P.H.K.

Kasihan.

Nggak terasa sambil memandang ponsel ada rasa trenyuh dan sedih di dalam hati. Tarikan nafas agak panjang terpaksa dilakukan karena tidak terhindarkan rasa sesak membaca bagaimana sang Covid-19 menghasilkan badai PHK yang menghancurkan mata pencaharian jutaan orang di Indonesia.

Melo kata anak millenial. Sentimentil kata generasi 70’an. 

Mungkin, memang begitulah saya.

Kata PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja, kapanpun dan dimanapun, akan selalu berhasil membetot saya untuk bernostalgia sejenak ke masa lalu, masa ketika si Kribo Cilik masih berusia 4 tahun, tahun 2006. Masa dimana saya merasakan dunia seperti kelam dan kecemasan dan kekhawatiran pernah begitu pekat hadir dalam kehidupan kami.

Tahun itu, tepatnya Agustus 2006, saya di-PHK.

Gonjang-ganjing dalam tubuh manajemen, perseteruan antara investor asing dan lokal di perusahaan tempat saya bekerja mencapai puncaknya. Perusahaan dinyatakan tutup “mendadak”. Pemberitahuan diterima ketika kami sedang berakhir pekan yang membuat kegalauan tingkat tinggi tiba-tiba menyeruak dalam kehidupan kami.

Walaupun, saya sebenarnya sudah menyadari bahwa ending seperti itu adalah sesuatu yang “hampir pasti” terjadi, tetap saja berita itu seperti hantaman godam yang sangat keras. Berat untuk diterima.

Mungkin, karena pada saat itu, saya berharap terlalu banyak. Baru dua tahun sebelumnya, saya memutuskan meng-kredit rumah agar kami tidak perlu lagi menjadi kontraktor, yang harus tinggal di rumah sewaan yang bukan milik kami. Belum lama saya begitu menikmati rumah baru kami, yang meski kecil dan sangat sederhana terasa berbeda dengan rumah kontrakan. Rumah itu milik kami meski sertifikatnya masih dipegang bank sampai cicilan lunas.

Tutupnya perusahaan itu sama dengan seperti tutupnya sumber pemasukan yang dipakai membayar cicilan rumah tersebut. Yang artinya, sesuatu yang sedang sangat kami nikmati terancam sekali keberadaannya.

Kegalauan terus bertambah kalau memandang si Kribo Cilik yang sedang lincah-;incahnya dan sedang begitu menikmati rumah odong-odong miliknya. Ia begitu senang bermain di rumah sendiri dan menjulukinya dengan nama kendaraan tua dan bobrok yang masih dipakai di beberapa daerah kota Bogor. Julukan itu dilekatkannya kepada rumah kami yang waktu itu sebenarnya belum begitu layak karena masih banyak bagian yang perlu diperbaiki.

Si Kribo tetap saja senang dan gembira berlarian kesana kemari di halaman depan atau belakang yang masih berupa tanah. Ia tidak mengeluh meski kalau hujan turun, ia dan ibunya akan repot memasukkan kompor ke dalam rumah karena belum ada dapur. Pembayaran uang muka rumah dan cicilan bulanan, membuat hampir tidak ada dana tersisa untuk menambahkan dapur ke rumah kecil kami.
Untungnya, si Kribo tidak mempermasalahkan, ia begitu menikmati suasana baru rumahnya sendiri.

Dan, itulah yang membuat rasa kelam saat itu bercokol dalam hati. Haruskah saya terpaksa harus membuatnya kehilangan semua itu? Kebahagiaan memiliki “sesuatu” yang miliknya sendiri. Kegembiraan yang baru sebentar dirasakannya?

Tidak kalah berat rasanya ketika memandang wajah ibunya si Kribo, dimana kekhawatiran terlihat meski tidak terucap. Berbagai pertanyaan timbul, “Menyesalkah ia meninggalkan pekerjaannya ?” Yang paling menakutkan adalah “Mampukah saya tetap membahagiakannya?” Ia sudah berkorban banyak demi keluarga kami dan bukan sesuatu yang menyenangkan kalau saya tak mampu memenuhi janji saya kepadanya.

Berbagai pikiran kelam bermunculan bak jamur di musim hujan.

Dunia saya terasa suram seiring datangnya tentang keputusan PHK yang pasti akan terjadi.

Suasana muram seperti ini sempat menghadirkan masalah lain. Ketegangan, kekhawatiran, dan kecemasan dalam hati memang tidak terucap, tetapi semua tidak bisa disembunyikan.

Si kribo cilik sempat sebentar terasa menjauh. Ia yang biasa nemplok dengan manja di punggung kemanapun kami pergi, sempat ngambek dan tidak mau melakukan kebiasaannya. Rupanya segala unsur negatif, kekhawatiran dan kemarahan  yang berusaha disembunyikan tertangkap oleh radar bersih si kecil. 

Saya membuatnya takut, meski tidak mengucapkan apa-apa. Ia merasakan berbagai kesuraman yang ada di hati saya.  Mungkin roman muka saya saat itu begitu “gelap” sehingga ia merasakan amarah dan rasa geram itu.

Untungnya, dan disanalah saya merasa begitu beruntung memiliki seorang istri, yang meski tidak kalah kuatirnya dengan situasi yang ada, tetap memberikan semangat dan menemani, tanpa banyak bicara. Ia tidak memaksa saya mengungkapkan apa yang tidak mau saya ceritakan, ketakutan dan kekhawatiran. Ia sudah cukup mafhum bahwa suaminya sedang berada dalam zona “perang”.

Ia hanya selalu berkata, setiap hari, “Tenang mas, Insya Allah, Tuhan akan memberikan jalan”. Tidak henti dia mengatakan itu. Sesuatu yang pada akhirnya tetap membuat saya bertahan dalam situasi yang berat seperti itu.

Dan …

Apa yang dikatakannya memang terbukti.

Allah SWT memberikan kami jalan, sekaligus memperlihatkan bahwa tidak selamanya “yang buruk” membawa keburukan.

PHK itu memang “buruk”. Menyebabkan ketidakpastian. Hanya, rupanya, setelah melalui proses negosiasi antara serikat pekerja dan manajemen, ada satu keputusan yang membuat dunia tidak begitu suram lagi. Masih penuh ketidakpastian, tetapi, senyum saya bisa kembali sedikit, walau rasa kuatir tetap ada.

Pesangon.

Negosiasi selama sebulan ternyata membawa hasil, kesepakatan berujung pada persetujuan bahwa setiap pegawai akan diberikan pesangon 2 x Kesepakatan Kerja Bersama dan dibayarkan penuh segera setelah disepakati.

Dengan uang itu, ternyata, kami bisa melunasi rumah cicilan kami. Bahkan, masih ada sisa uang kami pergunakan untuk membuat dapur dan membeli kendaraan.

Yang  terpenting, saat itu, si Kribo tidak perlu kehilangan rumah odong-odong kesayangannya. Ia bisa tetap tinggal dan menikmatinya.

Tidak berapa lama, kekhawatiran lainnya pun segera sirna. Sebuah telpon dari perusahaan tekstil lainnya mengundang saya datang untuk wawancara. Entah darimana mereka mendapatkan nama saya, tetapi wawancara berjalan mulus. Tidak berapa lama kemudian, mereka juga mengabari bahwa saya bisa segera bergabung.

Semua hal yang saya takutkan seperti dihembus angin kencang dari surga. 

Kami mendapat jalan untuk bertahan dan terus melangkah maju.

Tidak berarti rasa kuatir hilang begitu saja. Efek dari PHK sendiri masih bercokol dan kecemasan, ketegangan tetap masih ada hingga beberapa tahun ke depan, dan bahkan saat ini. Meskipun demikian, saat itu kesuraman yang menghantui keluarga kami seperti awan terhembus angin.

“We will survive”.

Memang, ternyata jalan kemudian masih panjang dan penuh gelombang. Saya masih harus berpindah kerja 2-3 kali lagi sebelum sampai di perusahaan dimana saya bekerja sekarang. Salah satu diantaranya harus mengalami bersepeda motor setiap hari antara Bogor – Tangerang (lebih dari 100 kilometer setiap hari) selama 2 tahun.

Tapi, kehidupan kami beranjak maju dan terus berkembang sampai menjadi seperti sekarang.

Meskipun demikian, pengalaman PHK inilah yang hingga sekarang tetap saja akan selalu berhasil menggiring pikiran saya sejenak ke masa lalu. 

Masa dimana kehidupan kami pernah masuk fase yang begitu suram dan gelap. Masa dimana sepertinya tidak ada masa depan untuk kami.

Masa dimana kami belajar sesuatu bahwa tidak ada sesuatu yang abadi. Masa yang sama memberi pelajaran penting bahwa jangan hanya bergantung menjadi karyawan saja. Masa yang memperlihatkan betapa pentingnya memiliki seseorang yang mau menemani bukan hanya di kala suka, tetapi di kala kesuraman melanda.

Masa yang mengajarkan dan membuat kami menjadi lebih dewasa dari sebelumnya.

Masa yang membawa kami sejauh ini.

Masa yang hari ini kami syukuri pernah terjadi dan kami alami.

Bogor, 08 Juni 2020

Si Kaku – Edisi Ganti Foto Profile

“Kaku banget sih pak!”, celetuk si Kribo. “Santai dikit kenapa? Mah, coba lihat si bapak nih, bener-bener kaku banget!”, begitu tambahnya.

Kemarin, Sabtu 6 Juni 2020, memang hari spesial bagi saya. Sejak jadi blogger hampir 6 tahun yang lalu, belum sekalipun saya membuat foto untuk dipasang sebagai foto profile di berbagai blog yang saya kelola. Biasanya foto profile hanya diambil dari foto yang ada dan kemudian dicropping. 

Tidak heran kalau foto profile yang terpasang kesannya asal-asalan. Ada yang tidak kelihatan muka, ada yang kelihatan tapi nggak jelas. Ada yang dipotong dari foto bertahun-tahun yang lalu, ada juga foto yang sebenarnya diambil saat tes pemotretan saja.

Poko’e, foto profile saya selama ini amburadul lah, tidak sesuai dengan prinsip marketing.

Baru kemarin, secara khusus saya meminta pada putra kesayangan kami itu untuk melakukan satu sesi pemotretan, khusus untuk membuat satu foto profile yang agak kerenan dikit.. Iseng aja sih sebenarnya, sekalian supaya si Kribo tidak ngerem terus di kamar. Biar dia juga punya proyek kecil selain main game saja.

Kebetulan memang si Kribo sudah cukup mahir dalam fotografi dan karyanya sudah lumayan dipercaya di lingkungan sekolah, maupun teman-temannya. Kalau tidak salah, bahkan, beberapa panitia sekolah lain pun sudah melakukan pemesanan jasa pemotretan dari dia dan kawan setimnya. Minggu lalu, si Kribo cs merubah garasi menjadi studio dadakan untuk pemotretan produk kopi literan.

Jadi, kenapa tidak?

Tidak butuh lama, ruang tamu menjadi kacau balau seperti kapal pecah oleh akibat ulah si brekele. Kursi dan meja digeser, dinding dipasang lembaran hitam vinyl untuk latar belakang, karpet depan TV ditumpuk memberi ruang untuk tripod dan lighting.

Muka saya diberi bedak oleh si yayang berdasarkan saran si kribo. Kumis dan jenggot digunting dan bukan dikerok dengan Gillette. Baju putih disiapkan dan disetrika supaya kontras dengan latar belakangnya.

Saya dipersiapkan menjadi model.

Ribet dah.

Cuma masalah terbesar hadir saat berada di depan kamera. Situasi yang berbeda dari kebiasaan dimana saya berada di belakang kamera, bukan di depan. Pusing kepala bahkan untuk sekedar mengikuti arahan gaya dari si kribo.

Tangan agak ke kiri, saya malah ke kanan. Badan condong ke kanan, saya ke kiri. Kepala nggak bisa mikir harus tampil seperti apa di depan kamera. Nggak jarang niatnya muka dibuat serius, yang keluar cengiran karena pengen ketawa.

Sudah diserius-seriusin, pas si kribo menekan shutter release, cengiran keluar.

Sumpah dah, susah jadi model. Jadi tambah kagum saya sama model yang bisa menerjemahkan ide fotografer dalam bentuk bahasa tubuh dan gaya. Sangat tidak mudah ternyata. Ruwet.

Yang paling bikin ketawa dan nyengir, ya pada saat si kribo dan ibunya tiba-tiba menjadi kompak berkata, “Dasar orang kaku, susah!”. 

Yah, sangat tidak salah dalam hal ini. Sebagai seorang pemotret juga, saya paham sekali kalau karakter seseorang memang tercermin juga dalam gaya saat dipotret. Kepribadiannya akan tertangkap kamera apa adanya. Kamera kerap merekam sisi kepribadian seseorang dengan begitu gamblang tanpa disadari.

Kesulitan yang saya alami saat menjadi model dadakan anak sendiri saja menunjukkan bahwa di saat tertentu, karakter yang saya miliki itu menjadi hambatan. Saya tidak luwes dan tidak kreatif di dalam kondisi seperti itu.

Apa mau dikata.

Kekakuan saya terasa sekali, meski hanya di depan keluarga sendiri.

Tapi, ya itulah saya.

Senangnya adalah melihat dua orang kesayangan saya bisa kompak meledek saya. Mereka sudah sadar kalau saya orang yang kaku, tetapi melihat perwujudan “kekakuan” itu dalam bentuk nyata, rupanya menimbulkan rasa geli juga bagi keduanya.

Saya pun ikut nyengir karena tidak bisa membayangkan bagaimana hasil fotonya nanti melihat ekspresi keduanya.

“Bakalan seperti apa nih hasilnya?”, itu pikiran yang timbul saat masih disorot lampu lighting. Bagaimana penampilan foto profile saya nantinya kalau pemotretnya saja tertawa lebar karena senang mendapat kesempatan “ngerjain” bapaknya?

Apalagi saya tahu tone kesukaan si kribo saat memotret adalah versi dark mode atau cenderung ke sisi gelap.

Tidak terbayangkan juga.

Hasilnya?

Foto Profile yang baru

Dari sekian banyak foto yang dijepret, si kribo hanya memilih satu saja. Saya juga tidak butuh banyak, satu sudah cukup.

“Not bad?” Silakan nilai sendiri.

Buat saya sendiri, foto profile yang baru ini akan terpajang di berbagai blog kepunyaan saya untuk beberapa tahun ke depan. Sampai saya ingat lagi saat fotonya sudah tidak bisa mewakili lagi.

Bogor, 7 Juni 2020

Sekretaris RT Bawel Bin Galak

Itulah saya.

Memang begitulah adanya. Saya adalah seorang pengurus RT dengan jabatan sekretaris di RT 008 RW 09, Bukit Cimanggu City, Kel. Mekar Wangi, Kec. Tanah Sareal, Kota Bogor, 16168.

Untuk ketiga kalinya, sejak cluster perumahan itu terbentuk, saya melakoni tugas sebagai seorang pengurus lingkungan. Masa tugas sekarang akan segera berakhir dalam beberapa minggu ke depan karena sudah diemban sejak tahun 2017.

Jangan tanya soal menyenangkan atau tidak karena mengurus warga itu sendiri tidak semudah yang dibayangkan. Padahal, dalam lingkungan dimana saya tinggal hanya ada 70 kepala keluarga saja. Segitu saja sudah bikin kepala nyut-nyutan dan tegangan sering tinggi.

Nggak kebayang ruwetnya pakde Jokowi ngurus ratusan juta orang.

Selama “menjabat” (keren banget yah istilahnya), sejak masa jabatan saya yang pertama, sampai yang ketiga yang sebentar lagi habis, bisa dikata saya terkenal sebagai orang paling bawel, keras kepala, dan galak. Kalau ada pembaca blog Maniak Menulis, yang juga saya asuh, pastinya akan bisa membayangkan seperti apa karakter saya karena memang tidak banyak beda.

Ceplas ceplos. Apa yang ada di pikiran biasanya langsung diungkapkan. Tidak peduli kalau omongan saya bisa bikin orang tersinggung, kalau didasarkan fakta dan yakin akan kebenarannya, saya akan sampaikan.

Keras kepala karena seringkali sulit untuk diyakinkan oleh pandangan orang kalau tanpa dasar yang jelas. Azas “suara mayoritas adalah suara Tuhan” tidak pernah menjadi anutan kalau yang mayoritas tidak bisa memberikan argumen dan landasan berpikir yang jelas.

Galak. Tidak peduli warga, tidak peduli sesama pengurus, bahkan tidak peduli Ketua RT-nya sekalipun, kalau tidak bisa bertindak sesuai aturan dan yang diharapkan, si sekretaris ini akan langsung menegur tanpa tedeng aling-aling.

Tidak heran banyak warga yang memilih “mingkem”, diam, dan sunyi senyap kalau sekretaris RT sudah keluar berkomentar terhadap satu situasi di lingkungan. Mungkin, mereka pilih cari aman daripada harus dipaksa berargumen.

Saya sendiri tidak heran kalau kemudian ada yang memandang bahwa sekretaris RT galak dan menyebalkan. Justru, kalau ada yang berpikiran berkebalikan dari itu, saya akan merasa heran. 

Sejak awal menerima penugasan ini, saya sadar bahwa semua tim butuh orang menyebalkan yang tidak peduli dengan pandangan orang. Butuh badak yang nggak peduli kanan kiri dan terus nyeruduk. Butuh orang yang akan dikecam orang lain, tapi bisa memastikan hambatan yang ada bisa diterobos.

Biasanya, tidak ada yang mau menjadi orang seperti ini. Tidak mau menjadi orang yang dipandang jelek oleh orang lain. Semuanya biasanya senang “bermain aman” atau “jaim (jaga image)”. 

Cenderungnya, kalau semua memilih cara ini, banyak masalah akan tertunda, terhambat, tidak selesai. Semua menjadi stagnan dan tidak ada kemajuan.

Sebuah tim, sebuah masyarakat, akan selalu butuh mereka yang berani menanggung resiko. Sebuah mesin tidak akan bergerak kalau tidak ada orang yang mau berkotor ria membersihkan dan merawatnya. Mesin butuh montir yang belepotan oli dan bukan mereka yang hanya sekedar duduk memberi perintah.

Fungsi itulah yang sejak awal sudah disadari.

Fungsi kerja kotor. 

Kerja Bakti, Bukit Cimanggu City, 2017

Kepada warga, saya memaksa mereka keluar dari kenyamanan rumah dan mau ikut memperhatikan lingkungan. 

Sebelum saya kembali bertugas, warga dininabobokan dengan kebiasaan menyuruh petugas keamanan untuk mengurus segala sesuatu, bahkan untuk meminta Surat Pengantar kepada RT saja, mereka menyuruh petugas yang melakukannya.

Hal itu saya paksa untuk kembali ke asal. Siapa yang butuh, dia yang harus datang sendiri. Lagipula, dengan datang sendiri ke sekretariat atau Ketua RT hal itu akan membantu terbangunnya komunikasi antara pengurus dan warga.

Jadi, saya suruh petugas keamanan menyampaikan kepada warga yang menyuruh agar menemui saya langsung. Kemudian, saya berikan pengumuman di WA grup warga bahwa siapapun yang hendak mengurus administrasi kependudukan, dia harus datang sendiri. 

Beberapa kali petugas keamanan tetap datang karena disuruh warga, dan saya suruh kembali dan saya tekankan bahwa itu bukan tugas mereka.

Via WA Grup yang sama, beberapa hari yang lalu saya menyentil ke seluruh warga saat persiapan Pergantian Pengurus. 

Selama masa tugas saya, tidak sedikit kritik, keluhan, hingga ceramah dan kuliah dari warga tentang bagaimana seharusnya mengelola sebuah RT. Tapi, ketika ditanyakan siapa yang mau menjadi pengurus berikutnya, semua diam seribu basa atau menolak.

Hasilnya adalah sentilan atau tamparan dari saya, karena saya mempertanyakan, “Kenapa selama ini bisa kritik, protes, mengeluh, dan bahkan menguliahi cara menata lingkungan yang baik, tetapi saat diminta membuktikan teorinya tidak mau? Tidak sinkron antara mulut dan tindakan” Saya sampaikan hal itu secara terbuka kepada warga.

Kepada sesama pengurus pun, saya keras. Jika tidak sesuai aturan, saya tidak ragu untuk menegur dan mempermasalahkan, bahkan di depan umum sekalipun. Tidak sekali dua kali Ketua RT mendapat semprotan dari saya karena keputusan yang diambilnya tidak sesuai aturan atau jika dia hanya menyampaikan info tanpa melakukan pengecekan untuk mengetahui rincian dan detailnya.

Berulangkali, saya mengejar dan memaksa Ketua RT keluar dari zona nyamannya, yang slow, lamban, kurang kreatif, dan tidak inisiatif. Bukan sekali dua kali, saya menegur bendahara karena lupa melaporkan posisi keuangan dan terlalu sibuk mengurusi pegawai.

Bagian yang lain pun tidak luput dari berbagai bawelan yang keluar dari saya.

Ada yang tersinggung?

Pasti.

Tamparan-tamparan seperti itu tadi, pasti akan membuat ada yang merasa sebal dan kesal kepada saya. Tidak akan ada orang yang senang diperlakukan demikian.

Sebuah resiko yang harus diambil.

Masalah pandangan orang kepada saya bukanlah sesuatu yang harus menjadi pikiran. Memang sih, bagi si yayang, kadang hal itu menjadi masalah sendiri karena dia tidak rela suaminya dipandang menyebalkan padahal seringnya kesalahan dilakukan oleh yang lain. Seringkali ia melarang saya untuk terlalu frontal dan keras kepala.

Kompromi mas. Ngalah. Udah diem aja. Itu pesan-pesan yang masuk kepada saya dari orang tersayang saya itu.

Cuma suaminya ndableg. Ngeyel. Keras kepala. Nggak mau nurut.

Bagi saya yang terpenting adalah tugas jalan, masalah selesai, dan warga akhirnya bisa menikmati. Pandangan negatif terhadap saya bukanlah masalah saya, itu masalah yang punya pandangan. Kenapa saya harus peduli? Selama sesuai aturan dan bisa dipertanggungjawabkan, ya saya jalan terus.

Yang penting pengurus RT bisa menjalankan tugasnya dan berkontribusi bagi lingkungan.

Silakan saja kalau ada yang mendapat nama harum dan baik akibat itu, saya juga tidak ambil pusing. Malah bagus berarti ke-pengurusan masa ini berjalan dengan baik. 

Dan, tidak masalah jika julukan sekretaris RT bawel bin galak tetap melekat pada diri saya.

Saya terima dengan senang hati.

Meski ternyata, bendahara justru menyampaikan bahwa beberapa ibu-ibu justru menilai beberapa tamparan yang saya berikan lewat WAG memiliki kebenaran. Banyak warga juga menilai apa yang saya lakukan justru diperlukan untuk mengubah dan memperbaiki lingkungan.

Sesuatu yang membesarkan hati. Rupanya cukup banyak warga juga yang bisa melihat tujuan dari sebuah pernyataan atau tindakan. Mereka bisa menilai secara logis berdasarkan data dan fakta. Respon mereka juga justru menjadi positif dalam bentuk pernyataan atau tindakan.

Sesuatu yang memang saya harapkan.

Saya tidak akan pernah bisa mendapatkan semua. Sebagian warga yang menjadi termotivasi dan merasa tergerak sudah lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Pada saatnya, kesadaran itu akan penting bagi lingkungan dimana kami tinggal, baik kini atau di masa depan.

Memang, ada ongkosnya. Saya harus menjadi orang yang “menyebalkan”, tetapi bila hal itu bisa menghasilkan kesadaran dan keterlibatan warga dalam memperbaiki lingkungan, saya rasa ongkosnya murah sekali.

Tidak mahal.

Walau untungnya, masa menjadi Sekretaris RT yang GALAK akan segera berakhir. Satu juli 2020 nanti, masa tugas saya selesai, dan saya bisa kembali menjadi warga yang diurus oleh pengurus. 

Apakah mau lagi menjadi pengurus RT di masa datang? Entahlah. Tidak tahu. Saat ini rasanya capek sekali ngurus warga itu.

Saya ingin istirahat dulu.

Untuk ke depan, bagaimana nanti saja.

Gengsi Vs Harga Diri ?

Gengsi Vs Harga Diri
Commuter Line, 4 Juni 2020

Hari ketiga masa WFOD (Work From Office Deui – Kerja Dari Kantor Lagi). Masih di atas Commuter Line pagi ini.
Tidak kebagian tempat duduk (lagi). Rupanya nasib baik hanya pada hari pertama saja, hari berikutnya keadaaan seperti sudah kembali normal, yaitu saya harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.
Belum kereta berangkat, tiba-tiba seorang Petugas Keamanan Dalam mencolek bahu sambil berkata, “Pak, kursi prioritas kosong”. Kursi prioritas itu ditujukan bagi empat kategori penumpang, yaitu ibu hamil, ibu membawa balita, penyandang cacat, dan lansia (lanjut usia).
Hadeuh.

Niatnya jelas baik karena PKD KRL Jabodetabek ini memang sekarang proaktif membantu penumpang agar nyaman naik kereta. Memang kebetulan, seperti foto di atas ada kursi lowong di jajaran kursi prioritas.
Mungkin, sang PKD melihat rambut saya yang sudah penuh dengan uban. Tidak heran , dia beranggapan bahwa saya sudah “manula” atau lansia. Jadi, dia menyarankan saya untuk menempati kursi kosong itu.
Saya hanya mengangguk sambil berterima kasih atas tawarannya, tetapi saya tidak berjalan ke arah kursi tersebut. Saya memilih tetap berdiri sampai ke tujuan akhir, stasiun Gondangdia.
Mungkin, banyak orang yang akan berpendapat saya bodoh tidak mau memakai kesempatan untuk “tidak capek dan pegal”. Banyak yang melakukannya dan bahkan tidak sedikit yang berebut menuju kursi prioritas meski mereka bukan termasuk 4 kategori penumpang tersebut. Kadang, ada yang rela pura-pura tidur ketika yang berhak meminta.
Tapi…
Saya sudah memutuskan untuk tidak memakai kursi prioritas, bahkan ketika kursi tersebut kosong sekalipun, saya akan membiarkannya tetap kosong saja.
Bukan karena gengsi….
Hanya harga diri saya tidak mengizinkan saya melakukan hal itu. Meski tidak lagi muda, saya masih mampu berdiri dan beraktivitas secara normal. Tidak cacat sehingga memerlukan bantuan. Tidak juga hamil (yang tidak mungkin saya alami). Tidak punya anak balita juga.
Sudah pasti saya tidak masuk kriteria orang yang berhak menduduki kursi itu.
Memakai kursi prioritas bagi saya sama saja seperti membiarkan diri memakai hak orang lain. Sesuatu yang tidak bisa saya benarkan.
Saya akan selalu membiarkan kursi prioritas kosong.
Bahkan, kalau saya mendapat tempat duduk biasa sekalipun, saya akan berbagi dengan penumpang di depan saya. Biasanya sampai stasiun Lenteng Agung atau Pasar Minggu saya akan berdiri dan mempersilakan penumpang di depan untuk duduk..
Saya tahu capeknya berdiri dari Bogor sampai Jakarta Kota, jadi kalau bisa berbagi kenapa tidak. Masing-masing akan bisa menghemat tenaga untuk dipergunakan bagi keperluan lain.
Saya terpikir, jika suatu waktu nanti saya memasuki usia lansia, sangat mungkin, saya akan tetap menolak untuk duduk di jajaran kursi prioritas. Saya akan menemukan cara dan jalan agar saya tidak menggunakan kursi tersebut.
Bagaimanapun, Allah memberi saya akal dan pikiran untuk memecahkan sebuah masalah. Lalu, mengapa harus bergantung pada kebaikan dari orang lain.
Sangat bersyukur pula, pemikiran yang sama ada di kepala si yayang dan si kribo kecil.
Yang pertama, wanita yang sudah menemani saya selama 19 tahun,  pernah menolak duduk di kursi prioritas saat bepergian bersama ibu-ibu tetangga. Ia merasa itu bukan haknya karena ia bukan manula.
Apalagi, Si kribo cilik yang sudah tidak kecil lagi . Ia dengan tenaga mudanya untuk duduk di kursi umum saja sering tidak mau kalau bepergian naik kereta.
Kami terbiasa menjadi orang yang sulit menerima sesuatu. Bukan karena gengsi tetapi karena 3 ajaran dari orangtua kami, yang mungkin kolot, tapi kami percaya membawa kebaikan. Ketiga ajaran itu adalah bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah” dan “di dalam rejekimu ada rejeki orang lain”, serta “jangan pernah ambil sesuatu yang bukan hakmu”.
Bagi kami bertiga, yang seperti itu adalah bagian dari harga diri kami dan tidak akan dikompromikan.
Jakarta, 4 Juni 2020

Hari Pertama Yang “Menarik” : Padahal Sama Saja

Menarik : Padahal Sama Saja
Commuter Line Jakarta Bogor, 2017

Deg-degan.

Agak parno juga sebenarnya mengingat kondisi yang berdasarkan berita di berbagai media.

Cuma, apa mau dikata, perintah dari pemilik perusahaan, si Bos adalah tanggal 2 Juni 2020, Selasa, semua sudah harus masuk kantor seperti biasa. Jadi, demi periuk nasi keluarga, maka hari ini menjadi hari “pertama” bekerja di kantor kembali setelah selama hampir 3 bulan menjalani masa WFH (Work From Home) alias bekerja di rumah.

Kenyamanan rumah kembali terpaksa ditinggalkan. Demi sesuap nasi dan segenggan berlian.

Tidak terhindarkan rasa cemas dan khawatir hinggap karena sudah terbayangkan dua pilihan yang menyebalkan harus dipilih.


Yang pertama naik Commuter Line alias si KRL, murah meriah tapi karena penggunanya banyak, pasti bejubel . Physical distancing atau jaga jarak yang merupakan senjata terampuh melawan Corona menjadi sebuah tantangan tersendiri.

Yang kedua membawa mobil sendiri, yang memang lebih aman dalam hal mencegah si Covid-19 menempel pada diri sendiri, tetapi menimbulkan bahaya bagi dompet, waktu dan kaki. Besar sekali ongkos bensin dan tolnya, ditambah dengan kemacetan yang sudah hinggap lagi di Jakarta setelah beberapa waktu sempat menghilang, dan tentunya kaki pasti akan nyut-nyutan menginjak gas di tengah kemacetan nantinya.

Tidak ada pilihan yang enak dan aman.

Mungkin, inilah yang namanya dilema. Tidak ada yang menyenangkan untuk dipilih.

Cuma, mau tidak mau, salah satu harus dijadikan pilihan.

Dan, keputusan akhir, Commuter Line yang terbaik.

Deg-degan pasti.

Cemas wajib.

Masker dan cadangannya (sampai 4 buah). Hand sanitizer berkadar 70% alkohol. Bekal makanan masakan si yayang supaya tidak perlu keluar kantor untuk membeli. Sarung tangan lateks dipakai dan beberapa lembar di dalam tas.

Tentunya tidak lupa dengan laptop inventaris kantor yang selama ini setia menemani masa WFH dalam tas.

Mirip seperti serdadu mau berangkat ke medan perang dan kalau dipikir memang begitulah. Biar kata Pakde Jokowi, Pak Presiden, kita harus hidup berdamai dengan sang maha virus, saya tidak yakin sang virus mau berdamai. Jadi, saya harus membawa perlengkapan pertahanan yang cukup supaya tidak terkena.

Dan, berangkatlah saya ke kantor.

Dag dig dug nggak keruan ketika si Supra Fit meluncur menuju stasiun.

Tapi…

Entah kenapa, tidak begitu lama rasa khawatir dan deg-degan itu bercokol dalam hati. Begitu melewati jalan kecil bernama jalan Pendidikan atau Kayu Manis di belakang kompleks, saya merasakan sebuah rasa yang membuat sebuah sunggingan senyum hadir.

Excited.

Tertarik.

Senang.

Gembira.

Padahal, tidak ada yang baru. Jalan itu, dan juga Commuter Line sudah puluhan tahun saya lewati setiap harinya. Tidak ada yang “menarik”.

Cuma, pagi ini semua terlihat menarik.

Bahkan, ketika masuk kereta Commuter Line yang “lapang” dibandingkan yang biasa saya temui sebelum masa WFH, situasi menjadi lebih menarik. Tidak ada lagi wanita cantik dan jelek, semua terlihat sama. Maklum, semua memakai masker jadi yang terlihat hanya mata saja, jadi susah dibedakan yang cantik dan yang jeleknya.

Semua juga terlihat sangat waspada.

Tidak ada tawa keras seperti biasanya. Yang ada hanya kesenyapan karena semua seperti sibuk dengan urusan masing-masing. Semua berusaha menjauh. Terlihat banyak yang kurang nyaman kalau ada yang mendekat.

Efek Corona terlihat jelas dalam perubahan tingkah laku.

Jakarta pun sebenarnya masih sama saja. Cukup sibuk meski tidak sesibuk saat dunia masih normal. Ojol tetap saja masih sama seperti opang yang penuh orang ngeyel tak mau mengenakan masker dan tetap saja lebih suka bergerombol. Mungkin mereka pikir, gerombolan mereka yang kerap membuat takut bahkan politisi bisa menakuti si Covid.

Semua masih sama saja.

Jalan yang saya lewati dari stasiun Gondangdia ke gedung E-trade pun tetap sama. Tidak ada perubahan.

Hanya, semua hari ini terlihat “menarik”.

Segar rasanya bertemu dengan sesuatu yang sebenarnya “sama saja”.

Saya cukup sadar ini efek sementara saja. Tidak akan berjalan lama. Ini hanyalah efek dari terlalu lama di dalam rumah dan tidak bisa kemana-mana ala WFH. Kebosanan yang menumpuk lah penyebab rasa menarik itu timbul.

Hampir bisa dipastikan tidak berapa lama lagi, kebosanan akan kembali menyergap dan menyelinap ke dalam hati.

Tidak akan terhindarkan bahwa rasa tertarik ini akan kembali lenyap.

Tapi, mungkin saya juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Hampir 50 tahun hidup di bumi mengajarkan saya untuk menikmati apa yang ada di depan mata dan tidak perlu berpikir terlalu jauh. Biasanya kalau kita berpikir terlalu jauh, kita tidak akan bisa menikmati hari ini dan pada akhirnya tidak bisa bersyukur.

Jadi, saya memutuskan untuk menikmati saja “rasa tertarik” yang ada di hati hari ini sebelum ia menghilang. Setidaknya dengan begitu saya bisa merasa kesenangan dan kebahagiaan dalam situasi suram bin muram. Dengan begitu pula, saya bisa merasa bersyukur atas segala kenikmatan yang diberikan kepada saya dan keluarga.

Setidaknya, kalau rasa tertarik hari ini pergi, saya tahu saya akan menemukan hal-hal menarik lainnya dari kehidupan yang sebenarnya sama saja dan sering dianggap “membosankan” oleh saya sendiri.

Mungkin itu juga salah satu berkah tersembunyi yang diberikan Yang Maha Kuasa lewat sang Covid-19.

Bogor, 2 Juni 2020