Si Fit

Mas, kamu kalah!“, celetuk wanita kesayangan saya beberapa waktu lalu di saat ia kembali dari warung sayur di dekat rumah.

Kalah apa Say?“, tanya saya sambil menengok menghadap wajah cantiknya yang tersenyum. Seketika saya sadar dia sedang hendak meledek.

Kamu kalah sama si Yatna (petugas kebersihan di kompleks kami). Kalah juga sama tukang ojeg“, jawabnya sambil terus nyengir dan matanya memandang ke satu benda di garasi kami.

Tidak terasa, mata saya mengikut ke arah mata si Yayang dan akhirnya tertumbuk pada sosok si Fit, sepeda motor tunggangan saya.

Akhirnya, saya pun ikut tersenyum.

“Memang kenapa, Cin?”, tanya saya karena tahu ada gosipan baru yang dibawanya.

Iyah, si Yatna motornya baru loh. Honda Vario atau Beat gitu. Mulus. Kinclong“, sahutnya sambil senyum.

Ohh, biarlah“, jawab saya tanpa tertawa.

Si Fit

Si Fit adalah panggilan kami kepada sebuah sepeda motor bermerk Honda Supra Fit. Kendaraan ini memiliki kapasitas karburator 99 cc saja karena memang jelas dirancang untuk mereka yang butuh kendaraan murah meriah.

Kendaraan “kelas bawah”.

Sepeda motor ini memang sudah menemani kami sejak awal tahun 2006, alias 15 tahun yang lalu. Ia “dibeli” dari seorang saudara yang pada saat itu sedang butuh uang.

Si Fit sendiri saat itu sudah “hampir” ditarik oleh pihak leasing karena sudah menunggak cicilan beberapa bulan dan hanya beberapa jam lagi akan diambil. Saat itu, saya memutuskan untuk “membelinya” dan membayar cicilan yang tertunggak dan akhirnya melunasinya.

Kebetulan, saat itu saya baru saja mendapatkan pekerjaan baru, setelah di-PHK dari perusahaan sebelumnya di kawasan Tangerang.

Lokasinya yang di tahun 2006 masih belum terjangkau oleh Commuter Line atau KRL Jabodetabek mengharuskan saya mengandalkan kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum.

Masalahnya, menggunakan mobil selain boros dalam hal waktu, juga boros dalam hal biaya.

Jadilah, saya berniat membeli satu lagi sepeda motor karena yang satu sudah dijatah untuk operasional si Yayang untuk keperluan di rumah.

Bertentangan dengan niat awalnya membeli baru, akhirnya saya memutuskan membeli si Fit dari tangan saudara tersebut. Biarlah bekas juga yang penting masih bisa berfungsi dan sekaligus bisa menolong saudara.

Sepeda motor itu, sekarang memang terlihat sudah lusuh sekali. Catnya sudah terkelupas di sana sini. Jelas si Fit sudah “sangat tua”, meski belum setua penunggangnya.

Pastinya, motor “saya” itu kalah keren dibandingkan Honda Vario kepunyaan petugas kebersihan kami. Tidak salah juga kalau bahkan dibandingkan tunggangan para tukang ojeg saat mencari nafkah.

Dan, itulah yang diledek oleh si Yayang.

Juga, si Kribo.

Bahkan, banyak juga tetangga yang heran kenapa saya tidak menggantinya dengan yang lebih baru. Mereka tahu saya mampu untuk menggantinya.

Tapi, saya tidak mau.

Kenangan bersama si Fit

Bolehlah kalau saya disebut sebagai melo, melankolis.

Hanya saja, saya merasa sayang sekali dan enggan berpisah dengan sepeda motor tua ini. Banyak sekali yang kami alami bersama.

Tahun 2006 adalah tahun yang berat bagi keluarga kecil kami. Pada tahun itu, saya mengalami pemutusan hubungan kerja karena perusahaan tempat saya bekerja tutup. Saat itu merupakan sebuah masa yang suram.

Beruntung hal itu tidak terlalu lama, saya diterima kembali bekerja di sebuah perusahaan di Tangerang. Karena kendaraan umum, Bus Pusaka kerap membutuhkan waktu 3 jam untuk sekali jalan, saya membutuhkan kendaraan yang murah meriah. Tidak boros di ongkos dan tidak makan waktu.

Sepeda motor adalah pilihannya karena menggunakan mobil akan menggerogoti keuangan kami.

Si Yayang sebenarnya khawatir sekali terhadap pilihan yang diambil, tetapi ia juga sadar kami harus tetap berusaha menghemat demi si Kribo.

Sejak saat itulah si Fit menjadi bagian keluarga kami.

Kendaraan itulah yang paling sering dipakai untuk pulang pergi Bogor – Tangerang setiap harinya. Selama hampir dua tahun, ia menjadi tunggangan saya mencari nafkah.

Bersama si Fit saya sering menembus hujan sepanjang jalan dan basah kuyup setibanya di kantor (biasanya saya menyimpang satu set pakaian cadangan). Seratus kilometer lebih jarak yang ditempuhnya setiap hari.

Dua kali kecelakaan pun pernah saya alami selama dua tahun tersebut. Yang pertama terjadi karena mungkin saya terlalu lelah dan tidak awas sampai menabrak seorang penyeberang jalan berbaju hitam saat pulang kerja.

Untungnya, yang ditabrak hanya luka luar dan tidak parah. Justru dokter saat itu mengkhawatirkan saya karena mengalami benturan dan diduga gegar otak. Juga karena tekanan darah yang sangat rendah 90/60 yang diduga karena kelelahan.

Tidak kapok, setelah merasa “sembuh”, seminggu kemudian pun, saya sudah beraksi lagi bersama si Fit.

Rantai putus. Ban bocor. Helm hilang.

Semua sudah pernah saya alami bersama si Fit.

Dua tahun kami berjuang bersama, sebelum saya mendapat pekerjaan baru, yang sampai sekarang masih dijalani dan mudah diakses Commuter Line.

Dua tahun penuh perjuangan dan kami lalui bersama. Banyak hal yang pernah kami lewati dan kadang tidak diceritakan kepada si Yayang, supaya tidak khawatir.

Rasanya, sulit juga berpisah pada sebuah benda yang telah memberikan dukungan begitu banyak di saat saya berada dalam kesulitan.

Bahkan, setelah itupun ia masih menemani dalam ihktiar saya menghidupi keluarga, sampai sekarang ini.

Jadi, tidak terpikirkan oleh saya untuk menjualnya dan menggantinya dengan yang baru.

Handal

Kendaraan murah meriah ini memang ditujukan bagi mereka yang punya dana terbatas, tetapi membutuhkan mobilitas. Pastinya tidak ditujukan untuk bergaya.

Kapasitas cc-nya yang kecil pun tidak memungkinkannya untuk dibawa ngebut. Meski speedometernya mencantumkan angka 120 kilometer lebih, tetapi angka itu tidak akan pernah tercapai.

Dan, saya memang orang yang “butuh”.

Saya butuh kendaraan yang efisien dan tidak menguras uang untuk memelihara atau menggunakannya.

Si Fit memenuhi semuanya.

Tanpa rewel. Mau pakai bensin eceran atau apapun, dia tetap berjalan dengan baik. Tidak ganti oli setahun pun, dia masih berlari.

Masalah-masalah kecil tetap ada, tetapi tidak membuat saya merogoh kantung dalam untuk memperbaikinya.

Yang tidak bisa diberikannya hanyalah “status” atau “gengsi”. Ia tidak sedap dipandang mata. Ia tidak akan membuat yang melihat berdecak kagum. Ia tidak bisa membuat saya serasa Valentino Rossi.

Tapi, saya memang tidak butuh semua itu.

Untuk apa?

Gengsi tidak akan membuat saya kenyang. Gengsi juga hanya akan menguras keuangan saja dan saya tidak mau itu terjadi. Si Yayang dan Si Kribo adalah prioritas utama saya dalam kehidupan, bukan gengsi.

Bukan sebuah masalah kalau saya dilihat “lebih rendah” daripada tukang ojeg atau petugas kebersihan. Tidak terasa menyakitkan sedikitpun.

Tetapi, saya pikir rasanya akan lebih menyakitkan kalau saya petantang petenteng dengan sepeda motor keren, tetapi si Yayang tidak bisa membeli kosmetiknya atau si Kribo tidak bisa makan enak.

Maaf, gengsi tidak pernah jadi bagian penting dalam kehidupan saya.

Lagi pula, karena sekarang saya menggunakan angkutan umum KRL, si Fit tugasnya tidak terlalu berat. Ia hanya harus mengantarkan saya ke stasiun yang berjarak 10-15 menit saja dari rumah. Setelah itu ia akan setia menunggu di penitipan motor sebelum sorenya mengantarkan kembali tuannya bertemu dua orang kesayangannya.

Ia masih bisa menjalankan tugasnya dengan baik, tanpa masalah.

Maka, akan menjadi sebuah pertanyaan besar bagi saya kalau harus mengganti sesuatu yang masih bisa menjalankan tugas dengan sempurna sesuai tujuannya.

—–

Ledekan si Yayang tentang kekalahan saya dalam persaingan keren-kerenan sepeda motor bukanlah sebuah hal yang baru.

Sudah berulangkali dia meledek suaminya.

Bukan karena ia ingin mengganti sepeda motor baru karena ia sendiri masih memakai si X (Supra X) yang usianya sama dengan si Fit.

Ia meledek karena memang itu bagian dari ritual kami sehari-hari. Selingan saja. Bergosip tentang segala sesuatu yang terjadi di sekitar kami. Pelumas bagi kehidupan keluarga kecil kami.

Tidak ada yang serius.

Karena saya tahu sekali, ia juga tidak peduli dengan “gengsi” dan “penampilan”. Ia hanya peduli pada tujuannya, mensejahterakan si Kribo putra semata wayang kami dan bersama suaminya.

Oleh karena itu, wanita kesayangan saya itu tahu persis ikatan antara saya dan si Fit. Ia juga cukup tahu pengalaman yang saya alami bersama si Fit tua ini dan jasanya yang sudah diberikan kepada kami.

Kami tahu persis bahwa si Fit dan saudaranya si X masih akan bersama kami dalam beberapa tahun ke depan. Mereka cerminan pandagan kami tentang bagaimana harus menjalani kehidupan.

Sampai nanti saatnya tiba kami harus berpisah, entah karena mereka yang rusak, atau kami menyelesaikan tugas kami sebagai manusia.

Bogor, 06 Nopember 2020 saat jarum jam menunjukkan 16 menit lagi hari akan berganti.

2 thoughts on “Si Fit”

  1. Berarti masuk motor perjuangan juga si Fit ini yang kong..😊😊

    Gila Bogor~Tangerang lumayan jauh juga kong..Sampai harus ngalamin kecelakaan dan bangkit lagi demi keluarga….Berarti ente ngambil jalur parung yaa kong, Terus baru ngambil arah yang ke BSD atau Tigaraksa… Emang bus Pusaka masih ada kong yang Tangerang~Bogor.🤔

    Ente termasuk orang yang mensyukuri hidup memang kong…Gunakan sesuatu memang seperlunya saja dan untuk mobilitas sehari2 si Fit memang bisa diandalkan ngapain ngelirik yang lain yang belum tentu bisa sekuat si Fit.😊

    Dan akhirnya perjuangan itu ada hikmahnya sampai ente bisa punya pekerjaan baru dengan Komuterline…Dan si Fit masih tetap setia menemanimu. Bahkan sedikit ringan dari sebelumnya..😊

    Memang beli kendaraan baik motor atau mobil seperlunya, Jika memang masih ada solusi lain kenapa tidak yaa…😊

    Aku juga motor Trail ada cuma sudah dimuseumkan karena biar bisa ngeles dari komunitas Trail yang kalau gw pikir lagi cuma buang2 uang saja…Terkecuali Sepeda karena aku hobi Sepeda sejak masih sekolah…Saya pernah kecelakaan motor di semplak bogor dekat Smu Dwi-Warna 2 kali…Di mangga besar jakarta barat sekali. Gara2 itu ogah bawa motor kalau untuk hal nggak penting. Paling pake motor matic yaa buat sekitar rumah doang. Kalau jauh sekali yaa terpaksa pake mobil sendiri…Kalau cuma jarak nanggung2 angkot, Sama kereta Atau grab masih bisa jadi solusi bagi saya..😊😊

    Banyak sih orang sekarang yee kong belain2 kridit karena cuma untuk gaya2,an dari pada Fungsi sebenarnya…Membebankan diri sendiri kalau saya bilang mah..😊😊 Untung gw bukan type orang hobi ngeridit..😊😊

    Reply
    • Beneerrr bangetttt Tong… Gue juga mikir ngapain membebani diri kalau memang tidak benar-benar butuh. Masalah soal gengsi mah bukan kebutuhan, jadi gue ogah banget kudu ganti motor cuma buat tampil gaya.

      Yah, bukankah kita udah jadi bapak Tong, lebih baik mikir buat anak daripada buat diri sendiri. Yah, waktu itu pilihan gue nggak banyak dan mau tidak mau, Tangerang Bogor kudu dijalanin. Bukankah memang kita harus gitu. Iya nggak sih?

      Masih ada Tong.. sampe sekarang. Cuma ya itu tadi betenya bisa 3 jam sekali jalan. Gue bener-bener tua di jalan.

      Halah..kecelakaan juga? Maklum sih tong kalau trauma. Cuma kalo gue trauma, ya repot dah hahahaha… Ente kuat juga sepedahan yah, kalu dulu sih gua seneng gowes sendirian, jarang barengan.. tapi sekarang mah ogah.. cuappeekkkkk

      Reply

Leave a Comment