Ayah Vs Anak Laki-Laki : Singa Tua Vs Singa Muda

Dalam sebuah kelompok singa, biasanya akan ada satu singa jantan pemimpin dengan beberapa singa betina. Di dalamnya akan terdapat beberapa singa jantan muda yang setelah dewasa akan “terpaksa” atau “dipaksa” melepaskan diri dari kelompok tersebut.

Keduanya akan sangat mungkin berbenturan akibat perebutan “wilayah” dan “kelompok” Tidak jarang perkelahian keras terjadi dan menyebabkan luka bagi keduanya terjadi.

Singa muda tersebut kemudian akan berkelana dan pada akhirnya akan membentuk kelompoknya sendiri dimana ia akan menjadi pemimpinnya.

Siklus yang akan terus menerus berulang.

Pengandaian singa itulah yang kemarin, Sabtu 19 Agustus 2023, saya pergunakan untuk menggambarkan hubungan ayah dan anak laki-laki, kepada seorang gadis, kawan si Kribo yang kebetulan makan bersama di Soto Mie Yasmin, Bogor.

Semua itu karena kesadaran bahwa pola yang sama juga berlaku dalam hubungan keluarga, terutama antara saya sebagai ayah dan si Kribo sebagai putra semata wayang kami.

Saya menyadari bahwa perlahan, tetapi pasti, ia akan menjadi singa muda. Ia akan memiliki ego laki-laki yang juga saya miliki. Rumah dan keluarga yang adalah “wilayah” kekuasaaan saya sekarang. Saya adalah singa tua pemimpin saat ini.

Kondisi dan situasi yang pada akhirnya akan menghadirkan benturan jika tidak di-manage dengan benar. Jika semua lelaki di rumah mengedepankan egonya dan mau menang sendiri, pada akhirnya yang ada adalah benturan keras dan perdebatan panjang dimana masing-masing akan mengedepankan egonya.

Sudah terlalu banyak keluarga yang mengalami dan kerap berakibat fatal.

Oleh karena itulah, sudah sejak lama, saya berusaha menjadi lebih bijak. Memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan yang seabreg-abreg dengan semakin bertambahnya umur, saya berusaha “bermain” agar benturan ego tersebut tidak menjadi sesuatu yang merusak.

Bukan berarti saya terus mengalah, tetapi lebih kepada saya harus bermain tarik ulur dalam hubungan dengan si Kribo.

Saya tidak lagi mengikuti pola lama dimana seorang ayah bak dewa yang tahu segalanya, bisa segalanya, dan pasti benar. Kemudian, kekuasaan tidak lagi menjadi andalan untuk mentransfer pengalaman dan pengetahuan kepada si Kribo.

Dalam hubngan kami, sebagai ayah dan anak laki-laki, saya lebih berusaha menjadi bunglon dibandingkan singa.

Saya berubah menyesuaikan dengan warna interaksi. Tidak selalu saya menjadi “ayah”.

Memang, ketika kecil, peran ayah yang terkadang “memaksa” kerap dipakai, tetapi beberapa tahun belakangan, setelah si Kribo berusia 17 tahun, peran tersebut perlahan ditinggalkan. Tidak berarti seratus persen peran ayah dihilangkan, tetapi persentasenya semakin kecil.

Semenjak si Kribo beranjak dewasa, peran seorang teman atau partner lebih sering ditampilkan. Bahasa yang dipergunakan tidak lagi bahasa bapak yang terkadang keras dan tidak bisa dibantah. Tidak jarang bahasa gaul, seperti penggunaan “elu” dihadirkan.

Bukan berarti tidak mengajarkan sopan santun dan etika, karena saya yakin si Kribo tetap punya adab yang baik, tetapi saya menyadari kalau cara lama yang dipakai adalah benturan. Ketika muda dulu pun, saya gemar berontak dan menentang, dan saya menyadari hal itu juga berlaku bagi putra kami tersebut.

Dengan penggunaan bahasa yang akrab di telinganya, saya memberi sinyal bahwa ayahnya bukanlah pemimpin masa lalu, yang kaku, kolot, dan sangar. Saya menyampaikan kepadanya bahwa ayahnya bisa menjadi “teman” dimana ia bebas mengungkapkan pendapat, menentang, bahkan berdebat dengan bebas.

Dengan begitu, ia bahkan bisa terbuka dalam berinteraksi. Dan, kami bisa lebih mengetahui tentang yang ada di dalam pikirannya.

Cara ini pun dilakukan karena tidak ada sesuatu yang baik jika saya bersikap seperti singa. Ego kami berdua, sebagai laki-laki akan berujung pada benturan ego yang cenderung berbahaya.

Menjadi “bunglon” seperti ini juga memungkinkan saya mengarahkan ego si Kribo menjadi sesuatu yang positif. Tentu saja, saya tetap menyadari bahwa suatu saat ia akan melakukan kesalahan, entah karena ia sembrono atau terlalu nekat.

Saya juga bisa memastikan ia tidak merasa dirinya “berjalan sendirian” seperti singa muda yang terusir. Sebaliknya, saya berharap ia merasa punya tim dalam menghadapi berbagai persoalan dan gejolak yang dialaminya.

Masalah yang sering dihadapi oleh anak muda yang sedang beranjak dewasa, yaitu ketika mereka merasa sendirian dan tidak tahu arah tujuan, sejauh ini memang bisa terhindarkan dengan cara ini.

Si Kribo perlahan beranjak dewasa dan ia tetap bisa berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik, layaknya sesama anggota tim. Gejolak yang bisa membuat sesat banyak anak muda sejauh ini berhasil terhindarkan dengan baik.

Meskipun demikian, saya, dan si Kribo juga menyadari bahwa sebaik apapun si singa tua, tetap pada akhirnya, si singa muda harus melepaskan diri dari kelompok yang ada. Ia harus membentuk kelompok baru dimana ia bisa menjadi leader.

Hal itu Insya Allah akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Belakangan si Kribo bahkan sudah berpikir untuk mengontrak rumah atau apartemen sendiri, jika ia sudah mendapatkan penghasilan tetap yang mencukupi.

Sesuatu yang saya amini dan akan terus dorong akan terwujud.

Ketika hal itu terjadi, maka memang sudah saatnya, sang singa muda menjalani kehidupannya sendiri. Jalan yang dipilihnya sendiri dan bukan jalan yang dipaksakan oleh orang lain, termasuk ayah ibunya.

Dan, tentunya, tanpa meninggalkan luka layaknya setelah perkelahian perebutan wilayah antar dua singa. Yang tersisa pada akhirnya adalah kenangan manis bagi semuanya.

Karena saya menyadari, meski saya mengandaikan hubungan ayah dan anak laki-laki sebagai singa tua vs singa muda, saya sadar sekali kami tetap manusia. Kami memiliki akal dan pikiran, serta lebih adaptif dengan lingkungan sekitar.

Dan, saya memanfaatkan semuanya itu untuk memastikan bahwa kami akan tetap menjadi bagian dari kehidupan si Kribo di masa datang. Dimanapun ia berada dan siapapun yang akan mendampinginya, kami akan tetap diterima dengan baik ketika memasuki kelompok si Kribo.

Sesuatu yang kami akan butuhkan di masa datang.

(Bogor, 20 Agustus 2023)

Leave a Comment