Take Me Out

Take Me Out

Pandemi Covid-19 memang luar biasa. Bukan hanya karena ganasnya, tetapi juga bagaimana ia merubah banyak kebiasaan manusia di dunia, termasuk saya.

Lucu. Saya orang yang paling tidak suka menonton sesuatu yang “lebay” atau penuh dengan adegan menye-menye. Gatel saja kalau melihat yang seperti itu.

Namun, saya punya istri, yang seperti juga banyak wanita lainnya, menyukai sesuatu yang romantis, emosional, dan kerap berurai air mata. Si Yayang menyukai acara-acara TV yang justru berkebalikan dari saya. Salah satu acara kesukaannya adalah sinetron Suara Hati istri, yang jelas tidak sesuai dengan selera saya, tetapi ujungnya saya sering menontonnya.

Nah, satu lagi acara TV kesukaannya, yang ditayangkan ENT TV adalah Take Me Out. Acara perjodohan dimana 30 single ladies “memperebutkan” 3 pria single dalam setiap episode.

Karena TV cuma satu di rumah, sejak pandemi dan sejak berganti provider TV kabel, saya jarang kebagian jatah menonton TV mulai pukul 18.00-21.00. Sesudah Family 100, yang juga kesukaannya, dilanjut dengan Take Me Out dan hasilnya, saya tidak pernah kebagian TV, kecuali mau nonton bareng.

Hanya, karena wanita kesayangan saya itu gemar menontonnya, seringnya, sebagai suami yang baik, saya “terpaksa” menemaninya. Melihat bagaimana para jomblo berusaha mendapatkan pasangan dengan tingkah-tingkah yang tidak jarang lebay dan bikin saya geleng-geleng kepala.

Mulanya sih, tidak nyaman juga. Kenapa sih urusan mencari pasangan diumbar? Apalagi terkadang membuka kisah-kisah pribadi dari seseorang dan bahkan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Cuma, lama kelamaan, saya sendiri cukup merasa tertarik dengan reality show yang satu ini. Ok-lah, pas bagian yang lebay tetap terasa tidak nyaman, apalagi terkadang ada peserta yang sampai terkesan “memuja” dan “memuji” berlebihan, atau ketika komentar bernada “merendahkan” keluar dari peserta.

Nyablak banget dan kadang bikin bete.

Namun, saya akhirnya pun bisa menerima tontonan seperti ini, terutama tentunya karena si Yayang, seseorang yang saya akan melakukan apapun untuknya. Meskipun demikian, pada akhirnya konklusi dan pandangan saya terhadap Take Me Out ini berubah juga.

Saya memandangnya sebagai sebuah acara yang “menarik”.

WHY?

  • It’s about human : menarik melihat bagaimana perjuangan manusia untuk mencari pasangan hidupnya. Bagaimanapun, semua orang butuh “teman” dalam hidupnya
  • It’s about life : perjalanan kehidupan manusia dalam mencari pasangannya selalu penuh dengan naik turun, di sana ada harapan, keputusasaan, senang, sedih, airmata dan tawa. Acara ini adalah tentang sisi kehidupan manusia.
  • It’s real : (pasti ada settingan sih, tetapi setidaknya lebih riil daripada film atau sinetron) mimik muka kecewa ketika lampunya dimatikan, airmata yang turun, kekesalan ketika dikomentari secara negatif, semua terpancar dari muka peserta, baik pria dan wanita. Tentunya, tetap ada juga sesuatu yang memang sering dihadirkan oleh manusia dalam kehidupan, berbasa basi, bermulut manis, dan menjadi bukan diri sendiri. Meski dikemas dalam sebuah reality show, tetap lebih nyata dibandingkan sebuah film/sinetron
  • It’s unpredictable : biasanya saya pandai menduga akhir sebuah film, tetapi keberhasilan saya menebak dalam acara ini hanya 20% saja. Semua karena acara ini tidak punya pola yang mengindikasikan hasil. Seorang pria bisa menjadikan seorang kontestan wanita sebagai “curi pandang”, alias orang yang disukai pada pandangan pertama, tetapi pada akhirnya si pria justru memilih yang lain. Bisa juga disarankan penonton untuk memilih si A, tetapi justru ia memilih si B. Fisik sering tidak menentukan. Susah diprediksi.
  • Everybody is equal : tidak ada janda, tidak ada gadis, semua adalah single. Wow, bukan sebuah pandangan populer di masyarakat Indonesia yang di dalamnya masih banyak terdapat orang yang memandang “Janda” sebagai sebuah kasta yang lebih rendah dari yang lainnya dan dipandang secara berbeda dengan berbagai prasangka. Semua kontestan dipandang sebagai single, terlepas dari statusnya.
  • It’s anti mainstream : banyak pandangan umum dalam masyarakat Indonesia yang diterobos oleh Take Me Out. Pandangan bahwa cewek tidak boleh mengatakan suka duluan, cewek hanya boleh menunggu dan tidak memilih, cewek harus jaga image, cewek hanya bisa dipilih, dan banyak hal lainnya, semua didobrak dalam acara ini. Wanita dan pria punya hak yang sama, masing-masing bisa memilih dan dipilih. Cool!

Saya ternyata bisa cukup menyukai acara ini, walau mulanya males. Mungkin bagi banyak orang, Take Me Out itu norak, tetapi setelah menonton cukup banyak episodenya, saya harus memberikan penilaian, “Ah nggak sih”. Justru, saya pikir TV show ini banyak memberikan pandangan baru yang seharusnya menghapus paradigma usang yang masih sering dipakai dalam masalah mencari pasangan.

Acara ini adalah tentang kehidupan riil manusia dan bukan sebuah kisah cantik dalam kemasan. Mungkin, itulah yang menarik bagi saya, tentang manusia.

Lagi pula, saya punya kesempatan untuk sedikit ngegombalin si Yayang. Pada putaran akhir, umumnya hanya tersisa 2 kontestan wanita yang harus dipilih oleh kontestan pria.

Kadang saya akan nyeletuk dengan sombong, “Ah, kalau saya mah tidak pusing kalau disuruh milih seperti itu

Si Yayang biasa akan bertanya : “Masa. Dilema loh mas. Si A cantik, si B badannya bagus dan pinter kayaknya. Kalau aku sih pilih A. Memang kamu pilih siapa?

Biasanya saya akan menutup percakapan kecil itu dengan menyahut sambil nyengir, “Ya saya mah nggak akan pusing. Pilihanku ya Kamu dong.. Sudah terbukti kan?

Dan, biasanya akhirnya saya dan si Yayang akan tersenyum dan nyengir bareng.

Itu juga salah satu alasan lain. dan justru paling utama saya suka acara Take Me Out, meski kalau terlewat menonton saya tidak masalah juga.

Catatan : Mau coba nonton? Ini salah satu episode terbaik ketika Tasya salah satu kontestan veteran (30 episode tanpa mendapatkan pasangan karena lampunya dimatikan berulangkali) pada akhirnya menemukan pasangannya.