
Jangan pernah menganggap remeh apapun. Percayalah, banyak hal kecil yang suatu waktu berperan besar dalam kehidupan kita.
Saya baru mengalaminya sekitar satu bulan yang lalu. Tepatnya di bulan Nopember 2025.
Ketika itu, tim LB Digital yang berada di bawah asuhan saya , menerima sebuah tantangan yang luar biasa besar. Mereka dipercaya untuk “menangani” sebuah kafe.
“Menangani” diberi tanda kutip karena yang diterima adalah sebuah kafe yang belum “berdiri”. Bangunan sudah ada. Sebagian baru, sebagian memakai bekas sebuah resto yang tidak laku.
Belum ada sistem dan situasinya masih seperti warung kopi saja. Belum ada SDM (Sumber Daya Manusia) yang cukup dan hanya ada 2 barista beserta 2 waiter saja.
Bangunan pun masih amat sangat kacau karena bekas sebuah restoran yang tidak laku dan harus tutup. Dapurnya sangat amburadul dan tidak memenuhi standar. Jangankan standar kebersihan atau kafe, standar kami saja tidak.
Padahal, waktunya dari target pembukaan hanya 1 bulan saja. Kafe itu ditargetkan beroperasi di Desember 2025.
Saya, bukan agak, tetapi sangat bingung harus memulai dari mana. Terlalu banyak yang harus dikerjakan, tetapi waktu sangat terbatas, dan begitu juga tenaga yang ada.
Namun, saat itu , sebuah pelajaran SD melintas. Saya ingat itu ketika pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Sebuah kalimat sederhana, “Manusia adalah makhluk sosial”, yang artinya manusia akan selalu membutuhkan manusia lain dalam kehidupannya.
Dan, saya langsung tersadar darimana harus memulai langkah membenahi kafe tersebut, yaitu dari manusianya.
Saya tidak bisa melakukannya sendiri. Saya membutuhkan manusia lain untuk melakukannya, sebuah tim.
Saya melakukan meeting dengan staff yang ada. Pertama saya memperkenalkan diri, dan kemudian langsung menjelaskan kepada mereka tentang rencana membenahi cafe tersebut beserta targetnya.
Saya sampaikan bahwa tim saya membutuhkan bantuan mereka untuk dapat menyelesaikan sesuai dengan target.
Sejak itu, sejak hari pertama setelah pertemuan, semua mulai “bergerak”.
Perlahan, yang tadinya berantakan dan tidak jelas, tentunya dengan dukungan dari pemiliknya, yang menjadi lebih bersemangat karena ada tim, cafe tersebut bahkan sudah mulai “terwujud”. Bukan hanya bangunan fisiknya saja, tetapi sistemnya sudah “ada”.
Cafe Tanabumbu atau Tanbu Coffee & Kitchen, meski masih jauh dari sempurna, bisa dipastikan akan beroperasi sesuai jadwal, yaitu 20 Desember 2025. Masih jauh dari idealnya sebuah kafe menurut kami, tetapi setidaknya akan bisa mulai menerima pelanggan pada saat itu.
Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

Dan, saat ini saya merasa bersyukur memulai dari titik yang tepat, yaitu saya sendiri, yang membutuhkan bantuan orang lain untuk menyelesaikannya. Dengan begitu saya tidak berpikir egois dan memaksakan diri mengerjakan segala sesuatu sendirian (atau hanya dengan tim LB Digital saja).
Entahlah, apa yang akan terjadi kalau saya salah memilih titik awalnya, tetapi saya tidak mau memikirkannya.
Saya sekarang hanya ingin menikmati saja, perkembangan kafe tersebut yang terus membuat rasa optimis di hati terus naik.
Kami akan siap pada tanggal 20 Desember 2025.
Sebuah permasalahan jika dikerjakan secara bersama akan terasa ringan. Dan ada ide atau hal baru untuk memecahkan tantangan
Pasti mas.. bekerja tim sering memberikan hasil yang lebih baik daripada bekerja sendiri