Bagaimana Rasanya Tinggal Di Bogor Kerja Di Jakarta

Stasiun Gondangdia, 5 Juli 2019 pukul 17.10

Itu bukan pertanyaan saya, tetapi entah siapa namanya mengajukan pertanyaan itu di Quora. Situs tanya jawab yang membuat orang malas berpikir dan mencari informasi sendiri. Mereka lebih suka bertanya dibanding mencoba menemukan jawabannya sendiri.

Soalnya, pertanyaan seperti ini sih tidak perlu ditanyakan. Jawabannya berbeda satu orang dengan yang lainnya. Bahkan pengalaman satu orang saja bisa berbeda dari tahun ke tahun.

Nggak percaya? Coba saja misalkan tahun 2019 kerjanya masih sebagai pegawai dan kudu (harus – bahasa Sunda) kerja naik Commuter Line atau bus, kemudian tahun 2022 sudah jadi direktur yang dijemput dan disopiri.

Pasti beda rasanya, iya kan? Sebenarnya kalau yang bertanya mau mikir dikitttt ajah…jawabannya ketemu, dan dia nggak perlu bertanya yang seperti itu.

Tapi, untung juga sih ada yang mengajukan pertanyaan kacau seperti itu, jadi saya punya kerjaan di atas CL yang sedang melaju membawa saya ke rumah, tempat dua orang tercinta.

Daripada bengong dan pikiran melayang nggak tentu arah, saya bisa menulis sedikit di blog baru yang masih bau kencur dan minyak kayu putih ini.

Silakan bayangkan nulis di blog dalam kondisi kereta yang padat seperti ini..hayoo mo coba nggak?

Eniwey baswei, jawabannya, BIASA SAJA TUH. Maklum sudah lebih dari 25 tahun saya menjalani kehidupan sebagai anker atau anak kereta. Bahkan. kalau dihitung sejak masa kuliah tahun 1989, berarti sudah 30 tahun kehidupan saya akrab dengan si ulat besi. Cuma waktu kuliah, cuma sampai Depok, alias Pondok Cina saja. Waktu itu, dapat rejeki menjadi anggota “The Yellow Jacket” atau si “Jaket Kuning”.

Sudah terbiasa dan  beradaptasi dengan lingkungan di perjalanan atau di kantor. Pastinya, saat pertama kali menjalaninya, berat juga.

Bangun kudu pagi, pulang malam. Sampai pernah ayam saja saya yang bangunin biar dia nggak telat berkokok. Sampai sekarang masih menjuluki diri sendiri sebagai anggota BP7 – Bangun Pagi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas Pasan.

Permulaan memang berat. Tapi, beberapa bulan kemudian, ya terbiasa juga. Apalagi kemudian memiliki banyak kenalan baru dan teman. Alhasil kehidupan di jalan justru menjadi daya tarik dan hiburan sendiri.

Senangnya, karena menjadi anker ini juga pada akhirnya membawa banyak kebahagiaan dalam hidup. Si mantan pacar yang sudah menemani hidup selama 18 tahun, 1 Juli 2019 yang lalu juga mantan penghuni KRL – Kereta Rel Listrik, nama jadul Commuter Line.

So, rasa tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta itu, ya Nano-Nano. Mirip banget sama permen yang anak millenial pasti nggak tahu. Rasanya manis asam asin, rame dan beragam pokoknya.

Begitulah rasanya.

Biasa saja karena tidak beda banyak dengan rasa yang dialami ratusan ribu orang yang setiap hari melaju pulang pergi dari Bogor ke ibukota, Jakarta. Rame karena disana ada kesenangan, kebahagiaan, kesedihan. Tidak bedalah dengam kehidupan banyak orang lain.

Bedanya mungkin hanya bagaimana menyikapinya. Dan, saya, mungkin karena sudah terlalu berpengalaman dalam hal ini, memandangnya dan menyikapinya dalam dua kata “NIKMATI SAJA”.

Seperti saya saat ini yang sedang menikmati mengetik di monitor OPPO A3s yang mungil itu dan berada di antara ketiak dan badan yang bau keringat.

(di atas Commuter Line Jakarta Bogor, 5 Juli 2019)

LAPOR ! Dua Buah Blog Isinya Saya Hapus Semua

Siang Gan & Sis..

Semoga semua selalu sehat wal afiat dan berada dalam lindungan NYA. Aaamiin.

Cuma mau lapor saja..

Siang ini, setelah mikir sejenak dan dua jenak, atau tiga jenak, dua buah blog isinya saya hapus semua. Dikosongkan kembali seperti awal mulanya. Tanpa ada laman satupun. Yang ada cuma URL-nya saja.

Penyebabnya?

Ya lahirnya blog si Anton ini.

Saya pikir paling tidak ada 2 di blogspot/blogger yang memiliki kemiripan, yaitu yang saya buat dalam usaha untuk menjadi personal blogger. Isinya yang satu sudah banyak, sekitar 49 tulisan, agak ngawur kesana kemari emang, dan satunya lagi baru empat posting saja.

Total ada 53 posting yang langsung dibuang ke tempat sampah dunia maya.

Rasanya memang kelihatannya lebih bagus kalau tulisan yang bersifat personal dikumpulkan dalam satu blog, yaitu blog yang ini saja. Tidak usah tersebar.

Lagipula, kedua blog itu juga memang tidak ditujukan untuk mendulang uang dan buat iseng-iseng saja.

Jadi, dengan begitu setidaknya, Gan & Sis, saya membuang dua buah blog lagi yang harus diisi, ngurang-ngurangin beban pikiran juga (meski sebenarnya nggak dipikiran juga, tetapi tetap terpikir).

Sekian laporan saya siang ini.

Laporan nanti menyusul, karena ada dua blog lagi di WordPress yang bakalan kena gusur juga karena temanya sama. Semua mau digabung kesini saja supaya tidak simpang siru dan mengotori dunia maya (kata orang, walau saya nggak tahu mengotorinya gimana).

Sekian.

Jakarta, 5 Juli 2019

NGAKU DAH ! Saya Bukan Pecinta Dan Penikmat Kopi

Ngaku dah!

Ampun sebelumnya. Karena blog ini salah satunya bertujuan untuk membuka diri agak lebar dikit, tentunya ga afdol bingitz kalau yang punya blog tidak bercerita tentang diri sendiri. Nah, langkah awal yang menurut saya bagus adalah dengan mengakui hal-hal yang berkaitan dengan sang bloggernya.

Anggplah ini sebagai permulaannya, yaitu pengakuan resmi dan tertulis bahwa saya bukanlah pecinta dan penikmat kopi.

Tidak boong. Tidak dibuat-buat.

Bukan berarti nggak pernah ke warung kopi atau kafe zaman sekarang. Justru, sebagai seorang blogger yang menulis tentang kota sendiri, dan kota orang lain, saya sering sekali keluar masuk kafe, kedai, atau apapun namanya yang menyediakan kopi dalam daftar menunya.

Cuma, ya itu masalahnya.

Kalau ditanya apa saya mengerti dan menikmati kopinya, biasanya saya cuma bisa senyum dan geleng-geleng kepala.

Jujur saja, itu bukan keahlian saya. Padahal, seorang kawan sekaligus tetangga adalah pemilik kedai kopi di kawasan Bogor dan ia pernah memberi semacam kuliah singkat tentang perbedaan antara kopi ini dan itu, robusta dan arabika, kalau diseduh dengan air panas yang direbus atau pakai air panas dispenser.

Udah lumayan panjang juga dia menjelaskan.

Sayangnya, memang dasar bukan penikmat kopi, berapa gelas dan jenis kopi yang saya minumpun, jawabannya ya tetap saja, saya tidak mengerti bedanya.

Kasihan juga kadang sama teman itu karena kalau sudah bicara soal minuman hitam ini, bisa sampai berbusa-busa dia bicara. Sementara yang mendengarkan pada akhirnya tetap nggak bisa membedakan yang mana yang enak yang mana tidak.

Bukan berarti saya nggak mimum kopi. Setiap hari 2 gelas atau cangkir (terserah yang mau bikinin) saya minum. Lumayan lah kalau habis makan atau sambil ngudud.

Tapi, jangan pernah berharap saya bisa membedakan atau diajak berbicara tentang perkopian.  Tidak akan banyak kata yang keluar dari mulut saya, karena memang saya tidak mengerti dan bisa menikmati kopi, seperti bagaimana seorang pecinta kopi seharusnya.

Karena memang saya bukan pecinta dan penikmat kopi.

Itulah pengakuan saya yang pertama. Yang lain menyusul, tapi kalau inget yah.

Selamat Datang Di Blog Saya (Entah Yang Keberapa)

Sekedar sebagai penanda bahwa kehidupan blog ini dimulai. Juga sebagai simbol bahwa usaha untuk menjadi personal blogger dimulai.

Bukan apa-apa pada kenyataannya, meski sebenarnya sudah menjadi blogger hampir lima tahun, saya masih mengalami kesulitan besar untuk menulis sesuatu hal yang mudah bagi orang lain, apalagi sebagai blogger.

Kesulitan itu adalah ketika harus menulis tentang diri sendiri. Berat banget rasanya.

Padahal, seharusnya hal itu mudah dilakukan. Toh memang salah satu inti menjadi blogger adalah membuat tulisan yang mendapatkan sentuhan personal dan bukan sebuah tulisan kaku nan formal ala jurnalis. Sayangnya, ternyata hal itu tidak mudah dilakukan.

Bukan salah siapa-siapa, tetapi mungkin akibat karakter diri sendiri yang sudah terbentuk puluhan tahun untuk tidak terlalu membuka diri.

Jadi, rasanya sulit sekali kalau harus menulis sesuatu yang berkaitan dengan diri sendiri, dan keluarga tentunya.

Sayangnya, terkadang hal itu terasa dalam berbagai tulisan yang pernah saya buat. Kurang sentuhan personal.

Semua karena saya lebih suka menceritakan apa yang saya lihat, apa yang saya rasa, dibandingkan bercerita langsung tentang, apa dan siapa saya.

Nah, blog ini, sudah yang ke 4 atau ke 5 yang dibuat sebagai usaha mendobrak masalah mental seperti itu tadi. Yang sebelumnya gagal karena sejak awal masih tetap ada usaha menyembunyikan diri di balik layar, yaitu dengan memakai nama yang bukan nama asli.

Padahal, salah satu langkah awal penting bagi personal blogger adalah memulai dengan membuka pintu untuk menjelaskan siapa di belakang blog itu.

Kali ini agak berbeda, nama si bloggernya langsung dipakai. Tidak ada topeng lagi yang bisa dipakai menutupi identitas aslinya.

Semoga saja bisa berhasil, kalau tidak yah apa mau dikata. Memang itulah saya.