Handuk Di Pagar Rumah Kosong : Bukan Punya Kami

Foto lebih dari sebulan yang lalu, sebelum blog ini dibuat dan sebelum rumah dalam foto menjadi rumah sementara kami.

Waktu itu mikirnya, kenapa foto ini dibuat adalah karena handuk yang tergantung di pagar rumah kosong ini sebenarnya kurang enak dilihat. Entah siapa yang memasang, tetapi tidak seharusnya ia menjemurnya disana.

Pagar bukan jemuran. Terlebih lagi, rumah itu bukan haknya, karena meski pemiliknya tidak ada, tidak berarti haknya berpindah ke tetangga dan siapapun tetap tidak bisa menggunakan rumah itu tanpa izin darinya.

Lagi juga tidak enak dilihat.

(Bogor, 7 Juli 2019, di rumah kontrakan sekretaris RT yang sedang sarapan ubi. Jam menunjukkan pukul 08.22)

Penggunaan Sistem Zonasi Langsung Memberikan Perbedaan – Kata Si Kribo Cilik

Si kribo cilik, yang sekarang badannya sudah lebih tinggi dari bapaknya, pulang dari sekolah dan langsung misuh-misuh. Ia salah seorang anggota OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) yang aktif

“Anak-anak baru sekarang parah-parah. Masa ada yang datang dengan rambut dicat. Ada juga yang disuruh buka jaket, terus dibuka, tetapi pas masuk ke sekolah dipakai lagi”, begitu omelan si semata wayang kesayangan kami.

Kami tersenyum.

Dan, kami jelaskan, itulah salah satu bentuk efek dari sistem zonasi yang baru saja diterapkan dalam bentuk utuhnya.

Semua orang dari berbagai kalangan bisa masuk sekolah yang berada dekat dengan lokasi dimana mereka tinggal. Hal ini menyebabkan sistem penyaringan siswa menjadi lebih longgar. Tidak lagi dibatasi oleh nilai hasil ujian.

Sistem sebelumnya menyaring siswa yang diterima adalah yang berhasil mendapatkan nilai hasil ujian yang memenuhi passing grade. Biasanya mereka yang bisa menembusnya berasal dari kalangan “terdidik” dan “mampu” dalam eknomi. Keluarga dari lingkungan yang seperti ini biasanya lebih perhatian terhadap gaya hidup, tata krama, dan sopan santun.

Dengan dihapuskannya sistem penerimaan siswa baru seperti ini, batasan ini terhapus. Semua anak bisa bersekolah di sekolah negeri/favorit. Terlepas dari kalangan mana mereka berasal. Yang mengajarkan anaknya tata krama atau tidak, bukan menjadi masalah. Jadi, sekarang dengan sistem zonasi, semua berbaur dalam satu lingkungan sekolah yang baru.

Itulah efek pertama yang pasti dirasakan dalam sebuah sekolah.

Siswanya menjadi lebih beragam dan bervariasi.

Sesuatu yang memang akan menjadi tantangan tersendiri. Baik bagi para guru atau mereka yang berhubungan langsung dengan siswa baru ini, termasuk si kribo.

Dan, karena kami mendukung penerapan sistem zonasi ini, kami memberikan pengertian bahwa itulah tantangan si kribo cilik sebagai kakak kelas.

Ia harus bisa memberikan contoh dan mengajak adik-adik kelasnya agar bisa mengikuti jejak dan langkah yang sudah ia lakukan selama dua tahun terakhir.

Kami bilang, ia harus bisa menjadi pemimpin yang sebenarnya. Yang bukan hanya pandai bergaul dan mengajak adik-adik kelas yang pandai dan penurut, tetapi juga harus bisa membawa mereka yang berasal dari luar kalangan itu untuk bisa maju bersama.

Karena itulah sejatinya seorang pemimpin yang baik.

Dan, itulah yang kami harapkan pada diri si kribo suatu masa nanti. Oleh karena itu, kami mendorongnya untuk bersikap sebagai pemimpin dengan menemukan cara mengatasi adik-adik kelasnya dan membawa mereka ke kebaikan.

Bukan dengan misuh-misuh. Karena misuh-misuh, ngomel, ngedumel, bukanlah ciri dari seorang pemimpin.

(Bogor, Bukit Cimanggu City, 6 Juli 2019 setelah bangun tidur, dan jam komputer menunjukkan angka 14.38)

Bagaimana Rasanya Tinggal Di Bogor Kerja Di Jakarta

Stasiun Gondangdia, 5 Juli 2019 pukul 17.10

Itu bukan pertanyaan saya, tetapi entah siapa namanya mengajukan pertanyaan itu di Quora. Situs tanya jawab yang membuat orang malas berpikir dan mencari informasi sendiri. Mereka lebih suka bertanya dibanding mencoba menemukan jawabannya sendiri.

Soalnya, pertanyaan seperti ini sih tidak perlu ditanyakan. Jawabannya berbeda satu orang dengan yang lainnya. Bahkan pengalaman satu orang saja bisa berbeda dari tahun ke tahun.

Nggak percaya? Coba saja misalkan tahun 2019 kerjanya masih sebagai pegawai dan kudu (harus – bahasa Sunda) kerja naik Commuter Line atau bus, kemudian tahun 2022 sudah jadi direktur yang dijemput dan disopiri.

Pasti beda rasanya, iya kan? Sebenarnya kalau yang bertanya mau mikir dikitttt ajah…jawabannya ketemu, dan dia nggak perlu bertanya yang seperti itu.

Tapi, untung juga sih ada yang mengajukan pertanyaan kacau seperti itu, jadi saya punya kerjaan di atas CL yang sedang melaju membawa saya ke rumah, tempat dua orang tercinta.

Daripada bengong dan pikiran melayang nggak tentu arah, saya bisa menulis sedikit di blog baru yang masih bau kencur dan minyak kayu putih ini.

Silakan bayangkan nulis di blog dalam kondisi kereta yang padat seperti ini..hayoo mo coba nggak?

Eniwey baswei, jawabannya, BIASA SAJA TUH. Maklum sudah lebih dari 25 tahun saya menjalani kehidupan sebagai anker atau anak kereta. Bahkan. kalau dihitung sejak masa kuliah tahun 1989, berarti sudah 30 tahun kehidupan saya akrab dengan si ulat besi. Cuma waktu kuliah, cuma sampai Depok, alias Pondok Cina saja. Waktu itu, dapat rejeki menjadi anggota “The Yellow Jacket” atau si “Jaket Kuning”.

Sudah terbiasa dan  beradaptasi dengan lingkungan di perjalanan atau di kantor. Pastinya, saat pertama kali menjalaninya, berat juga.

Bangun kudu pagi, pulang malam. Sampai pernah ayam saja saya yang bangunin biar dia nggak telat berkokok. Sampai sekarang masih menjuluki diri sendiri sebagai anggota BP7 – Bangun Pagi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas Pasan.

Permulaan memang berat. Tapi, beberapa bulan kemudian, ya terbiasa juga. Apalagi kemudian memiliki banyak kenalan baru dan teman. Alhasil kehidupan di jalan justru menjadi daya tarik dan hiburan sendiri.

Senangnya, karena menjadi anker ini juga pada akhirnya membawa banyak kebahagiaan dalam hidup. Si mantan pacar yang sudah menemani hidup selama 18 tahun, 1 Juli 2019 yang lalu juga mantan penghuni KRL – Kereta Rel Listrik, nama jadul Commuter Line.

So, rasa tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta itu, ya Nano-Nano. Mirip banget sama permen yang anak millenial pasti nggak tahu. Rasanya manis asam asin, rame dan beragam pokoknya.

Begitulah rasanya.

Biasa saja karena tidak beda banyak dengan rasa yang dialami ratusan ribu orang yang setiap hari melaju pulang pergi dari Bogor ke ibukota, Jakarta. Rame karena disana ada kesenangan, kebahagiaan, kesedihan. Tidak bedalah dengam kehidupan banyak orang lain.

Bedanya mungkin hanya bagaimana menyikapinya. Dan, saya, mungkin karena sudah terlalu berpengalaman dalam hal ini, memandangnya dan menyikapinya dalam dua kata “NIKMATI SAJA”.

Seperti saya saat ini yang sedang menikmati mengetik di monitor OPPO A3s yang mungil itu dan berada di antara ketiak dan badan yang bau keringat.

(di atas Commuter Line Jakarta Bogor, 5 Juli 2019)