Hari ini dimulai dengan kurang baik dan rasa kesal. Seorang pengurus RT mengajukan “pertanyaan bodoh” yang sebenarnya tidak perlu disampaikan. Bodohnya lagi dia mengajukan pada saat keputusan sudah dibuat dan bukan sebelumnya.
Hasilnya, di grup WA pengurus RT terjadi konflik dan perdebatan panas. Dan, saya ikut di dalamnya karena merasa kredibilitas dan kemampuan kerja seperti dipertanyakan. Padahal, saya sudah melakukan semuanya sesuai prosedur yang ditetapkan bersama.
Biasanya, sebagai sekretaris, saya agak berhati hati dalam penyampaian. Meskipun saya merasa pertanyaan itu bodoh, saya mencari kata yang menunjukkan kekesalan, tetapi tidak terlalu frontal.
Kali ini pun, sebenarnya saya sudah berhasil memperhalus dengan cara menyebutnya sebagai “pertanyaan yang aneh”. Dengan begitu terdengar lebih halus daripada “bodoh”.
Sayangnya, ketika saya hendak mengirimkan screenshot percakapan kepada si Yayang, saya salah kirim . SS itu malah terkirim dan masuk kembali ke grup pengurus.
Parahnya, disana ada komentar saya “Ini pertanyaan bodohnya”. Hasilnya, jelas ada yang tersinggung.
Sebuah kesalahan, tetapi setelah dipertimbangkan lebih jauh, saya merasa tidak perlu terlalu memusingkan bila yang dituju merasa tersinggung.
Malah hal itu baik agar dia tahu bahwa pertanyaannya bodoh, diajukan dengan cara yang bodoh dan tanpa mempertimbangkan orang lain.
Kalau dia merasa tersinggung, ya silakan, tetapi saya tetap harus mengajarkan kepadanya bahwa dia pun harus memikirkan orang lain dan efek dari pertanyaan bodohnya.
Tidak semua hal harus diperhalus supaya orang lain tidak tersinggung. Kadangkala, sesuatu harus dikatakan blak-blakan dan tidak perlu ditutupi agar orangnya tahu dan merasakan juga betapa kesalnya kita menerima pertanyaan itu.
“Kesalahan” saya kali ini pada akhirnya saya pikir tidak masalah terjadi juga dan saya tidak perlu terlalu memusingkannya. Daripada saya kesal dan menyimpan sendiri, lebih baik orangnya tahu pandangan saya terhadap pertanyaannya.
EGP lah.
Jakarta, 13.30 – menunggu waktu kerja usai.