
Entah kenapa, saya penyuka “ruang kosong” alias “ruang negatif” dalam fotografi. Maksudnya, kalau teori fotografi bidang foto harus dipenuhi oleh obyek atau tekstur supaya tidak terlihat kosong. Kalau tidak ada isinya disebut ruang kosong.
Hal itu katanya membuat foto lebih “stunning” dan “menghadirkan emosi”
Namun, gaya memotret saya sendiri justru berkebalikan dengan teori. Saya suka kalau banyak ruang kosong dan subyek utama tidak terlalu besar.
Fotonya jadi terasa sepi dan sunyi, damai, dan jelas tidak ramai.
Sangat bisa jadi karena saya tidak terlalu fokus pada menampilkan keindahan dalam foto dan lebih senang “menampilkan cerita”, jadi banyak teori fotografi yang diabaikan.
Apalagi, kemudian saya menambahkan unsur “menyederhanakan warna” dan memilih jalur black and white saja. Rasa sunyi dan sepi itu makin terasa.
Seperti pada foto di atas yang diambil kemaren, 25 Nopember 2025 saat sedang berjalan menuju stasiun Gondangdia.
Saya suka melihat “kesunyian” di dalamnya.
Entahlah kalau orang lain, kan saya memang tidak peduli tentang hal itu.