Time Flies So Fast!

Suasana rumah beberapa hari belakangan ini memang sedang terkesan sendu. Seberapapun usaha si Yayang untuk menyembunyikannya, tetap saja tidak terhindarkan pancaran kesedihan, kekhawatiran, dan berbagai rasa tidak nyaman terlihat di wajahnya.

Sekeras apapun usaha menutupi yang dilakukannya, kesan itu terasa menyelimuti rumah kecil kami.

Si Kribo “biang keladi” nya. Putra semata wayang kami itu memang merupakan akar masalahnya.

Ia tidak melakukan “kesalahan” apapun. Ia tidak melakukan kenakalan yang menyusahkan, tetapi tetap saja kalau ditelisik lebih jauh, memang dia penyebab ibunya menjadi super galau. Super resah. Super uring-uringan. Super tegang.

Keputusannya beberapa waktu yang lalu lah yang sempat menyebabkan, ibunya, dan saya juga bersyukur akan keberadaan pandemi. Bukan berarti senang karena banyak jatuhnya korban, tetapi keberadaan sang pagebluk itu sedikit menghambat dan memberi waktu kepada kami.

Ngekos

Yang dilakukan si Kribo bukanlah hal yang luar biasa. Intinya bahkan sangat sederhana sekali. Ia hanya mengatakan sesuatu yang seharusnya dilakukan 1 tahun yang lalu. Hanya karena pandemi, semua menjadi tertunda.

Ia hanya berkata, “Mah, kayaknya Yaya harus mulai kos di Bandung. Ada kegiatan kemahasiswaan yang harus dihandle. Juga, karena sebagai asisten lab Fotografi, Yaya mungkin harus lebih sering berkomunikasi dengan dosennya”.

Hanya itu saja.

Sesederhana itu saja. Tidak ada permintaan aneh-aneh. Tidak ada keinginan yang tidak lazim. Namun, semua langsung memberikan dampak besar bagi keluarga kecil kami, terutama bagi si Yayang.

Sejak saat itu, keresahan jelas sekali terlihat di raut muka wanita kesayangan saya, yang dulu begitu tegar dan berani turun ke jalan membantu mahasiswa kala demo besar-besaran tahun 1998-1999. Wanita yang dulu berani bepergian kemanapun.

Sebuah perasaan yang saya amat sangat maklumi. Selama 19 tahun, si Kribo merupakan “bagian terpenting” dalam kehidupannya. Semua hal dilakukan untuk putra satu-satunya itu. Waktu, tenaga, dan segala hal dilakukannya untuknya.

Jadi, bisa sangat dimengerti perasaan yang dialaminya ketika “saat” itu tiba. Pasti rasanya berat.

Apalagi, ia tidak bisa lagi menjadi pelindung, pengurus, dan pengasuh pria kesayangannya itu. Kekhawatiran dan kecemasan pasti merasuk ke dalam hatinya.

Ia pun menyadari bahwa hal itu memang tidak terelakkan dan akan terjadi. Apalagi, di bulan Juli tahun 2021 ini kami memang sudah menemukan tempat kos untuknya. Bahkan, sudah membayar full selama satu tahun dan berbincang banyak tentang segala sesuatu terkait ngekos.

Namun, ketika saatnya tiba, tetap saja rasa berat itu pasti terasa membebani si wanita yang dulunya keras kepala itu.

Berat pasti rasanya berpisah dengan seseorang yang merupakan “kehidupannya” selama 19 tahun. Oleh karena itu saya memaklumi segala keresahan yang dialaminya.

Bapaknya

Cowok itu kuat dan cueks.

Kata orang sih begitu karena pria dikatakan “tidak punya perasaan” sebab mengandalkan logika. Cuma, saya pikir tidak selalu begitu. Bagaimanapun, pria pun manusia yang pasti memiliki perasaan.

Saya memang tidak menghalangi. Bahkan, saya justru dengan begitu mudahnya menyetujui apa yang dikatakan putra semata wayang tersebut. Lebih jauh lagi, saya membantunya dengan saran, strategi, dan dukungan keuangan yang diperlukan baginya untuk nanti hidup di tempat kos.

Karena saya menganggapnya sebagai hal biasa?

Tidak juga.

Perkataan si Kribo secara otomatis langsung mengeluarkan semua memori kebersamaan kami selama ini. Kenangan ketika ia dengan manja “nemplok” di punggung karena malas berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor. Memori saat ia minta diangkat bersama-sama oleh ibu bapaknya. Ingatan sikap takut tapi penasaran saat memberi makan kijang di Istana Bogor.

Semua langsung seperti film yang diputar secara otomatis dan tayang di kepala.

Bohong besar kalau tidak ada berbagai rasa hadir di dalam hati karena perasaan saya pun sama campur aduknya dengan si Yayang. Galaunya tidak beda jauh, 11-12 lah.

Hanya saja, kepala saya mengatakan bahwa saya harus mengambil keputusan yang “terbaik” untuk si Kribo. Bukan untuk kami.

Si Kribo sedang merintis jalan menuju “dunia”nya sendiri. Dunia yang diinginkannya. Dunia yang ingin diraihnya.

Kami, orangtuanya, harus mendukung keputusannya dan bukan menjadi batu penghambatnya dengan keinginan kami sendiri.

Jika ditanya, “Apa keinginan kami, sebagai orangtua?” Maka jawabannya sederhana juga bahwa orang tersayang kami itu, dan untuk apa selama hampir 20 tahun kehidupan kami dihabiskan untuknya, tetap berada bersama kami berdua.

Sayangnya, kalau itu dilakukan, maka kami akan merusak kehidupan si Kribo sendiri. Ia tidak akan pernah mendapatkan dunia yang diinginkannya. Ia hanya mendapatkan dunia yang diinginkan dan dibentuk oleh kami, orangtuanya. Pada akhirnya, itu tidak akan pernah menghasilkan kebaikan bagi semuanya.

Jadi, meski terasa berat, maka saya dan si Yayang sadar bahwa si Kribo memang harus berangkat ngekos di Sukabiru, lokasi di sekitar kampusnya. Demi kebaikan semuanya, termasuk kami.

Masih satu minggu lagi, sebelum keberangkatannya ke Bandung. Bukan tempat yang jauh dan sudah biasa kami tempuh. Namun, sudah pasti akan terasa “jauh” karena ada batasan yang harus kami ambil dan lakukan.

Bukan untuk kami saja, tetapi untuk kebaikan semuanya.

Lagi pula, ini adalah bagian dari kodrat manusia. Sesuatu yang suatu waktu akan terjadi pada diri siapapun. Bukan hanya si Kribo yang harus belajar hidup mandiri, tetapi juga kedua orangtuanya harus belajar hidup “terpisah” darinya.

Tidak akan mudah karena kehidupan kami berdua selama 19 tahun terfokus pada pemuda yang berambut kriwil dan berkacamata ini. Semua usaha dan upaya “tim” saya dan si Yayang adalah demi dirinya. Kadang bahkan dengan tidak mengacuhkan diri sendiri.

Kami harus belajar. Si Kribo juga harus belajar. Semua harus belajar.

Pada akhirnya, jika semua berjalan dengan baik, maka ada banyak hal baru, termasuk kebahagiaan menanti kami semua di depannya. Meskipun, tentu saja dalam bentuk yang berbeda dengan yang dialami selama 19 tahun yang sudah lalu.

Kami akan menuju tahap baru dan berbeda.

Yang bisa kami syukuri adalah bahwa ada begitu banyak kenangan manis yang pernah kami lalui bersama. Kebahagiaan yang seperti meniup segala kesusahan dan kesedihan yang juga pernah kami lewati.

Kami bahagia.

Sesuatu yang dicari manusia dengan berbagai cara dan kami sudah menikmati banyak.

Walau tidak bisa dinafikan, sebagai manusia “serakah”, dan pada kodratnya manusia memang serakah, saya berharap bahwa “Time can slow down a bit“, waktu bisa berjalan sedikit lebih lambat.

Sedikit saja.

(Bogor, 23 September 2021)

10 thoughts on “Time Flies So Fast!”

  1. Wah mas Kribo akhirnya jadi anak kos, pasti excited banget, ya 😍

    Saya jadi ingat momen saya pergi menjalani hidup saya dan nggak tinggal lagi sama orang tua, mas. Yang pasti awalnya excited, tapi nggak lama kemudian langsung homesick karena kangen masakan Ibu saya dan kemudahan hidup yang didapat berkat ada di bawah ketek orang tua 😂 Wk.

    Asiknya hidup sendiri itu saat bisa lebih mudah aktivitas, ketemu teman, this and that. Tapi ketika balik kamar, sendirian, nggak ada siapa-siapa, bawaannya langsung berasa paling menderita 😁 Hahaaha. Kenangan betul masa-masa itu. Eniho, semoga mas Kribo bisa menjalani kehidupan barunya dengan semangat, dan semoga mas Anton sama mba Hes bisa bersiap untuk menuju tahap baru yang berbeda 🥳

    Once again, congrats mas Kribo 🎉

    Reply
    • Hahahaha.. kayaknya semua pasti akan melewati tahap itu Eno. Si Krib sih memang persis kata Eno, excited dan semangat banget. Hahah.. emak bapaknya yang agak galau..

      Yup.. makasih Eno dan welkam bek.. Nice to have you back

      Reply
  2. Siapa yang memotong bawang di sini?! Pedih banget sampai aku pengin nangis nih 🤧😭.
    Belakangan ini ibuku juga mulai galau-galau melihat anak-anaknya yang mulai dewasa dan mungkin sebentar lagi akan pada menikah. Lihat ibu galau, terkadang bikin aku jadi galau sambil berharap waktu berjalan lebih lambat supaya nggak cepat berpisah sama ibu 😫😖. Jadi tulisan Kak Anton sedikit banyak relate sama aku dan bikin aku jadi sedih 😫😭
    Anyway, semoga segalaa sesuatunya dilancarkan dan Arya kelak bisa lulus dengan hasil yang terbaik 🙏🏻
    Aku kirim virtual hugs untuk Kak Hes dan Kak Anton 🤗

    Reply
    • Makasih virtual hugsnya… help a lot.

      Yah, saya tahu rasanya mamamu… Hahahaha.. sama-sama punya anak “dewasa” dan rasa berat itu pasti ada. Cuma, saya juga percaya di sana ada kebahagiaan menanti bagi semuanya. Jadi suka atau ga suka harus dijalani.

      Jangan lupa nengok ibumu kalau sudah menikah yah. Kehadiran anak, meski hanya sebentar akan sangat berarti baginya

      Reply
  3. wahh…. kribo teh anak telyu yahhh…. (menebak dari lokasi kos kosannya hahahaha)

    saya baru ngekos pas udah kerja, itu pun di rumah saudara, jadinya mungkin ayah saya nggak terlalu merasa kehilangan. lain dengan mas anton dan mbak yayang, momen yang diflashback di tulisan ini pasti berasa banget ya… kebayang, anak yang dulunya segala harus dibantu dan segala nanya, sekarang udah bisa dilepas hidup sendiri di kota lain.

    semoga pindahannya lancar, kuliah tatap mukanya lancar tanpa sesuatu apa pun, dan bisa sering-sering pulang ke bogor juga, jadi mbak yayang ga kesepian 😆😆

    Reply
    • Sama orang Bandung mah ga bisa ngelak. Hahaha Iya memang anak Telyu…Tahun ke-2

      Iyah, memang otomatis terbayang melihat dia sekarang. Inget masa kecilnya. Hahahaha…

      Makasih Mega atas doanya.. Aaamiiin… Iyah. Bukan cuma ibunya saja yang bakalan kangen, sayanya juga bakalan begitu sebenarnya.. cuma diem.. hahaha

      Reply
      • aduhhhh… bapak gue bangeeet itu… kangen tapi diem. kalo kangen tuh adaa aja alasannya biar anaknya pulang. kalo mas Anton bakal nitip kangen ke Mbak Yayang kali yaa, soalnya gak bilang langsung ke anaknya 🤣🤣🤣

        Reply
  4. Kenapa tulisan ini banyak mengandung bawang Bombay Pak Anton…? 😁😁 tengah malem pula.. *hikss

    Selamat dulu deh buat Kribo. Akhirnya jadi anak kosan juga 😁.. semoga segera lulus kuliah dengan hasil yg memuaskan. Aminn

    Baca ini bikin inget. Awal2 pas 2 minggu menjelang kuliah perdana di Semarang. Itu di rumah suasananya beda banget. Ibu saya jadi minta tidur bareng setiap hari. Bapak sampe rela gelar kasur palembang di lantai 😅.

    Ibu berat banget ngelepas anak lelakinya buat tinggal di Semarang. Bahkan Ibu juga pernah nyeletuk di 2 hari menjelang keberangkatan “yakin ni bay mau nerus??” Lahh uang kuliah + uang kosan udah dibayar.. yakali mundur… 😅
    Pas hari keberangkatan juga, wahh udah pada beleberan semua di terminal.. tapi bapak nggak sih, tapi aku tahu kalau beliau lagi nahan juga. Wkwk 😂

    Di Semarang yarahh asli Homesick parah Pak Anton. 😁 mau pulang kok ya jauhhh. Baru pas ada libur seminggu, padahal baru tinggal 2 bulan di Semarang. Langsung nggak pikir panjang Pulang ke Banten.. wahhh Ibu aku senang dan kaget banget pas paginya aku sampai rumah. Soalnya emnk sengaja mau bikin suprise pulang nggak bilang 🤭.. udahh deh, setiap hari melepas rindu.. haha. Tapi ya gitu, aku jadi sering ngecekin kalender sama ngeliatin jam biar waktunya berasa lama. Tapi tetap aja… 🤣🤣

    Btw, kenapa ya Pak Anton?? Sepertinya Hampir semua bapak cenderung cuek sama gengsi buat nyampaiin perasaan sebenarnya ke anaknya? Bapak aku ya 11 12 juga sama Pak Anton. Ngomong kangen kalau pas ditanya doang. Kalau diajak cerita juga ngomong seadanya.. wkwk 😂

    Apa karena semua bapak nggak mau bikin kita ikut mikir juga kali ya..

    Yahhh jadi kepanjangan komennya. Maaf yak Pak 😋 tulisannya bikin kepengen cerita soalnya.

    Sehat2 Pak Anton dan Bu Yayang..

    Reply
    • Aaamiiin… Makasih doanya Bayu. Semoga Bayu sekeluarga juga selalu dalam keadaan sehat wal afiat yah.

      Kebayang perasaan ibu Bayu karena sekeras kerasnya saya, tetap ada rasa haru dan juga galau di hati saat kamiberdua pulang ke Bogor dan ia tetap di Bandung.

      Saya pikir juga si Kribo pasti harus beradaptasi dengan beberapa hal juga. Bagaimanapun selama ini ia juga terikat dengan kami dan sekarang ia harus berdiri sendiri. Sudah terbayang juga rasanya pasti kurang lebih mirip dengan apa yang Bayu rasakan di Semarang.

      Sebenernya bukan cuek Bay. Saya hanya berpikir bahwa kalau saya memperlihatkan rasa itu, maka malah semakin sulit untuk ibunya. Ia yang paling merasakan beban dan kalau saya ikutan hanyut dalam suasana, malah tidak baik buat semua.

      Jadi, sebagai bapak, saya harus coba mengimbangi dengan tetap mempertahankan sikap dan memakai logika. Bukan karena tidak kangen, tetapi karena memang melakukan yang harus dilakukan.

      Galaunya sih sama lah.. hahahaha

      Sehat selalu juga ya Bay

      Reply

Leave a Comment