Adik Tanggung Jawab Siapa?

Terkadang kasihan pada anak tertua/kakak dalam sebuah keluarga. Sering tanpa sadar ia menanggung beban yang seharusnya bukan tanggung jawabnya.

Banyak keluarga masih memakai pola dan kebiasaan bahwa ketika anak tertua atau kakak sudah memiliki pekerjaan, orangtuanya ‘berpesan’ bahwa ia harus membantu adik-adiknya. Padahal, tugas itu bukanlah beban yang harus ditanggung si anak/kakak.

Orangtuanya lah yang harusnya menafkahi dan membantu semua anak, terlepas dari hirarki kakak dan adik.

Memang, kalau bisa, sebagai anggota tim keluarga, setiap anak harus berusaha membantu supaya tim tersebut sama-sama sukses dan sejahtera.

Namun, hal itu bukanlah kewajiban seorang anak. Tanggung jawab tetap berada di pundak orangtuanya, bapak dan ibunya.

Banyak anak yang disebut ‘kakak’ dalam keluarga pada akhirnya harus menanggung beban, yang sebenarnya belum bisa mereka tangani. Hal itu menghasilkan dampak berupa tekanan yang tidak terlihat, tetapi melukai.

Salah satu dari si kakak itu hadir di rumah, dia anggota tim LB Digital.

Dia anak tertua dalam keluarganya. Usianya baru 20 tahun dan dia kuliah di Universitas IPB. Saat ini, untuk bisa mandiri saja dia harus pontang panting bekerja di tengah waktu luang demi membiayai kehidupan sehari-harinya.

Beberapa hari yang lalu, adiknya datang untuk menemuinya. Ternyata, di belakang layar, sang adik membutuhkan bantuan dana. Entah untuk apa.

Kedatangannya ke Bogor adalah untuk meminta bantuan kepada kakaknya (kemungkinan disuruh oleh orangtuanya).

Padahal, si kakak sendiri hanya punya tabungan sedikit. Namun, pada akhirnya ia menyerahkan semua tabungannya untuk si adik. Sesuatu yang sudah dilakukannya berulangkali.

Si Kakak sampai sekarang tetap anak yang ceria dan riang, tetapi terkadang saya melihat ada rasa capek dan putus asa yang terpendam. Sesuatu yang disimpannya dengan baik karena ia tentunya ingin menjaga nama keluarga di depan orang lain.

Lagi-lagi kesadarannya menghalangi hal itu.

Namun, saya berpikir bahwa dirinya, jiwanya, sebenarnya belum mampu menangani beban sebesar itu. Beban itu seharusnya ada di pundak bapak ibunya, bukan dia.

Ia, sebenarnya masih butuh banyak dukungan, materiil dan moril bahkan untuk sekedar bisa berdiri sendiri. Ia pun berhak menikmati hasil kerja kerasnya selama ini.

Terpaksa karena situasi, ia mengorbankan dirinya demi adik-adiknya. Sesuatu yang pasti meninggalkan bekas di dalam hati dan jiwanya.

Tidak heran kalau pada akhirnya, jiwa yang masih belum kuat itu akan terluka lagi dan lagi. Semakin sering terjadi, luka itu akan semakin dalam.

Meskipun, sebagai anak yang baik, rasa sakitnya tidak pernah muncul ke permukaan, tetapi pastinya, tetap ada. Hanya saja, semua tidak terlihat di wajah dan sikapnya.

Saya tidak tega melihatnya. Saya juga paham alasan dan situasinya. Namun, untuk bisa membantunya rasanya sulit. Saya akan melanggar batas privasi ia dan keluarganya.

Yang saya, si Yayang, dan si Kribobisa lakukan hanyalah mencoba mengatakan kepadanya bahwa ia tidak sendiri. Ia memiliki teman dan ‘keluarga’ yang akan menemaninya menempuh jalan yang terjal ini.

Sampai suatu waktu ia benar-benar bisa berdiri sendiri, mandiri dan akhirnya mampu menerima beban tanpa menyebabkan luka dalam dirinya.

Setidaknya, itu yang bisa kami lakukan untuk seorang pejuang keluarga yang harus tetap tersenyum, meski kehidupan terasa berat dan menekan. Kehadiran teman, semoga saja bisa membuatnya tidak merasa kesepian dan tersingkirkan.

Rasa yang sangat mungkin ada di dalam hatinya.

Bogor, 12.05

4 thoughts on “Adik Tanggung Jawab Siapa?”

  1. Terima kasih sudah menjadi penerang di tengah badai, Pak 💪💪

    Pernah ada di posisi mirip dulu. Untungnya udah kerja sih ya. Nah, ada satu senior di kantor yang sepertinya tahu meskipun saya nggak cerita.

    Saya sering diajak makan siang bareng. Kalau jajan sesuatu suka ngajak saya, alasannya butuh teman. Padahal usianya belasan tahun lebih tua dan dia ada kelompok teman yang memang seusia. Saya pasti ditraktir. Uang saya jadi utuh.

    Kalau kebetulan beliau dapat rezeki honor saya sering dikasih. Beliau ga dapat apa2 dari saya selain ucapan terima kasih dan sesekali membantu beliau yang agak gaptek (misalnya bantu login facebook). Pekerjaan kami tipenya sangat berbeda, jadi saya ga bisa bantu. 🤣

    Beliau meninggal beberapa tahun lalu. Sampai sekarang kalau ingat beliau saya masih suka nangis.

    Reply
    • Sesuatu yang memang harus dilakukan kalau saya mau dia berkembang menjadi orang yang lebih baik, dan seorang pemimpin.

      Selalu ada lilin atau penerang di tengah badai Mega, dan kau menemukan satu diantaranya. Mungkin sederhana, kehadiran seorang teman sering sudah mampu mengubah segalanya, seperti si bapak yang kamu ceritakan.

      Semangat terus Meg..

      Reply
  2. Numpang ketawa dulu sebentar pak skertaris.🤣 🤣🤣

    Bilang sama Team LB pak, itu mah Derita loe.🤣 🤣 🤣

    Baiklah saya akan berkomentar. Sebenarnya saya juga korban dari apa yang dituliskan diatas, jadi tak jauh berbeda dengan team LB.🤣 🤣

    Saya malah dari adik saya masih SD awalnya sih cuma minta uang jajan saja, tapi setelah saya lulus kuliah dan baru dapat kerja yang boleh dikatakan belum seberapa hal tersebut menjadi rutin dengan alasan adikmu butuh biaya kata ibu saya.

    Dan dikala saya sudah punya tabungan ingin membeli tanah dan rumah untuk saya sendiri, saya dibilang banyak uang, jadi bukan hanya adik saya saja yang butuh biaya, tetapi abang saya yang laki juga butuh biaya untuk pindah kerja ke Makasar kala itu. Akhirnya lama-kelamaan sampai mereka sudah pada menikah kalau kepentok masalah keuangan sayalah yang dicari sama mereka berdua. Jadi yaa seolah jadi kebiasaan.

    Makanya pas lulus kuliah saya tuh nggak betah dirumah yaa kaya begitu, mending gue kabur dari rumah, pas sudah punya rumah sendiri baru gue bisa tenang, meski masih sering dicari paling tidak gue bisa ngeleslah.😁😁 Solusinya yaa sebenarnya diri kita sendiri yang harus tegas, Terkecuali yang kita biayai itu masih SD atau Smu tapi harus ada ketegasan juga biar nantinya nggak kebiasaan, contoh seperti yang saya alami Dulu… Sekarang juga masih sih cuma bilangnya minjam uang.

    Eehh curhat malah gue.🤣 🤣 🤣

    Fenomena kaya gini sebenarnya bukan untuk kalangan menengah kebawah saja, kalangan atas juga banyak kok, temen gue kerja di Dubai gajinya besar terkadang habis demi biaya adik2nya sampai ia nggak Nikah sampai sekarang, padahal yang ia biayai sudah dewasa karena jadi kebiasaan yaa manja jadinya.

    Dulu kedua orang tua saya pernah saya nesehati cuma karena masalah seperti itu, yang ada gue diusir dari rumah. Tapi untungnya gue kebal sama yang namanya problema kehidupan Jiiaahh 🤣 🤣 🤣

    Reply
    • Hola bro.. nongol juga kau disini.. hahahahahaha

      Bener banget bro, ketegasan itu yang diperlukan. Itu termasuk satu yang saya sarankan untuk dilakukan. Hanya, saya sadar banget bahwa untuk mengubah mindset dan karakter perlu waktu, apalagi kalau berkaitan dengan keluarga. Pasti akan berat dan susah. Perubahan akan selalu butuh waktu dan sekedar menyarankan bahwa dia harus tegas tidak akan pernah mempan karena urusan dengan keluarga. Dia juga sudah terbiasa dengan situasi tersebut.

      Oleh karena itu, maka posisi sebagai teman adalah yang terbaik untuk awal. Menemani dan kemudian memberikan masukan secara perlahan. Tapi arahnya memang ke arah situ, bahwa ia harus menjadi lebih tegas dan berani menolak.

      Makasih sarannya dan ceritanya… karena hal itu pasti sangat membantu mendorong si kakak keluar dari zonanya yang sekarang

      Reply

Leave a Comment

Cerita Lagi