Kok Bisa? Ngumpul Nggak Penting Blas!

Geleng-geleng kepala. Biar tidak disuruh, beberapa menit yang lalu kepala kok tiba-tiba secara otomatis gerak-gerak sendiri ke kiri dan ke kanan.

Padahal, cuma karena membaca sebuah pesan Whatsapp saja yang masuk malam ini. Isinya juga bukan sesuatu yang heboh dan biasanya saja.

Hanya sebuah informasi bahwa teman-teman semasa SMA dulu berencana untuk mengadakan kumpul-kumpul di kebun salah satu kawan.

Pesan itu yang membuat kepala saya tiba-tiba bergerak di luar kendali dan bergoyang seperti penari jaipong.

Bingung.

Setahu saya teman-teman saya itu pandai dan pintar-pintar. Banyak dari mereka yang sering mendapatkan posisi bagus dalam ranking kelas. Otak mereka encer-encer banget. Saking encernya, kalau saya berhitung pakai kalkulator, dan mereka tidak, hasilnya kayaknya mereka duluan yang bakalan dapat.

Jelas mereka tidak buta huruf karena saya yang peringkatnya di bawah mereka juga tidak buta huruf.

Sekarang pun setahu saya, sebagian besar dari mereka hidupnya sukses, makmur. HP-nya saja termasuk kelas dewa. Mobilnya kinclong karena keluaran terbaru dan kepala saya bisa semaput kalau dipakai menghitung nol pada harganya .

Pastilah mereka juga punya smart TV untuk menonton berita. Pasti, dan saya yakin juga mereka bukan fakir kuota internet untuk membaca berita di media online. Masa HP kelas dewa kuota internet nggak ada, mau ditaruh dimana mukanya.

Cuma, kok bisa yah mereka tidak menyadari bahwa jangan keluar kalau tidak perlu banget. Kayaknya, mulut pemerintah sudah bukan berbusa-busa lagi mengumumkannya.

Heran juga, bagaimana bisa mereka tidak membaca berita kalau restoran dan kedai kopi saja tidak boleh menerima 50% pengunjung. Padahal, para pegawai restoran dan staf warung kopi pastinya sedang berjuang mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Sebuah urusan yang teramat sangat penting dalam kehidupan karena perut itu tidak bisa diajak kompromi dan harus terus diisi.

Semua itu karena mbak Corona yang sepertinya masih teramat sangat betah di Indonesia.

Si Mbak yang sudah memangsa lebih dari 12000 jiwa di Nusantara dan membuat ribuan keluarga menangis karena kehilangan orang yang disayanginya. Si Mbak yang sudah membuat jutaan lainnya bingung menghadapi masa depan.

Kok bisa yah mereka mengajak ngumpul untuk sekedar mengenang masa lalu dan berhahaha-hihihi bernostalgia tentang siapa jatuh cinta dengan siapa. Cuma sekedar kumpul, makan, dan berbicara sesuatu yang pastinya tidak sepenting mencari nasi pengisi perut.

Kok bisa?

Rasanya kok saya sulit sekali melihat urgensi dari ngumpul seperti ini. Beda banget dengan ngumpul tukang bangunan untuk membangun gedung atau rumah. Kalau mereka nggak ngumpul, mereka tidak dibayar dan bisa tidak makan.

Apa mereka tidak takut? Bukankah sudah biasa kalau sedang ngumpul-ngumpul begitu semua jadi ceroboh.

Pasti nantinya banyak salaman dan cium pipi atau pelukan. Bisa dibayangkan banyak canda yang keluar dan tertawa terbahak-bahak yang terjadi, dan si dropplet pasti bertebaran kesana-sini.

Masker jenis apapun kayaknya kalau sudah begini tidak akan tahan.

Apa mereka tidak takut yah? Kok berani mengambil resiko? Padahal, yang akan dilakukan tidak penting amat. Bisa ditunda sampai vaksin si Mbak Cor selesai dan masuk ke pembuluh darah.

Atau, mungkin saya yang terlalu penakut?

Bisa jadi, karena memang saya takut sekali menjadi pembawa si Mbak Cor ke rumah dan mengenai dua orang kesayangan saya.

Begitu takutnya sampai saat terpaksa WFO saja, saya sudah pakai baju lengan panjang, masker, face shield, pakai hand sanitizer sudah tidak kehitung berapa kali dalam sehari. Di rumah juga begitu, kecuali untuk ke warung atau Indomaret beli bahan makanan, saya pilih jadi keong yang ngumpet dalam rumah.

Tak apalah saya disebut penakut karena saya pikir si Mbak Cor nggak suka sama orang penakut. Semakin banyak orang penakut, si Mba Cor bakalan tidak merasa betah disini.

Si Mbak Cor suka sekali pada orang pemberani dan punya keyakinan tinggi terhadap Tuhan. Mbak Cor cinta pada orang gagah berani yang biasa mengatakan kematian itu di tangan Tuhan, bukan si Mbak Cor.

Makanya dia sering nempel sama orang dari kalangan ini.

Tak mengapa juga saya disebut penakut dan tidak dicintai Mbak Cor. Kebetulan cinta saya sudah nggak ada sisa lagi karena dah diambil si Yayang dan si Kribo. Jadi sulit untuk dibagi sama yang lain.

Makanya, akhirnya saya pilih menjawab WA itu dengan, ” O yah… pingin ikut”.

Cuma otak dalam kepala saya langsung menyusun kalimat pamungkas yang nantinya akan disampaikan saat informasi tanggal ngumpul sudah pasti. intinya sederhana saja, yaitu “Maaf lagi ada acara lain atau sudah ada janji kalau tanggal segitu mah. Kebetulan banget. Jadi salam saja sama teman-teman yang lain”.

Bagaimanapun, kadang saya harus berdiplomasi sedikit, sampai waktunya nanti.

Setelah otak selesai menyediakan jawaban itu, barulah kepala saya berhenti geleng-geleng sendiri.

Case closed.

(Bogor, 21.33 di depan laptop dan masih nggak tahu kenapa orang-orang pandai bisa seperti itu)

6 thoughts on “Kok Bisa? Ngumpul Nggak Penting Blas!”

  1. Wehehehe. Sama mas, sampai sekarang saya masih nggak berani pergi ke luar apalagi kumpul sama teman-teman hahaha. Nggak ada yang ajak juga, mungkin karena teman saya sadar kalau kumpul diwaktu sekarang cuma cari petaka 😆

    Semoga rencana kumpul teman-teman mas dilakukannya tahun depan atau saat dimana mbak Cor sudah lenyap. At that time mungkin mas bisa ikut kumpul dan bersyukur acaranya nggak dilakukan sekarang 😁

    Reply
    • Sama ya Eno.. Terus terang saya masih khawatir dengan situasi sekarang. Malah bagus Eno kalau nggak ada yang ngajak, berarti semua paham kondisi saat ini.

      Saya sih justru lumayan banyak yang ngajak, tetapi saya tolak terus. Untungnya, ada yang sadar atau akhirnya merasa bosan ngajak saya dan nggak ngajak lagi. Saya malah senang.

      Mudah-mudahan, tapi rasanya sih akan jalan terus. Cuma ya tetap saja, saya memilih tidak datang untuk menghindari resiko

      #staysafe yang Eno

      Reply
  2. kayaknya gender cornya nda cuma mba mas, tapi ada mas mas cornya juga hohoho

    memang beginilah keadaan, serba tidak pasti mas, tapi herannya di jalan jalan juga uda kayak serasa ga ada apa apa lagi, orang uda banyak aja yang berkerumun, pake masker sih tapi dempet dempetan

    ada pula yang melenggang kangkung ga pake masker dll

    tapi aku juga kalau lagi belanja suka parno, sebab kayaknya yang banyak ketempelan itu dari tangan ya hoho

    kalau ada ajakan ngumpul di masa begini memang mau ga mau ditolak secara halus ya mas, tapi yang nda enaken itu kondangan huahahhah.. kalau kondangan biar bapake aja yang berangkat..

    Reply
    • Haaa.. nggak keren kalo mas Corona, cantikan Mbak .. hahahaha..

      Iyah nih, aku juga heran. Mungkin saja karena kita terlalu parno kali yah…

      Bener banget tuh Mbul, saya juga pernah begitu. Yayang ma Kribo di rumah, aku saja yang berangkat…

      Reply
  3. Hi Kak Anton~
    Baru sempat main ke sini 🙈

    Makin ke sini, orang-orang udah semakin cuek dengan pandemi ini, Kak 🙁
    Aku pernah dengar cerita kalau di Mall aja ramainya udah kayak weekend biasa sebelum pandemi, padahal katanya hanya boleh kapasitas pengunjung 50%? Aku nggak tahu sih mostly anak muda/orangtua yang senang kongkow-kongkow. Yang disayangkan, semakin banyak orang yang meremehkan hal ini dan yang lebih parah, nggak menganggap pandemi ini beneran ada 😢. Kalau bertemu orang yang seperti ini, aku cuma bisa geleng-geleng juga, seperti Kak Anton saat membaca grup WA 😅

    Reply

Leave a Reply to Gustyanita Pratiwi Cancel reply