Terus terang, belakangan ini, saya banyak sekali bermain dengan AI, Kecerdasan Buatan, Google, si Gemini.
Maklum lah, selain “barang baru” yang lagi ngetren, juga karena memang LB Digital, bisnis saya dan si Kribo banyak sekali memanfaatkan tool yang satu ini.
Karena sepertinya ia bisa digunakan untuk semua hal, saya memanfaatkannya untuk membuat image ilustrasi pelengkap artikel atau mencari ide. Padahal, saya tahu juga bahwa banyak fungsi lain yang bisa dilakukannya, tetapi saya membatasi diri supaya tetap fokus pada pemenuhan kebutuhan saja.
Selama itu, sadar tidak sadar, ada rasa “takut” juga di dalam hati dan kepala, tentang si AI ini.
Banyak pertanyaan, yang jawabannya menghadirkan rasa khawatir muncul tiba-tiba, seperti
- Berapa banyak profesi dan pekerjaan yang akan hilang dan digantikan oleh AI? Berapa banyak yang akan kehilangan pekerjaan karena itu?
- Berapa banyak teknik baru penipuan yang bakalan muncul kalau AI dipergunakan secara salah?
- Dunia seperti apa yang akan hadir dalam 1-2 dekade mendatang ketika mesin mampu memberikan banyak jawaban dengan cepay? Lalu, peran manusia dimana?
Akhirnya, saya ruwet sendiri karena begitu banyak pertanyaan “negatif” yang muncul secara tiba-tiba.
Walaupun, kemudian saya bisa redam kekhawatiran itu dengan melihat sisi baiknya, seperti
- Berapa banyak pekerjaan yang diefisienkan dengan menggunakan AI dan memberikan waktu luang lebih banyak kepada manusia?
- Berapa banyak orang yang maju dan berkembang karena mendapatkan banyak pengetahuan dan informasi dengan cepat?
- Berapa banyak ide yang lahir dari mereka yang cerdas memanfaatkannya
Saya sadar bahwa itulah dunia. Segala sesuatu ada sisi positif dan negatif. Tidak akan ada yang hanya satu sisi saja.
AI sama dengan pisau, yang bisa dipakai melukai orang atau untuk memasak. Manusianya lah yang menjadi penentu.
Walaupun, kehadiran si AI, masih tetap menyisakan rasa aneh dan sedikit khawatir dalam hati sampai saat ini.
Semua itu karena seorang kawan, teman, tetangga, yang rumahnya hanya terpisah tiga rumah, teman saya ngobrol, sepertinya sudah kecanduan AI.
Ia menghabiskan waktu 2 malam begadang hanya untuk berdiskusi dengan AI tentang ide-ide bisnisnya. Setiap hari dan setiap malam ia melototin komputer hanya untuk berdialog dan bertukar pikiran dengan si Gemini atau ChatGPT.
Kalau sesekali bertemu dengan saya sekarang pun, yang dibahasnya dalam pembicaraan pun hanya tentang AI , serta pemanfaatan AI dalam bisnis.
Padahal, ia punya istri dan anak. Tidak terbayang kalau dalam satu keluarga pemimpinnya, seperti sibuk dengan “selingkuhannya”, si AI.
Juga tidak nyaman juga berbicara atau ngobrol tentang hal yang sama terus menerus.
Agak worried, jelas. Jangan-jangan nanti dia keterusan selingkuh sama si AI dan tenggelam dalam dunianya sendiri.
Meskipun akhirnya, saya putuskan untuk tidak peduli. Toh, itu adalah hidupnya dan ia bisa memanfaatkannya sesuai cara yang dia mau.
Kalau saya sendiri, lebih pilih jalan berdua bareng si Yayang, makan bubur, ngegosip, dan sejenisnya. Diskusi sama si Kribo juga terasa lebih menyenangkan.
Mungkin, karena saya suka “kehangatan” yang timbul dari hubungan manusia.
Sesuatu yang tidak bisa disediakan oleh si AI.
Dia sangat “dingin”.