Kadang Orang Tidak Tahu Kalau Dirinya Tidak Tahu

Bunga Entah Apalah Namanya, 2018

Ngelus dada.

Salah sendiri sih sebenarnya gampang terpancing pada postingan status orang lain di medsos. Bukan yang pertama kali berujung pada perdebatan tidak perlu atau rasa tidak enak. Dan, rasanya sih tidak akan menjadi yang terakhir karena saya memandangnya justru disanalah keasyikan mengganggu dan mengetes orang lain.

Siang ini, perhatian saya tertumbuk pada notifikasi FB dari salah seorang kawan lama, bahkan kawan akrab, seorang wanita. Ia menshare sebuah tulisan tentang penggunaan nasi basi untuk dijadikan pupuk organik cair yang diambilnya dari akun Facebook Tips Bang Neo.

Gatel langsung kambuh.


Sebagai seorang yang pernah menjadi penggemar sekaligus penjual tanaman hias, bergabung dengan beberapa komunitas tanaman hias, pengetahuan saya dalam bidang ini termasuk di atas rata-rata orang awam. Kedengeran sombong sih, tapi begitulah adanya hasil dari bergaul dengan pakar di bidang tanam menanam, terutama tanaman hias, selama beberapa tahun, membuat pengetahuan saya dalam bidang ini cukup banyak.

Walaupun tidak lagi banyak digunakan, tetapi tetap saja tidak hilang begitu saja.

Memakai pengetahuan inilah saya mengkritik bahwa tulisan tersebut sangat tidak efisien. Kenapa repot-repot harus membuat bioaktivator, atau bakteri dengan cara yang repot, sementara sudah tersedia versi murah meriahnya, yaitu EM4. Lebih praktis, lebih hemat waktu, lebih irit biaya, dan yang pasti sudah bisa langsung dipakai.

Responnya, intinya kenapa harus beli kalau bisa dibuat? Yah saya bilang, harga 18-20 ribu per botol dan bisa diperbanyak sendiri, tentu lebih murah dibandingkan mengeluarkan biaya buat beli wadah, toples, bahan pembantu seperti gula. Harga itu belum dihitung masa proses pembuatan yang bisa dua minggu.

Jangan tanya juga repotnya membuat pupuk organik seperti ini karena makan tenaga dan tempat karena juga mengeluarkan bau. Belum ditambah kemungkinan gagal.

Tentunya, lebih praktis membayar 18-20 ribu perbotol saja yang bisa langsung dipakai.

Cuma, ternyata tetap saja si teman keukeuh bahwa boleh saja dong ia menshare sesuatu sebagai pilihan. Nadanya jawabannya via chat wa juga sudah tidak enak.

Yo wis.

Saya mingkem.

Ngaku salah.

Bukan salah soal proses, tapi saya salah ngajak bicara orang yang sepertinya tidak paham sama sekali, dan bahkan tidak pernah menyentuh hal-hal seperti itu. Dia hanya berpikir bahwa dia sudah membantu dengan menshare tulisan yang dianggapnya berguna.

Niatnya baik.

Tapi, saya rasa hasilnya mungkin akan kurang bagus.

Membuat bioaktivator atau yang tulisan itu sebut sebagai MOL (Mikro Organisme Lokal) di dalam sebuah rumah tipe BTN atau RSSSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sempit Sekali Selonjor Saja Susah), bukanlah hal yang menyenangkan.

Banyak pusingnya karena butuh tempat khusus agar terhindar dari panas dan sinar. Butuh tempat khusus juga untuk melakukan fermentasinya. Butuh ruang agak lebar juga supaya bau (terutama kalau gagal) tidak membuat pusing kepala penghuni rumah.

Tentunya, beda kalau dibuat di rumah dengan halaman yang luas atau punya lahan khusus seperti rumah di pedesaan.

Memang tulisan itu membuat proses seakan-akan begitu mudahnya. Khas tulisan para blogger juga. Masalahnya, karena saya pernah melakukannya sendiri, dengan berbagai macam cara, fakta di lapangan berbeda. Banyak sekali kegagalan terjadi. Bahan menjadi busuk dan menyebarkan bau.

Tadinya, saya mau menjelaskan kelemahan dan banyak hal yang tidak terjelaskan dalam tulisan yang dishare kawan tadi. Cuma, karena nadanya sudah merasa bahwa dia pikir tulisan itu pasti benar, hasilnya malah tidak enak. Nada chatnya menjadi “keukeuh” dan sekedar menunjukkan kekeraskepalaan saja.

Padahal, saya cukup yakin sekali, mungkin dia menanam pohon sendiri juga tidak pernah. Sesuatu yang menjadi asumsi hadirnya pertanyaan, “Bagaimana dia bisa yakin bahwa tulisan yang disharenya benar, kalau dia sendiri tidak punya cukup pengetahuan dalam bidang ini?”

Dia juga mengatakan, “Biar saja pasti ada pembaca yang mengerti kok?” Lucu juga sebenarnya, karena saya pembacanya, saya mengerti, dan saya mau mengoreksinya, tetapi sepertinya dia tidak tahu bahwa saya paham sekali tentang tulisan tersebut, bahkan melebihi apa yang dia tahu.

Kadang Orang Tidak Tahu Kalau Dirinya Tidak Tahu

Pada akhirnya, saya putuskan untuk berhenti mengomentari. Padahal, lumayan mangkel juga dan pingin banget ngejelasin lebih lanjut.

Tapi, dipikir-pikir tidak ada gunanya juga. Sudah lagi puasa, perut lapar, dan harus berdebat. Pasti capek dan tambah lapar,

Apalagi, yang diajak debat sebenarnya tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Bakalan tambah repot karena penjelasan apapun akan sulit diterima. Ia hanya akan percaya sesuatu yang menurutnya “benar” dan diyakininya “benar”.

Ia tidak akan bisa menerima koreksi dan penjelasan dari seseorang yang dianggap tidak tahu. Meski sebenarnya, masalahnya, dia tidak tahu bahwa saya tahu banyak tentang hal ini.

Mangkel sih baca chat dan komentarnya, tapi tidak ada gunanya juga memperpanjang.

Pada akhirnya, saya cuma bisa menghela nafas saja. Tidak heran kalau hoaks dan berita tidak benar merajalela. Banyak orang tidak tahu dirinya tidak tahu tentang satu hal, tapi begitu hendak diberitahu oleh orang yang tahu, ia tidak mau tahu dan menganggap dirinya lebih tahu.

Yap, dari sanalah hoaks paling banyak berasal.

Leave a Comment