[Foto] Dunia Hitam Putih – Langit (Non) Biru di Labuan Bajo

Dunia Hitam Putih - Labuan Bajo
Labuan Bajo Mei 2025 Dibuat Menjadi Monochrome via Photocase

Seharusnya foto ini memiliki latar belakang berupa langit Labuan Bajo yang sangat biru. Namun, saya ingin membuatnya menjadi bagian dari “Dunia Hitam Putih” dan mengedit warnanya memakai filter di Photoscape.

Hasilnya, menjadi seperti di atas.

Masih terlihat kecantikannya, meski mungkin kesannya menjadi terasa sunyi, padahal aslinya pemandangannya benar-benar memukau dan jauh dari nuansa sepi.

Tapi, tak apalah, karena saya memang ingin menyimpan kenangan saat bermain ke sana, tetapi dalam bentuk “dunia hitam putih”.

Mau lihat foto aslinya?

Jurnal Berbentuk Foto dan Teks

Tadinya, saya agak ragu untuk kembali memasang foto di blog ini.

Ragu karena dalam hati ada keinginan untuk membuat blog ini menjadi sangat sederhana dan tidak ribet. Juga, tidak ingin kegiatan menulis saya bergantung pada ada atau tidaknya foto, seperti dulu.

Saya juga tidak ingin menjadikan blog ini sebagai blog fotografi atau ruang pamer foto. Saya ingin blog ini tetap menjadi sebuah blog personal yang bercerita tentang kehidupan saya sebagai bloggernya.

Kongkow di depan MNC Tower, Jalan Wahid Hasyim Jakarta, 25 Nopember 2025, Sore Hari

Namun, setelah dipikir lagi, saya adalah seorang fotografer juga.

Fotografi sudah menjadi bagian hidup saya selama ini. Jika ditiadakan, seperti ada bagian yang dihilangkan dan membuatnya menjadi tidak utuh.

Untungnya kemudian, saya ingat bahwa foto pun bukan hanya berperan untuk menampilkan keindahan. Foto juga bisa berguna untuk dokumentasi atau rekaman momen.

Dan, oleh karenanya, foto bisa dibuat menjadi jurnal atau catatan harian, dalam bentuk visual 2 dimensi.

Nah, berdasarkan pikiran itulah, saya kembali memasang foto di sini, tentang yang saya lihat dalam hidup sehari hari. Bukan hanya saat pergi berwisata, tetapi juga saat-saat lainnya, seperti saat istirahat kerja, pulang dari kantor, di rumah dan sebagai.

Karena, saya pikir begitulah jurnal foto seharusnya. Tidak hanya memilih topik tertentu saja, tetapi berbagai kegiatan/momen/aktivitas yang dilakukan dalam kehidupan.

Fotonya bisa berdiri sendiri atau disertai dengan cerita terkait momen tersebut.

Jadi, kategori jurnal di sini, bukan lagi sekedar teks, dengan ilustrasi, tetapi bisa juga berbentuk foto.

Dan, sepertinya kebanyakan foto yang terpasang akan monochrome saja, alias hitam putih karena saya sedang merintis jalan menyederhanakan, bukan hanya cara saya memotret, tetapi hidup saya juga.

Itu saja.

Memperbanyak Ruang Kosong – Menambah Unsur Sepi

Jalan Wahid Hasyim arah Gondangdia, 25 Nopember 2025 Sore Hari

Entah kenapa, saya penyuka “ruang kosong” alias “ruang negatif” dalam fotografi. Maksudnya, kalau teori fotografi bidang foto harus dipenuhi oleh obyek atau tekstur supaya tidak terlihat kosong. Kalau tidak ada isinya disebut ruang kosong.

Hal itu katanya membuat foto lebih “stunning” dan “menghadirkan emosi”

Namun, gaya memotret saya sendiri justru berkebalikan dengan teori. Saya suka kalau banyak ruang kosong dan subyek utama tidak terlalu besar.

Fotonya jadi terasa sepi dan sunyi, damai, dan jelas tidak ramai.

Sangat bisa jadi karena saya tidak terlalu fokus pada menampilkan keindahan dalam foto dan lebih senang “menampilkan cerita”, jadi banyak teori fotografi yang diabaikan.

Apalagi, kemudian saya menambahkan unsur “menyederhanakan warna” dan memilih jalur black and white saja. Rasa sunyi dan sepi itu makin terasa.

Seperti pada foto di atas yang diambil kemaren, 25 Nopember 2025 saat sedang berjalan menuju stasiun Gondangdia.

Saya suka melihat “kesunyian” di dalamnya.

Entahlah kalau orang lain, kan saya memang tidak peduli tentang hal itu.

Dunia Hitam Putih – Menyederhanakan Foto

Blog sudah diubah menjadi lebih sederhana. Cara menulis saya juga sudah, dimana tidak ada lagi tetek bengek untuk SEO, heading, dan sejenisnya.

Nah, ternyata saya lupa satu hal lagi dan baru teringat tadi siang. Ada satu hal lagi yang belum disederhanakan, yaitu cara memotret yang biasa dilakukan.

Saya masih belum membuat foto dan cara menghasilkannya menjadi lebih sederhana. Sempat tidak yakin hal itu bisa dilakukan karena banyak faktor yang terlibat, seperti teknik, tema, warna, dan kebiasaan.

Suka tidak suka, saya sudah memotret lama dan pastinya akan banyak mempengaruhi karakter saat memotret.

Namun, saya memang sedang berniat untuk menerapkan prinsip ” Keep It Simple, Stupid” dalam banyak aspek kehidupan, termasuk yang berkaitan dengan hobi.

Jadi, dunia fotografi saya pun akan terdampak.

Sejak sore tadi, saya akan mencoba membuat dunia hitam putih yang akan berisi foto-foto dengan warna monochrome saja, alias hitam putih.

Alasannya, karena meski saya paham warna dapat menampilkan keindahan, tetapi untuk memadukannya dalam foto itu rumit. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan dan banyak sekali teori paduan warna.

Jadi, karena saya justru ingin menyingkirkan keribetan itu, ya sudah jadikan saja fotonya hitam dan putih saja. Tidak perlu repot.

Dengan begitu, saya bisa meringankan beban pikiran di kepala saat memotret. Tidak perlu lagi memikirkan paduan warna yang bagus.

Mengenai hasilnya sendiri, gimana?Ya, itu satu lagi yang diringankan. Saya tidak lagi memotret untuk mendapatkan like atau apapun. intinya tidak lagi untuk menyenangkan orang lain.

Keinginan itu saya buang.

Sekarang, setidaknya untuk blog ini, saya akan memotret untuk diri sendiri saja.

Saya menjadi lepas dari beban, iya kan?

Sepertinya, Akan Mulai Memotret Lagi

Baru niat! Belum benar-benar terealisasi.

Sehabis membaca berbagai tulisan di blog personal ini, tiba-tiba saja, saya menyadari bahwa ada satu hal lagi yang menghilang dari kehidupan saya.

Selama ini saya hanya membahas tentang turunnya motivasi untuk ngeblog. Padahal, sebenarnya ada satu kebiasaan lagi yang berada dalam situasi yang sama, yaitu hobi memotret saya.

Padahal, keduanya lahir hampir bersamaan. Hobi dan skill footgrafi saya terbangun setelah menjadi blogger, tidak lama setelah itu.

Setelah dipikir ulang, ketika semangat blog menurun karena perhatian teralih pada LB Digital, bisnis yang kami kembangkan, kebiasaan saya merekam momen pun tidak dilakukan lagi.

Underpass Stasiun Cilebut, Bogor

Padahal, saya dulu bisa dikata tidak pernah berhenti melakukannya, baik dengan ponsel, yang waktu itu masih butut, atau kamera DSLR/Mirrorless.

Cuma, setelah hiatus dari kegiatan blogging, ternyata kebiasaan memotret pun perlahan menghilang.

Jeleknya lagi, sebenarnya saya membeli smatrphone baru, Samsung S23 FE dengan tujuan supaya bisa lebih banyak dan leluasa memotret lagi. Dan, smartphone ini dibeli karena kameranya dipandang cukup mampu menghasilkan foto yang bagus.

Sekarang sepertinya ponsel itu tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Jadi, setelah seperti terseret ke masa lalu membaca postingan di blog sendiri, saya merasakan rasa kangen untuk kembali beraktivitas, baik sebagai blogger atau fotografer.

Nah, setidaknya, untuk menuju ke sana, saya harus mempertebal dulu niat dan dengan menyatakannya langsung, saya berharap akan bisa merealisasikan itu di dunia nyata.

Mudah-mudahan saja bisa terlaksana.

I hope.