Kemarin : Baca Buku Lagi?

Entah ada angin apa, semalam, sekitar pukul 22.00, saya menarik buku “How to Win Friends” in Digital Age yang terparkir di meja.

Bukan buku yang saya beli. Ini buku yang dibeli si Kribo, Arya. Ada di sudut meja daripada tergeletak sembarangan dan sudah beberapa bulan teronggok di situ.

Dan, saya mulai membacanya selama 20-30 menit saja. Belum sampai ke isi dan masih kata pengantar saja.

Tidak tahu apa alasan yang mendorong saya melakukan itu karena sudah belasan tahun rasa kecintaan terhadap buku sudah menghilang. Hanya dorongan sesaat saja yang mengajak saya membuka buku tersebut.

Rasanya agak aneh karena sulit sekali mencerna setiap kalimat dan seperti tergagap untuk menangkap makna dan alur.

Namun, selama membaca bagian awal buku itu ada sebagian diri saya yang mengatakan untuk terus melakukannya. Tidak perlu sekaligus, tetapi perlahan-lahan saja.

Mungkin, setiap malam saya bisa menyediakan 20-30 menit saja untuk menelusuri dan membaca satu bagian dari buku tersebut.

Sangat tidak yakin hal itu bisa dilakukan secara rutin karena saya tidak tahu guna membaca buku bagi manusia berumur 56 tahun. Saya kerap mempertanyakan hal itu.

Lagi lagi, entah ada angin apa, saya memutuskan untuk tetap mencoba.

Mungkin, hobi lama tersebut bisa membantu saya mengatasi kebosanan dan menjauh dari keriuhan hidup di dunia nyata.

Mungkin ya karena saya belum tahu pasti. Berlanjut atau tidak saja, saya belum bisa memastikan.

Jakarta, 08.45

Berbuat Baiklah Karena Kamu Orang Baik

Itulah pesan yang selalu dikatakan almarhum ibunda tercinta kepada saya. Perkataan itu selalu terngiang, “Berbuatlah baik karena kamu orang baik

Pesannya sederhana sekali, tetapi bagi saya sendiri, maknanya sangat mendalam.

Ia mengajarkan dari perkataannya bahwa “Perbuatan baikmu, haruslah datang dari hatimu sendiri. Bukan karena orang lain baik kepadamu. Bukan karena kamu mengharapkan sesuatu. Bukan juga karena kamu terpaksa melakukannya

Jika kamu berbuat baik karena orang lain berbuat baik kepadamu, maka situasinya seperti berdagang kebaikan.

Jika kamu berbuat baik kepada orang lain karena mengharapkan sesuatu, berarti kamu tidak tulus dan berpamrih, serta punya maksud tersembunyi.

Jika kamu berbuat baik karena terpaksa, berarti kamu sedang menjilat orang yang memaksamu.

Tapi, jika kamu berbuat baik karena hatimu mengatakan demikian, maka kamu memang dasarnya orang baik.

Pemikiran yang mendorong saya, sampai sekarang ini pun, bahkan tidak mau memikirkan tentang “pahala” ketika memberikan sesuatu kepada orang lain, termasuk pengemis sekalipun.

Saya tidak mau berdagang dan berpamrih dalam hal ini. Bahkan, kalaupun kata orang ganjarannya pahala, saya tidak mau memikirkannya. Bukan urusan saya membahas hal itu.

Karena, yang saya tahu dari pesan ibunda adalah saya harus berusaha iklas seiklas iklasnya ketika melakukan sesuatu.

Pelajaran yang terdengar mudah dilakukan, tetapi membutuhkan seumur hidup saya setidaknya untuk bisa terbebas dari berbagai keinginan akan pamrih tadi.

Saya ingin menjadi “orang baik” seperti yang diinginkan oleh ibunda dari anak laki-laki satu-satunya.

Jakarta, 15.54

Waktu : Membuat Foto Menjadi Lebih Bernilai

Waktu Membuat Foto Menjadi Lebih Bernilai
Stasiun Cilebut 2015 – saat peron tengah masih dipergunakan untuk turun naik penumpang di saat hujan turun

Terus terang, saat foto ini dibuat, sebenarnya sekedar untuk mengisi waktu saja . Saat itu langit Bogor mendung dan hujan turun di pagi hari dan kereta agak terlambat datangnya.

Jadi, daripada bengong dan nganggur, kebetulan ada warna-warni payung penumpang bersliweran, saya mengeluarkan hp Kentang, yang sekarang merknya sudah tidak ingat lagi.

Saya mengambil beberapa potret dari penumpang yang menunggu Commuter Line di peron tengah, peron yang terbuka tanpa atap. Siapapun yang menunggu di sana, di tengah guyuran air hujan harus berpayung kalau tidak mau basah.

Kualitas fotonya jelek karena lensa kameranya juga jelek. Maklum ponselku saat itu masih yang level bawah dari yang terbawah. Tidak bisa diharapkan menghasilkan foto yang bagus.

Foto ini sendiri sudah tersimpan di hard disk eksternal dan terlewat untuk dihapus. UNTUNG!

Karena sekarang, saya merasa foto itu menjadi lebih bernilai. Stasiun Cilebut dan banyak stasiun Commuter Line lainnya sudah tidak lagi “memfungsikan” peron tengah sebagai tempat naik turun penumpang.

Peron tengah istilahnya sudah jadi sekedar pemisah jalur saja. Tidak ada penumpang bahkan petugas yang berada di sana.

Foto-foto iseng ini sekarang menjadi salah satu bukti atau dokumentasi dari masa dimana PT KCI (Kereta Commuter Indonesia) pernah memfungsikan peron di tengah untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di Jabodetabek, atau setidaknya di stasiun Cilebut.

Nilainya bertambah karena sesuatu yang dulu ada, sekarang tidak ada.

Itulah, rasanya, alasan mengapa lukisan dari abad ke-18 akan bernilai lebih tinggi. Karena selain lukisan, benda itu akan “mewakili” suatu masa yang sudah lampau. Nilainya bertambah karena itu.

Iya nggak sih?

Jakarta, 10.16

Jebakan Alon-Alon Asal Kelakon

Perasaan saya bisa dikata campur aduk ketika bu RT di kompleks mengatakan, “Tidak usah pake program-programan, jalani saja, yang penting alon-alon asal kelakon

Padahal, saya terbiasa bekerja dengan sistem terencana, ada target, ada tujuan, dan tentunya ada deadline. Semua harus diupayakan mendapatkan hasil.

Saat itu pingin rasanya saya menabok mulutnya, atau setidaknya membentak dia sambil berkata, “Elu 5 tahun yang lalu pake prinsip itu, lingkungan jadi berantakan dan nggak keurus. Sekarang masih nyuruh alon-alon asal kelakon. Otak lu dimana?” Ingin ya. Bukan realita.

Realitanya, saya tercenung betapa banyak orang yang berpikir bahwa ungkapan Jawa, alon-alon asal kelakon itu sama artinya dengan santai saja. Tidak perlu punya target, tidak perlu punya rencana.

Yang sebenarnya salah besar.

Banyak yang lupa, seperti bu RT tadi, bahwa dalam ungkapan itu ada kata “kelakon” yang artinya terlaksana, tercapai, terwujud. Artinya, ungkapan itu menyiratkan adanya target dan tujuan.

Bukan tanpa target dan tujuan.

Alon-alon sendiri artinya pelan-pelan dalam mencapai target yang sebenarnya mengatakan agar manajemen waktunya diatur dengan baik supaya tidak terburu-buru dan terlalu memaksakan diri.

Maknanya jauh sekali dari artian “santai” tanpa tujuan yang menjadi dasar pembenaran banyak orang untuk bersikap santai.

Itulah alasan saya sebenarnya ingin menghardik si bu RT supaya dia paham bahwa prinsip santai yang dia pakai selama periode pertama suaminya menjabat sebagai RT adalah masalah.

Banyak yang terbengkalai dan menjadi tumpukan PR bagi pengurus baru. Warga banyak yang protes dalam diam karena malas keluhannya tidak ditanggapi dan direalisasi.

Cuma, saya berpikir ulang, dan menemukan konklusi bahwa tidak ada gunanya menjelaskan sesuatu pada seseorang yang kemampuan berpikirnya tidak bisa mencapai kesana. Lebih baik hemat energi sambil nyengir bete bin kesel saja.

Biarkan saja dia terjebak dalam “alon-alon asal kelakon” eh.. kebodohannya sendiri. Yang rugi dia sendiri, bukan saya.

Jakarta, 10.03

Tujuan Hidup Setiap Orang Berbeda

Ada satu hal yang sering membuat hidup seseorang menjadi ruwet.

Orang yang tidak sadar akan hal ini biasanya akan sibuk meninggikan diri sendiri, atau kalau tidak ia akan merendahkan orang lain.

Ia juga akan sangat rentan terkena sindrom minderan atau sebaliknya juga sindrom sombongan.

Hal yang dimaksud adalah fakta bahwa tujuan hidup setiap orang berbeda. Tidak ada yang sama persis. mirip mungkin, tetapi tidak sama.

Ada yang fokus mencari kebahagiaan dengan menumpuk uang. Banyak yang justru berusaha hidup sederhana supaya tidak memiliki beban dan bisa merasa bahagia. Tidak sedikit yang merasa cukup punya rumah kecil, tetapi banyak juga yang merasa punya rumah besar lebih baik.

Variasi jenis tujuan hidup manusia tidak terhitung jumlahnya dan sangat mungkin sebanyak jumlah manusia hidup di dunia.

Nah, fakta inilah yang sering diabaikan. Sayangnya oleh banyak orang juga. Mereka yang lupa atau melupakan hal ini selalu menganggap setiap orang sama, dan tujuan mereka hidup juga sama.

Biasanya juga, mereka yang seperti ini mematok bahwa tujuan hidup mereka adalah standar yang dipakai semua orang.

Hasilnya, mereka gemar sekali membandingkan diri dengan orang lain.

Kalau orangnya dipandang “lebih berhasil”, mereka menjadi rendah diri ketika berhadapan. Sebaliknya kalau dianggap “kurang berhasil”, tidak jarang kepongahan hadir saat ia bertemu orang tersebut.

Hidupnya menjadi ruwet sekali.

Bogor, 09.20