Biasa Tidak Biasa

Hal yang biasa saja, tetapi selalu, setiap hendak ke kantor atau sepulangnya, mata saya selalu melirik ke perempatan Jalan Wahid Hasyim dengan Jalan Johar. Arahnya pasti ke arah traffic light, karena pasti saja ada sesuatu yang membuat saya mengelus dada atau menggelengkan kepala. Pasti saja ada yang menerobos lampu merah, menunggu di tengah jalan (bukan di belakang lampu merah), atau sejenisnya.

Pemandangan yang biasa dan masyarakat sekitar juga tidak merasakan hal yang aneh. Bahkan, mereka kerap terlibat di dalamnya. Namun, selalu sulit bagi saya untuk menerimanya. Tidak seharusnya hal seperti ini.

Teringat si Yayang yang dulu harus mengantar si Kribo ke sekolah dengan sepeda motor. Pernah satu kali, saya menegur wanita kesayangan saya itu. Sebabnya, si Kribo melaporkan bahwa karena macet, ibunya naik dan berkendara di trotoar.

Meskipun saya sayang sekali kepada si Yayang, tetapi saya menegur dan meminta untuk tidak mengulangi tindakan tersebut. Saya tidak mau membiasakan sesuatu yang tidak seharusnya dianggap biasa sebagai sesuatu yang biasa dan bisa dilakukan tanpa rasa bersalah. Pelanggaran lalu lintas tidak seharusnya dipandang sebagai hal biasa saja.

Itulah mengapa saya mengelus dada setiap hari melihat apa yang diperlihatkan dalam foto yang saya beri judul “biasa tidak biasa”

(Jakarta, 30 September 2022)

Leave a Comment