Berat! Memperbaiki Orang Yang Tidak Mau Berubah

Berat Menghadapi Orang Yang Tidak Punya Kemauan
Bangkok, 2023

Saya selalu berkata kepada tim LB Digital bahwa saya lebih suka berhadapan dengan orang yang ‘bodoh’ tetapi punya kemauan untuk berubah, dibandingkan orang yang katanya ‘pandai’ tetapi malas dan tidak punya kemauan.

Jahat sepertinya, tetapi ada alasan tersendiri perkataan itu diucapkan. Semua itu berdasarkan pengalaman hidup yang sudah sangat lama.

Seseorang yang ‘bodoh’, katakanlah pengetahuannya kurang, jika ia punya ‘kemauan’ maka ia bisa didorong untuk belajar. Ia bisa dimotivasi untuk terus maju, walaupun mungkin agak lamban.

Namun, seseorang yang merasa dirinya sudah pintar dan tidak memiliki kemauan itu, maka ia akan stagnan. Ia cenderung sulit memotivasi diri untuk bergerak maju.

Seberapapun banyak kata-kata yang dikeluarkan akan terbuang percuma. Perkataan apapun hanya akan masuk kuping kiri dan keluar lewat kuping kanan, tidak akan mampu menggerakkannya.

Sudah terlalu banyak contoh yang hadir dalam kehidupan yang mengamini hal tersebut.

Yang terakhir, beberapa waktu ini ketika tim LB Digital mendapatkan klien yang sedang membangun sebuah usaha.

Dalam tim tersebut, salah satu anggotanya terlihat sekali tidak memiliki ‘kemauan’ itu. Berulangkali ditegur, diceramahi, dan bahkan dimotivasi, hasilnya tetap nol. Pekerjaan yang diserahkan kepadanya tidak pernah beres.

Alhasil, pekerjaan anggota tim yang lain menjadi terhambat dan tidak bisa bergerak maju.

Semua itu karena pada dasarnya ia tidak memiliki ‘kemauan’ untuk berubah. Oleh karena itu apapun yang disarankan kepadanya seperti terbuang ke lubang hitam saja, hilang tanpa bekas.

Dan, masalahnya adalah ketika ia berada dalam satu tim yang seharusnya saling bergantung, ia hanya akan menjadi hambatan bagi yang lain. Timnya akan sulit bergerak karena harus selalu meng-cover pekerjaan yang seharusnya tugas dia.

Penyelesaiannya hanya ada satu. Daripada harus mengorbankan keseluruhan tim, maka orang seperti ini harus dipangkas. Tidak ada jalan lain daripada tim harus bergantung pada sebuah hal yang tidak jelas. Berbahaya.

Itulah yang saya sarankan kepada tim klien tersebut untuk menemukan cara memangkas si ‘Tanpa Kemauan’ itu.

Kejam sepertinya, tetapi rasanya saya akan menjadi tidak adil dan kejam kepada anggota tim yang lain kalau terus mempertahankan orang seperti itu.

Untuk itulah, biasanya saya menekankan bahwa, saya tidak begitu peduli di sekolah mana seseorang belajar. Saya lebih suka memperhatikan karakter seseorang, apalagi kalau sedang membentuk tim.

Karena dengan begitu saya bisa meminimalisir orang-orang tanpa kemauan untuk bergabung. Daripada ia pada akhirnya hanya membebani tim dan menimbulkan kerepotan, termasuk diantaranya untuk memberhentikan dia.

Saya lebih suka mencegah di awal daripada ruwet di tengah jalan.

Bogor, 21.38

Leave a Comment

Cerita Lagi