Cinta + Patah Hati + Balas Dendam

(Catatan : Untuk bisa membayangkan apa yang terjadi dalam tulisan ini dengan baik, butuh tambahan imajinasi untuk flashback ke masa lalu. Tahun mulainya cerita ini antara tahun 1989-1990.

Zaman yang diusung oleh pelem Dilan dan Milea meski sebenarnya tidak seromantis dan seindah itu. Mungkin karena Dilan settingnya di Kota Kembang, Bandung, sedangkan cerita di bawah di Kota Hujan, Bogor.

Tapi, bolehlah kalau background kisah nyata ini diimajinasikan pakai setting Dilan.

Yang pasti jangan imajinasikan ada smartphone karena di masa itu, jangankan ponsel, telpon rumah saja di Bogor banyak yang belum pasang.

Juga buang gambaran laptop/notebook/tablet, komputer masa itu masih butuh disk lebar untuk sistem operasinya. Microsoft Windows belon nongol, yang ada DOS, Wordstar, Lotus doang yang dipakainya harus bergantian dan ga bisa sekaligus

Kalau di kepala Anda ada dua benda itu, berarti ga sah… settingnya amburadul)

Pembukaan :

Patah hati itu menyakitkan kawan. Menyesakkan. Tapi, agak mirip dengan virus cacar air yang kalau seorang manusia sudah terkena ia menjadi imun, patah hati akan membuat orang yang mengalaminya menjadi lebih kuat, walau tidak jadi kebal, seseorang akan menjadi lebih “tahan banting” menerima patah hati berikutnya.

Kira-kira mirip lah dengan yang sering Kelly Clarkson teriakan di tipi, “What doesn’t kill you make you stronger” (Yang tidak membunuhmu akan membuatmu menjadi lebih kuat). 

Jadi, kalau mau jadi manusia yang kuat dan tahan banting, silakan patah hati sebanyak mungkin.

Cuma harap dicatat, kalau dosisnya tidak tepat, patah hati juga bisa membunuh. Contoh saja, kalau sudah 30-40 kali patah hati, saya sih maklum kalau ada orang yang milih meninggalkan dunia pergi ke alam baka.

 —-  Layar dibuka dan kisah ——

Episode 1 : Cinta

Menjelang akhir masa sekolah di sebuah SMA Negeri, SMAN 1 Bogor, yang katanya sekolah favorit dan penuh orang pintar (padahal nggak semua, contohnya saya ini yang nggak pandai), saya memiliki beberapa kawan dekat dalam sebuah “geng” (atau kelompok).

Lima pria dan dua wanita.

Kemana-mana, sampai jajan ke Gang Selot di sebelah sekolah saja kadang bertujuh. Bolos bertujuh juga. Bikin PR bertujuh juga dimana dua orang yang paling pintar yang membuat, sisaynya menyalin saja.

Dekat. Kami sangat dekat.

Kedekatan semasa SMA ini ternyata terbawa bahkan selepas kelulusan, tahun 1989. Tiga orang memutuskan kuliah di IPB (Institut Pertanian Bogor), 1 menjadi belajar di Forest Ranger, 1 di Bandung, 1 lupa kuliah entah dimana, dan saya sendiri pilih udar ider (hilir muduk) ke sebuah kampus di kawasan Depok yang punya jaket kuning.

Terpisahkan oleh jarak, jadwal kuliah, dan kesibukan masing-masing.

Tetapi, kami selalu menyempatkan diri untuk tetap bermain bersama. Seringnya, kami nongkrong di rumah salah satu teman wanita (inisial URH dengan panggilan Rie). Kebetulan, ayahnya adalah mantan Kepala Sekolah di SMAN 1 dan kebetulan juga rumahnya yang paling luas, jadi tidak bakalan bikin rusuh tetangga kalau kami ribut.

Bukan kebetulan juga karena saat itu, yang teman cowok masih pada kere semua, dan yang punya mobil cuma teman wanita kami saja. Jadi, biasanya mobilnya yang dipakai kita bermain kesana kemari.

Entah kapan tepatnya si cupid itu datang. Tiba-tiba kok saya ngerasa jatuh hati pada si URH. Memang benar juga kata orang Jawa, “Witing tresno jalaran soko kulino” (Cinta datang karena terbiasa (sering bertemu).

Rasa itu ada setelah kelamaan bermain bersama (walau kalau dipikir ulang, mungkin ada alasan lain juga sih).

Akhirnya, bermain bersama pun menjadi ajang PDKT kepada si Dia.

Mulanya dia ragu, tapi pada akhirnya, mungkin karena tidak enak atau kasihan pada teman dekat, si URH menerima. Meskipun dengan sebuah syarat yang rasanya menyakitkan juga. Ia meminta saya tetap terlihat sebagai teman dan tidak perlu memberitahukan bahwa kita berdua pacaran.

Sebal, tapi apa daya. Jalani saja.

Jadilah sesuai protokol percintaan, lahirlah sepasang manusia yang coba menemukan jalan bersama. (Setting tahun 1991-1992, dan masih belum ada ponsel yah.. laptop juga masih jauh hadir di Indonesia)

Kisah cinta itu lahir.

Episode 2 : Patah Hati

(Stop! Tidak ada romantisme ala Dilan dan Milea dengan, “Rindu itu berat, kamu nggak akan kuat. Biar aku saja”. Entah darimana penulis skenario mendapat kata-kata jenis ini. Kayaknya zaman itu, nggak seperti itu.

Pacaran masa itu lebih banyak nonton bareng, ngobrol di rumah, jalan bareng, main sama keluarga gebetan. Bergombal ria dengan kata-kata romantis sepertinya jarang terdengar.

Tapi, mungkin saja si Dilan berasal dari planet lain atau bagian bumi yang saya nggak tahu, jadi bisa sepuitis itu.)

Sayangnya, bukan sebuah kisah cinta romantis ala Dilan dan Milea. Perjalanannya lebih banyak seperti naik roller coaster. Putus nyambung sebelum putus total.

Tidak dinafikan ada masa menyenangkan juga. Dekatnya saya dengan keluarganya, kakaknya dan orangtuanya yang menerima. Bahkan, keponakannya punya julukan khusus buat saya, si Om Kodok karena saya sering membuat kodok-kodokan dari saputangan yang membuat mereka tertawa.

Ada kegembiraan juga di dalamnya.

Tapi, ya tetap naik turun dan banyak sekali goncangan.

Penyebabnya, ya khas anak muda lah. (Waktu itu kan saya masih muda, belum setua sekarang).

URH yang kuliah di IPB memiliki geng lagi dengan sesama teman kuliahnya. Mayoritas cowok. Memang, gaya bergaulnya yang luwes dan supel membuatnya menyenangkan untuk menjadi teman. Cerewet seperti nenek-nenek.

Benturan “masa lalu” dan “masa kini” terjadi.

Ternyata geng teman-teman kuliahnya tidak begitu cocok dengan kami dari geng SMA. Gaya bergaulnya berbeda. Berulangkali terjadi benturan kecil yang membuat ketidaknyamanan, terutama teman-teman masa SMA yang tidak kuliah di IPB.

Bukan berarti berantem karena kami tetap sering bermain bersama. Cuma suasananya mirip api dalam sekam. Masing-masing menyimpan rasa tidak nyaman digabungkan. Apalagi, geng IPB kadang lupa diri dengan terus menerus berbicara tentang kampus dan kehidupan kuliah mereka dibandingkan membaur.

Paling tidak, begitulah pandangan saya dan teman wanita yang lain saat itu.

Ketidaknyamanan ini berimbas pada jalinan hubungan saya dan URH yang belum lama berjalan. Keras kepalanya saya yang kadang blak-blakan mengatakan isi hati, justru mengundang reaksi keras juga dari URH.

Lebih buruk lagi, salah seorang kawannya dari geng IPB, sebutlah di H,  juga menaruh hati padanya. Kloplah semua menambahkan bensin kepada sekam yang mulai menjadi api yang terus membesar.

Tidak sampai satu tahun bertahan, hubungan itu retak dan pada akhirnya “putus”. Kekesalan saya terhadap sikapnya yang menomorsatukan kawan-kawan IPB pada akhirnya malah membangkitkan reaksi keras darinya.

Ia merasa saya mengganggu kebebasannya dalam bergaul.

Hasilnya, putuslah kami. Tepatnya, dia yang memutuskan.

Dan, saya tidak menyerah.

Tetap saja saya berusaha menyatukan kembali bagian yang retak. Beberapa bulan diperlukan untuk meyakinkannya bahwa kita butuh tambahan waktu.

Sampai akhirnya, ia setuju untuk “mencoba” kembali. Jalinan itu kembali tertaut.

Sementara saja sayangnya.

Meski saya berusaha meredam kebiasaan mengatakan apa adanya, pada akhirnya tetap saja kesebalan saya keluar juga.

Puncaknya terjadi ketika, ia meminta bantuan saya mengerjakan tugas programming dari tempat kursusnya. Ia mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas akhir tersebut.

Tentu saja, dengan senang hati saya mau membantunya. Bagi pacar sendiri, apalah yang tidak dilakukan.

Cuma, situasi menjadi “teramat sangat” menyebalkan ketika kami berdua ke rental komputer

(Ingat yah, komputer, notebook, laptop, ponsel, smartphone, masa itu belum ada. Biasanya kami pergi ke rental komputer untuk menyewa jam-jam-an. Sejamnya rata-rata 1000-30000 rupiah.)

Alih-alih mengerjakan tugas itu berdua, kami pergi bertiga dengan si H. Muka saya mungkin sudah seperti pak RT yang warganya tidak bayar iuran. Hanya karena saya berjanji untuk bersikap lebih sabar, hal itu ditahan.

Selama pengerjaan tugaspun, pingin rasanya mengambil palu dan menggetok kepala si H. Bukan apa-apa, saat saya berkutat meneliti baris demi baris “syntax”, si Dia justru bercanda dan tertawa tawa dengan si H.

Pengen rasanya bangku saya lemparkan. (Cuma pingin dan tidak saya lakukan benar-benar, nggak punya duit buat ganti. Cuma cukup buat bayar sewa komputer saja).

Saya akhirnya memutuskan untuk mengerjakan “tugas” saja. Program selesai.

Sepulangnya lah, semburan kekesalan keluar semua. Efeknya, ya talak kedua kali dijatuhkan oleh URH kepada saya.

Seberapapun saya mencoba memperbaiki, rupanya dia juga sudah sama kesalnya seperti saya.

Putus.

Dan, patah hati lah saya saat itu.

Kelas Tiga Biologi Tiga SMA Negeri 1 Bogor, 1989

Episode 3 : Move On

                     
Jangan bayangkan saya banting-banting foto atau bermuram durja. Nyetak foto mahal waktu itu dan piguranya juga, maklum kantong mahasiswa yang cekak. Makanya, heran juga si Dilan, sepertinya dia seperti nggak pernah pusing soal duit.

Bikin puisi patah hati? Boro-boro. Kepikiran juga kagak.

Bayangkan saja, orang yang mukanya ditekuk, persis muka tukang kredit saat mendengar yang ngredit bilang nggak punya duit untuk bayar.

Asem.

Kuliah tetap jalan dengan baik. Nilai tidak masuk NASAKOM (Anak-anak satu koma, alias mahasiswa yang nilai IPKnya di bawah min 2.0). Logis saya tetap berjalan baik. Pikiran saya, masalah asmara sudah bikin dunia terasa menyebalkan, kalau sampai nilai ambyar juga, omelan ortu bisa menambah masalah.

Walau memang harus diakui, seperti ada beban yang terasa berat banget di dalam hati saat itu. Kadang malah bikin kepala mandeg berpikir. Berbagai kata-kata inspirasi soal patah hati sama sekali tidak bisa membuat beban itu hilang.

Beberapa bulan bisa dikata saya tenggelam dalam kepatahhatian.

Sampai, entah bagaiamana ada sebuah “bisikan iseng”. Darimana asal pemikiran ini, saya tidak tahu sampai sekarang. Hanya saja, hasil akhirnya lah yang merubah suasana.

Bisikan iseng itu adalah “Eh, kenapa kamu nggak coba ajak si S nonton?”. Si S itu adalah adik kelas dan sesama anggota pramuka. Wajahnya cantik dengan gingsulnya. Sempat jadi kecengan saya waktu di SMA.

Saat itu saya sudah lama tidak bersua, dan entah dorongan darimana timbul ide mengajaknya nonton bioskop (bukan nonton kereta lewat yah).

Caranya? Jangan bayangkan pakai pesan WA atau pake Messenger. (Ingat smartphone belum muncul di Indonesia, apalagi Facebook, Twitter, WA, dan sejenisnya). Jadi, untuk mengajak si S nonton saya tidak pakai semua itu.

Saya mengirim surat. Via pak Pos. Untungnya saya masih menyimpan alamatnya.

Suratnya isinya sederhana saja, mengajaknya nonton film di bioskop. Tidak pake bahasa rayuan, karena emang tidak bisa sih. Lagipula, cuma sekedar nonton saja sesama teman.

Jawabannya? Bisa tebak?

DIA TIDAK BERSEDIA.

Dengan bahasa yang halus dan bercanda, ia menjelaskan sedang punya pacar. Jadi, dia tidak mau menemani saya nonton.

Sebuah hal yang bisa dimengerti dan saya membalas suratnya untuk mengatakan “tidak apa-apa”.

Patah hati lagi?

Tidak juga.

Justru sebaliknya, niatan nonton gagal tadi seperti mengangkat beban di hati.

Memang tidak berhasil, tetapi surat tadi seperti dongkrak yang mengangkat saya keluar dari “lumpur” kekecewaan yang selama beberapa bulan terakhir seperti mengikat saya untuk bergerak.

Setelah surat itu, semua terasa lebih ringan. Saya bisa bergerak bebas lagi dan menikmati banyak hal, termasuk salah satunya masa kuliah. Salah satunya saya kembali berburu buku bekas ke Pasar Senen, membaca buku banyak sekali, dan lain sebagainya.

Hidup kembali bergerak dengan normal.

Saya MOVE ON.

Episode 4 : Balas Dendam

(Kasus 1 : Rental Komputer)

Beberapa tahun setelahnya, tepatnya di awal tahun 1995, setelah sidang skripsi yang Alhamdulillah berjalan dengan baik, saya pergi kembali ke rental komputer langganan di Jalan Malabar. Beberapa bagian dari skripsi yang telah diuji harus direvisi.

Semangat sedang tinggi-tingginya saat itu karena satu tugas sudah hendak selesai. Mata dan perhatian saya sedang fokus layar komputer, ketika sebuah suara membuat perhatian teralih.

“Hai, Ton! Apakabar? Lagi ngapain?” 

Kepala saya menengadah. Terkesiap juga ketika melihat darimana suara itu berasal. Sang Mantan. Ia berdiri hanya 2 meter dari tempat saya duduk.

“Oh, baik Rie. Lagi beresin skripsi nih! Apakabar?”, jawab saya sambil menengadah beberapa saat sebelum kembali mengalihkan perhatian mata ke monitor komputer. Terdengar si Mantan menarik kursi di meja sebelah yang kebetulan kosong.

“Sini aku bantu!”, kata URH.

“Hem, nggak usah Rie. Sudah beres kok, cuma revisi saja”, timpal saya.

“Nggak apa-apa, sini kubantu”

“Jangan. Sudah mau beres kok. Tinggal beberapa bagian saja yang perlu dikoreksi”, tegas saya lagi.

Terlihat raut muka sang Mantan yang langsung merengut dan masam. Rupanya, jawaban saya tidak diterima dengan baik. Sangat terlihat rasa kesal kepada saya. Meskipun demikian, saya cueks saja.

Bukan karena alasan tertentu, tetapi pengerjaan koreksi skripsi itu sudah hampir selesai. 

Lagipula, bagaimanapun, saat itu saya tidak yakin ada yang bisa dibantu olehnya dalam pengerjaan revisi tersebut. Skripsi saya membahas tentang sejarah perjanjian antara Cina dan Jepang di tahun 1920-an, sesuai dengan bidang studi yang saya ambil saat kuliah. Pendidikannya adalah manajemen.

Saya tidak yakin ada yang bisa dibantu olehnya dalam penyelesaian skripsi tersebut. Itulah alasan saya menolak.

“Ya sudah, aku pulang”, suara si Mantan terdengar tidak enak dan pergi berlalu.

“Ok, hati-hati di jalan”, sahut saya. Beberapa saat kemudian, perlahan mata saya kembali menatap barisan kata-kata di layar komputer.

Sebuah senyum tersungging di bibir saya. Tidak lama, hanya sekejap.

Senyum itu segera menghilang dan saya tenggelam berpikir untuk menerjemahkan revisi yang diinginkan dosen penguji. Sosok sang Mantan sudah terlupakan.

(Kasus 2 : Pernikahan)

(Scene terjadi 3 tahun setelah kasus rental komputer, sekitar tahun 1997-1998. Saya sudah bekerja di sebuah perusahaan tekstil dan mulai menekuni fotografi. Ponsel sudah ada, cuma masih muahal dan harga SIM Card-nya juga masih diluar jangkauan)

Kriiiiinggg… (Ingat ponsel belum ada dan bunyi telpon PSTN masih tidak kreatif. Jangan diharapkan ada nada dering)

“Halo”, kebetulan saya yang mengangkat.

“Hai Ton, Pekabar”.

Upss. Si Mantan. Pasti butuh bantuan. Pikiran jelek langsung muncul di kepala. Maklum saja, sudah beberapa lama tidak ada kontak, tiba-tiba dia menghubungi.

“Bisa minta tolong?”. Benerkan dia butuh bantuan.

“Apa, Rie?”

“Kita ketemuan deh nanti sore, sekalian sama Yien dan Edwin (dua nama teman yang masuk geng SMA kami). Nanti saya jelaskan”

“OK”. Telpon saya tutup.

Sorenya saya menuju lokasi pertemuan. Tempatnya masih ada sekarang, yaitu di Martabak Air Mancur. Saat datang, Rie sudah hadir bersama Yien, dan tidak lama berselang Edwin datang.

Sehabis basa-basi. Rie mulai menjelaskan bantuan apa yang dibutuhkan dari saya.

“Saya mau menikah”, jelas Rie sambil menyerahkan sebuah undangan kepada saya.

“Oh, dengan siapa?”,  tanya saya.

“Lihat di undangan saja”, jawab Rie.

Saya buka undangan dan kemudian melihat nama yang tercantum disana. Selain nama sang Mantan, tercantum nama si H, si cowok, saingan saat saya menjalin hubungan. Orang yang saat itu begitu menyebalkan.

“Ohh, good guy!”, cetus saya.

Datar. Tidak ada deg-degan, tidak ada marah, tidak ada cemburu, tidak ada kesal. Tidak seperti yang digambarkan oleh buku roman beneran atau roman picisan, tidak ada pacuan jantung. Jauh dari gambaran pelem tentang saat mantan pacar mau menikah.

Nama yang sebelumnya sering bikin kesal saat itu tidak beda dengan berbagai nama lain yang biasa saya lihat pada undangan pernikahan saja. Bukan siapa-siapa.

“Terus, saya bisa bantu apa”, pertanyaan standar seorang teman.

Dia menjelaskan bahwa butuh bantuan saya dan teman-teman lainnya untuk membantu penyelenggaraan acara. Saya diharapkan bisa membantu menjadi fotografer tidak resmi yang merekam berbagai peristiwa yang terjadi di luar gedung resepsi . Peristiwa-peristiwa yang dianggapnya penting tapi tidak tercover oleh fotografer resminya.

Tidak ada masalah dan saya menyetujuinya.

Selebihnya adalah penjelasan bahwa saya dan Edwin akan bergabung dengan teman-teman dari geng IPB-nya. Orang-orang yang dulu juga termasuk kategori menyebalkan bin mengesalkan.

Pada hari H pernikahannya, ternyata, tugas yang diberikan tidak sesuai job desc yang digambarkan. Selain jadi fotografer, saya bertugas macam-macam karena kurangnya orang. Geng IPB mendapat tempat dan baju istimewa menjadi pengiring pengantin dan among tamu (penyambut tamu).

Bahkan, saya harus menjadi penjemput pengantin pria karena supirnya tidak tahu lokasi rumahnya.

Saya bukakan pintu mobil bagi sang pengantin, menutupnya, mengarahkan supir. Di depan gedung pernikahan, saya turun duluan, membukan pintu lagi bagi sang pengantin dan orangtuanya.

Segala sesuatu saya kerjakan untuk memastikan bantuan yang diminta kepada say terpenuhi dengan baik.

Saat resepsi itu saya adalah petugas, abdi dalem, yang melayani sang “raja”, “ratu”, dan keluarganya.

Sampai selesainya acara, dan pengantin pulang, barulah tugas selesai.

Ada korban dalam proses ini, karena terpaksa berfungsi rangkap, kamera Minolta kesayangan terpaksa sementara dipegang orang lain yang tidak mengerti kamera. Sekembalinya ke saya, kameranya macet dan akhirnya diketahui rusak.

Marah? Tidaklah. Resiko tugas. Ketika Rie tahu tentang hal ini (beberapa hari kemudian), ia menawarkan untuk mengganti biaya reparasi, yang tentunya saya tolak.

Saya pulang setelah bantuan yang diminta selesai. Seminggu kemudian, Rie mengundang untuk makan bersama dengan semua panitia pernikahannya untuk mengucapkan terima kasih. Saya datang, makan, mendengarkan apa yang dia mau sampaikan, dan pulang.

Tugas sudah tuntas.

(Dipercepat beberapa tahun ke depan, tahun 2001)

Di tahun ini,  giliran saya yang melepas masa lajang. Pada akhirnya saya menikah.

Selayaknya seorang kawan lama, saya pun menyampaikan undangan kepada beberapa kawan lama, termasuk sang Mantan, Rie.

Saat menyerahkan undangan, dia bilang, “Ton, kalau ada yang bisa dibantu, bilang yah?”. Mungkin dia merasa tidak enak saya sudah membantunya saat pernikahannya.

“Okeh, nanti saya hubungi” (Bukan “Siapppp”. Kata ini belum populer masa itu), jawab saya singkat sebelum pergi.

Saya tidak pernah menghubunginya lagi untuk meminta bantuan. Tidak ada alasan khusus karena penyelenggaraan resepsi pernikahan dihandle pihak si Yayang. Saya, pihak cowok cuma harus datang, bawa mas kawin, dan ikuti saja arahan.

Keluarga saya juga sudah banyak yang membantu persiapan.

Jadi, tidak butuh bantuan orang lain.

Apakah itu diterjemahkan lain olehnya karena mungkin ia berharap bisa membalas bantuan saya? Entah, dan saya tidak ambil pusing kalau ia berpikiran lain.

Kenapa harus?

(Melompat ke resepsi pernikahan saya, 1 Juli 2001)

Sang Mantan hadir.

Itu saya ketahui saat bersalaman.

Sebelumnya, boro-boro mikirin atau nyariin dia. Saya sendiri lagi sibuk mikirin gimana supaya acaranya cepet selesai. Mikirin dan sibuk bahas sama si Yayang gimana supaya muka bisa terus tersenyum padahal banjir keringet dan kaki pegalnya ampun ampunan. Capek.

Jadi, tidak ada adegan dramatis atau flashback ingatan ke masa lalu kayak pelem. Yang ada cuma mulut saya pegel karena harus tersenyum terus. Kerasa banget pegelnya harus mengucapkan terima kasih atas kedatangan para tamu, yang kadang saya nggak kenal.

Boro-boro mengingat masa lalu. Kepala sedang dizzy banget karena semalaman nggak bisa tidur ngapalin teks ijab kabul. Sebelum acara saya diketawain tukang rias karena di punggung ada “loreng bekas kerokan” semalam.

Saya terlalu sibuk dengan diri sendiri, dan kebahagiaan saya bersama si Yayang di pelaminan. Rasanya senang ada teman senasib dan sependeritaan disana. Sama-sama merasakan pegalnya kaki dan punggung karena baru mau duduk, ada tamu mau salaman lagi. Kebayang saja kalau sendirian disana.

Duduk. Bangun. Duduk. Bangun. Mirip banget sama pelajaran olahraga saat SD atau SMP.

Sama sekali tidak terpikirkan untuk melakukan apa-apa untuk si Mantan. Foto bersama juga tidak.

Lagipula, toh dia tidak berbeda dengan tamu lainnya.

Kenapa saya harus mengistimewakannya?

Tiga Biologi Tiga, SMAN 1 Bogor

Epilog : Dimana Balas Dendamnya

(Ahli astrologi bilang kalau zodiak Scorpio itu pendendam. Ia tahan menunggu lama datangnya kesempatan untuk membalas orang yang menyakitinya. Katanya sih begitu.

Dan, saya berzodiak si Kalajengking.

Sudah bisa tarik kesimpulan? Mudah-mudahan belum. Karena sebenarnya tidak ada balas dendam sama sekali)

Saat peristiwa-peristiwa itu terjadi, sebenarnya tidak ada sama sekali pikiran untuk membalas kekecewaan atau apa yang dilakukan URH, Rie, Sang Mantan.

Tidak ada rencana akan bertemu si Rie di rental komputer. Kebetulan saja kita berdua berada disana.

Tidak ada alasan tersendiri tidak meminta bantuannya dalam hal mengurus pernikahan, kondisi tidak membutuhkan, dan saya tidak terbiasa meminta bantuan orang.

Tapi, tidak dipungkiri.

Sebuah “senyuman” yang hadir saat Rie meninggalkan rental komputer dengan kesal dan sebal , menandakan saya menikmati sejenak momen itu.

Penolakan terhadap tawarannya membantu persiapan pernikahan dan gagalnya saya memberi perlakuan istimewa terhadap dirinya, sama sekali tidak sengaja. Normal dalam situasi demikian.

Hanya, beberapa hari setelah pegal dan capeknya hilang, tidak terasa ada senyum sejenak hadir di wajah saya kalau mengingat momen sudah terjadi tersebut. Yah, saya menyukai hal seperti itu terjadi.

Oleh karena itu, sebagian orang bisa saja mengatakan bahwa saya masih dendam terhadap gagalnya hubungan kami. Tidak salah kalau ada yang berpendapat begitu, dan mungkin saja sang Mantan pun punya pandangan begitu.

Bisa dimengerti.

Tapi bagi saya, senyuman yang hadir sebenarnya lebih karena saya merasa sudah menyampaikan beberapa hal secara tidak langsung,

Saya sudah move on


Kamu bukan lagi bagian penting bagi kehidupan saya


Maaf, saya tidak akan membiarkan kamu ikut campur sekecil apapun dalam hal yang penting bagi saya


Saya baik-baik saja tanpa kamu


Who are you? (esktrim)

Rasanya, hal itu tertangkap juga oleh dia, bisa juga tidak. Makanya, dia kesal bin sebal dengan semua penolakan saya. Tapi, who cares?

Kami masih tetap berkomunikasi setelah itu, dan juga dengan teman lainnya. Saya memperkenalkan si Yayang kepadanya, berkunjung ke rumahnya, menengok teman yang sakit barengan. Saya juga menceritakan semua cerita kepada si Yayang. Ketika saya dan Yayang membeli rumah RSSSSSSS (7 S harus lengkap), kami mengajaknya datang untuk ngobrol.

Saat reuni tahun 2013, bahkan saya pergi berdua dengan sang Mantan, dengan izin si Yayang ke acara. Tidak ada yang terjadi , tidak ada deg-degan dan ser-seran ala CLBK, karena bagi saya, dia hanyalah teman biasa saja.

Tidak ada yang spesial . Kalau tidak ingat bahwa tidak sopan tidak mengajak orang yang menyampaikan informasi tentang reuni atau kawan yang tidak punya kendaraan, saya akan berangkat sendiri langsung ke tempat acara.

Tahun 2019 yang lalu, saat reuni besar, Rie terpaksa menyeret saya untuk berfoto. Ia ingin punya foto geng kami dulu, 7 orang, saat reuni tersebut. Saya sebenarnya misuh misuh karena saya lebih suka kelayapan menyapa semua orang yang dulu saya kenal.

Tidak ada lagi geng 7. Itu hanyalah sebuah masa lalu saja, dan saya tidak merasa perlu mengulangnya kembali di masa sekarang. Tidak ada pentingnya. Saya lebih suka bertemu dengan kawan lama daripada ngumpul dengan orang tertentu saja.

Saya ingin menikmati masa sekarang bukan masa lalu.

Mungkin, begitulah saya memandang URH, Rie, sang mantan. Ia, di satu masa, mungkin pernah menjadi penting sekali bagi saya, tetapi tidak di masa sekarang. Saat ini, Ia hanyalah seorang kawan biasa, sama dengan kawan yang lain.

Ia bagian dari masa lalu dan bukan bagian masa sekarang, bagi saya.

Bukan dendam, tetapi karena begitulah kenyataannya.

Catatan :

Tidak ada kucing yang terluka selama pembuatan tulisan ini karena saat itu saya tidak miara kucing


Tidak ada yang terluka akibat pecahan kaca pigura yang dibanting karena emang tidak pernah nyetak foto


Tidak ada adegan dramatis penuh airmata saat pernikahan terjadi, yang ada keringat saja karena gerah dan capek

Saya tidak tahu kalau tahun 1990 ada yang bilang “Rindu itu berat, kamu nggak akan kuat, biar aku saja”, kalau ada mungkin itu orang dari masa depan yang datang berkunjung

Untung Kelly Clarkson belum ada dan lagunya belum dibuat, kalau sudah, saya lempar genteng ke mukanya, karena saya tidak menjadi kuat karena patah hati.. eh, nggak deh, sayang tipinya


Maaf ini pertama kalinya buat tulisan dengan gaya seperti ini, jadi pasti jelek banget, tapi isi tulisan memang kisah nyata

Bogor, 17 Juni 2020

18 thoughts on “Cinta + Patah Hati + Balas Dendam”

  1. Sedang berpikir, dari foto di atas, mas Anton yang mana hahahahaha :))) by the way, foto pertama, laki-laki paling sebelah kiri, necis benerrrr gayanya ampun dije, mungkin itulah gambaran Dilan di dunia sebenarnya 😀 wk.

    Eniho *kreteken jari* *mau komen panjang* saya pribadi bisa dibilang nggak begitu banyak mengalami yang namanya patah hati karena saya nggak punya banyak list mantan apalagi sampai 30 orang (duh kalau iya, mungkin saya lagi tulis komentar ini dari alam baka) hahahaha, namun meski hanya sedikit saja pengalaman saya patah hati, bisa dibilang semuanya menyakitkan *mit-amit* *ketok meja* :)))))

    Tapi sama seperti mas Anton, saya juga paling malas kalau berurusan lagi sama yang namanya mantan hehehe. Kalau sudah selesai ya selesai, meski mungkin pada waktu kejadian bisa jadi saya marah atau kesal, tapi ya saya tampung sendiri karena saya menganggap berpisah adalah resiko dari keputusan saya ketika ingin menjalani sebuah hubungan :)) dan perkara nanti bagaimana saya menjalani hidup setelahnya, sudah nggak perlu lagi ada bantuan dari si mantan meski kalau si mantan minta tolong pasti saya tolong sebisa saya :DDD

    Terus saya jadi keikut bete membayangkan mas Anton lagi bantu si mantan kerjakan tugas programming-nya, tapi si mantan justru haha hihi sama H — hahahahahahaha. Kalau saya jadi mas, sudah saya acak-acak itu meja terus pulang ke rumah :))))) untung mas Anton sabar yah 😛 by the way, ceritanya bagus kok mas, mengalir saja tau-tau sudah sampai bawah saya baca. Thanks for bring back the memories, saya pun jadi ingat jaman dulu pertama kali beli USIM harganya mahaaaalllll zzzz ada kali 450 ribuan kalau nggak salah :/ nggak sangka sekarang USIM bisa dibeli dengan harga 10 ribu perak -.- ditunggu cerita berikutnya, mas! 😀

    Reply
  2. Aku ga bisa nebak foto mas Anton yang mana? Hahahahahaha. Coba nanti diamati lagi. Ini bisa dibikin kuis mas, tebak mas Anton yang mana? Yang bisa nebak, dapat negatif film foto foto di atas.

    Sepertinya saya berprinsip sama dengan mas Anton saat reuni, makanya heran kalau orang bilang "kamu sekarang berubah", yah gimana ya, emang harus berubah hahaha. Tak bisa dipungkiri pertemanan pun seperti itu, lama tak bertemu dan tidak kongkow bareng itu pasti mengikis banyak hal. Pun, kita juga terus beradaptasi dengan lingkungan dan pergaulan baru di sekitar kita. Jadi mau gak mau "kita pasti berubah".

    Saya sampai tak berkedip lho mas baca cerita cinta ini, serasa ada layar terpampang di depan mata membayangkan adegan demi adegan. Ceritanya mengalir enak, jenaka nya dapat, dan di akhir saya merasa dendam saya ikut terbalaskan. Loh kok saya yang dendam wakakakakakak. Teruslah bercerita seperti ini mas. Keren tulisannya

    Reply
  3. Hahaha.. ya gitulah gaya gaul atau populer di masanya Eno. Gaya itulah yang disebut macho bagi remaja tahun 1980-1990-an. Nggak mirip Dilan banget…Mungkin Dilan dari dunia lain.

    Memang nggak ada patah hati yang enak. Pasti menyakitkan. Hahahaha.. kalau ada nanti semua orang pingin patah hati. Ga seru

    Memang, patah hati itu resiko yang harus diterima saat menjalin hubungan. Tidak salah juga kalau males berhubungan dengan mantan karena saya pikir memang tidak ada gunanya. Kita malah susah move on dan menikmati hidup. Eman-eman kalau yang itu terjadi..

    Wakakakaka.. asyik ada yang bisa bayangin geramnya saya saat beresin itu tugas programming. Untung saya ga banyak duit, jadi ga masih mikir mau lempar kursi. Sayang kalau uang yang sudah cekak harus keluar buat ganti barang yang rusak. Apalagi, pasti ditambah malu yang segunung. Urusan seperti itu saja sampe ribut.

    Makasih makasih Eno tuk pujiannya. Masih banyak yang harus dibetulkan, tapi saya sepertinya sudah mulai bisa keluar dari gaya rutin yang biasa dipakai dan mulai mengerti cara menyampaikan cerita. Semoga bisa membuat saya menjadi lebih baik lagi di masa datang.

    Terima kasih Mbakyu

    Reply
  4. Ide bagus juga tuh dijadiin kuiz.. wakakaka.. silakan tebak, saya ada disana kok. Cuma saya sendiri susah nemuin itu negatif film aslinya. Sudah entah kemana… Untung saja ada hasil cetakannya, jadi diubah jadi digital.

    Bentul sekali. Kalau ga berubah ya susah. Namanya manusia kita pasti berubah dan harus berubah. Tidak bisa tidak. Tidak berubah malah menyulitkan kita sendiri.

    Wakakaka… kayak nonton layar tancep yah. Lagi belajar mas cara nulis yang berbeda dengan kebiasaan. Sulit ternyata, tapi kalau dilihat hasilnya, lumayan juga. Hanya butuh banyak sekali perbaikan, dan mudah-mudahan di masa depan akan lebih baik lagi.

    Jangan dendam mas.. hussh.. filemnya udahan.. #pulangsanaditungguinistri

    Reply
  5. Sama kayak Kak Eno, aku juga nyariin Kak Anton yang mana, boleh kasih clue-nya nggak? Hahaha.

    Walaupun pertama kali nulis kayak gini, kok hasilnya bagus sih kak? *nggak terima*
    Aku enjoy banget bacanya, kayak baca novel Dilan versi nggak romantis 😆
    Dan baru tahu juga, jaman dulu udah ada rental komputer. Aku kira rental komputer baru ada di jaman 2000-an hahaha.

    S-nya tetap 7 ya, penting itu! 😆

    Aku juga menunggu cerita selanjutnya, kak! Enjoy banget bacanya, serius!

    Reply
  6. Counter attact part pas di rental komputer bagiku sungguh sangat elegan dan cool Pak Anton, hahhaha

    Rasanya apa yah, mungkin perasaan seperti ini butuh juga diperlihatkan ke permukaan seenggaknya bagi yang pernah dalam posisi diputus (bukan memutus) bahwa kita toh nggak sengenes itu kok. Kita masih ada lah harga dirinya hahaha, eh apa dah ini..

    Tahu ga sih, aku baca post ini, malem-malem dengan lampu dimatiin dan cuma ada cahaya dari tab yang menyala, bacanya sambil gegoleran pake emosi yang naik turun #maksudnya emosi karena penuh penghayatan gitu (ya ada senyam-senyumnya, dag dig dug der daianya, ikutan jengkel bin sebelnya, ikutan ngerasa gw oke-oke aja tuh, pokoknya mah kebawa suasana aja judulnya) sambil tentunya beneran membayangkan gimana setting Kota Bogor tempo doeloe yang kelihatannya kok sedap betul pemandangannya. Malah kebayang Gang Selot segala dan juga Smansa Bogor, meskipun aku ga sekolah di sana, tapi banyak teman alumni sana yang sering bilang alumninya pintar-pintar…(ah pantas aja pak anton mantan smansa plus kampus jaket kuning, soalnya kelihatan sih dari cara berpikirnya kek orang intelek, hahhaha)…

    eh by the way tahun segitu kayaknya aku baru dilahirkan ke dunia deh #oek oek…etdah… ini mah skip…

    Lanjut, aku tadi mau komen apaan ya…jadi gagal fokus saking menghayati ceritanya…oh iya aku jadi fokus ke…sepertinya geng UI vs IPB ga berhenti sampai di situ saja deh pak….maksudnya ga berhenti sampai di kisah Pak Anton aja, soalnya pas masaku juga ada sih kayak geng-gengan gini dan saling menonjolkan kampus masing-masing wekekek…#sampai apal sayaaah

    Oiya, beliau mantan Pak Anton borju juga ya, karena pada masa itu model nglayapnya uda pake mobil hihi…aku ngikik juga tuh waktu saudara mantannya Bapak nyebut Bapak sebagai Om Kodok..(tapi kalau kodok-kodokan aku tahunya origami dari kertas sih, kalau dari kain ga pernah bikin). Terus model kencan yang lainnya ngajakin nonton ke bioskop walau dengan S yang bergingsul manis hehe..

    Tapi ending-endingnya aku suka dong
    Ciri khas dari laki sejatiih
    Ga menye-menye dan menatap mantab ke depan dengan masa depan yang ada sekarang…karena yang lalu mah ga lebih dari seorang yang sudah jadi kawan biasa saja…nothing spesial, jadi aman hihihi

    Terus kalau dimintain tulung ya cool aja, ga mikir yang baper-baper atau gimana…idaman lah pokoknya mah… buat sosok seorang suami ataupun ayah :xd

    Btw boleh aku tebak yah, tapi kayaknya aku bisa nebaknya yang foto di bawah, foto bapak itu yang…jeng jeng jeeeeng …

    Foto kedua, sepertinya tebakanku adalah foto bapak yang kacamataan nomor 2 dari kiri depan
    Foto paling bawah, foto bapak yang nomor 2 dari kiri depan (yang agak gingsul dengan senyum manisnya), semoga ga salah ahahahhaha #waduh ga terasa panjang amat ya komenku uda kayak tol cipali, dah ah kabuuurr

    Reply
  7. Cluenya : pakai kacamata.. hahahahaha.. Mbak Nita yang komentar di bawah bisa menemukan saya loh

    Eiit dah.. diterima dong…. wkwkwkwkwk…

    Jangan menghina yah,hahahahaha.. enak aja rental komputer baru ada tahun 2000. Tahun segitu rental komputer itu justru lebih banyak dari tahun 2000-an. Masalahnya daya beli belum sekuat sekarang, atau harganya masih lumayan mahal euy.. hahahaha Jadi rasanya sih saat itu justru jaman jaya-jayanya rental komputer

    Harus 7.. ga boleh kurang..

    Makasih dan senang ada yang menikmati

    Reply
  8. Uppsss… yang manakah saya? hahahaha… penjelasan kurang jelas neh (#ngeles).. Kalau dikonfirmasi sekarang bisa ga ada kuis "Dimana si Anton?". Hahahaha

    Mau diajarin Nita cara membuat kodok-kodokan dari saputangan? Perlu diwariskan soalnya. Sampe sekarang masih cukup sukses menarik perhatian anak kecil soalnya..:-D

    Nggak lah SMA dan tempat kuliah saya mah biasa-biasa saja. Cuma kebetulan saja saya bisa masuk kesana. Nanti saya ceritain deh.. Juga saya pikir mah, bukan nama sekolah yang penting, yang penting adalah orangnya. Banyak juga lulusan sekolah saya yang hidupnya blangsak, meski yang sukses juga banyak. Saya mah apalah atuh..

    Soal geng-geng an , rasanya sih pasti. Kebanggaan terhadap almamater terkadang menutup mata dari banyak hal penting lainnya. Jadi seperti pake kacamata kuda dan lupa pada sekeliling. Pasti ada kapanpun itu masalah geng sekolah mah. Susah dihilangkan karena selalu dipupuk setiap tahun kebanggaan terhadap almamater.

    Tahun segituan yang borju mah borju Nita, yang kere ya kere. Ga beda dari zaman sekarang juga. Setiap jaman yang seperti itu pasti juga ada. Cuma gayanya saja yang berbeda.

    Saya pikir, setelah patah hatinya lewat, kenapa juga saya harus tenggelam terus seperti itu. Rugi amat. kalau menye menye mah, ogah.. sorry dah. Hahahahaha.. tapi harus diakui proses perjalanannya membuat saya semakin dewasa saat itu, dan akhirnya jadi cool.. wakakaka pinhem istilah Nita.. santuy. PD saya bangkit dan akhirnya bisa menikmati hidup..

    #Komenmukurangpanjang

    Reply
  9. Mau nambah komen….kali ini nyoba peruntungan nebak foto bapak yang pertama

    Foto pertama : lihat barisan cowok paling belakang dari kanan yaitu adalahhhh….bapak nomor 4 dari kanan belakang yang ngrangkul 2 temen cowok di sebelahnya dan ciri-cirinya pakai jam tangan 😀

    Reply
  10. Aku ada feeling soal yang mana Kak Anton sih terus pas baca komen Kak Nita di bawah, tebakanku benar ternyata huahahaha.

    Mohon maaf nggak maksud menghina, jangan tersungging ya 😆
    Bener-bener baru tahu kalau sebelum tahun 2000 lebih jaya daripada setelahnya. Makasih lho infonya, nambah pengetahuan baru dari yang berpengalaman hihihi.

    Ditunggu karya selanjutnya Kak!

    Reply
  11. Hahahaha.. itulah saya berpuluh tahun yang lalu.

    Tersungging yah… #wakakakakakak Yah memang dimengerti kalau generasi Z atau apalah namanya sulit membayangkan kondisi di masa itu.

    Siapp… sudah terbit satu lagi

    Reply
  12. satu-dua kancing dilepas dan kerah digulung adalah masa-masa keemasan fashion saya jaman SMP. Berasa jadi yang punya sekolah kalo sudah ngelipat lengan baju.

    Eh, tapi dari jaman ke jaman geng-geng di sekolah memang tetap lestari, sih..

    Reply
  13. Eeheeemmm!!…Keselek gw jadinya Kong!!..Hahahaaaa.🤣 🤣 Tebakan gw emang Jitu, Ternyata Pria Kalajeking yang cuma modal sengatan Di buntut. Haahaaa!!….Eehh tapi tenang Kong Soal karier Scorpio tak usah diragukan kepinteran dan keuletannya. Teman2 Gw orang scorpio banyak kong, Bahkan sampai ke Eropa untuk berkarier….Meski soal Asmara mereka pada melempem Haahaaa..🤣 🤣

    Jadi kepingin nyanyi kong…🤣 🤣 Hampa Kini harapan kekasih tak kembali
    Yang kuterima undangan, Esok akan memikat janji. Hahahaaaa..😂🤣

    Tahun 1989…Woow! Gw masih SD kong …Eeeh tapi gw udah punya pacar lhoo meski cuma cinta monyet…Untung nggak jadi monyet beneran Hahahaaaa suueee..🤣 🤣 1992 gw baru masuk smp….Yaa tebak sendiri umur gw kong..🤣 🤣

    Punya gank berjumlah 7 orang semasa SMA dan karena itu pula ente tertarik sama seseorang yang masih teman sekolah juga. Dan karena si Anu pula tumbuh2 benih2 cinta dihatimu yaa Kong. Eeheee!!..

    Disini letak kesalahanmu kong…..Salahnya apa? Syarat yang si Anu berikan seharusnya ente tolak, Karena apa?, Toh akhirnya ente minta lebih. Meski teman2 ente tidak tahu kalau ente pacaran…..Mungkin yang ada diotakmu dulu yang penting bisa diterima dan pacaran sama si Anu. Meski harus jadi Bucin & Juga sebagai Serep bagi si Anu..

    Hebatnya lagi si Anu menilai kehidupan itu kedepan bukan menengok kebelakang, Wajar dong kalau dia nyari pria lain di IPB untuk masa depan, dan tinggal ia bandingkan antara pacar masa SMA dan masa Kuliah.😊

    Sedangkan ente nggak mikir kesitu kong….Karena sudah dibutakan oleh Cinta si Anu.😂😂 Bahkan ente juga tak tahu kalau sebenarnya cuma dijadikan serep saja…Kan di UI juga banyak wadon koongg!!….Cari kek Serepan. Haahaaa.🤣 🤣

    Reply
  14. YANG KEDUA.

    Hal wajar bila seorang cowok cemburu….Terlebih dalam kisah ini si Anu membawa si H…..Yang katanya ada rasa juga sama si Anu, Menurut penilaian dirimu kong…Meski faktanya demikian juga.

    Padahal ini kesempatan juga buat ente Kong, Untuk membuktikan sebesar apa cintamu kepada si Anu, Dan buktikan juga kalau luh laki Haaahaaaa!!..🤣 🤣 Kalau gw yang jadi luh, Gw tonjok si H..🤣 🤣

    Dan dirimu tetap memilih sabar, Walau dalam hati Emosi yang tertahan begitu meledak-ledak. Hingga akhirnya seperti tersadar dari mimpi, Ente mencoba mecari Serep atau tempat untuk menghilangkan galau, Eeh Ternyata sial..Haahaa berharap si Ginsul atau si S bisa jadi tempat pelarian ternyata, keburu telat si S menolak. Dan dendam itu kian membara walau dibawa ke pasar Senen cari buku. Eehh tapi luh ke Senen bukan cari buku kali Kong, Tapi cari stensilan karya Eny Arrow yang kala itu lagi booming2nya. Haahaaa!!..🤣 🤣

    Karena dendam pula ente lupa Kong bahwa sebenarnya si Anu memberi kesempatan pada dirimu untuk memperbaiki hubungan, Dan gw yakin si Anu juga lagi sebal sama si H. Cuma sayangnya bara dendam dihatimu masih terus membara Kong. Jadi luh menolak lagi kesempatan kedua yang akhirnya singkat cerita sebuah undangan datang menghampirimu. Kadas sudah akhirnya hubungan ente dengan si Anu. Hingga seiring waktu yang terus berjalan yaa akhirnya ente menemukan tambatan hati pengganti si anu…..

    Dan dirimu pun berkata pada si Yayank….."Gelap malam tiada bintang Terlihat jelas mesra kehadiranmu"..
    "Jiwa lelah berkelana menetap sudah di dalam pelukanmu"…..Ciieee preets!!..Eeheeehee..🤣

    Reply
  15. KE TIGA

    Kesimpulan dari kisah asmara dari seorang Suhu Engkong Anton yang pernah menorehkan nama pada SMA 1 Bogor, Cukup melangalir syahdu meski hati harus sedikit tergores akan Ego masing2 karena merasa paling benar. Dan ente harus tetap bersyukur kong. Karena jodoh ente dekat. Coba kalau Tuhan tidak memberimu Jodoh mungkin dirimu hampir sama dengan Scorpio2 lainnya yang tetap menjomblo. Haahaaa…Kenapa bisa begitu. Karena Scorpio itu cuma punya 2 pilihan…Menikah cepat atau jadi jomblo sampai tua seperti teman2 gw lainnya yang memiliki sifat dan karakter sama seperti dirimu kong. 😊😊

    Tapi gw salut sama ente Kong….Baru gw ketemu pria Scorpio yang hobi ngeblog…..Temanku orang Scorpio ada 10 orang lebih Kong, Tak satupun minat sama dunia Blogging. 3 orang sudah menikah sisanya lebih milih jadi jomblo akut, Entah apa yang ada di pikiran nya padahal mereka orang hebat semuanya sama seperti dirimu kong.😊😊🙏🙏

    Reply
  16. Gua jadi ngakak sendiri Tong baca komentar lu… sumpeh dah.

    Ada anak SD tau Eny Arrow segala, elu bener-bener mateng karbitan kayaknya nih.

    Yah, namanya juga waktu itu mah suseh ngeliat. Gue juga nggak nayalahin sape-sape. Eta mah jalan hidup yang sudah gue lalui dan lewati.

    It's okeh buat gue mah sekarang. Dipikir pikir, setelah tua, malah gue yang paling move on dari manis dan pahitnya masa lalu. Gue sekarang mah cuma mikir, I am happy. Nggak pernah mikirin apa-apa.

    Makanya gue ga suka reuni. Gue lebih suka enjoy dengan apa yang gue punya sekarang.

    Masa lalu sudah berlalu dan bahkan semua kenangan gue anggep manis sekarang.

    Darimana elu bisa tau Scorpio jarang yang hobi ngeblog. Udah pernah survey yah?

    Makasih Tong atas atensi dan komentarnya. Gue nikmatin banget komentar-komentar lu tong..sampe bingung mau respon gimana.. ahahahaha

    Reply

Leave a Comment