Jebakan Alon-Alon Asal Kelakon

Perasaan saya bisa dikata campur aduk ketika bu RT di kompleks mengatakan, “Tidak usah pake program-programan, jalani saja, yang penting alon-alon asal kelakon

Padahal, saya terbiasa bekerja dengan sistem terencana, ada target, ada tujuan, dan tentunya ada deadline. Semua harus diupayakan mendapatkan hasil.

Saat itu pingin rasanya saya menabok mulutnya, atau setidaknya membentak dia sambil berkata, “Elu 5 tahun yang lalu pake prinsip itu, lingkungan jadi berantakan dan nggak keurus. Sekarang masih nyuruh alon-alon asal kelakon. Otak lu dimana?” Ingin ya. Bukan realita.

Realitanya, saya tercenung betapa banyak orang yang berpikir bahwa ungkapan Jawa, alon-alon asal kelakon itu sama artinya dengan santai saja. Tidak perlu punya target, tidak perlu punya rencana.

Yang sebenarnya salah besar.

Banyak yang lupa, seperti bu RT tadi, bahwa dalam ungkapan itu ada kata “kelakon” yang artinya terlaksana, tercapai, terwujud. Artinya, ungkapan itu menyiratkan adanya target dan tujuan.

Bukan tanpa target dan tujuan.

Alon-alon sendiri artinya pelan-pelan dalam mencapai target yang sebenarnya mengatakan agar manajemen waktunya diatur dengan baik supaya tidak terburu-buru dan terlalu memaksakan diri.

Maknanya jauh sekali dari artian “santai” tanpa tujuan yang menjadi dasar pembenaran banyak orang untuk bersikap santai.

Itulah alasan saya sebenarnya ingin menghardik si bu RT supaya dia paham bahwa prinsip santai yang dia pakai selama periode pertama suaminya menjabat sebagai RT adalah masalah.

Banyak yang terbengkalai dan menjadi tumpukan PR bagi pengurus baru. Warga banyak yang protes dalam diam karena malas keluhannya tidak ditanggapi dan direalisasi.

Cuma, saya berpikir ulang, dan menemukan konklusi bahwa tidak ada gunanya menjelaskan sesuatu pada seseorang yang kemampuan berpikirnya tidak bisa mencapai kesana. Lebih baik hemat energi sambil nyengir bete bin kesel saja.

Biarkan saja dia terjebak dalam “alon-alon asal kelakon” eh.. kebodohannya sendiri. Yang rugi dia sendiri, bukan saya.

Jakarta, 10.03

Leave a Comment