Bebersih Sampah Di Rumah

Bebersih Sampah Di Rumah
Ciliwung, Bogor, 2019

Sebuah antena indoor. Sepasang sepatu wanita. Jepitan rambut. Sepasang sepatu pria. Tas kertas. Berlembar-lembar tagihan kartu kredit yang sudah dibayar.

Panjang sih sebenarnya daftar benda yang saya buang hari ini. Jika semua di-list, hasilnya bisa lebih dari 2 lembar kertas A4.

Rupanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) bukan hanya memberikan dampak negatif saja bagi kehidupan, tetapi juga menghadirkan sisi posifit yang mungkin tertutup oleh situasi tegang bin suram. Setidaknya bagi saya dan keluarga.


Saya memiliki banyak waktu luang dalam sehari. Memang tetap ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan, tetapi sisa waktu masih begitu banyak yang bahkan setelah dipakai nonton tipi dan ngepoin status orang di medsos, tetap masih berlimpah banyak.

Dan, saya putuskan untuk memanfaatkan waktu itu untuk bebersih rumah. Sekalian menunggu datangnya bedug maghrib, ngabuburit kali ini saya habiskan dengan menelusuri setiap sudut rumah untuk menemukan sesuatu yang tidak lagi dipakai.

Cukup mengejutkan juga. Sebagai keluarga kecil dengan hanya satu orang anak saja, dan sudah sangat jarang membeli barang, ternyata masih banyak sekali benda tak terpakai yang tersembunyi. Mulai dari kaus kaki, boneka kecil, lembar tagihan, kertas struk ATM, dan banyak lagi hal lainnya, terlihat masih memakan ruang di rumah kecil kami.

Memang biasanya, saya terlalu capek untuk lebih teliti dalam membersihkan rumah saat situasi normal. Pulang biasanya langsung istirahat dan menulis di blog. Akhir pekan dihabiskan untuk pergi ke rumah saudara atau adik atau hunting foto. Jadi, waktu untuk serius bebersih rumah hampir tidak ada.

Bebersih Sampah Di Rumah
Ciliwung, Bogor, 2019

Baru beberapa hari terakhir saya menyadari bahwa banyak sekali benda tak berguna yang berserakan mengotori rumah kecil kami.

Ada yang masih tersimpan karena dianggap masih mungkin berguna di masa yang akan datang, padahal sudah tidak terpakai selama bertahun-tahun. Ada yang memang karena keteledoran. Ada juga yang memang karena tersimpan di pojokan dan tidak terlihat.

Yang pasti, banyak sekali “sampah” yang sebenarnya tidak kami butuhkan.

Itu belum termasuk pakaian yang tersimpan di dalam lemari dan belum ditinjau ulang. Sudah banyak sekali benda tak berguna di dalam rumah.

Dan, saya pikir mungkin hal ini yang membuat mata sepet selama ini. Banyak “sampah” mengganggu kehidupan kami.

Saya tidak bisa menyalahkan si yayang yang tentunya sudah menguras tenaga untuk memasak, belanja, mencuci, dan mengurus rumah. Apalagi, kami memang sudah tidak menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga selama lebih dari 15 tahun.

Gimanapun juga, tenaganya pasti terbatas dan dia juga perlu istirahat.

Yah, berarti itu kesalahan saya yang tidak meluangkan waktu untuk membantu mengurus rumah dan agak terlalu sibuk dengan mengurus blog dan menekuni fotografi.

Itulah mengapa saya memandang PSBB ada sisi baiknya juga dimana kebijakan ini memaksa saya untuk melihat “ke dalam” dan bukan keluar terus. Saya dipaksa untuk mengintrospeksi diri dalam hal mengurus rumah.

Hasilnya lumayan. Pada hari ketiga ngabuburit dengan cara bebersih rumah, jumlah sampah/benda tak terpakai di rumah sudah berkurang. Soalnya, paling tidak sudah ada 2-3 karung yang dibuang ke tempat sampah.

Masih banyak lagi yang perlu “disapu bersih” alias dilempar ke tempat sampah dalam beberapa hari ke depan sebelum saya harus kembali WFO (Work From Office). Rasanya sih, masih banyak waktu untuk memastikan bahwa rumah sudah agak bersihan dikit dan tidak ada lagi benda-benda tak berguna yang masih tersimpan.

Paling tidak, saat saya sudah aktif di kantor lagi, si yayang tidak lagi begitu kerepotan untuk membersihkan rumah.

Mungkin, saya harus katakan ‘Terima Kasih pada virus Corona yang melahirkan PSBB” untuk yang satu ini. Dia membuat saya menjadi manusia yang sedikit lebih bersih dari sebelumnya.

Bogor, 14 Mei 2020

8 thoughts on “Bebersih Sampah Di Rumah”

  1. Waaah 2-3 karung buanyaaak juga, mas Anton >,< hahaha. Pasti saat bersih-bersih sering mendapatkan jackpot seperti barang yang sudah lama hilang, dan sempat dicari tapi nggak ketemu entah ke mana :)) soalnya itu yang saya alami waktu dulu pernah decluttering, jaman-jaman baru mau berubah gaya hidup ke minimalist. Saat itu saya menemukan 5 pcs gunting kuku coba :""""D gara-gara setiap dicari hilang, alhasil beli baru. Dan saya juga mendapatkan banyak tumpukan baterai ~ semenjak itu jadi sadar kalau ternyata banyak 'sampah' juga di rumah saya :))

    Eniho, saya ikutan hangat bacanya ketika mas Anton begitu perhatian pada pasangan yang mungkin sudah lelah mengurus rumah ~ semoga selalu saling sayang selamanya hingga akhir hayat, dan semangat bersih-bersih rumahnya mas! Hitung-hitung olahraga, kan ehehehehe :>>

    Reply
  2. Gunting kuku saya cuma empat.. tiga nemu waktu beberes kemaren.. wakakakaka.. emang bener banyak nemu jackpot.

    Iyah, saya juga kaget bisa segitu banyak. Rupanya memang saya kurang teliti dalam hal bebersih. Hasilnya banyak yang nyempil.

    Makasih mbakyu, semoga si mbak juga saling sayang dengan pasangannya sepanjang hayat juga.

    Siap.. akan dilanjutkan bebersihnya.. hahah soalnya masih banyak sudut yang jadi inceran nih

    Reply
  3. Wah keren bebersih rumah, jangan jangan terinspirasi sama Marie Kondo hehehe. Aku pas WFH malah ketiban lebih banyak kerjaan, jadi memang baru benar benar free pas menjelang buka puasa.

    Btw saya suka sama foto foto nya, moto sampah tapi tetap kelihatan artistik. Kudos mas

    Reply
  4. Kayanya si Marie yang terinspirasi saya deh.. hahahahaha.. habis krena pasar di luar negeri juga sedang kacau beliau, jadilah volume pekerjaan berkurang banyak.

    Makasih mas.. hasil iseng 😀

    Reply
  5. Dua-tiga karung pasti rasanya puas banget ya mas… kemarin saya juga sempat bebersih, di dapur. Alhamdulillah, di lemari dapur itu, sampai nemu dua karung-an (di lemari dapur orangtua). Terus, setelah beberes, jadi bingung, selama ini saya naruh apa aja, kok bisa sampai bertumpuk, toh ketika memasak pakainya barang itu-itu saja.

    Barang-barangnya banyak yang masih bagus, jadi diberikan ke pemulung yang biasa lewat di sekitar rumah.

    Sekarang saya baru pindah ke tempat tinggal dengan suami, kontrakan tiga kamar yang barangnya belum banyak. Tapi memang ada tendensi untuk menyimpan barang-barang, ya. Karena tempatnya kecil, masih pilih-pilih sih, tapi kalau bisa, setelah punya rumah sendiri, saya nggak mau numpuk barang.

    Meskipun kayaknya, memang pasti akan ada tendensi barang yang bertumpuk. Memang harus dilakukan secara rutin ya Mas, sekalian olahraga nanti, meskipun sudah nggak WFH 😀

    Reply
  6. Puaaaasss bangettt.. tapi belum puas 100% . Masih kelayapan ingin menyingkirkan lebih banyak barang lagi…

    Iya nih.. tendensinya begitu. Niat sih nggak cuma karena kebiasaan teledor akhirnya baraang jadi numpuk ga puguh. Bagusnya sejak awal sih dirutinkan bebersihnya..

    Mudah-mudahan bisa kontinyu terus setelah masa WFH selesai

    Reply
  7. kalau saya biasanya nemu mainan anak-anak yang nyempil sana sini Pak, kalau bersih-bersih biasanya termasuk memilah baju-baju yang nggak kepakai, yang udah lusuh jadi lap, yang masih layak pakai masuk kardus kasihin tukang sampah.
    Sayangnya, saya udah capek pilah-pilah yang mau dibuang, eh sama pak suami malah diambil lagi, ckckckck.
    Alhasil, dalam rumah lapang, eh luar rumah penuh kardus jadi tempat tikus ckckckckck

    Reply
  8. Hahahaha.. saya juga menemukan mainan anak-anak dari jaman si kribo kecil. Beberapa saya cuci ulang karena kadang keponakan datang, tapi sebagian saya buang.

    Kalau di rumah kebalikan, saya tukang buang barang, istri yang hobi ngumpulin barang juga. Yang sudah saya buang, diambil balik kadang.. wkwkwkwkw

    Reply

Leave a Comment