biasa tidak biasa 3

Biasa Tidak Biasa

Hal yang biasa saja, tetapi selalu, setiap hendak ke kantor atau sepulangnya, mata saya selalu melirik ke perempatan Jalan Wahid Hasyim dengan Jalan Johar. Arahnya pasti ke arah traffic light, karena pasti saja ada sesuatu yang membuat saya mengelus dada atau menggelengkan kepala. Pasti saja ada yang menerobos lampu merah, menunggu di tengah jalan (bukan di belakang lampu merah), atau sejenisnya.

Pemandangan yang biasa dan masyarakat sekitar juga tidak merasakan hal yang aneh. Bahkan, mereka kerap terlibat di dalamnya. Namun, selalu sulit bagi saya untuk menerimanya. Tidak seharusnya hal seperti ini.

Teringat si Yayang yang dulu harus mengantar si Kribo ke sekolah dengan sepeda motor. Pernah satu kali, saya menegur wanita kesayangan saya itu. Sebabnya, si Kribo melaporkan bahwa karena macet, ibunya naik dan berkendara di trotoar.

Meskipun saya sayang sekali kepada si Yayang, tetapi saya menegur dan meminta untuk tidak mengulangi tindakan tersebut. Saya tidak mau membiasakan sesuatu yang tidak seharusnya dianggap biasa sebagai sesuatu yang biasa dan bisa dilakukan tanpa rasa bersalah. Pelanggaran lalu lintas tidak seharusnya dipandang sebagai hal biasa saja.

Itulah mengapa saya mengelus dada setiap hari melihat apa yang diperlihatkan dalam foto yang saya beri judul “biasa tidak biasa”

(Jakarta, 30 September 2022)

Ndableg

Sudah tahu tidak bakalan bagus hasil jepretannya karena kamera OPPO A3s di tangan banyak sekali kekurangannya apalagi saat memotret dalam ruangan yang kurang cahaya.

Cuma, yang namanya orang ndableg, ya tetap saja iseng mencoba menghasilkan sesuatu yang menarik saat bersama kawan sekantor makan bareng di Hotel Indonesia (Kempinski).

Biar tidak bagus hasilnya, bahkan menurut saya sendiri, tapi lumayanlah buat sedikit catatan untuk hari ini.yang penuh dengan tawa dan canda. Memori yang suatu hari nanti, setelah pensiun akan saya kenang sambil tersenyum.

(Jakarta, 29 September 2022, Hari Kamis)

Aslab

Foto hasil jepretan sembunyi-sembunyi, bukan oleh saya, tetapi dari si kribo.

Lewat grup WA kami bertiga, si Kribo, si Yayang, dan saya, ia membagikan hasil foto yang menggambarkan kegiatan perkelasan di kelas Fotografi dan Digital Imaging, Fakultas Komunikasi dan Bisnis – Ilmu Telekomunikasi, Universitas Telkom hari ini.

Ada senyum di wajah. Banyak rasa bangga tiba-tiba nongol di dalam hati, meski perhatian sedang ke arah invoice yang harus dibuat.

Bocah semata wayang kami, yang dulu suka nemplok di punggung saya, sekarang sudah bisa menjadi aslab (asisten lab) dan mendampingi dosen memberi kuliah.

Tidak banyak kata, selain, bersyukur, Bocah kami sudah berkembang sejauh ini. Merasa senang bahwa saya bisa dikata orang pertama mengenalkan dan mengajarkannya tentang fotografi dan kamera.

Dan, saya yakin, si Yayang di rumah, pasti juga merasakan hal yang sama dengan saya saat ini.

(Jakarta, Rabu, 28 September 2022)