Merasa Ragu Itu Wajar

Setiap hari, setiap jam, dan bahkan setiap detik, seorang manusia akan dihadapkan pada begitu banyak opsi/pilihan.

Mulai dari yang paling sederhana, seperti jenis makanan untuk makan siang, sampai yang sulit, seperti keputusan untuk resign dari tempat bekerja, semuanya akan hadir dalam kehidupan seorang manusia.

Celakanya lagi, pilihan itu bukan hanya 2, tetapi bisa lebih dari itu.

Untuk sampai pada sebuah keputusan, manusia biasanya memang harus mempertimbangkan semua opsi yang tersedia. Itupun tidak selalu mudah karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan, seperti kelebihan dan kekurangan tiap pilihan, keuntungan atau kerugiannya, baik dan buruknya, dan masih banyak lagi variabel yang perlu diproses di otak.

Terkadang, pilihan atau opsi yang ada bukanlah baik-buruk, bagus-jelek, tetapi bisa juga baik-baik, jelek-jelek, dan sejenisnya.

Menjatuhkan pilihan, seringkali tidak semudah yang dibayangkan.

Apalagi biasanya ditambahkan dengan beban berupa harapan bahwa keputusan yang diambil akan membawa kebaikan – berpikir tentang masa depan – karena tidak ada yang berharap celaka.

Oleh karena itu, tidak heran bahwa seorang manusia kerap merasa ragu saat diharuskan membuat keputusan. Sudah mah opsinya banyak, faktor yang harus dipertimbangkan tidak sedikit, dan masih ditambah dengan beban rasa takut berbuat kesalahan yang berimbas pada masa depannya.

Jadi, wajar saja keraguan sering hadir di dalam hati seseorang. Memang rasa ragu itu diberikan kepada manusia sebagai alat supaya ia belajar mempertimbangkan ‘yang terbaik’ bagi dirinya.

Justru mereka yang tidak pernah merasa ragu, patut dipertanyakan, “Apakah mereka memang benar manusia?”

Bogor, 16.53

Leave a Comment

Cerita Lagi