31 : Catatan Di Ujung Hari

Wow.

Sekali lagi wow.

Tidak menyangka saja bahwa ternyata hari ini saya bisa produktif juga. Dalam segala hal loh. Padahal, hari ini dimulai dengan sedikit tidak menyenangkan ketika menerima semprotan (makian) banyak orang via twitter yang tidak menyukai pandangan yang saya kemukakan.

Biasanya sih, yang seperti itu sudah bikin bete, suasana hati menjadi runyam dan suram, dan akhirnya produktivitas menurun dalam segala hal. Biasanya .. saya akan menghabiskan waktu untuk membalas makian tersebut dan kemudian terlibat dalam “pertempuran”.

Cuma, entah kesambet apa, hari ini, tidak timbul keinginan untuk bahkan membalas sedikitpun makian tersebut.

Mungkin sih karena saya sadar kalau yang seperti itu dibalas, hasilnya hanyalah debat kosong tak berguna yang memakan waktu saja. Tapi, yang lebih mungkin lagi, ya karena saya tahu kalau diladeni hasilnya hanya membuang waktu dan energi saja.

Tidak ada gunanya karena hanya sebagai pemuas ego saja.

Saya memilih setelah itu untuk mengalihkan pikiran dan tenaga pada hal-hal lain saja, yang dimulai dengan menjawab email pekerjaan (saya sudah WFH/Work From Home selama 1 bulan).

Dilanjutkan dengan menyapu, membersihkan rumah, menyemprot rumah dengan Dettol supaya setidaknya virus tidak mau mampir. Kemudian, menjawab email lagi. Menulis postingan untuk blog adalah selanjutnya. Menjawab email lagi, menulis posting lagi, dan terus.

Hanya diselingi dengan mengantar si Yayang, mantan pacar tersayang, untuk ke ATM, membeli jambu klutuk, belanja beras, susu, dan bahan pokok di Indomaret.

Tentunya, nggak lupa juga istirahat sambil menonton film dan makan (mumpung belum puasa).

Dan seterusnya begitu.

Sampai akhirnya, hari ke-31 masa WFH saya mendekati akhir.

Ternyata saya sudah menghasilkan 5 buah tulisan yang sudah diterbitkan di beberapa blog yang saya kelola. Lumayan juga untuk seorang yang sedang bete karena bosan dan cemas. Pekerjaan kantor juga sudah beres, dalam artian tidak ada masalah yang tertunda. Rumah juga bersih dan tidak lengket.

Produktif sekali.

Mungkin, besok dan besoknya lagi, saya akan meniru hari ini. Mau tidak mau, situasi masih akan terus berlanjut seperti sekarang, dimana saya masih harus terus #dirumahaja. Tetapi, saya rasa, sudah hadir solusi bagaimana mengatasi kebosanan dan kekhawatiran terhadap situasi membuat saya menjadi orang linglung dan bingung (sampai gangguin teman yang sedang kerja).

Saya akan coba mengalihkan energi yang sejak masa WFH  seperti tidak punya tempat penyaluran. Besok, lusa dan seterusnya, saya akan coba alirkan untuk melakukan atau memproduksi sesuatu, seperti misalnya menulis posting.

Dengan begitu, saya bisa produktif dan tidak menyia-nyiakan energi hasil makan sekedar hanya untuk melihat-lihat berita Corona, berantem di Twitter, atau menonton film saja. Rasanya terlalu sayang kalau hanya itu yang dihasilkan dari makanan yang saya telan.

Dan, yang pasti, saya tidak akan membuat teman terganggu hanya karena saya butuh teman ngobrol. Tidak enak juga rasanya.

Malu.

So, hari ini, hari ke-31 masa WFH akibat Covid-19 saya akan ditutup dengan terbitnya postingan ini. Walau, rasanya tidak akan ada yang baca, tetapi setidaknya bisa menyalurkan sedikit pemikiran yang ada di kepala, dan yang jelas, membuat saya semakin terlatih untuk terus berusaha produktif meski berada di rumah tidak bisa kemana-mana.

Bogor, 21 April 2020 saat jam komputer menunjukkan pukul 11.25 (malam pastinya).

Hari Ke-31 : Disemprot Banyak Orang

Hari ke-31 dimulai dengan menerima “semprotan” dari banyak orang, pengguna Commuter Line/KRL di Twitter.

Salah sendiri sih membuka si medsos berlambang burung saat ke meja makan untuk sarapan. Kalau tidak pastinya tidak akan tahu ada yang ngomel-ngomel atau marah-marah karena terusik dengan cuitan kemarin.

Tapi, apa daya. Melihat perkembangan dalam hal Covid-19, dimana terlihat sekali masih banyak masyarakat yang berkeliaran, tangan gatel juga untuk tidak memberikan opini atau pandangan.

Sayangnya, seperti biasa, sudut pandang yang saya pakai adalah hal yang tidak umum dan kerap bertentangan dengan pandangan banyak orang.

Saya memutuskan untuk mendukung usul dari para Pemerintah Daerah di kawasan Jabodetabek dihentikan sementara dan bukan lagi pembatasan.

Alasannya yah karena sebagai orang Indonesia, saya sendiri sadar betapa masih rendahnya kesadaran masyarakat kita untuk berdisiplin. Di tengah-tengah kecamuk wabah yang semakin hari semakin menakutkan, tetap saja terlihat kerumunan banyak orang di stasiun-stasiun kereta.

Bete melihatnya.

Sudah dihimbau berulangkali untuk #dirumahaja atau #WFH, tetap banyak yang membandel. Bukan cuma perorangan, tetapi juga institusi bisnis yang tetap memaksakan beroperasi meski tidak termasuk dalam sektor yang dikecualikan.

Jadilah, saya terusik juga.

Bisa diduga sebelum twit dikeluarkan bahwa hal itu akan mendapat respon negatif dari banyak orang, terutama mereka yang masih harus terpaksa pergi ngantor. Tidak akan diterima dengan senang hati oleh orang-orang yang merasa kepentingannya akan terganggu.

Hanya saja, di tengah masa krisis seperti sekarang, penanganan secara umum dan terlalu longgar seperti aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) seperti yang diambil pemerintah, menurut pandangan saya tidak akan menuntaskan masalah. Penyebaran Corona akan terus terjadi dan korban berjatuhan.

Masyarakat Indonesia tidak bisa diberi hati, dalam artian hanya diberikan himbauan saja. Buktinya di jalan-jalan, setiap harinya, kalau hanya diberikan himbauan akan peringatan, banyak orang tidak akan mematuhi aturan. Mereka akan terus melanggar karena merasa bangga bahwa mereka bisa lolos dari sanksi.

Itulah kenapa langkah drastis dan lebih keras harus diambil kalau mau masalah yang ada tuntas.

Memang, pasti ada dampak negatifnya, terutama terhadap pergerakan manusia, dan pada akhirnya pada perekonomian banyak orang. Tapi, langkah manapun yang diambil tetap akan memberikan konsekuensi dan imbas negatif pada banyak orang.

Tinggal resiko mana yang mau diambil. Langkah penyetopan KRL akan menghantam banyak orang, tetapi penyebaran Covid-19 akan berkurang drastis dengan turunnya jumlah kerumunan orang. Sebaliknya, langkah hanya “membatasi” akan tetap membuka ruang untuk penyebaran, meskipun secara ekonomi banyak orang akan tetap bisa mencari nafkah.

Pada akhirnya, saya memilih mengutarakan #StopKRL di Twitter. Toh tetap dijalankan, perekonomian sudah terdampak berat. Sudah banyak orang harus diPHK akibat wabah ini. Semakin lama masa ini berlangsung, semakin berat dampak terhadap kehidupan banyak orang, semakin banyak pula orang yang akan menjadi korban.

Ekonomi hanya terlihat berjalan, tetapi pada akhirnya juga akan terganggu ketika jumlah korban tidak lagi bisa ditangani.

Dengan menyetop KRL, dalam satu waktu imbas itu akan terjadi. Ribuan orang akan terganggu penghidupannya, tetapi, sumber yang berpotensi membantu penyebaran akan terputus. Wabah bisa segera ditangani.

Setidaknya, itu berdasarkan pemikiran saya.

Cuma, memang pemerintah punya pertimbangan lain. Mungkin mereka tetap berharap bahwa masyarakat Indonesia bisa diatur dengan mudah, Corona akan segera menghilang dengan sendirinya, dan ekonomi bisa tetap berjalan.

Mungkin, mereka juga tidak mau mendapat tekanan dari masyarakat dan lebih suka bermain aman dalam situasi sekarang.

Entah yang mana alasannya, yang jelas hasilnya berbeda dengan pandangan saya.

Yang pasti, pagi ini, saya merasakan disemprot dan dimarahi banyak orang. Walau, orang-orang itu tidak tahu bahwa saya justru merasa senang melihat kemarahan mereka seperti ini.

Selain karena tidak ada salahnya berbeda pendapat, juga karena setidaknya saya bisa mengusir sejenak kebosanan yang pasti akan datang ketika hari menjelang siang.

Satu hal lagi yang harus saya hadapi di hari ke-31 WFH.

Bogor, 21 April 2020 (4 hari menjelang bulan Ramadhan)

Hari Ke-30 WFH : Bosan Tidak Ketulungan

Hari Ke-30 WFH : Bosan Tidak Ketulungan
Cap Go Meh Bogor 2017

Sebenarnya tidak jelas juga apakah memang hari ke-30 atau hari ke-31. Seingetku sih hari ke 30, tetapi bisa jadi juga sudah satu hari lebih banyak.

Maklum saja kepala selama WFH atau bekerja dari rumah semakin lama terasa semakin tumpul.

Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya bahwa bekerja di rumah itu pasti enak karena bisa santai, bisa sambil berkumpul bersama keluar.

Memang enak sih. Bisa bangun lebih siang dan tidak perlu terburu-buru harus mengejar kereta Commuter Line. Tidak perlu berdesak-desakan dengan penumpang lain. Tidak perlu juga kaki pegal karena selalu tidak dapat duduk.

Enak.

Masalahnya, tetap saja berada di dalam rumah terus menerus membuat semua terasa jenuh. Pikiran seperti tidak bisa fokus dan tumpul sekali.

Kalau sebelumnya terbayang bisa bekerja sambil menulis di blog, ternyata tidak demikian hasilnya. Seringnya waktu hanya dihabiskan untuk browsing kesana kemari, terutama situs situs berita mencari berita tentang Corona terbaru. Tidak jarang juga bermain hape dan membuka website yang sama juga.

Padahal, secara teori banyak waktu sekali untuk menghasilkan tulisan untuk update blog.

Ada beberapa tulisan yang dihasilkan tetapi jauh dari target dan sasaran.

Yang paling sering terjadi, selain berburu berita adalah mengutak-atik template blog. Penampilan blog sejak masa WFH terlihat selalu banyak kekurangannya. Padahal, saya sendiri sudah tahu bahwa setiap template pasti tidak akan bisa memuaskan dan penuh dengan kekurangan, tidak bedanya dengan manusia.

Mungkin tumpulnya otak di kepala disebabkan oleh kebosanan yang semakin hari semakin menumpuk. Tidak ada teman untuk diajak berdiskusi. Tidak bisa bercanda bersama tetangga. Tidak juga merasa bebas.

Entah sampai kapan juga wabah ini akan berakhir.

Karena terus terang, kalau dibiarkan seperti ini, kebosanan yang memuncak bisa menjadi masalah tersendiri. Belum ditambah dengan semakin majalnya kepala untuk berpikir pasti akan menyulitkan ketika harus kembali bekerja di kantor.

Bukan sesuatu yang menyenangkan.

Bogor, 20 April 2020