Terus terang, saya tidak tahu harus bertindak bagaimana ketika menerima kabar, seorang kawan lama, teman semasa SMA dulu berpulang ke Rahmatullah kemarin.
Saat menerima kabar via Whatsapp, saya hanya bisa mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Itu saja.
Penumpang Commuter Line di peron stasiun Gondangdia 26 Nopember 2025
Tidak bisa lebih dari itu.
Kami sudah lama tidak bertemu. Bahkan, saya tidak begitu ingat apakah dia hadir pada acara Reuni 35 tahun Angkatan 89 SMA Negeri 1 Bogor, 7 Desember 2024 yang lalu.
Mungkin karena sudah terlalu lama berpisah, “ikatan” kami sebagai kawan sudah memudar, sehingga saya tidak merasakan banyak hal. Jadi, hanya kalimat doa singkat itu saja yang tercetus dan terucap.
Saya juga tidak mau terlalu terlibat dalam percakapan tentang kepergian kawan tersebut di grup WA alumni kelas yang penuh dengan berbagai ucapan doa. Bagi saya, doa tidak perlu diucapkan di sebuah grup wa dan tidak perlu orang lain tahu bahwa saya berdoa.
Hanya satu hal lagi yang muncul di kepala. Selalu begitu setiap mendengar ada kawan lama wafat.
Satu lagi “pergi”.
RIP Kawan Lamaku! Selamat beristirahat dan semoga amal ibadahmu diterima oleh NYA. Juga semoga segala dosamu diampuni.
Benar-benar badan rasanya remuk redam. Pegal tubuh di sana sini dan bukan lagi hanya bagian kaki atau punggu seperti biasa. Kepala pun terasa pegal karena terlalu banyak berpikir selama 3 hari, sejak Jum’at sampai Minggu.
Mau melangkahkan kaki keluar rumah saja kayaknya berat banget. Mata, meski terbuka, tetapi terasa inginnya menutup saja.
Stasiun Gondangdia 1 Desember 2025
Apa daya, tugas harus tetap jalan. Usaha untuk mencari nafkah harus tetap dilakukan.
Juga, saya tidak berbiasa mengeluh dalam menghadapi situasi seperti ini. Sudah terbiasa sejak puluhan tahun menghadapi situasi dimana badan terpaksa diajak bekerja melebihi “porsi” yang seharusnya, baik untuk urusan kantor atau urusan pribadi.
Untuk kali ini pun tidak ada keluhan, bahkan kalimat, “Capek euy!” tidak keluar.
Semua karena saya sadar sekali yang saya lakukan selama akhir pekan kemarin bukanlah tanpa tujuan.
Tanabumbu Coffee & Kitchen sedang menjelang pembukaan di tanggal 20 Desember 2025. Banyak hal yang harus dibereskan agar pembukaan bisa terlaksana dengan sukses. Perbaikan di berbagai sisi perlu terus dilakukan, bahkan dipercepat agar bisa membuat nyaman pengunjungnya nanti.
Promosi dan pemasaran pun harus dipergencar karena percuma saja kalau semua siap, tetapi tidak ada tamu yang datang.
Jadi, hasilnya, kaki, tangan, kuping, mata, dan semua bagian tubuh saya, dan tim yang lain juga harus dipaksa untuk bisa menepati jadwal.
Alhamdulillah, tiga hari kemarin banyak hal yang terselesaikan. Juga, mendengar komentar beberapa kawan yang datang, rasa optimis dalam hati membesar. Reviewnya. bagus.
Semua itu untuk sementara sudah cukup membantu menghilangkan rasa penat yang luar biasa setelah bekerja keras di saat banyak orang kemungkinan libur.
Semoga saja rasa lelah akhir pekan kemaren, dan tentunya hari hari selanjutnya akan terbayar dengan Tanabumbu yang penuh dengan pelanggan dan tamu.
Jangan pernah menganggap remeh apapun. Percayalah, banyak hal kecil yang suatu waktu berperan besar dalam kehidupan kita.
Saya baru mengalaminya sekitar satu bulan yang lalu. Tepatnya di bulan Nopember 2025.
Ketika itu, tim LB Digital yang berada di bawah asuhan saya , menerima sebuah tantangan yang luar biasa besar. Mereka dipercaya untuk “menangani” sebuah kafe.
“Menangani” diberi tanda kutip karena yang diterima adalah sebuah kafe yang belum “berdiri”. Bangunan sudah ada. Sebagian baru, sebagian memakai bekas sebuah resto yang tidak laku.
Belum ada sistem dan situasinya masih seperti warung kopi saja. Belum ada SDM (Sumber Daya Manusia) yang cukup dan hanya ada 2 barista beserta 2 waiter saja.
Bangunan pun masih amat sangat kacau karena bekas sebuah restoran yang tidak laku dan harus tutup. Dapurnya sangat amburadul dan tidak memenuhi standar. Jangankan standar kebersihan atau kafe, standar kami saja tidak.
Padahal, waktunya dari target pembukaan hanya 1 bulan saja. Kafe itu ditargetkan beroperasi di Desember 2025.
Saya, bukan agak, tetapi sangat bingung harus memulai dari mana. Terlalu banyak yang harus dikerjakan, tetapi waktu sangat terbatas, dan begitu juga tenaga yang ada.
Namun, saat itu , sebuah pelajaran SD melintas. Saya ingat itu ketika pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Sebuah kalimat sederhana, “Manusia adalah makhluk sosial”, yang artinya manusia akan selalu membutuhkan manusia lain dalam kehidupannya.
Dan, saya langsung tersadar darimana harus memulai langkah membenahi kafe tersebut, yaitu dari manusianya.
Saya tidak bisa melakukannya sendiri. Saya membutuhkan manusia lain untuk melakukannya, sebuah tim.
Saya melakukan meeting dengan staff yang ada. Pertama saya memperkenalkan diri, dan kemudian langsung menjelaskan kepada mereka tentang rencana membenahi cafe tersebut beserta targetnya.
Saya sampaikan bahwa tim saya membutuhkan bantuan mereka untuk dapat menyelesaikan sesuai dengan target.
Sejak itu, sejak hari pertama setelah pertemuan, semua mulai “bergerak”.
Perlahan, yang tadinya berantakan dan tidak jelas, tentunya dengan dukungan dari pemiliknya, yang menjadi lebih bersemangat karena ada tim, cafe tersebut bahkan sudah mulai “terwujud”. Bukan hanya bangunan fisiknya saja, tetapi sistemnya sudah “ada”.
Cafe Tanabumbu atau Tanbu Coffee & Kitchen, meski masih jauh dari sempurna, bisa dipastikan akan beroperasi sesuai jadwal, yaitu 20 Desember 2025. Masih jauh dari idealnya sebuah kafe menurut kami, tetapi setidaknya akan bisa mulai menerima pelanggan pada saat itu.
Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.
Tanabumbu Coffee & Kitchen 2025
Dan, saat ini saya merasa bersyukur memulai dari titik yang tepat, yaitu saya sendiri, yang membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikannya. Dengan begitu saya tidak berpikir egois dan memaksakan diri mengerjakan segala sesuatu sendirian (atau hanya dengan tim LB Digital saja).
Entahlah, apa yang akan terjadi kalau saya salah memilih titik awalnya, tetapi saya tidak mau memikirkannya.
Saya sekarang hanya ingin menikmati saja, perkembangan kafe tersebut yang terus membuat rasa optimis di hati terus naik.
Kalau dilihat lagi, foto-foto yang saya pajang belakangan ini, baik di Threads atau di blog ini, hanya foto-foto biasa saja. Tidak ada yang istimewa.
Semuanya hanyalah rekaman kehidupan di jalur yang biasa saya lalui saat berangkat atau pulang kerja. Kalaupun ada sisipan, fotonya berasal dari stok lama di hard disk saja.
Tidak ada yang spesial. Tidak ada foto traveling yang menggambarkan keindahan landscape atau betapa wahnya suatu tempat. Tidak juga ada kemegahan sebuah kota.
Tidak ada juga teknik bokeh, slow shutter, atau apapun. Saya hanya menggunakan Samsung S23 FE saya pada mode auto saja.
Sate Padang, Jalan Johar di depan Mesjid Cut Nyak Dien, 1 Desember 2025, saat pulang kerja
Yang adalah foto-foto sederhana dari kehidupan mundane (biasa) saja.
Contohnya foto di dalam posting ini, dua pembeli sedang membeli sate padang yang saya lihat di depan Mesjid Cut Nyak Dien. Saya memotretnya saat pulang dari kantor menuju stasiun Gondangdia.
Semua adalah hal biasa yang biasa terlihat dalam kehidupan sehari-hari saja.
Mau tahu alasannya? Ya karena hal itu menarik untuk saya, seorang street photographer, yang punya keinginan untuk merekam momen-momen biasa yang terlihat dalam kehidupan saya.
Saya melakukannya untuk diri sendiri, tepatnya untuk menyenangkan hati dan membuang kebosanan karena rutinitas.
Tidak kurang tidak lebih.
Kalau ada yang suka, bagus lah. Kalau ada yang tidak, ya bagus juga. Semua bagus karena saya tidak peduli.
Saya hanya ingin menyenangkan diri sendiri, sekarang.
Kemungkinan turis di Jalan Wahid Hasyim dekat Hotel Morrisey, 1 Desember 2025, sore hari sepulang kerja
Selain ingin kembali rutin menulis di blog, ada satu keinginan lagi yang ingin dihidupkan kembali, yaitu kebiasaan memotret.
Kedua hobi itu adalah passion saya. Jadi, saya ingin kembali merasakan berbagai kegembiraan yang dialami saat melakukannya.
Nah, demi tujuan itu, saya berusaha terus berlatih, menghidupkan kembali semangat memotret. Salah satunya dengan menerapkan satu hari satu foto, dimana setidaknya saya menghasilkan satu foto yang menarik.
Terlihat mudah, tetapi sebenarnya tidak. Saya hanya punya celah waktu sedikit saja. Di pagi hari saat berangkat ke kantor, saat istirahat, dan saat pulang kerja.
Lebih membuatnya sulit lagi adalah jalur yang saya lewati ya itu itu saja. Tidak ada variasinya. Bisa dikata sangat membosankan. Pemandangan sudah saya lihat setiap hari selama lebih dari 17 tahun (di kantor yang sekarang).
Saya pikir bakalan sulit menemukan obyek foto.
Setidaknya, begitulah pemikiran saya saat memulai, yang ternyata salah.
Namun, pada kenyataannya, Samsung S23 FE saya sudah merekam ratusan foto. Obyek foto bukanlah masalah karena ternyata banyak sekali.
Banyak cerita kehidupan di jalanan yang bisa direkam bahkan dalam rentang waktu yang terbatas.
Dan, pada akhirnya, saya bisa menghasilkan lebih dari 10 foto menarik (tidak termasuk yang didelete karena dianggap jelek) setiap hari dan salah satunya saya usahakan dipajang di blog ini, yang artinya saya akan melahirkan satu posting juga.
Pelajaran bagi saya, atau bisa disebut juga pengingat, “sesuatu yang terlihat susah, setelah dijalani ternyata tidak seperti yang terlihat”.
Rencananya memang, di blog ini saya mau menerapkan “setidaknya”, One Day One Post alias posting setidaknya sehari sekali.
Cuma, apa daya, kayaknya situasi sangat tidak memungkinkan.
Hari Sabtu, 29 Nopember 2025 yang lalu, meski mepet, masih sempat meneluarkan satu posting. Hari itu, padahal saya pergi ke Cafe Tanabumbu yang sejak 2 minggu lalu dikelola LB Digital.
Masih sempat meluangkan waktu sedikit sebelum berangkat ke sana. Tapi hanya satu saja karena sisa harinya dipakai meeting, mengawasi, diskusi, dan sebagainya sampai jam 23.00.
Starling = Starbuck Keliling, Persimpangan Jalan Wahid Hasyim, Jakarta 26 Nopember 2025, sore hari sepulang kerja
Keesokan harinya, Minggu, 30 Nopember, niatnya mau mencoba menulis, tetapi sayang tidak terealisasi.
Badan terasa pegal dan mata masih mengantuk efek dari “1/2 begadang” karena tidur jam 2 pagi. Diskusi membahas hasil di Tanabumbu menyita waktu tidur.
Hasilnya, saya pilih tidur seharian demi memulihkan kondisi badan dan tidak ada satupun posting keluar, di blog manapun.
Jadi, pagi ini, saya sempatkan sebelum mulai bekerja untuk membuat satu tulisan di sini, yaitu cerita tentang kepusingan.
Setidaknya hari ini, saya menulis meski sedikit dan hanya cerita kecil saja (karena saya memang tidak bisa bercerita hal besar).