[Tidak Niat] Beli Rumah

Bohong besar sebenarnya kalau saya mengatakan “tidak niat” beli rumah.

Sebelum menikah, saya sudah punya keinginan untuk suatu waktu bisa memiliki rumah sendiri. Keinginan yang semakin membesar setelah menikah dengan si Yayang di tahun 2001.

Masalah utamanya adalah keterbatasan uang yang ada saat itu, terutama setelah menikah. Saldo di rekening, setelah acara pernikahan hanya ada Rp. 1 juta lebih beberapa ribu saja.

Untungnya, saya tidak berhutang untuk itu (dan memang anti meminjam ke bank hanya untuk keperluan bersenang-senang).

Jadilah, keinginan untuk membeli rumah diabaikan dulu dan kami berdua memutuskan untuk menjadi “kontraktor” alias mengontrak rumah.

Dengan sisa dana hasil “koropak” (angpauw yang diberikan tamu saat resepsi pernikahan), kami berdua langsung menyewa sebuah rumah, tidak jauh dari rumah orangtua saya.

Rumah tersebut berada di dalam gang dan bersebelahan dengan warung yang punya rumah.

Warung yang membuat daya tahan si Kribo cilik, terutama kupingnya, menjadi luar biasa. Ia kalau tidur tidak peduli suara seberisik apapun akan tetap tidur. Mungkin karena terbiasa mendengar parutan kelapa dari warung sebelah di masa bayinya membuatnya kebal terhadap suara seberisik apapun.

Tidur ya tidur.

Selama empat tahun di rumah kontrakan, menebalkan keinginan untuk suatu saat punya rumah sendiri.

Tahun 2004

Keinginan tetap keinginan.

Setelah 3 tahun menempati rumah kontrakan, tetap saja pertambahan angka di rekening tabungan masih seperti siput. Lemot.

Sebenarnya sebuah kondisi yang bisa dimaklumi mengingat gaji saya sebagai karyawan tidak seberapa besar. Tidak mungkin membesar dengan cepat kalau yang ditabung hanya sisa belanja, pengeluaran rumah tangga, dan susu si Kribo yang lumayan itu.

Jadilah, meski sudah ada keinginan belum ada “NIAT” untuk membeli. Lha, uangnya belum cukup, nanti mau dibayar pakai apa? Iya kan?

Memang tidak benar-benar tanpa usaha. Saya mencoba mencari rumah kecil yang terjangkau.

Ada sih. Saat itu banyak rumah yang ditawarkan dengan harga terjangkau. Cuma, rasanya kurang sreg dengan keinginan saya dan si Yayang.

Rumah yang ditawarkan, kalau tidak berada di gang sempit sekali atau di pinggir kali Cipakancilan.

Harganya memang murah dan kalau dihitung pasti terjangkau (dengan KPR tentunya). Cuma, kasihan si Kribo dan si Yayang.

Saya ingin rumah yang sedikit “lebih baik”. Tidak perlu besar, tetapi berada di dalam lingkungan perumahan yang lebih tertata. Saya ingin agar si Kribo bisa memiliki ruang yang lebih luas dan lingkungan yang “lebih baik” untuk tumbuh dan berkembang.

Begitupun untuk si Yayang, saya ingin dia juga bisa bergaul dalam dunia yang lebih nyaman bagi dirinya.

Oleh karena itu, saya memilih untuk terus bersabar dan menabung agar tujuan ini bisa terealisasi.

Pasti masih lama, tetapi saya pikir lebih baik menunggu daripada menyesal di kemudian hari. Bagaimanapun, rumah bukanlah barang sekali pakai dan justru penting bagi kehidupan kami di masa itu.

Jadi, walaupun masih sesekali melihat-lihat brosur atau mendengarkan info, belum terpikirkan sama sekali untuk membeli sebuah rumah dalam waktu dekat.

Uangnya belum cukup.

– Agustus 2004 –

Sebuah email masuk dari salah satu milis (mailing list) yang saya ikuti.

Isinya, sebuah penawaran dari anggota milis yang lain untuk melakukan over kredit rumah di perumahan Bogor Country (sekarang Bogor Raya Permai karena tidak boleh lagi memakai nama berbau ke-Barat-Barat-an).

Menarik!

Hanya 29 juta rupiah saja dan cicilan di bawah satu juta perbulan.

Cocok dan kira-kira pas dengan gaji saya. Si Kribo tetap bisa minum susu kesukaannya dan belanja si Yayang juga tidak akan berkurang banyak.

Email saya print.

Sepulangnya dari kantor, saya tunjukkan kepada Yayang dan ia setuju untuk mencoba melihat dulu rumahnya seperti apa.

“Sambil jalan-jalan dan beli kamera digital, Mas”, kata wanita kesayangan saya itu. Ia ingin punya kamera untuk memotret si Kribo yang memang lucu sekali saat itu.

Akhirnya, di salah satu hari Minggu, kami bertiga berangkat bersama untuk , bahasa kerennya, “survey”, walau tidak tahu juga apakah nanti membeli atau tidak. Lihat dulu yang penting.

Pakaian seadanya saja dan saya malah bersendal jepit karena hanya ingin melihat rumahnya saja.

Di kantung, ada uang sebesar 2 juta rupiah untuk membeli digicam yang murah saja. Yang penting supaya bisa motret si Kribo.

Kami pun berangkat. Si Kribo nemplok di gendongan saya.

Naik “ANGKOT”.

Habis mau apalagi. Saat itu memiliki motor atau kendaraan bukanlah prioritas kami. Toh saya memakai kereta saat bekerja dan tidak memerlukan motor.

Meskipun hanya dengan angkot, senang rasanya bisa melihat si Kribo terkagum-kagum melihat situasi di wilayah yang lain. Saya maklum karena dia biasanya hanya bermain di rumah Eyangnya saja.

Perjalanan yang harus ditempuh dengan 2 kali naik angkot terasa menyenangkan.

Sampai saya tiba di gerbang depan perumahan Bogor Country.

Menjelajah Bogor Country

Seturunnya kami dari angkot, kami berusaha menemukan alamat yang disebutkan dalam email tadi.

Rasa penasaran ingin tahu seperti apa rumahnya dan lokasinya ada pada hati kami saat itu.

Cuma, semua hanya bertahan 20 menit saja.

Rumahnya jelek? Tidak tahu.

Setelah memasuki perumahan itu, yang lumayan luas, kami tidak bisa menemukan alamatnya. Bertanya kepada tukang ojeg yang mangkal di sana pun, tidak memberikan hasil. Bertanya pada orang yang lewat, jawabannya “tidak tahu”.

Hasilnya, kami menjelajah dalam cuaca yang panas mencoba menemukan alamat tadi.

Tidak berhasil.

Sampai, saya kasihan melihat si Kribo cilik dan si Yayang yang terlihat kepanasan dan kelelahan. Keringat yang membasahi dua orang kesayangan saya itu membuat saya merasa bahwa keputusan tidak membeli kendaraan adalah sebuah kesalahan. Mereka walau tidak mengeluh terlihat sekali kelelahan dan tidak nyaman.

Saya menyuruhnya berhenti di mesjid di dalam kompleks perumahan itu.

Biar aku Neng yang nyari“, begitu kata saya.

Dan, si Yayang mengiyakan.

Hampir satu jam saya menjelajah perumahan itu dan sampai akhirnya saya melihat rumahnya.

Rumah kecil khas perumahan. No problem sebenarnya. Cuma lokasinya berada di ujung sekali dan dinaungi rumpun bambu yang tebal sekali. Mirip seperti di lokasi kuburan.

Hilang sudah saat itu minat terhadap rumah murah itu.

Saya kembali ke mesjid tempat si Yayang dan si Kribo menunggu. Menjelaskan kondisinya dan mengajak pulang (jalan-jalan) ke Yogya Jalan Baru, untuk makan siang dan membeli kamera.

Survey terasa tidak berhasil.

Perumahan Bukit Cimanggu Vila

Di atas angkot dalam perjalanan menuju Mall Yogya Jalan Baru, saya bilang, “Nanti kita cari lagi” yang disambut anggukan Yayang penuh pengertian.

Karena ada penumpang yang naik, angkot yang kami tumpangi berhenti di depan perumahan lain, Bukit Cimanggu Vila, sebuah perumahan yang katanya elit. Mungkin karena harga rumahnya mahal.

Entah darimana ide itu berasal, saya berkata pada si Yayang, “Kita iseng lihat yuk”. Lagi-lagi si Yayang hanya mengangguk menyetujui sambil tersenyum. Ia paham sekali dengan suaminya yang suka ndableg.

Kami pun turun.

Dan, sebelum masuk, kami memandangi pakaian sendiri. Sendal jepit menjadi perhatian utama, pakaian untuk kaki yang sangat tidak keren dan saat itu terasa kurang pas sekali untuk memasuki ruang pemasaran perumahan terkenal di Kota Bogor itu.

Cuma, akhirnya kami cuek bebek dan melangkah masuk.

Salutnya, petugas satpam membukakan pintu bagi kami, tanpa melihat pakaian yang kami kenakan.

Begitu juga sambutan dari staf di dalamnya.

Mereka mempersilakan saya duduk di sebelah seorang calon pembeli lain berpakaian lebih perlente. Kami tidak dibedakan.

Petugas yang menemui saya, seorang gadis muda yang saat menjelaskan masih ditemani seniornya, seorang manajer. Sang manajer terus mendampingi saat si petugas muda itu menjelaskan.

Saya pun diajak untuk melihat lokasi.

Bingungnya saat itu, si Kribo yang sudah kepanasan dan kecapean mulai rewel. Ia menangis dan tidak mau diajak ikut serta.

Akhirnya, saya pun berangkat sendiri.

Berbeda dengan di Bogor Country, saya meninjau lokasi dengan memakai kendaraan yang sudah disiapkan untuk pelanggan.

Saya beserta si staf tadi meninjau lokasi dimana “rumah” itu berada.

Lumayan jauh juga dan kalau dihitung sekitar 2,7 kilometer jauhnya dari kantor pemasaran dimana si Yayang dan si Kribo menunggu.

Perumahan yang luas dan besar.

Apa yang saya lihat?

Ternyata cuma kavling saja dan sebuah rumah contoh. Cluster yang ditawarkan masih kosong melompong dan belum ada penghuni sama sekali. Hanya, dari penjelasan sudah banyak dibooking (biasa lah namanya juga salesman pasti bilangnya sudah mau habis).

Lumayan cocok sebenarnya karena jalan di depan rumah lebar dan cukup untuk dilalui 3 mobil. Sesuatu yang saya inginkan. Ditambah dengan tipe cluster yang terjaga.

Sekembalinya dari survey, saya dibujuk untuk segera booking tempat, biar tidak kehabisan.

Kasih si AAA booking pertama pak. Kalau bapak jadi booking, ini penjualan pertama dia“, kata si manajer.

Ntar dulu deh, saya hitung dulu, Senin saya kasih kabar ya“, jawab saya dengan halus. Bukan karena tidak suka, tetapi sebenarnya karena tidak yakin cash flow dan keuangan akan mencukup membayar cicilan rumah.

Akhirnya, setelah kami mengucapkan terima kasih kepada staf disana, kami beranjak pergi, ke tujuan kami semula, Mall Yogya Jalan Baru untuk makan McD, kesukaannya si Kribo.

Kembali kami naik angkot.

Mall Yogya Jalan Baru

(Nama resminya sih sebenarnya Bogor Indah Plaza di Jalan Soleh Iskandar, cuma kami lebih suka menyebutnya dengan Yogya Jalan Baru)

Saat menikmati “fried chicken” a la McD, saya tiba-tiba nyeletuk.

Say, kita jadiin yuk?

Jadiin apa Mas?“, tanya si Yayang.

Beli rumah tadi, yang di BCV“, jawab saya.

Memang, uangnya ada, Mas?“, tanya si Yayang ragu karena dia tahu gaji bulanan dan kebutuhan.

Cukup sih, kalau dihitung cash flownya. Untuk DP, bisa pakai tabungan“, jelas saya walau sebenarnya kurang yakin juga.

Aku sih, terserah Mas saja. Cuma apa nggak sebagusnya ngobrol dulu sama Ibu (panggilannya untuk ibu saya, mertuanya)“, tanya ibunya si Kribo ini.

Malah bagusan nggak usah bilang dulu. Jadi adil, ini keputusan kita sendiri. Lagipula, lokasinya pas banget di tengah (antara rumah ibu dan rumah mertua). Jadi, nggak pilih kasih“, begitu jelas saya.

Ya udah, kalau Mas yakin sih“, timpal si Yayang.

Kalau gitu, sini uang 2 jutanya“, minta saya kepada si Yayang yang menyimpang uang untuk membeli digicam.

Nggak jadi beli kamera dong?“, tanya si Yayang.

Yah, itu belakangan. Beli rumah dulu“, jawab saya sambil senyum.

Yayang menyerahkan uang 2 juta. Di bibirnya terlihat juga ada senyuman. Saya tahu, meski tidak jadi membeli kamera, wanita kesayangan saya ini senang karena akan punya rumah sendiri.

Aku perlu ikut, Mas?“, tanya Yayang.

Nggak usah, kasihan si Arya“, jawab saya.

Sambil mengantungi uang 2 juta tadi, saya kembali ke kantor perumahan Bukit Cimanggu Vila.

Si staf muda dan manajernya senyum melihat kedatangan saya yang kedua, hanya sekitar 45 menit dari saat saya pergi.

Mereka menyambut.

Saya menjelaskan akan melakukan booking untuk rumah yang wujudnya belum ada itu. Bertanya-tanya tentang prosedur mendapatkan KPR dan mendapat penjelasan bahwa hal itu akan dibantu oleh pihak mereka.

Menandatangi beberapa berkas. Menyerahkan uang tanda jadi sebesar 1, 935,000.- rupiah. Mendapatkan salinan.

Kemudian, saya mengatakan akan menyerahkan DP keesokan harinya.

Kami berjabat tangan dan kemudian saya kembali ke Yogya Jalan Baru menemui kedua orang kesayangan.

Saat bertemu, saya hanya mengatakan :

KITA SUDAH BELI RUMAH

Di Rumah

Sesampainya di rumah, barulah kami bercerita kepada ibu dan bapak saya, tentu beserta kakak dan adik.

Mereka kaget bukan kepalang bahwa saya sudah membooking sebuah rumah. Berondongan pertanyaan hadir.

Bukannya itu daerah banjir?” (kata kakak saya) dan memang betul adanya kami mengalaminya juga.

Rumahnya menghadap ke Timur atau Utara, Ton?“, tanya ibu yang sangat ketat dalam urusan “keyakinan” yang seperti itu.

Saya jelaskan semua dengan jawaban “TIDAK TAHU”. Karena memang saya tidak melihat sampai kesana dan rumahnya juga belum ada wujudnya.

Tambahan berondongan pertanyaan hadir ketika ibu dan bapak mertua diberi kabar tentang hal ini oleh ibu via telpon.

Si Yayang cuma tersenyum. Ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Saya pun demikian.

Tetapi….

Semua itu tidak mengurangi kebahagiaan kami bahwa mimpi kami sudah dimulai langkahnya dengan booking tadi.

Setelah melalui proses dan banyak cerita lainnya, proses pembelian rumah selesai, Meski karena kontraktor pembangunannya sempat kabur, rumah tersebut baru selesai sekitar 6 bulan kemudian.

Kami pun menempatinya 4 bulan setelah serah terima, di bulan Juli tanggal 3 tahun 2005.

Rumah yang kami tempati hingga saat ini, 15 tahun kemudian dan sudah penuh dengan berbagai cerita, baik sedih atau gembira (dan akan saya ceritakan dalam kisah-kisah berikutnya).

Rumah yang diputuskan untuk dibeli pada saat [tidak] berniat membeli rumah.

Salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup saya.

16 thoughts on “[Tidak Niat] Beli Rumah”

  1. Sukaaa mas, hehehehe! Bisa ikut membayangkan rasanya kepanasan sambil cari rumah, terus kecewa karena ternyata rumah pertama mirip area kuburan πŸ˜€

    Dan ketika cek rumah ke dua, ikut senang saat mas Anton sekeluarga disambut hangat meski menggunakan pakaian ala kadarnya. Dua jempol untuk services mereka, dan empat jempol untuk usaha mas Anton membahagiakan keluarga. Siapa yang sangka, niat turun untuk lihat-lihat tanpa rencana justru menjadi awal dari kepemilikan sebuah rumah :3 hehehehehe.

    Mas Anton terhitung cepat cari rumah, kalau saya survey-nya lama banget setiap cari rumah, kadang bisa berbulan-bulan huhuhu. By the way, selamat 15 tahun rumahnya, mas. Semoga mas selalu berbahagia bersama keluarga πŸ˜€

    Reply
    • Mungkin karena sebenarnya sudah pingin banget Eno.. Jadi, saya tidak melihat terlalu detail dan waktu itu pertimbangan hanya masalah lingkungan saja. Juga yang penting tahu ada dua kamar, kamar mandi.

      Jadi pertimbangan saya nggak banyak sekali.. hahahaha

      Poko’e punya rumah..

      Makasih doanya Eno, semoga juga Eno berbahagia dengan si kesayangan sampai akhir hayat yah.. Aaaminn

      Reply
  2. Wah, lika-liku banget ya cerita rumahnya.

    Teman-teman di tempat saya ngajar juga banyak yang ngambil rumah KPR. Lokasinya dekat dengan tempat kami ngajar. Saya juga disaranin beli, tapi ngga yakin karena masih tinggal dengan mama.

    Karena lebih dari 10 tahun ngga tinggal bareng ortu, kayanya mama ngga ingin saya tinggal di tempat lain.

    Ngga tanggung-tanggung, di samping rumah kami ada tanah masih kosong. Mama membuatkan dua buah rumah kembar untuk saya dan adik. Ceritanya supaya kami ngga pergi kemana-mana.

    Hebatnya doa mama, saya dapat suami yang mau tinggal di rumah tersebut. Jadi bukan saya ikut suami, tapi suami ikut saya. Jadi kami tinggal bersebelahan dengan mama.

    Reply
    • Iyah.. memang lika likunya panjang.. hahaha

      Waahh… Memang orangtua pasti ingin anaknya terus berada dekat dengannya. Alhamdulillah Nisa kalau begitu mah. Apalagi pak su juga pengertian dan mau.

      Betul doa orangtua itu manjur sekali dan seneng dengernya Nisa…

      Insya Allah berkah. Bisa berbahagia sambil menjaga mama

      Reply
  3. Bapaaakkk, seandainya banyak lelaki yang berpikiran kayak Pak Anton, rasanya berkurang sedikit mamak-mamak stres di dunia ini hahaha.

    Suka banget dengan pemikiran pak Anton, pilih rumah di antara rumah mertua dan ortu, biar nggak pilih kasih.

    Selalu melibatkan pasangan dalam memutuskan sesuatu, selalu memikirkan posisi anak dan istri dalam memutuskan sesuatu.

    Saya jadi ingat, dulu waktu ikut suami di Jombang, kami cari kontrakan, dan pas suami ketemu pemiliknya, tuh pemiliknya minta segera dikasih DPnya.

    Suami saya bilang mau nanya saya dulu, eh malah diceramahin dong, katanya istri itu nurut sama suami, apa yang sudah dikasih suami ya kudu nrimo, termasuk rumah kontrakan pilihan suami.

    Sumpah ye, hampir aja saya datangin tuh bapak-bapak buat jambak rambutnya wakakakakakakak.
    Dia patriarkis mah patriarkis aja sendiri, nggak usah ajak-ajak.

    Dan percaya nggak sih, paksu saya tuh sekarang udah patriarkis aja, saking kebanyakan gaul ama laki patriarkis kayaknya, meskipun saya gak nyalahin teman-temannya sih, karena itu kan tergantung personal, mau bergaul sama siapa, harusnya punya pendirian kan.

    Lah kok saya curcol di sini πŸ˜€

    Btw suka banget baca kisah perjuangan pak Anton, kan kata siapa nggak ada emosinya, ada kok, meski ya beda ama para blogger wanita kek saya dan lainnya.

    Kami memang lebih mendramatisir, because we are quen of drama wakakakakakakaka

    Reply
    • Hahahahahaha… jangan nanti malah emak emak tambah berkuasa.. hahaha #kabur.

      Yah, jangan dijambak Rey, nanti masuk berita repot loh.

      Memang masih lumayan banyak juga kaum pria yang bersikap seperti ini Rey. Kalau saya sendiri kan pernah bilang, mengedepankan kerjasama tim, jadi saya akan selalu konsultasi sama istriku. Jadi, apa apa ya selalu ngobrol dulu meski kadang akhirnya aku yang ambil keputusan, tapi sudah berdasarkan pertimbangan bersama…

      Nah itu yang masih belum bisa jadi Drama Queen. Tapi mungkin nanti aku bisa jadi King of Drama yah.. hahahaha

      Reply
  4. Kak Anton, aku ikutan terharu membacanya πŸ™
    Terbayang semua perjuangan sulitnya dalam mencari rumah yang dituju dan turut senang saat akhirnya bisa membeli rumah!
    Yang nggak disangka, malah dapat rumahnya di tempat yang nggak terpikirkan sebelumnya. Rezeki dan waktu Tuhan selalu tepat ya, Kak. Hasil dari ndablek yang berakhir bahagia πŸ˜€

    Reply
    • Kalau ingat masa itu memang berat Li, tapi setelah sekarang jadi cerita lucu yang selalu kami bertiga ingat.

      Iyah, Tuhan akan selalu memberikan jalan selama kita mau usaha kok.. ini salah satu buktinya

      Reply
  5. hiks…#jadi pingin cari tissue

    memang seharusnya aku banyak main ke blog si anton aja daripada MM hahhahaha

    di si anton mas anton mah beda banget ama di mm yang bengal hahha, di sini aku selalu melihat sosok pria yang selalu melindungi, seperti suamiku dan juga bapakku hahhahhahah

    (terhura bacanya)

    terheartwarming, bagian gendong mas cibo cilik berdua dengan si yayang naik angkot masih pakai sandal jepit, mau beli kamera digital tapi nda jadi…😭πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

    btw keren mas cibo cilik uda bersahabat dengan bunyi parutan kelapa di warung sebelah…jadi ngira ngira mau buat dimasak apa ya?

    oh ya, kita sama mas, aku ama pak suami juga memutuskan merahasiakan dulu saat beli rumah pertama kali dari orang tua kami, soalnya keputusan kan ada di tangan kami hihi…biasa bapakku kan tukang gambar denah rumah jadi kadang suka rewel kalau kita ada mutusin beli rumah yang belum bagus dari segi pondasi atau apanya…arah arahnya…dsb

    la tapi kalau nda beli beli kapan bisa belinya kami

    sementara harga rumah itu terus melambung di era sekarang, daaaaaaaaan…kami baru mampu belinya yang second masih kudu banyak banget yang dibenahi, sementara sampai saat ini masih begini, renov nunggu tabungan ngumpul karena kan kutahu gaji pak su dan buat kebutuhan rumtang juga anak bayi 2 biji jarak dekat uda ga bisa nenen lagi jadi susunya 2 buat si kakak n si adek hahahhahahhaha…tapi alhamdulilah semangat asal selalu ada cintah #tsah

    Reply
    • Perlu dikirim dari Bogor Mbul.. hahaha banyak nih kalo cuma tisu mah.. wakakakak

      Kan beda MBul, disana memang sejak awal diniatkan menjadi bengal dan ndableg. Makanya brandingnya tetap nggak berubah di MM, walau sekarang agak bergeser. Kalau disini kan juga topiknya membahas saya dan keluarga, makanya ya memang berbeda. Tidak bisa sama.

      Di MM saya lebih memakai seragam ala samurai internet yang suka bertarung, kalau disini, saya pake baju seorang kepala rumah tangga, bapak, teman, anak, suami…

      Saya percaya Mbul juga gitu karena baca ceritanya dari awal sampai sekarang, pak su dan kamu terlihat dekaaatt sekali. Masak berdua eh berempat. Begitu juga saya, Yayang , dan si cibo loh. Dulu kemana-mana bertiga.

      Hahahaha.. sendal jepit.. ya begitulah. Memang begitulah kita saat itu, lha ya uang dihemat-hemat je Mbul buat beli rumah, jadi pakaian ga kita peduliin, kecuali wat si Kribo…

      Haaahh.. bapakmu juga begitu yah. Tapi, kupikir itu tandanya orangtua yang perhatian kepada kebahagiaan anaknya. Meskipun kadang hal itu membingungkan kita kan..

      Santai Mbul.. pelan-pelan. Sebenarnya tidak ada rumah seken, beda dengan mobil atau kendaraan, rumah ya rumah.

      Lha, memang rumah saya nggak direnovasi habis dibeli.. Banyak lagi yang harus diurus, tapi itu kan wat cerita berikutnya.

      Hahahaha.. maklum Mbul, saya dan Yayang juga mengalami kepusingan yang seperti itu. Tapi itulah perjuangan orangtua Mbul.. sabar pelan-pelan. Selama kita tetap berusaha dan berjuang, pada akhirnya mudah-mudahan cita-cita akan terwujud kok Mbul…

      Percaya.. percaya.. ada cintaahhhhhhhhhhhh segunung di sana.. dan saya senang membacanya, seperti soal collab masak berdua.. wakakaka.. keren itu…bedaaaaa

      Reply
  6. Akhirnyaaa saya ketemu juga blog personal Mas Anton yang ini hahahaha *kemana aja lu jennn*

    Hiks, entah kenapa saya terharu bacanya (‘: apalagi pas momen Mas Anton menyerahkan uang tanda terima dan tanda tangan surat, wah itu rasa bahagianya kayak apaaa. Syukurlah akhirnya Mas Anton, Mbak Yayang dan Kribo bisa menempati rumah impian sekarang ya πŸ˜€

    Cerita ini mengingatkan saya beberapa waktu lalu saat sebulan si kecil lahir, aku dan suami lagi ngotot-ngototnya ingin beli rumah (padahal uangnya belum ada). Kami jalan kaki lihat-lihat rumah di sebuah komplek, sambil gendong si bayi panas-panasan juga. Sayangnya, belum ketemu dengan rumah impian. Sampai hari ini, keinginan beli rumah itu masih ada, tapi sepertinya memang belum waktunya deh. Jadi kami tetap bersabar dan terus bersyukur walau masih tinggal di PMI (pondok mertua indah) 😁 #mohonmaapnumpangcurcol

    Btw, sekarang wilayah tempat tinggal Mas Anton udah makin ramai dong yaa. Lima tahun yang lalu Jalan Baru sepertinya masih agak kosong, sekarang kayaknya rami sekali.

    Reply
    • Hahaha selamat datang Jane.. Maaf telat menjawabnya karena kebetulan agak ruwet.

      Wah, saya cuma bisa mendoakan supaya Jane, Andreas, Josh, dan calon adik Josh segera mendapatkan rumah impiannya yah. Nggak masalah kok untuk sementara di PMI, nyimpen kekuatan untuk mewujudkan impian.

      Pasti masih ada, saya yakin keinginan itu akan semakin membesar. Memang butuh perjuangan Jane untuk mewujudkannya tapi begitu nanti tercapai rasanya luar biasa sekali. Persis seperti yang Jane bayangkan. Saya sendiri sampai nggak percaya bisa..Nanti Jane akan merasakan sendiri deh.

      Sebenarnya mah sudah lumayan ramai Jane. Cuma belakangan sejak dibangun BORR, sudah kayak daerah bisnis dan hasilnya jadi padat dan ramai sekali.. Mau disini Jane, nanti aku jadi punya temen blogger nih.. hahahahaha

      Met berjuang meraih impian yah.. terus berjuang

      Reply
  7. Hi pak Anton, baru pertama kali main ke blog yang ini, karena biasanya ke blog yang maniak menulis even nggak pernah komentar wkwk.

    Baru baca beberapa tulisan, dan kayaknya aku mau komen di sini, hehehe. Tbh, nggak tahu mau komen apaan karena udah speechless duluan baca story-nya, penuh emosi.

    In the end, senang rasanya pak Anton bisa mengambil keputusan terbaik dalam hidup, semoga bahagia terus sama yayang dan si kribo-nya. Sehat-sehat pak. (Sebenarnya aku nggak tahu mau panggil apa, mas kah? Om kah? Hehehehe).

    Reply
    • Hola Sovia,

      Selamat datang di rumah BTN saya.. hahahaha.. Senang didatangi si Mbak kesini. Silakan mau panggil saya apa saja, terserah nyamannya mabk Sovia saja. Semua akan diterima dengan senang hati.

      Iya mbak.. Alhamdulillah, saya juga bahagia banget saat bisa dapat rumah itu..

      Hahaha.. nah ini sudah komen.. Thank you banget loh mau mampir..

      Reply

Leave a Reply to Adin Ikhwan Cancel reply