Persiapan Meeting Cafe Tanbu (Tanabumbu) – 29 Nopember 2025

Sebenarnya masih ingin santai menikmati akhir pekan, seperti kebanyakan pekerja kantoran lainnya. Santai saja tidak perlu jalan-jalan untuk healing yang ujungnya biasanya justru nguras tenaga.

Sekedar rebahan sambil nonton drakor atau dracin sudah cukup buat saya.

Starling, Starbuck Keliling di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta – 27 Nopember 2025, sepulang kerja

Sayangnya, impian nan sederhana itu pun, hari ini harus dikubur dalam-dalam. Pagi ini saja, saya sudah membuat pengumuman di grup WA LB Digital untuk datang sebelum jam 11.00.

Kami masih harus berdiskusi sejenak untuk mempersiapkan meeting dengan tim lain dari Cafe Tanbu atau Tanabumbu yang sejak sekiart 10 harian yang lalu berada dalam pengelolaan kami.

Banyak masalah yang harus diselesaikan sebelum pembukaannya nanti, yang ditargetkan tanggal 20 Desember 2025.

Tidak ada waktu untuk bersantai, kami harus memperbaiki banyak, mulai dari hal receh sampai yang besar.

Jadi, hari yang seharusnya bisa dipakai santai ini, sepertinya akan menjadi hari yang justru super sibuk dengan berbagai kegiatan.

Bakalan capek dan pusing.

Walau, tetap saja di hati, ada rasa excited karena tantangan yang kami akan hadapi nanti. Rasa itulah yang membantu mengusir rasa malas akhir pekan yang biasa nongol.

Doakan kami hari ini lancar yah!

(Bogor, 29 Nopember 2025 09.36)

Hidup Bukan Kompetisi

Setidaknya begitulah pemikiran saya. Hidup bukanlah kompetisi karena setiap manusia punya track-nya sendiri menuju arah yang dituju.

Siapa yang lebih dahulu mencapai tujuannya tidak penting. Siapa yang paling banyak mendapat kebahagiaan juga bukan hal yang perlu dipikirkan.

Yang lebih dulu tidak berarti ia akan terus bahagia, yang tertinggal juga belum tentu tidak akan mencapai pernah mencapai tujuannya. Lagi pula, karena setiap orang punya jalur masing-masing, istilah “tertinggal” pun sesuatu yang berlebihan.

Tidak ada yang istilah yang “paling” bahagia karena semua ukuran dan standarnya berbeda.

Hidup bukan kompetisi
Jalan Wahid Hasyim, Depan Hotel Morrisey, 28 Nopember 2025, 08.14 saat berjalan menuju tempat nguli

Hidup juga bukan tentang mendapatkan validasi dari orang lain. Rasa bahagia tidak membutuhkan itu karena ia akan hadir dalam hati seseorang tanpa perlu mendapat persetujuan dari orang lain.

Setidaknya, begitulah menurut saya.

Entah orang lain, saya tidak mau memikirkannya.

Pingin Nangis Naik Commuter Line

Seorang kawan si Kribo, seorang gadis kawan sekelasnya di Telkom University, berkata di depan tim LB Digital 3 hari yang lalu, “Gua pingin nangis naik Commuter Line. Gua berdiri dari stasiun Cilebut sampai Cikini. Nggak duduk sama sekali!

Suasana dalam Commuter Jakarta Kota – Bogor, Keberangkatan Gondangdia 17/20, 27 Nopember 2025

Ungkapan itu keluar karena itu hari pertamanya bekerja menggunakan si KRL Jabodetabek. Cetusan seorang anak Gen-Z yang sedang melangkah memasuki dunia nyata, dunia komuter.

Saya tersenyum karena Commuter Line, KRL Jabodetabek adalah transportasi yang sudah menemani kehidupan sebagai karyawan selama lebih dari 30 tahun.

Sudah bukan pertama kali keluhan dari para pemuda, baik dari generasi milenial atau Gen Z yang seperti itu terdengar. Mereka bahkan ada yang menyebut bahwa KRL kurang manusiawi.

Namun, saya tidak pernah sependapat dengan mereka. Pandangan saya jauh bak bumi dan langit.

KRL Jabodetabek di masa saya, antara tahun 1989 sampai dengan 2010, jauh lebih buruk. Luar biasa buruk.

Kereta tak punya jendela atau pintu. Pedagang dan pengamen berkeliaran seenaknya seakan kereta adalah wilayah mereka dan kepentingannya lah yang paling penting. Menumpang KRL berbarengan dengan kodok, jambu, kursi, lemari, dan barang dagangan lain adalah keseharian.

Kondektur mengutip uang dari penumpang tak berkarcis. Atap kereta menjadi tempat duduk penumpang, yang sering tidak membayar karcis. Stasiun kotor dan berantakan.

Dan, masih banyak lagi kenangan buruk yang susah hilang dari kepala.

Apalagi kami punya kenangan buruk, tertimpuk batu dari tawuran di luar kereta. Si Yayang pipinya robek dan saya hampir pingsan ketika kepala terkena timpukan batu.

Jangan tanyakan keseharian karena frekuensi kereta yang sedikit, jubelan penumpang, hingga bergantungan di jendela atau pintu adalah hal yang biasa terlihat setiap hari.

Tidak ada usaha penertiban apapun dan tanpa fasilitas yang layak.

Saat itu, karena saya pernah bepergian ke luar negeri, saya pernah berulang kali berkata dalam hati, “Kapan ya Indonesia bisa seperti Hongkong atau Singapura dalam hal perkereta apian?” Saat itu saya berpikir saya hanya akan bisa bermimpi dan tidak akan pernah bisa menikmatinya di negara sendiri.

Namun, ternyata saya bisa merasakannya dan menikmatinya sekarang. Pelayanannya luar biasa jauh sekali dibandingkan masa lalu. Berbeda sekali. Bukan hanya jauh lebih manusiawi, tetapi dibandingkan dengan beberapa maju sekalipun, kualitas pelayanannya sudah seimbang.

Jadi, saya tidak memiliki pandangan yang sama dengan para millenial dan Gen Z yang berpandangan KRL tidak manusiawi.

Dan, ternyata itu diamini oleh banyak anker atau anak kereta sejaman di Threads pada utas yang saya buat. Banyak yang berpandangan sama dan bercerita tentang pengalaman sejenis di masa tersebut.

Hanya saja, saya maklum, karena kawan si Kribo itu adalah seorang anak Gen Z dan baru mulai merasakan kerasnya kehidupan di dunia nyata. Semuanya pasti berbeda dengan kehidupan semasa mahasiswa.

Banyak hal yang dulunya tidak pernah mereka rasakan akan mulai hadir dalam kehidupan, termasuk kehidupan di jalanan.

Jadi, saya saat ia mengungkapkan itu hanya berkomentar, “Tenang saja, nanti juga biasa. Percayalah!

Dan, kata-kata saya terbukti hari ini, ketika Kawan si Kribo bercerita lagi sepulang dari kantornya, “Iya om, kaki sudah tidak sakit lagi” Di wajahnya mulai ada senyuman meski tetap terlihat lelah.

Sesuatu yang wajar karena memang dialami semua komuter pengguna KRL Jabodetabek, atau yang sekarang namanya Commuter Line. Ia pun akan semakin kuat dan terbiasa dengan kehidupan barunya sebagai seorang komuter.

Saya pun masih sama seperti dia, seorang anker sampai hari ini.

Headset/Earphone dan Smartphone : Kawan Mengusir Bosan

Belakangan, saya sangat akrab sekali dengan kedua benda ini. Bahkan, seperti tidak bisa lepas dari keduanya dalam perjalanan berangkat ke dan dari kantor. Bahkan saat bekerja pun, saya menggunakannya.

Kalau smartphone alias si ponsel cerdas sih memang suka atau tidak suka tidak boleh jauh mengingat pekerjaan yang membutuhkan kehadirannya. Oleh karena itulah, saat weekend, saya memilih mengasingkannya dan menjauh darinya.

Cuma, si earphone atau headset, sekarang menjadi teman baik saya juga.

KRL Jabodetabek/ Commuter Line memasuki stasiun Cilebut, 2025

Alasannya? Karena saya belakangan sepertinya merasa jenuh dan bosan sekali. Terkadang sampai sulit fokus pada yang dikerjakan.

Untuk mengatasinya, saya terinspirasi oleh drakor My Mister yang dibintangi Lee Ji Eun alias si IU.

Tokoh utama di sana, si Lee Ji An memakai earphone sepanjang waktu, saat berjalan atau saat bekerja di kantor (meski dalam drakor itu hal itu dilakukan untuk tujuan spying).

Setelah saya coba, ternyata membantu sekali.

Saat di atas KRL, saya cukup memutar playlist lagu dari smartphone kesayangan alias satu-satunya, si Samsung S23 FE dan kemudian mendengarkannya selama perjalanan.

Berjalan ke kantor terasa juga lebih menyenangkan mendengar alunan suara penyanyi dibandingkan keriuhan klakson dan deru kendaraan.

Pekerjaan pun bisa banyak yang terselesaikan karena saya bisa fokus karena sebenarnya itu kebiasaan saya di rumah kalau sedang ingin konsentrasi. Untungnya tidak ada larangan di kantor untuk bekerja sambil memakai headset.

Pulang dari kantor, earphone tidak lepas dari saya sampai tiba di penitipan motor dimana playlist dimatikan dan earphone dilepas. Saya tidak terbiasa berkendara memakai keduanya karena berbahaya.

Entah karena alasan apa, tetapi kebosanan sedikit terusir dan fokus bisa membaik.

Mungkin karena saya memang sudah terlalu jenuh dan bosan dengan rutinitas yang ada.

Namun, bisa juga karena saya terlalu bosan mendengarkan berbagai keriuhan di dunia luar dan memilih menutup diri.

Sesuatu yang sebenarnya dilakukan pada blog ini dan banyak hal lainnya, yang semakin jauh dari keriuhan dunia blog.

Yang manapun, saya bersyukur memiliki kedua alat itu. Keduanya membantu bertahan melewati kebosanan dan bisa lebih fokus di rutinitas harian.

Selamat Pagi – 27 Nopember 2025

Pagi ini, saya kembali mengatakan “Selamat Pagi” kepada pak satpam gedung, petugas kebersihan, dan beberapa orang lainnya. Ada yang sudah saya kenal, ada yang belum.

Berarti sudah lumayan konsisten juga saya melakukannya, setidaknya sudah lebih dari sebulan. Sebelumnya, sambutan standar saya adalah senyum dan anggukan kepala, tetapi belakangan trade mark itu berubah menjadi sapaan “Selamat Pagi” dalam suara yang keras dan terdengar ceria.

Petugas kebersihan di stasiun Gondangdia arah Jakarta, 27 Nopember 2025, 08.20

Tidak ada tujuan tertentu sih. Saya sudah cukup ramah kepada semua orang, baik kenal atau tidak selama ini.

Hanya saja, saya pikir, saya harus mensugesti diri bahwa hari yang akan dijalani akan penuh dengan keceriaan dan kegembiraan. Jadi, sejak di pagi hari, saya harus sudah berusaha ke arah sana.

Dan, selamat pagi itu membantu sekali, dibandingkan sekedar senyuman atau anggukan kepala, untuk membuat nyaman hati sendiri.

Siapa tahu saja, ada yang mendengar sapaan itu, juga merasakan hal yang sama.

[Foto] Dunia Hitam Putih – Langit (Non) Biru di Labuan Bajo

Dunia Hitam Putih - Labuan Bajo
Labuan Bajo Mei 2025 Dibuat Menjadi Monochrome via Photocase

Seharusnya foto ini memiliki latar belakang berupa langit Labuan Bajo yang sangat biru. Namun, saya ingin membuatnya menjadi bagian dari “Dunia Hitam Putih” dan mengedit warnanya memakai filter di Photoscape.

Hasilnya, menjadi seperti di atas.

Masih terlihat kecantikannya, meski mungkin kesannya menjadi terasa sunyi, padahal aslinya pemandangannya benar-benar memukau dan jauh dari nuansa sepi.

Tapi, tak apalah, karena saya memang ingin menyimpan kenangan saat bermain ke sana, tetapi dalam bentuk “dunia hitam putih”.

Mau lihat foto aslinya?