Makanan Favorit

Makanan Favorit

Hampir setiap hari, si Yayang akan selalu menghadirkan satu pertanyaan sulit dan bikin pusing kepala. Padahal, si wanita kesayangan ini juga sudah tahu sekali kalau bertanya yang satu ini jawaban dari saya tidak akan pernah memuaskan.

Pertanyaannya sebenarnya sederhana sekali, “Mas, hari ini mau makan apa?”

Jawaban standar saya biasanya, “Terserah” atau “Tanya si Pangeran saja”. Kalau moodnya lagi bagus, dia akan bertanya kepada si Kribo, tetapi kalau sedang tidak, hasilnya rengutan kesal muncul di wajahnya. Pada masa WFO, kerja di kantor, saya bisa menghindar dari “omelan” kecilnya, tetapi pada masa WFH seperti sekarang, bisa jadi situasi “berbahaya”.

Pasti lah si Yayang akan kesal karena tujuannya bertanya soal menu makan hari ini karena ia ingin agar dua orang lelaki di rumahnya senang dan bahagia. Ia berniat memanjakan saya dan putra semata wayang kami, dua orang terpentingnya.

Cuma, masalahnya menjadi pelik karena saya menganut prinsip, “Makan untuk hidup” bukan “Hidup untuk makan”. Jadi, saya hanya punya satu sistem, apa yang ada di meja, ya saya makan. Hampir semua jenis makanan akan saya kunyah dan telan.

Dalam hidup saya, makanan itu hanya ada dua kategori, “enak” dan “sangat enak”. Terlebih saya juga paham sekali, makanan terenak itu adalah makanan yang dimakan ketika lapar.

Saya pernah merasakan Indomie yang direbus dengan air bekas cucian piring saat kemping dan rasanya tetap enak.

Makan, bagi saya, lebih ke sebuah ritual untuk mempertahankan hidup bukan untuk mencari kesenangan. Makanan apapun selama tidak terlalu ekstrim rasa tidak enaknya, ya saya kunyah dan telan.

Itulah mengapa, meski sebagai blogger, saya tidak akan pernah menjadi seorang pengulas kuliner yang baik.

Mungkin, pandangan seperti itu terbentuk dari kehidupan di masa kecil. Setelah pindah dari Jakarta ke Bogor, bapak dan ibu sempat mengalami masa “susah” dalam keuangan. Uang mereka tercurahkan semua untuk membeli rumah kami.

Keterbatasan keuangan membiasakan saya untuk menerima apa yang diberikan oleh orangtua. Meski belum 100% mengerti saat itu, tetapi saya melihat perjuangan bapak dan ibu agar kami bisa bertahan. Jadilah, saya membiasakan diri untuk tidak terlalu rewel.

Mau hanya ikan asin di meja atau telur dadar sekalipun, saya tidak akan protes. Apapun yang dimasak ibu, ya saya makan tanpa banyak komentar. Terlebih ibu dan bapak selalu mengajarkan saya untuk bersyukur dengan apapun yang kita dapat.

Meskipun setelah itu ekonomi kami membaik, kebiasaan yang sudah terbangun itu tidak bisa dihilangkan. Saya tetap makan apa yang ada saja.

Bahkan, setelah bekerja dan mendapat uang sendiri, saya tidak memiliki ekspektasi atau keinginan macam-macam dalam urusan makanan. Untuk makan siang, sebelum menikah, saya akan membawa bekal apapun yang tersisa di meja. Setelah menikah, bekal makan siang adalah nasi dan apapun yang disiapkan si Yayang.

Tidak ada protes. Bila si Yayang kesiangan dan tidak bisa menyediakan bekal pun, ya tidak masalah. Makan di pinggir jalan atau di warteg dekat selokan juga bukan masalah.

Saya akan bisa survive.

Kebiasaan makan apa saja ini juga ternyata membantu sekali, terutama saat harus bepergian ke luar negeri karena urusan dinas. Tidak rewelnya dalam hal makanan, saya bisa menelan oyster mentah yang disajikan saat dinner dengan pelanggan di negeri asalnya. Tidak pusing juga kalau harus menyantap sashimi atau sushi yang berbahan ikan mentah.

Makan nasi berlumur keju yang kental sekali? Yah bukan problem, saya hanya menyesuaikan ritme menyuap saja lebih perlahan agar tidak cepat mblenger karena kejunya.

Bingung mau makan apa selama hampir sebulan di Cina? Tidak juga. Meski membeli di tokonya harus memakai bahasa Tarzan karena penjaganya tidak mengerti bahasa Inggris, saya tidak pernah kelaparan dan bingung hanya karena urusan makanan.

Makan adalah tentang bertahan hidup. Bukan mencari kesenangan, bagi saya.

Jeleknya, kalau saya ditanya bagaimana rasa sebuah masakan, ya jawaban standar saya adalah “enak”. Tanpa penjelasan apa-apa karena memang saya tidak terbiasa menilai makanan.

Yang ada hanya rasa senang karena perut terisi kenyang dan itu saja sudah harus sangat disyukuri tanpa perlu penjelasan panjang.

Kebiasaan ini juga yang membuat pertanyaan harian si Yayang terkadang menjadi masalah yang rumit. Saya tidak punya ekspektasi apa-apa soal makanan. Tidak jarang kalau kebetulan sedang tidak membawa bekal, saya hanya “cap cip cup saja”, warteg atau penjaja makanan mana yang hari ini harus dipilih. Sering juga dan bukan sebuah masalah kalau dalam 3-4 hari makan menu yang sama. Toh sama-sama makanan.

Untungnya, sekarang si Kribo, pangeran kami agak berbeda dari bapaknya. Walau ia sama bisa makan apa saja, Ia lebih punya keinginan dalam hal makanan. Seringnya, ia yang memberi ide ibunya untuk menu masakan yang dikehendakinya. Jadilah biasanya, walau saya tidak bisa menjawab pertanyaan si Yayang, ia tidak manyun karena sudah ada “pesanan” dari anaknya.

Walau tidak jarang juga, si Kribo bingung dan mengeluarkan jawaban, “Terserah bapak”. Saat itulah situasi agak runyam, karena biasanya saya berikutnya yang ditanya. Ketika saya menjawab “Terserah pangeran”,saya yang kena manyun dan omelan ibunya. Nasib.

Tapi, apa mau dikata, saya memang tidak punya makanan favorit atau kesukaan. Pandangan saya soal makanan adalah tentang survival dan bertahan hidup, bukan mencari kesenangan.

Yang si Yayang pun sudah tahu. Oleh karena itu, sering kalau sudah sama-sama buntu tidak ada yang memberi ide soal menu yang akan dimakan, ia baru bertanya setelah saya sampai di rumah, “Mau telor ceplok, dadar, atau indomie?” Karena ia tahu, saya akan makan apa saja yang dimasak.

Lagi pula, toh makanan itu dimasak orang yang sama, orang yang menyayangi saya selama dua puluh tahun. Apa sih yang tidak enak kalau dimasak dengan bumbu rasa sayang? Walau mengerjakannya sambil cemberut karena bete tidak mendapat jawaban.

Bogor, 2 Januari 2021