Keliling Jabodetabek Motret Stasiun

Boleh kok tertawa dan menertawakan. No problem karena buat banyak orang bakalan terdengar lucu dan parah banget, tetapi memang saya sangat ingin melakukannya, sehingga anggaplah ini cita-cita, dan sampai saat ini belum terealisasi.

Cita-citanya, sebenarnya lahir karena saya anker / anak kereta, suka fotografi dan ngeblog, adalah mengunjungi setiap stasiun yang ada di rute Commuter Line atau KRL Jabodetabek.

Di setiap stasiun itu, saya ingin melihat dan kemudian merekam setiap sudutnya dengan kamera, dan kemudian menceritakannya kembali melalui blog.

Itu saja.

Keinginan ini muncul karena saya setiap hari melihat dinamika kehidupan di stasiun, kereta, dan banyak lagi. Menarik banyak keindahan di dalamnya, meski bagi banyak orang terlihat monoton dan membosankan.

Namun, saya tahu bahwa di dalamnya banyak cerita dan kisah yang menarik. Cerita tentang manusia.

Oleh karena itu, setidaknya, saya ingin memperlihatkan sebagian sisi kecil dari kehidupan para anker di tiap titik pertemuan antar manusianya, stasiun.

Iya kan? Setidaknya saya ingin memperlihatkan titik dasar dimana manusia yang saling tak dikenal bertemu, berjalan bersama, dan kemudian berpisah.

Cita-cita yang seharusnya mudah dan murah. Ongkosnya tidak seberapa. Bahkan tidak akan mencapai sekali terbang ke Singapura atau Bali.

Caranya juga sudah tahu banget, mengingat saya anker selama 30 tahun. Rutenya sudah hapal.

Masalahnya cuma satu, waktu dan tenaga. Berbagai kesibukan membuat keinginan yang sebenarnya sederhana ini belum juga terealisasi.

Kalau dilakukan sepulang kerja, tidaklah mungkin karena saya butuh istirahat dan keinginan pada saat itu sudah tidak ada sama sekali. Kalau di hari libur, selain butuh rehat, belakangan ini juga saya agak disibukkan dengan membantu si Kribo mengelola bisnisnya.

Kalau ada waktu kosongpun, kadang si Yayang butuh refreshing dan harus ditemani saya.

Jadi, belum ada slot waktu yang benar-benar kosong untuk saya bertualang, berkeliling Jabodetabek dan merealisasikan cita-cita kecil ini.

Mungkin, nanti setelah pensiun waktu itu akan tersedia, meski belum tentu juga yah.

Tapi setidaknya saya akan mengusahakan untuk merealisasikan cita-cita kecil ini.

Someday.

Di Jendela Commuter Line

Boleh tertawa kalau mau, tetapi dasarnya memang kepala tidak mau berhenti mikir bahkan saat berdiri dalam Commuter Line, si KRL Jabodetabek pagi ini sesuatu di jendela membuat saya iseng mikir.

Sesuatu itu berupa stiker yang banyak menempel di jendela KRL, yang isinya “Apabila terjadi keadaan darurat, jendela dapat diturunkan (dibuka) untuk evakuasi keluar

Yang membuat kepala tiba-tiba mikir adalah karena kebiasaan para penumpang kereta, ketika AC tidak berfungsi dengan baik, dan mereka kegerahan, biasanya jendela akan diturunkan.

Nah, pertanyaannya, “Apakah kegerahan termasuk keadaan darurat?” Catatannya, ketika AC mati dan di dalam kereta gerahnya minta ampun, penumpang jelas masih dapat bernafas dengan baik.

Logikanya, kalau dianggap keadaan darurat pun, artinya setelah jendela diturunkan seharusnya penumpang keluar dari kereta dan dievakuasi. Begitu setidaknya interpretasi dari tulisan tersebut karena fungsinya adalah evakuasi keluar.

Pertanyaan yang pastinya akan dijawab banyak penumpang dengan pembenaran bahwa mereka berhak membuka jendela ketika AC tidak berfungsi. Alasan utamanya adalah susah bernafas, walau sepertinya tidak mungkin karena saat mengatakan itu biasanya mereka normal saja, tidak ada tanda mau pingsan, dan hanya merasa gerah saja.

Tidak ada situasi darurat yang membahayakan jiwa sama sekali.

Biarpun orang zaman sekarang terlalu terbiasa hidup dengan AC, kepadatan penumpang masih jauh dibandingkan dulu. Kemungkinan orang mati karena kegerahan itu kecil sekali.

Jadi, sepertinya ada perbedaan definisi “darurat” di sini. PT KCI mungkin berpandangan dalam kasus kecelakaan, kebakaran, atau yang lain yang membahayakan nyawa, jendela bisa dibuka. Sudah pas karena memang hal itu umum dimanapun.

Namun, definisi penumpang adalah ketika mereka kegerahan, itu sudah darurat.

Mungkin, penumpang masa sekarang sudah terlalu manja sehingga versi daruratnya sudah sampai tahap itu.

Itulah mengapa saya tidak pernah mau diminta membuka kereta, walaupun AC mati dan tidak berfungsi. Karena saya tidak berpikir berada di dalam bahaya yang mengancam jiwa, dan karena itu jendela KRL harus tetap dalam kondisi tertutup.

Kegerahan tidak termasuk standar darurat versi saya.

Paling hanya misuh-misuh saja yang saya lakukan.

Tiga Sepatu

Saya punya tiga sepatu. Empat sebenarnya, tetapi yang satu meski masih ada sudah akan dibuang karena sudah robek di salah satu sisinya. Entah kenapa si Yayang belum juga membuangnya.

Yang pertama, harganya 250 ribu-an. Yang satu lagi, dibeli lewat Tokopedia sekitar Maret yang lalu dengan harga 100 ribu-an.

Yang terakhir, hadiah ulang tahun dari dua orang tersayang di bulan ini. Yang termahal karena, walau mereka tidak mau menyebutkan harganya, mencapai 1 juta rupiah.

Wow.

Buat saya memang harga segitu untuk sepatu memang “wow”,

Selama hidup yang sudah 55 tahun ini, itulah sepatu termahal yang pernah saya punya. Sebelumnya, semua sepatu yang saya punya harganya di bawah 500 ribu rupiah.

Tidak ada alasan spesifik mengapa demikian, tetapi saya memang tidak terlalu peduli pada merek. Yang penting ada alas kaki yang bisa digunakan untuk bepergian.

Soal kenyamananpun, bukan masalah juga karena saya orang yang percaya bahwa ketika hati menerima dan nyaman, maka apapun akan terasa nyaman pula.

Jadi, saya tidak peduli dengan harga ataupun terpengaruh untuk merek.

Hanya saja, si Yayang dan si Kribo punya pandangan lain. Mereka berdua ingin saya, yang selama ini mencari nafkah juga bisa menikmati hasil jerih payahnya. Mereka tahu bahwa saya berjuang untuk kenyamanan mereka dan sering tidak peduli pada diri sendiri.

Keduanya memutuskan, kado ultah kali ini, harus lebih memberikan kenyamanan kepada saya. Dan, mereka sempat ngomel ketika saya tidak mengenakan sepatu kado itu.

Hari ini, dan sudah beberapa hari dilakukan, saya menjadikan sepatu terakhir itu sebagai favorit dan sisanya sebagai cadangan saja. Kalau tidak terpaksa , sepatu cadangan tidak akan bertugas.

Dan, memang sepatu itu nyaman sekali dan setiap memakainya saya merasakan ada rasa senang.

Tapi, saya tahu, itu bukanlah karena harganya. Banyak sepatu lain yang harganya berkali-kali lipat dari yang saya pakai saat ini. Juga bukan karena sepatu itu harganya adalah termahal dari yang pernah dimiliki.

Alasannya karena dalam sepatu ini ada perhatian dan rasa sayang dari dua orang terpenting dalam kehidupan saya.

Lebay mungkin kata orang, tetapi itulah yang saya rasakan dan sering membuat saya tersenyum saat berjalan.

I am happy.

Pagi Di KRL, Hari Ini – Senin 24 Nopember 2025

Eh, entahlah apa masih bisa disebut pagi-pagi karena saya naik KRL atau si Commuter Line yang berangkat dair Cilebut 07.10. Bagi saya sendiri, jam segitu sebenarnya sudah agak siang.

Tapi, sekedar cerita saja. Niatnya, karena ini hari Senin, saya mau memasang earphone dan kemudian mendengarkan musik selama perjalanan menuju kantor.

Cuma, ujungnya, ternyata saya berdiskusi dan memberikan instruksi di grup WA Tanabumbu, cafe yang pengelolaannya diserahkan kepada kami minggu lalu.

Banyak hal yang harus dikerjakan dan membuat situasi minggu yang lalu hectic buat saya dan tim LB Digital. Dan, banyak hal yang masih harus ditemukan solusinya.

Hasilnya, ya itu tadi. Niatnya agak bersantai sebelum gaspol di kantor, eh ternyata sudah harus mikir dan sibuk lebih awal. Lumayan banyak juga yang bisa dihasilkan selama perjalanan.

Tapi, kalau dipikir lagi, setidaknya saya menjadi produktif selama di KRL dan tidak gabut. Jauh lebih menyenangkan daripada hanya bisa bengong menatap meja.

Oleh karena itu, saya berharap bahwa ke depannya, lebih banyak hal seperti itu hadir di pagi hari. Dengan begitu waktu kosong tersebut menjadi terisi dan menghasilkan sesuatu.

Kalau tidak, ya mungkin, saya akan kembali aktif ngeblog di atas KRL, setiap pagi. Karena yang jelas, saya sangat tidak suka bengong.

Ngapain Saja Setiap Weekend?

Pinginnya, saya setiap hari Minggu pagi adalah leyehan di depan tipi sambil nonton, entah drakor atau Youtube, atau bahkan membiarkan tipi menonton saya karena ketiduran.

Begitulah inginnya. Sebenanrya keinginan itu bukan hanya khusus hari Minggu, tetapi juga “weekend” alias termasuk hari Sabtu.

Bukankah memang pemberi kerja, alias si kantor tempat bekerja memberikan hari itu supaya karyawannya bisa refreshing dan kembali bekerja dengan segar di hari Senin?

Sayangnya, entah memang sudah takdir saya, atau memang karena saya yang tidak bisa diam, Sabtu dan Minggu, bukanlah hari libur dimana bisa 100% leyehan saja.

Ujungnya biasanya, yang saya lakukan adalah kalau tidak beberes rumah yang berantakan, terutama sejak menjadi kantor si Kribo. Ya, mengantar kumendan rumah, si Yayang pergi keluar rumah, entah ke rumah adik-adiknya atau bahkan ke mall.

Bagaimanapun, si Yayang juga butuh hiburan dan refreshing karena selama 5 hari tiap minggu dia akan standby di rumah/kantor. Jadi, saya harus meluangkan waktu agar ia bisa mendapatkan sedikit hiburan, sebelum kembali ruwet dengan pekerjaan rumahnya.

Sekarang situasinya malah lebih hectic dan ruwet.

Karena saya, bersama si Kribo, dan kawan-kawannya adalah satu tim dalam LB Digital, bisnis yang kami jalankan. Keputusan dari mereka akan mempengaruhi liburan saya.

Beberapa hari yang lalu, mereka memutuskan menerima tantangan untuk mengelola sebuah cafe di kawasan Dramaga, Bogor. Namanya Tanabumbu atau Tanbu.

Bukan hanya mengelola pemasaran saja, tetapi bahkan diharap menjadi inti dalam pembangunan cafenya menuju launching, dan kemudian mengelolanya.

Sebuah bidang yang sebenarnya berada di luar zona bisnis yang dilakukan. Namun, karena kami berprinsip, kesempatan tidak datang dua kali, tawaran tersebut diterima dengan tangan terbuka.

Jeleknya, hal itu akhirnya merubah Sabtu dan Minggu yang sebelumnya hari “libur” bagi saya (dan sudah dipotong sejak ada LB Digital), menjadi hari “kerja” juga. Di hari dimana kebanyakan orang leyehan, saya masih harus banyak berpikir, membuat catatan, menganalisa, memberi instruksi, memberi pelatihan, dan banyak hal lainnya.

Kedua hari santai itu sekarang sudah menjadi hari yang hectic juga. Tidak beda dengan Senin sampai Jumat dalam kehidupan saya.

Ruwet.

Namun, saya tidak menyesali perubahan akhir pekan yang seharusnya hari santai menjadi hari kerja.

Saya tahu itu hanyalah sementara saja. Ketika si Kribo dan timnya sudah semakin berpengalaman dan makin pandai, penanganannya akan menjadi tanggung jawab mereka.

Ketika saat itu tiba, saya bisa kembali menikmati akhir pekan seperti biasa lagi. Tidak lagi akan se-rusuh ini. Saya menargetkan bahwa dalam 1-2 tahun ke depan LB Digital sudah akan berjalan lancar dan mendapatkan penghasilan yang banyak karena timnya semakin pandai, berpengalaman, dan ditunjang oleh klien yang banyak.

Dengan begitu, di saat itu, si Kribo dan kawan kawannya sudah lebih mapan dari berbagai segi kehidupan, termasuk penghasilan.

Nah, barulah setelah itu kami bisa menjadi kakek dan nenek yang menikmati sisa hidupnya dengan tenang. Setiap hari akan dibuat menajdi akhir pekan yang santai dan menyenangkan.

Bukan karena bisnisnya yang sudah berjalan, tetapi lebih karena putra kesayangan kami, saat itu berarti sudah bisa berdiri sendiri. Dengan begitu tugas kami sebagai orangtua “selesai” karena ia sudah akan bisa berjalan sendiri dalam kehidupannya, mandiri.

Walaupun, setelah dipikir lagi, sepertinya tidak akan semudah itu ketika memandang blog ini dan beberapa lainnya. Mereka sudah menunggu untuk dikelola kembali.

Jadi, sepertinya, setelah si Kribo bisa berjalan dengan baik, saya masih akan sulit untuk menjadikan setiap hari adalah akhir pekan karena rencananya memang saya akan kembali menjadi blogger setelah pensiun. Tidak mungkin lah bisa leyeh leyeh tiap hari.

Mana ada blogger yang begitu.

Tapi, sepertinya tetaplah Sabtu dan Minggu bisa dijadikan kembali ke fungsinya, sebagai hari libur dan bersantai.

Mudah-mudahan saja terealisasi. (Dengan nada tidak yakin, karena saya menemukan bahwa semua hal ini terjadi karena saya yang “tidak bisa diam” dan santai. Itulah alasan kenapa si Yayang kadang mengomeli dan mengingatkan untuk “tidak terus mikir”, sesuatu yang susah saya kerjakan)