
Banyak sekali sanggahan yang dituliskan berbagai pihak terhadap pertanyaan yang satu ini, yaitu “Apakah guru bisa digantikan oleh AI atau Kecerdasan Buatan?”
Pandangan ini terutama terkait dengan semakin berkembangnya teknologi kecerdasan buatan dimana-mana dan mulai menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan manusia akan ilmu dan informasi.
Kecepatannya dalam memberikan informasi dan data luar biasa sekali. Hanya dalam hitungan detik saja, Gemini atau AI yang lain bisa menampilkan informasi yang bahkan belum masuk kurikulum pelajaran.
Tidak heran kehadirannya menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya beberapa pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh manusia, salah satunya adalah GURU.
Tidak terhitung pihak yang membantah dan mencoba menganulir kemungkinan AI menggantikan peran para guru.
Namun, saya sendiri tidak berpikir demikian.
Saat ini, saya berpikir bahkan Gemini, yang gratis sekalipun, sudah bisa menggantikan setidaknya sebagian peran seorang guru.
AI buatan Google tersebut bisa memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang luas sekali. Gemini mampu menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan sepuluh guru dari bidang studi yang berbeda.
Ia juga bisa menyediakan pengetahuan yang sering seorang guru tidak tahu.
Ia bisa melakukan hal yang guru bahkan tidak tahu.
Yang dibutuhkan hanyalah mengajukan pertanyaan saja dan AI akan menjawabnya.
Jadi, saya rasa, berbagai bantahan, baik dalam bentuk lisan atau tulisan adalah semacam denial dari berbagai pihak yang terkait dalam hal pengajaran dan pendidikan. Jelas tercermin rasa khawatir dalam pernyataan mereka.
Mereka seperti berusaha menandingi dan memberikan branding tinggi bagi profesi guru. Tujuannya tentu untuk mempertahankan profesi tersebut lebih lama dan tidak akan tergantikan oleh si Kecerdasan Buatan.
Prediksi saya adalah suatu waktu ‘peran’ guru dalam hal sebagai penyampai pengetahuan akan bisa tergantikan. Walaupun tentunya dengan catatan, bukan sekarang tetapi 1-2 dekade ke depan.
Sulit untuk menghindari situasi seperti ini melihat pergerakan teknologi.
Semua itu karena saya menyadari bahwa peran guru sekarang seringkali tidak lebih dari hanya penyampai informasi, pengetahuan, dan ilmu saja. Ada kecenderungan guru sekarang untuk sekedar membuka buku dan membacakan ulang kepada para murid.
Hanya itu saja.
Suka atau tidak suka, guru yang seperti ini pasti akan terlindas oleh AI. Gemini, Cloud, dan lainnya bahkan bisa memberikan lebih.
Kecuali..
Guru-guru juga ikut berkembang. Mereka tidak lagi hanya memposisikan dirinya sebagai ‘penyampai’ informasi, ilmu, pengetahuan saja. Para guru bisa mengambil peran lain, yang sangat sulit digantikan oleh AI.
Contoh peran-peran tersebut adalah sebagai pendidik yang mengajarkan para muridnya karakter, kepribadian, motivator, dan role model.
Jika ini bisa diterapkan oleh para guru, ya memang sulit digantikan karena AI tetaplah sesuatu yang maya. Ia hanya mengumpulkan informasi, mengolah, dan kemudian menampilkannya kepada yang membutuhkan. Ia tidak memiliki kepribadian dan karakter. AI netral.
Oleh karena itu, AI sulit menjadi contoh bagi para muridnya.
Apalagi kalau ditambahkan dengan sumber pengetahuan yang berasal dari pengalaman. Sesuatu yang tidak dialami oleh AI sendiri. Jika guru bisa memberikan pengetahuan tambahan yang dialaminya sendiri, maka sulitlah disaingi oleh AI.
Masalahnya adalah guru, terutama di Indonesia sekarang cenderung statis dan tidak berkembang. Kebanyakan masih menganut pemikiran dan cara lama. Penempatan posisinya pun sekedar sebagai orang yang bertugas menyampaikan pengetahuan saja.
Peran yang bisa diambil alih oleh kecerdasan buatan.
Jadi, saya pikir, dengan para guru yang tetap terjebak dalam zona nyaman seperti ini, pada akhirnya mereka memang akan tergantikan oleh AI yang semakin canggih. Saya yakin itu akan terjadi.
Kecuali, ada perubahan mindset para guru yang membuat mereka terus berkembang, termasuk dalam peran yang harus dimainkannya dalam masyarakat manusia. Tidak hanya melakukan yang itu itu saja.
Kalau itu terjadi, memang guru tidak akan tergantikan oleh AI.
Bagaimana menurut Anda?