Tidak Konsekuen

Jadi orang konsekuen itu susah. Banyak tantangannya.

Yang paling susah dilakukan adalah soal sinkronisasi antara ucapan dan perbuatan. Kadang mulut berkata “ini”, tindakan kita berkata “itu”.

Kalau menurut filosofi/pepatah ini, dipikir-pikir, saya bisa digolongkan sebagai orang yang tidak konsekuen. Perkataan yang saya tujukan kepada orang lain (sempat) tidak sesuai dengan perbuatan yang saya lakukan, meski berselang lebih dari 30 tahun.

2017

Dalam perjalanan hunting foto, saat perayaan Cap Go Meh Bogor atau yang dikenal dengan Bogor CGM Street Festival, di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), saya melihat sekelompok ABG nangkel (bergelantungan) di sebuah truk tangki air minum.

Fotonya ada di atas.

Setelah merekam adegan ala stuntman itu, saya ngedumel kepada si Yayang yang ikut menemani.

Tuh, anak-anak bener-bener dah. Apa nggak tahu bahayanya bergelantungan di truk seperti itu? Parah banget. Orangtuanya apa tidak ngajarin kalau nyawa mereka taruhannya!

Saya bersungut sambil geleng-geleng kepala.

Terbayang kalau si Kribo yang begitu. Pasti sudah saya getok kepalanya kalau dia berani gitu. Begitu pikir saya.

Cuma, setelah itu, saya terdiam.

Menghela nafas.

Geleng-geleng kepala.

Bukan karena masih memikirkan si anak-anak yang terlihat gembira saat bisa duduk di atap tangki atau di buntut truk tersebut.

Tapi…

Karena, saya merasa, saya kok nggak konsekuen banget yah jadi orang. Tidak fair. Punya standar ganda.

Sambil terus berjalan, saya teringat pada satu masa, 29 tahun yang lalu (tepatnya di tahun 1987)

1987

“Ton, hati-hati yah!”, pesan ibu saat saya berangkat memakai seragam Pramuka.

Tahun itu, saya lolos seleksi untuk mewakili Pramuka Kwartir Cabang Kota Bogor untuk ikut Raimuna Daerah di Jatinangor, Sumedang (IPDN baru mulai dibangun).

“Iyah bu”, sahut saya sambil mencium tangannya. Saya berangkat dengan tekanan adrenalin tinggi membayangkan petualangan yang akan saya lalui. Seminggu lamanya acara itu akan berlangsung. Saya akan bersama teman-teman dari Sekolah Menengah Atas lain di Bogor dalam perkemahan tersebut.

Apalagi…

Pemberangkatan dari Bogor akan menggunakan truk bak terbuka. Mirip dengan yang dipakai mengangkut pisang atau barang lain. Bukan bis pariwisata mengingat bujet untuk kontingen Kota Bogor lumayan terbatas.

Tidak ada keluhan dari peserta, termasuk saya. Antisipasi akan adanya petualangan membuat semua orang acuh dan tidak peduli bahwa sebenarnya dana anggaran lumayan besar. Hanya saja, ada aliran uang yang tersendat entah kemana.

Tapi, saya tidak peduli.

Berangkat bersama kawan-kawan lain sudah lebih dari cukup. Tentu saja, karena bukan hanya pramuka putri saja yang ikut, petualangan juga bercampur rasa senang yang “lain”. Apalagi saya tahu ada pramuka putri yang cantik ikut saat itu.

Pasti seru.

Dan, memang begitu adanya.

Rute yang diambil adalah melalui jalur Puncak. Tol Cipularang belum ada, bahkan dipikirkan saja belum. Mau pakai rute Cikampek, terlalu jauh kalau dari Bogor. Jadi, rute inilah yang paling cepat.

Menyenangkan ternyata berada di atas truk bak terbuka. Nggak peduli cuaca mendung dan hujan rintik, basah, rasanya sih senang saja. Perut lapar tidak peduli, tertutup senangnya bercanda dengan kawan-kawan seperjalanan dan membayangkan apa yang akan terjadi di bumi perkemahan nanti.

Yah, namanya anak muda dengan adrenalin terpacu, di depan lawan jenis, salah satu kawan tiba-tiba naik ke atas kepala truk. Sambil membawa bendera, ia kemudian duduk di atas truk yang sedang melaju kencang.

Entah apa yang ada di kepala saya saat itu, pesan ibu supaya berhati-hati seperti menguap. Mungkin karena juga ingin tampil di depan para “gadis”, saya mengikutinya naik ke atap kepala truk tadi.

Tidak berapa lama, satu lagi kawan ikut.

Kami bertiga di atap truk. Duduk disitu sambil bernyanyi-nyanyi.

Ketika hujan bertambah besar, satu kawan turun dan masuk ke bak truk kembali dan berlindung di bawah terpal.

Saya dan kawan satu lagi tetap bertahan disana.

Seakan ingin memperlihatkan bahwa kami berdua kuat dan tahan menghadapi situasi buruk apapun. (Dipikir-pikir mirip seperti singa muda di hutan yang berusaha tampil gagah di depan kawanan betina)

Berapa lama saya tahan disana?

Setidaknya dari Cisarua sampai Ciranjang, saya tetap berada di atap. Bahkan, saat melalui jalur Puncak yang berkelok, di kala hujan deras, kami berdua tetap berada di sana. Seperti hendak menantang, walau tidak tahu siapa yang ditantang.

Hasilnya basah kuyup, walau tidak dianggap masalah buat kami berdua.

Kami “keren”.

Paling tidak, begitulah yang ada di kepala kami saat itu.

Balik ke 2017

Flashback ke 30 tahun yang lalu itulah yang membuat saya terdiam.

Yang dilakukan anak-anak di atas truk tangki tadi memang berbahaya. Tapi, tidak seberbahaya yang pernah saya lakukan dulu.

Apa yang mereka lakukan juga sering saya lakukan saat nangkel (bergelantungan) di angkot. Saya lebih “gila” dari mereka.

Saya sebenarnya tidak berhak ngomel atau merutuki kenakalan yang mereka lakukan, saya lebih dari itu.

Saya tidak konsekuen.

Tentu saja, kalau saya mau, saya bisa mencari alasan pembenaran atas ketidaksukaan saya terhadap tindakan si anak-anak tadi. Sayangnya, saya pikir, hal itu malah membuat saya menjadi orang super tidak konsekuen.

Jadi, saya cuma bisa merenung. Ada rasa bersalah karena langsung menuduh orangtua si anak-anak tadi tidak melakukan tugasnya. Padahal, kenal saja tidak, kok bisa langsung menyalahkan.

ABG-ABG di truk tangki itu seperti gambaran diri saya sendiri 30 tahun yang lalu. Nakal, keras kepala, tidak berpikir panjang, arogan.

Bukan karena orangtua saya tidak mengajarkan yang benar, tetapi karena saya tidak mempedulikannya. Hal yang sama mungkin sedang dialami abg-abg itu tadi.

Penilaian mereka masih muda, pendek, tidak berpikir panjang, tidak tahu resiko. Persis seperti saya di masa lalu. Efek dari pergaulan atau adrenalin mungkin salah satunya.

Meski sangat bisa jadi, mereka sedang mencari petualangan mereka sendiri. Kegembiraan, kesenangan, serta kebanggaan. Tidak beda dengan yang, lagi-lagi, yang saya lakukan.

Itulah yang membuat saya terdiam.

Saya bisa berpikir bahwa tindakan naik truk tangki itu berbahaya dan bisa membahayakan jiwa karena sudah lebih tua. Pikiran lebih panjang, perhitungan lebih matang, dan rasa takut lebih besar.

Saya tidak boleh menyamakan diri dengan mereka. Dunianya terpisah 30 tahun.

Ketidakkonsekuenan inilah yang kemudian mendorong saya untuk “DIAM” saja ketika si Kribo bercerita bahwa dia sering nangkel angkot saat SMP dulu.

Katanya, angkot ke sekolahnya agak sulit didapat saat itu. Kalaupun ada sudah penuh terus. Jadi, daripada terlambat, banyak yang pilih bergelantungan di pintu. Ia mengingatkan juga tentang larangan saya untuk membawa motor ke sekolah karena masih di bawah umur.

“Yang penting sampai tepat waktu pak. Daripada kena hukuman”, kata si Kribo.

Pada saat ibunya terbengong dan kemudian ngomel. Khawatir akan keselamatan putra semata wayangnya, saya hanya bisa mengelus kepalanya, sambil berkata, “Jangan lakukan lagi yah!”

Tidak bisa berkata banyak karena saya tahu apa yang sedang dialaminya. Saya tahu rasanya berada di posisi dia.

Saya paham. Pake banget. Apalagi, yang dia lakukan lebih kurang berbahaya dan punya alasan yang lebih masuk akal dibandingkan yang saya lakukan dulu.

Selain itu, saya pikir “DIAM” dan mengingatkan adalah jalan terbaik untuk mencegah saya terus menjadi orang yang tidak konsekuen.

Saya tidak mau “KATA” dan “PERBUATAN” saya tidak sinkron. Meski ada jarak pemisah 30 tahun.

Bogor, 17 Agustus 2020. Selamat Ulang Tahun Indonesiaku!

Leave a Comment