Headset/Earphone dan Smartphone : Kawan Mengusir Bosan

Belakangan, saya sangat akrab sekali dengan kedua benda ini. Bahkan, seperti tidak bisa lepas dari keduanya dalam perjalanan berangkat ke dan dari kantor. Bahkan saat bekerja pun, saya menggunakannya.

Kalau smartphone alias si ponsel cerdas sih memang suka atau tidak suka tidak boleh jauh mengingat pekerjaan yang membutuhkan kehadirannya. Oleh karena itulah, saat weekend, saya memilih mengasingkannya dan menjauh darinya.

Cuma, si earphone atau headset, sekarang menjadi teman baik saya juga.

KRL Jabodetabek/ Commuter Line memasuki stasiun Cilebut, 2025

Alasannya? Karena saya belakangan sepertinya merasa jenuh dan bosan sekali. Terkadang sampai sulit fokus pada yang dikerjakan.

Untuk mengatasinya, saya terinspirasi oleh drakor My Mister yang dibintangi Lee Ji Eun alias si IU.

Tokoh utama di sana, si Lee Ji An memakai earphone sepanjang waktu, saat berjalan atau saat bekerja di kantor (meski dalam drakor itu hal itu dilakukan untuk tujuan spying).

Setelah saya coba, ternyata membantu sekali.

Saat di atas KRL, saya cukup memutar playlist lagu dari smartphone kesayangan alias satu-satunya, si Samsung S23 FE dan kemudian mendengarkannya selama perjalanan.

Berjalan ke kantor terasa juga lebih menyenangkan mendengar alunan suara penyanyi dibandingkan keriuhan klakson dan deru kendaraan.

Pekerjaan pun bisa banyak yang terselesaikan karena saya bisa fokus karena sebenarnya itu kebiasaan saya di rumah kalau sedang ingin konsentrasi. Untungnya tidak ada larangan di kantor untuk bekerja sambil memakai headset.

Pulang dari kantor, earphone tidak lepas dari saya sampai tiba di penitipan motor dimana playlist dimatikan dan earphone dilepas. Saya tidak terbiasa berkendara memakai keduanya karena berbahaya.

Entah karena alasan apa, tetapi kebosanan sedikit terusir dan fokus bisa membaik.

Mungkin karena saya memang sudah terlalu jenuh dan bosan dengan rutinitas yang ada.

Namun, bisa juga karena saya terlalu bosan mendengarkan berbagai keriuhan di dunia luar dan memilih menutup diri.

Sesuatu yang sebenarnya dilakukan pada blog ini dan banyak hal lainnya, yang semakin jauh dari keriuhan dunia blog.

Yang manapun, saya bersyukur memiliki kedua alat itu. Keduanya membantu bertahan melewati kebosanan dan bisa lebih fokus di rutinitas harian.

Keliling Jabodetabek Motret Stasiun

Boleh kok tertawa dan menertawakan. No problem karena buat banyak orang bakalan terdengar lucu dan parah banget, tetapi memang saya sangat ingin melakukannya, sehingga anggaplah ini cita-cita, dan sampai saat ini belum terealisasi.

Cita-citanya, sebenarnya lahir karena saya anker / anak kereta, suka fotografi dan ngeblog, adalah mengunjungi setiap stasiun yang ada di rute Commuter Line atau KRL Jabodetabek.

Di setiap stasiun itu, saya ingin melihat dan kemudian merekam setiap sudutnya dengan kamera, dan kemudian menceritakannya kembali melalui blog.

Itu saja.

Keinginan ini muncul karena saya setiap hari melihat dinamika kehidupan di stasiun, kereta, dan banyak lagi. Menarik banyak keindahan di dalamnya, meski bagi banyak orang terlihat monoton dan membosankan.

Namun, saya tahu bahwa di dalamnya banyak cerita dan kisah yang menarik. Cerita tentang manusia.

Oleh karena itu, setidaknya, saya ingin memperlihatkan sebagian sisi kecil dari kehidupan para anker di tiap titik pertemuan antar manusianya, stasiun.

Iya kan? Setidaknya saya ingin memperlihatkan titik dasar dimana manusia yang saling tak dikenal bertemu, berjalan bersama, dan kemudian berpisah.

Cita-cita yang seharusnya mudah dan murah. Ongkosnya tidak seberapa. Bahkan tidak akan mencapai sekali terbang ke Singapura atau Bali.

Caranya juga sudah tahu banget, mengingat saya anker selama 30 tahun. Rutenya sudah hapal.

Masalahnya cuma satu, waktu dan tenaga. Berbagai kesibukan membuat keinginan yang sebenarnya sederhana ini belum juga terealisasi.

Kalau dilakukan sepulang kerja, tidaklah mungkin karena saya butuh istirahat dan keinginan pada saat itu sudah tidak ada sama sekali. Kalau di hari libur, selain butuh rehat, belakangan ini juga saya agak disibukkan dengan membantu si Kribo mengelola bisnisnya.

Kalau ada waktu kosongpun, kadang si Yayang butuh refreshing dan harus ditemani saya.

Jadi, belum ada slot waktu yang benar-benar kosong untuk saya bertualang, berkeliling Jabodetabek dan merealisasikan cita-cita kecil ini.

Mungkin, nanti setelah pensiun waktu itu akan tersedia, meski belum tentu juga yah.

Tapi setidaknya saya akan mengusahakan untuk merealisasikan cita-cita kecil ini.

Someday.

Di Jendela Commuter Line

Boleh tertawa kalau mau, tetapi dasarnya memang kepala tidak mau berhenti mikir bahkan saat berdiri dalam Commuter Line, si KRL Jabodetabek pagi ini sesuatu di jendela membuat saya iseng mikir.

Sesuatu itu berupa stiker yang banyak menempel di jendela KRL, yang isinya “Apabila terjadi keadaan darurat, jendela dapat diturunkan (dibuka) untuk evakuasi keluar

Yang membuat kepala tiba-tiba mikir adalah karena kebiasaan para penumpang kereta, ketika AC tidak berfungsi dengan baik, dan mereka kegerahan, biasanya jendela akan diturunkan.

Nah, pertanyaannya, “Apakah kegerahan termasuk keadaan darurat?” Catatannya, ketika AC mati dan di dalam kereta gerahnya minta ampun, penumpang jelas masih dapat bernafas dengan baik.

Logikanya, kalau dianggap keadaan darurat pun, artinya setelah jendela diturunkan seharusnya penumpang keluar dari kereta dan dievakuasi. Begitu setidaknya interpretasi dari tulisan tersebut karena fungsinya adalah evakuasi keluar.

Pertanyaan yang pastinya akan dijawab banyak penumpang dengan pembenaran bahwa mereka berhak membuka jendela ketika AC tidak berfungsi. Alasan utamanya adalah susah bernafas, walau sepertinya tidak mungkin karena saat mengatakan itu biasanya mereka normal saja, tidak ada tanda mau pingsan, dan hanya merasa gerah saja.

Tidak ada situasi darurat yang membahayakan jiwa sama sekali.

Biarpun orang zaman sekarang terlalu terbiasa hidup dengan AC, kepadatan penumpang masih jauh dibandingkan dulu. Kemungkinan orang mati karena kegerahan itu kecil sekali.

Jadi, sepertinya ada perbedaan definisi “darurat” di sini. PT KCI mungkin berpandangan dalam kasus kecelakaan, kebakaran, atau yang lain yang membahayakan nyawa, jendela bisa dibuka. Sudah pas karena memang hal itu umum dimanapun.

Namun, definisi penumpang adalah ketika mereka kegerahan, itu sudah darurat.

Mungkin, penumpang masa sekarang sudah terlalu manja sehingga versi daruratnya sudah sampai tahap itu.

Itulah mengapa saya tidak pernah mau diminta membuka kereta, walaupun AC mati dan tidak berfungsi. Karena saya tidak berpikir berada di dalam bahaya yang mengancam jiwa, dan karena itu jendela KRL harus tetap dalam kondisi tertutup.

Kegerahan tidak termasuk standar darurat versi saya.

Paling hanya misuh-misuh saja yang saya lakukan.