Guru Honorer

Menjadi Guru

Membaca berita terkait kehidupan guru honorer di berbagai belahan penjuru Indonesia memang sangat mengenaskan. Banyak di antara mereka yang hanya mendapatkan upah 200-300 ribu rupiah per-bulan tanpa tunjangan apapun. Sebuah nilai yang luar biasa kecilnya, terutama bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar.

Harga seloyang pizza American Favorite di Pizza Hut saja bisa sama dengan 1/2 dari bayaran yang para guru honorer itu dapatkan setiap bulan. Perbandingan yang tentu saja menjelaskan betapa murahnya harga jasa para guru honorer tersebut.

Lebih menyedihkannya lagi, ada yang melakukannya selama belasan atau puluhan tahun tanpa pernah diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Bagi saya hal seperti itu luar biasa mengenaskan.

Tapi, bagi banyak orang lainnya dan dari sudut pandang berbeda, apa yang dilakukan para guru honorer bisa dianggap sebagai sebuah kebodohan. Dengan upah yang begitu rendah dan menyulitkan kehidupan mereka, mengapa mereka masih mau menjalani profesi seperti itu.

Pasti banyak sekali opsi lain yang bisa membuat kehidupan mereka lebih layak. Menjadi seorang penjual gorengan sekalipun sangat mungkin bisa menghasilkan uang lebih banyak dari honor yang mereka terima.

Bodoh. Mungkin kata itu ada di benak banyak orang kalau membaca berita betapa sengsaranya nasib para guru honorer. Tentu saja, ada yang memandangnya dengan hormat dan memandangnya sebagai sebuah pengorbanan bagi bangsa.

Yah, masing-masing manusia memang akan selalu punya sudut pandang yang berbeda. Kalau ditilik lagi, pandangan-pandangan itu memiliki landasan berpikir yang kuat dan masuk akal.

Mengapa harus menyengsarakan diri?

Kalau saja, saya tidak punya pengalaman sendiri, sangat mungkin saya akan berpandangan dan mendukung mereka yang mempertanyakan, “Mengapa harus menyengsarakan diri?”

Tetapi, saya pernah punya sedikit cerita di masa lalu yang membuat saya setidaknya bisa memahami alasan para guru honorer itu.

Saya pernah menjadi “guru”.

Tentunya, bukan guru secara resmi, tetapi saya pernah menjadi pengajar di sebuah lembaga bimbingan belajar.

Pekerjaan itu saya dapatkan di saat menunggu kembalinya dosen pembimbing skripsi dari dinas ke luar negeri. Pekerjaan paruh waktu yang kemudian saya jalani antara tahun 1993-1995.

Dua tahun.

Saya mengajar bahasa Inggris dan bahasa Indonesia untuk dua jenjang, SMP dan SMA, meski tugas utamanya di tingkat SMP.

Ada satu hal selama masa itu yang membuat saya bisa memahami apa yang dilakukan para guru honorer.

Gaji? Bukan. Sebagai pengajar bimbel tersebut, pertama kali saya hanya dibayar 2500 rupiah perjam pelajaran. Angka itu naik 6 bulan kemudian menjadi 3000 rupiah dan setahun kemudian 3500 rupiah.

Jelas bukan sebuah angka yang besar dan bahkan sebenarnya tidak seberapa, bahkan di masa itu.

Gaji bukanlah alasan mengapa saya cukup betah mengajar selama 2 tahun.

Yang buat saya betah adalah, “Ohhh… Gitu ya Kak?”

Ohhh.. Gitu Ya Kak!

Saya, para pengajar dan staf bimbingan belajar memang semua dipanggil “Kak” oleh para siswa. Kebanyakan dari pengajar memang masih muda-muda dan biasanya adalah mahasiswa yang sedang cari tambahan.

Usia kami hanya selisih 7-9 tahun dari para siswa, sehingga peran kami, selain menjadi guru, juga sebagai kakak bagi para siswa.

Siswa kami pun beragam. Ada yang berasal dari sekolah terkenal, tetapi juga ada dari sekolah yang namanya saja saya belum pernah dengar, sekolah antah berantah. Ada yang cerdas bukan main, tetapi ada juga yang lamban sekali dalam menangkap pelajaran.

Tetapi, semua memberikan saya sesuatu yang sama. Sebuah rasa bahagia yang sulit digambarkan dalam kata-kata.

Rasa bahagia itu timbul ketika mereka sering secara tiba-tiba mengeluarkan seruan, “Ohhh .. Gitu ya Kak!“. Biasanya diiringi dengan rasa puas dan senang tak terkira. Padahal, yang diajarkan bukanlah hal yang luar biasa besar dan hanya sekedar beda Past Tense dan Past Progressive Tense saja.

Sebuah cetusan yang tidak bedanya dengan Archimedes ketika menemukan hukum Archimedes. Di sana ada rasa senang, puas, dan bahagia ketika mengetahui sesuatu.

Kebahagiaan yang ternyata menular pada gurunya atau pengajarnya.

Cetusan itu tidak pernah gagal membuat saya merasa menjadi orang paling bermanfaat di dunia. Perasaan luar biasa yang membuat gaji tak seberapa yang saya terima terasa besar sekali.

Apalagi, kalau kata-kata itu keluar dari murid yang berasal dari sekolah antah berantah, yang biasanya lebih lamban dalam menangkap pelajaran.

Plooongg, sekali rasanya kalau kata-kata itu terucap dari mulut mereka. Beban di hati rasanya terangkat dan tergantikan rasa yang sulit digambarkan.

Sebuah rasa yang luar biasa sekali.

Rasa itulah yang kemudian mendorong saya untuk terus berusaha dan menjadi tidak pernah puas. Bila ada murid yang belum mengerti, maka bukan hanya saya akan mencoba mengulangi penjelasan, tetapi saya akan berusaha mencari cara lain yang lebih sesuai dengan tingkat kemampuan siswa.

Sekecil apapun materi, saya berusaha untuk terus berkreasi agar bisa diserap oleh para siswa.

Saya terus terdorong untuk berusaha yang terbaik untuk mendapatkan ucapan, “Ohhh… Gitu Yah“.

Sebuah pertanda bahwa saya menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

♦♦♦♦

Dan, pengalaman itulah yang membuat saya sekarang ini, sedikit banyak memahami alasan seorang guru honorer mau bertahan bertahun-tahun dalam sebuah “kesengsaraan”.

Berbeda dari pandangan banyak orang, saya bisa melihat di sana ada kebahagiaan yang sulit diukur dengan materi.

Hubungan guru dan murid tidak sesederhana nilai uang yang didapat. Hubungan itu juga bukan sekedar penyampaian materi. Ada “benang penghubung” tak terlihat yang mengikat erat.

Murid biasanya akan berat sekali melepas gurunya, tetapi lebih berat lagi seorang guru yang harus melepas murid-muridnya.

Dan, saya merasakan itu.

Setelah ujian skripsi selesai dan saya mendapatkan gelar kesarjanaan, saya mendapatkan pekerjaan sebagai karyawan di perusahaan tekstil. Gajinya lebih stabil dan lebih besar daripada yang saya terima di bimbingan belajar.

Baca : Iklan Baris + Lamaran Kerja

Mau tidak mau, karena saya juga harus melihat ke masa depan, saya memilih jalan itu.

Tetapi, butuh waktu 6 bulan lebih sebelum saya secara total melepas pekerjaan paruh waktu sebagai guru. Saya memutuskan tetap mengajar di waktu libur sepulang kerja untuk beberapa kelas. Barulah setelah semua kelas tersebut selesai, saya berhenti menjadi guru.

Dengan perasaan yang berat, tentunya. Karena saya menyukai dan mencintai pekerjaan itu. Hanya karena kebutuhan saja, saya harus berpikir logis dan mengedepankan pemenuhan kebutuhan materi.

Dua tahun bukan waktu yang lama, tetapi di sana saya belajar tentang sebuah dunia lain.

Dunia yang mengajarkan kepada saya betapa bahagianya bisa berbagi dan membuat orang lain mengerti terhadap sesuatu. Dunia yang kemudian mengajarkan saya untuk terus berbagi dalam berbagai bentuk, bahkan meski tanpa mendapatkan bayaran sepeserpun. Dunia yang membuat saya merasa menjadi orang yang bermanfaat.

Dunia yang membuat saya menjadi orang yang seperti sekarang ini yang bisa memahami alasan seorang guru honorer bertahan dalam kehidupan yang minim.

Dunia “Ohh.. Gitu ya Kak!

Bogor, 3 Desember 2020

(Catatan : Foto paduan suara sekolah Regina Pacis, Bogor di ajang Cap Go Meh Bogor 2017)