Setiap kali saya mendengar seseorang ber-omong besar, saat itu biasanya, alarm dalam diri berbunyi.
Waspada. Itu kata pertama yang keluar. Kemudian, diikuti dengan logika yang melakukan analisa terhadap data yang diberikan. Data kemudian dibandingkan dengan situasi dan kondisi, yang kemudian dipadukan dengan pengetahuan sendiri.
Langkah berikutnya adalah melihat kompetensi, kapabilitas dari yang berbicara.
Hasilnya seringkali, yang ditemukan adalah ‘ruang kosong’ alias nihil.
Biasanya terjadi karena ‘hal-hal luar biasa’ yang disampaikan, tidak sinkron dengan kenyataan yang ada.
Mengapa alarm tersebut otomatis berbunyi? Yah, karena saya belajar, baik dari orangtua, teman, atasan, dan kehidupan sendiri bahwa sesuatu itu, semakin besar, maka semakin sulit pula mencapainya.
Contoh saja, membuat tumpeng ukuran 20 centimeter itu tidak akan sesulit membuat tumpeng berukuran 2 meter. Prosesnya tidak sama.
Meski sama-sama nasi tumpeng, cara penanganannya berbeda. Untuk yang ukuran 20 centimeter sangat mungkin bisa dikerjakan seorang diri, tetapi untuk yang ukuran 2 meter, akan butuh lebih dari 1 orang.
Dengan adanya tambahan orang, maka ada tambahan pekerjaan, seperti penyampaian ide, koordinasi, ketepatan waktu, dan lain sebagainya. Tidak bisa seenak dewe saja.
Jadi, ketika seseorang menyampaikan sebuah cerita atau kisah yang besar sekali, yang tergambar di kepala saya adalah tentang proses yang harus ditempuh.
Kalau tidak sesuai dengan logika dan fakta, maka berarti omonganya sangat mungkin adalah bualan belaka.
Kebiasaan itulah yang akhirnya melahirkan alarm dalam diri sendiri karena saya sadar banyak sekali orang yang terbiasa berbicara besar, sekedar untuk membuat dirinya terlihat hebat. Padahal, yang disampaikannya adalah sekedar omong kosong.
Dan, saya tidak ingin termakan bualan itu.
Jakarta, 10.21