Seorang kawan si Kribo, seorang gadis kawan sekelasnya di Telkom University, berkata di depan tim LB Digital 3 hari yang lalu, “Gua pingin nangis naik Commuter Line. Gua berdiri dari stasiun Cilebut sampai Cikini. Nggak duduk sama sekali!“

Ungkapan itu keluar karena itu hari pertamanya bekerja menggunakan si KRL Jabodetabek. Cetusan seorang anak Gen-Z yang sedang melangkah memasuki dunia nyata, dunia komuter.
Saya tersenyum karena Commuter Line, KRL Jabodetabek adalah transportasi yang sudah menemani kehidupan sebagai karyawan selama lebih dari 30 tahun.
Sudah bukan pertama kali keluhan dari para pemuda, baik dari generasi milenial atau Gen Z yang seperti itu terdengar. Mereka bahkan ada yang menyebut bahwa KRL kurang manusiawi.
Namun, saya tidak pernah sependapat dengan mereka. Pandangan saya jauh bak bumi dan langit.
KRL Jabodetabek di masa saya, antara tahun 1989 sampai dengan 2010, jauh lebih buruk. Luar biasa buruk.
Kereta tak punya jendela atau pintu. Pedagang dan pengamen berkeliaran seenaknya seakan kereta adalah wilayah mereka dan kepentingannya lah yang paling penting. Menumpang KRL berbarengan dengan kodok, jambu, kursi, lemari, dan barang dagangan lain adalah keseharian.
Kondektur mengutip uang dari penumpang tak berkarcis. Atap kereta menjadi tempat duduk penumpang, yang sering tidak membayar karcis. Stasiun kotor dan berantakan.
Dan, masih banyak lagi kenangan buruk yang susah hilang dari kepala.
Apalagi kami punya kenangan buruk, tertimpuk batu dari tawuran di luar kereta. Si Yayang pipinya robek dan saya hampir pingsan ketika kepala terkena timpukan batu.
Jangan tanyakan keseharian karena frekuensi kereta yang sedikit, jubelan penumpang, hingga bergantungan di jendela atau pintu adalah hal yang biasa terlihat setiap hari.
Tidak ada usaha penertiban apapun dan tanpa fasilitas yang layak.
Saat itu, karena saya pernah bepergian ke luar negeri, saya pernah berulang kali berkata dalam hati, “Kapan ya Indonesia bisa seperti Hongkong atau Singapura dalam hal perkereta apian?” Saat itu saya berpikir saya hanya akan bisa bermimpi dan tidak akan pernah bisa menikmatinya di negara sendiri.
Namun, ternyata saya bisa merasakannya dan menikmatinya sekarang. Pelayanannya luar biasa jauh sekali dibandingkan masa lalu. Berbeda sekali. Bukan hanya jauh lebih manusiawi, tetapi dibandingkan dengan beberapa maju sekalipun, kualitas pelayanannya sudah seimbang.
Jadi, saya tidak memiliki pandangan yang sama dengan para millenial dan Gen Z yang berpandangan KRL tidak manusiawi.
Dan, ternyata itu diamini oleh banyak anker atau anak kereta sejaman di Threads pada utas yang saya buat. Banyak yang berpandangan sama dan bercerita tentang pengalaman sejenis di masa tersebut.
Hanya saja, saya maklum, karena kawan si Kribo itu adalah seorang anak Gen Z dan baru mulai merasakan kerasnya kehidupan di dunia nyata. Semuanya pasti berbeda dengan kehidupan semasa mahasiswa.
Banyak hal yang dulunya tidak pernah mereka rasakan akan mulai hadir dalam kehidupan, termasuk kehidupan di jalanan.
Jadi, saya saat ia mengungkapkan itu hanya berkomentar, “Tenang saja, nanti juga biasa. Percayalah!“
Dan, kata-kata saya terbukti hari ini, ketika Kawan si Kribo bercerita lagi sepulang dari kantornya, “Iya om, kaki sudah tidak sakit lagi” Di wajahnya mulai ada senyuman meski tetap terlihat lelah.
Sesuatu yang wajar karena memang dialami semua komuter pengguna KRL Jabodetabek, atau yang sekarang namanya Commuter Line. Ia pun akan semakin kuat dan terbiasa dengan kehidupan barunya sebagai seorang komuter.
Saya pun masih sama seperti dia, seorang anker sampai hari ini.
Gue pun begitu kong kalau ada anak sekarang yang ngejelek-jelekin soal Krl Comuterline era sekarang yaa senyumin aja deh.ππ
Mending Comuterline gue bilang mah dari pada kereta kelas bisnis Surabaya – Jember harganya 13O ribu, Yang gue rasakan sewaktu ke kota Jember serasa berada dizaman batu.π€£π€£π€£
Tapi yaa mau gimana lagi nikmati ajalah karena Jawa timur belum punya Comuterline, Mrt apalagi Wuuussss!!π€£π€£π€£
Baru ada Busway doang itupun dikota Surabaya saja.ππ
Iya lah.. mereka ngritik krn cuma tau situasi saat ini. Mungkin kalau mrk lahir di masa yang sama ya, bakalan sama ma kita..