Mang Udin : Tukang Ikan Langganan Yayang

Tidak tahu nama sebenarnya.Mungkin saja Syafrudin, Saefudin, ata Udin Suridin nama aslinya. Cuma yayang mengenalnya sebagai Mang Udin.

Dia penjual ikan segar di lingkungan Bukit Cimanggu City, Bogor. Ikannya segar kata sang mantan pacar. Makanya kalau urusan ikan, dia akan selalu menjadi pilihan pertama.

(Bukit Cimanggu City, Ruko Depan, Bogor 6 Juli 2019. Edisi sayang istri. Nganter belanja harian. 07.20)

Bukan Rumah Kami

Foto-foto di bawah kalimat ini bukan rumah kami. Rumah ini milik seorang pegawai Bank Indonesia yang menganggapnya sebagai investasi.

Rumah kami yang di bawah ini.

Terpaksa harus menjadi “kontraktor” alias menyewa rumah orang lain karena rumah kami harus diperbaiki atapnya karena hampir roboh.
(Bogor, 6 Juli 2019, 06.45. Edisi kangen rumah)

Ternyata Kemampuan Itu Tidak Hilang : Menyetrika

Alhamdulillah.

Kemampuan itu ternyata belum hilang. Untung banget.

Memang sih bukan skill tingkat tinggi dan super penting, tapi setidaknya hari ini sudah bisa membantu yayang dari kerepotannya karena terlambat bangun.

Skill itu namanya MENYETRIKA.

Si kribo cilik, yang sedang belagak sok besar dan sok penting 😁😁 harus berangkat pagi. Meski yang lain masih dalam suasana libur, sebagai anggota OSIS dia harus mengurus orientasi pengenalan sekolah di SMA Negeri 10 Bogor.

Dah dua tahun dia aktif disana.

Yayang yang panik karena terlambat bamgun langsung menuju dapur, menyalakan kompor, dan mulai menggoreng nasi. Saat itu dia teringat jaket almamater si kribo belum disetrika.

Berserulah dia pada boss rumah merangkap asistennya, sang suami yang sebenarnya sedang menikmati suasana pagi sambil maen hape dan berpikir ide tulisan buat blog.

“Mas, aku belum nyetrika jaket Yaya. Nyalain setrika dong. Bantu nyetrikain!”

Dan, segeralah setrika Phillips andalan keluar dan langsung bertugas (mungkin kalau dia punya perasaan, pasti bilang “Woii, masih pagi neeh…”

Untung, biar dah lama tidak menyentuh ni setrikaan, maklum si yayang sudah mengurusnya dan memanjakan saya, ternyata kemampuan lama itu belum hilang.

Sejak masa remaja, almarhum ibunda sering mengajarkan berbagai pekerjaan rumah tangga yang kaum perempuan lakukan. Katanya lelaki harus bisa.

Dan, apa yang diajarkannya terbukti bermanfaat sekali di Sabtu pagi ini. Kalau tidak kasihan si mantan pacar bakalan kerepotan.

Hasilnya, yah lumayan. Jaket almamater si kribo dah mulus kembali, seperti foto di atas.

(Bogor, saat mendung 6 Juli 2019, 06.00)

Cara Menghindari Masuk Angin Ala Anak Kereta

Foto di bawah ini menunjukkan cara menghindari masuk angin ala anker atau anak kereta.

Maklum saja tidak semua rangkaian Commuter Line ber-AC. Masih ada yang memakai kipas angin, miriplah sama yang di rumah saya. Cuma beda tempat belinya ajah.😁😁😁

Nah, nasib siallah yang kerap bisa membuat masuk angin (biar secara medis ga ada penyakit ini), kalau dapat tempat pas di bawah kipas angin.

Pulang-pulang biasanya terasa pusing.

Itulah kenapa banyak anker yang memperlengkapi diri dengan topi. Cuma, kadang ketika lupa menyerang, perisai andalan itu lupa dimasukkan ke dalam tas. Hasilnya resiko diterpa angin badai dari si kipas membesar.

Nah ada saja yang tahu resiko itu dan berusaha menghindari masuk angin yang bisa bikin semua jadi ga enak.

Caranya?

Ya seperti di bawah ini.

Commuter Line Jakarta Bogor 17.30 5 Juli 2029

Terlihat lucu dan aneh. Tidak bergaya, tapi efektif mencegah kepala cenat cenut gara-gara “kebanyakan” angin.

(Commuter Line Jakarta Bogor 5 Juli 2019 jam 17.56 dekat stasiun Depok)

Bagaimana Rasanya Tinggal Di Bogor Kerja Di Jakarta

Stasiun Gondangdia, 5 Juli 2019 pukul 17.10

Itu bukan pertanyaan saya, tetapi entah siapa namanya mengajukan pertanyaan itu di Quora. Situs tanya jawab yang membuat orang malas berpikir dan mencari informasi sendiri. Mereka lebih suka bertanya dibanding mencoba menemukan jawabannya sendiri.

Soalnya, pertanyaan seperti ini sih tidak perlu ditanyakan. Jawabannya berbeda satu orang dengan yang lainnya. Bahkan pengalaman satu orang saja bisa berbeda dari tahun ke tahun.

Nggak percaya? Coba saja misalkan tahun 2019 kerjanya masih sebagai pegawai dan kudu (harus – bahasa Sunda) kerja naik Commuter Line atau bus, kemudian tahun 2022 sudah jadi direktur yang dijemput dan disopiri.

Pasti beda rasanya, iya kan? Sebenarnya kalau yang bertanya mau mikir dikitttt ajah…jawabannya ketemu, dan dia nggak perlu bertanya yang seperti itu.

Tapi, untung juga sih ada yang mengajukan pertanyaan kacau seperti itu, jadi saya punya kerjaan di atas CL yang sedang melaju membawa saya ke rumah, tempat dua orang tercinta.

Daripada bengong dan pikiran melayang nggak tentu arah, saya bisa menulis sedikit di blog baru yang masih bau kencur dan minyak kayu putih ini.

Silakan bayangkan nulis di blog dalam kondisi kereta yang padat seperti ini..hayoo mo coba nggak?

Eniwey baswei, jawabannya, BIASA SAJA TUH. Maklum sudah lebih dari 25 tahun saya menjalani kehidupan sebagai anker atau anak kereta. Bahkan. kalau dihitung sejak masa kuliah tahun 1989, berarti sudah 30 tahun kehidupan saya akrab dengan si ulat besi. Cuma waktu kuliah, cuma sampai Depok, alias Pondok Cina saja. Waktu itu, dapat rejeki menjadi anggota “The Yellow Jacket” atau si “Jaket Kuning”.

Sudah terbiasa dan  beradaptasi dengan lingkungan di perjalanan atau di kantor. Pastinya, saat pertama kali menjalaninya, berat juga.

Bangun kudu pagi, pulang malam. Sampai pernah ayam saja saya yang bangunin biar dia nggak telat berkokok. Sampai sekarang masih menjuluki diri sendiri sebagai anggota BP7 – Bangun Pagi Pagi Pulang Petang Penghasilan Pas Pasan.

Permulaan memang berat. Tapi, beberapa bulan kemudian, ya terbiasa juga. Apalagi kemudian memiliki banyak kenalan baru dan teman. Alhasil kehidupan di jalan justru menjadi daya tarik dan hiburan sendiri.

Senangnya, karena menjadi anker ini juga pada akhirnya membawa banyak kebahagiaan dalam hidup. Si mantan pacar yang sudah menemani hidup selama 18 tahun, 1 Juli 2019 yang lalu juga mantan penghuni KRL – Kereta Rel Listrik, nama jadul Commuter Line.

So, rasa tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta itu, ya Nano-Nano. Mirip banget sama permen yang anak millenial pasti nggak tahu. Rasanya manis asam asin, rame dan beragam pokoknya.

Begitulah rasanya.

Biasa saja karena tidak beda banyak dengan rasa yang dialami ratusan ribu orang yang setiap hari melaju pulang pergi dari Bogor ke ibukota, Jakarta. Rame karena disana ada kesenangan, kebahagiaan, kesedihan. Tidak bedalah dengam kehidupan banyak orang lain.

Bedanya mungkin hanya bagaimana menyikapinya. Dan, saya, mungkin karena sudah terlalu berpengalaman dalam hal ini, memandangnya dan menyikapinya dalam dua kata “NIKMATI SAJA”.

Seperti saya saat ini yang sedang menikmati mengetik di monitor OPPO A3s yang mungil itu dan berada di antara ketiak dan badan yang bau keringat.

(di atas Commuter Line Jakarta Bogor, 5 Juli 2019)

LAPOR ! Dua Buah Blog Isinya Saya Hapus Semua

Siang Gan & Sis..

Semoga semua selalu sehat wal afiat dan berada dalam lindungan NYA. Aaamiin.

Cuma mau lapor saja..

Siang ini, setelah mikir sejenak dan dua jenak, atau tiga jenak, dua buah blog isinya saya hapus semua. Dikosongkan kembali seperti awal mulanya. Tanpa ada laman satupun. Yang ada cuma URL-nya saja.

Penyebabnya?

Ya lahirnya blog si Anton ini.

Saya pikir paling tidak ada 2 di blogspot/blogger yang memiliki kemiripan, yaitu yang saya buat dalam usaha untuk menjadi personal blogger. Isinya yang satu sudah banyak, sekitar 49 tulisan, agak ngawur kesana kemari emang, dan satunya lagi baru empat posting saja.

Total ada 53 posting yang langsung dibuang ke tempat sampah dunia maya.

Rasanya memang kelihatannya lebih bagus kalau tulisan yang bersifat personal dikumpulkan dalam satu blog, yaitu blog yang ini saja. Tidak usah tersebar.

Lagipula, kedua blog itu juga memang tidak ditujukan untuk mendulang uang dan buat iseng-iseng saja.

Jadi, dengan begitu setidaknya, Gan & Sis, saya membuang dua buah blog lagi yang harus diisi, ngurang-ngurangin beban pikiran juga (meski sebenarnya nggak dipikiran juga, tetapi tetap terpikir).

Sekian laporan saya siang ini.

Laporan nanti menyusul, karena ada dua blog lagi di WordPress yang bakalan kena gusur juga karena temanya sama. Semua mau digabung kesini saja supaya tidak simpang siru dan mengotori dunia maya (kata orang, walau saya nggak tahu mengotorinya gimana).

Sekian.

Jakarta, 5 Juli 2019