Iklan Baris + Lamaran Kerja

Apa yang dilakukan kebanyakan orang selepas kuliah ? Cari kerja dong! Bagaimanapun, sebagai manusia suatu waktu kita harus mencari nafkah dan berusaha berdiri sendiri.

Dan, saya pun begitu, dua puluh lima tahun yang lalu. Tepatnya, sejak bulan Februari 1995, setelah selesai sidang skripsi, yang sempat tertunda lebih dari 6 bulan karena pak dosen pembimbing utama yang lebih memilih dinas ke Jepang daripada bimbingan skripsi mahasiswanya (duitnya pasti gedean kalau dinas).

Selepas dinyatakan lulus dan sambil menunggu ijasah, saya melakukan perburuan, hunting. Bukan hunting foto atau cewek.

Boro-boro mikir saat itu mah. Duit aja nggak gableg (nggak punya), nyari pacar juga percuma. Biar dah bergelar sarjana, tetap saja kalau ngajak nonton ijazah tidak berlaku.

Untungnya, saat itu, ada kerja sambilan kecil-kecilan, menjadi pengajar di sebuah bimbingan belajar di Bogor. Prisma dan Prosella yang sudah almarhum sekarang.

Cuma karena upahnya kecil sekali, walau kerjanya menyenangkan, saya memilih melototin iklan baris di Kompas.

Biasanya disana banyak iklan lowongan kerja. Jangan bilang lewat JobsDB atau Karir(dot)com saja karena saat itu internet masih belum ada di Indonesia. 

Modal berburunya, saat itu adalah kertas ukuran folio bergaris, foto 3X4, dan fotokopi ijazah atau surat tanda lulus. Tentu juga dengan amplop folio coklat dan uang untuk beli perangko dan berangkat ke kantor pos.

Entah berapa banyak foto yang dicuci cetak. Tidak terhitung juga bolak balik ke tempat photocopy untuk beli kertas folio dan amplop.

Sampai akhirnya, di sekitar bulan Juni 1995, titik terang kehadiran “pekerjaan” tetap mulai nampak.

Iklan Intisari dan Iklan Tak Dikenal
Ada untungnya punya keluarga doyan baca. Bapak berlangganan beberapa majalah, selain Tempo, Jakarta-Jakarta, juga Intisari. 

Tambahkan dengan ibu yang berlangganan koran Kompas dan Media Indonesia. Bukan karena ibu senang berita, tetapi karena tukang korannya sudah langganan sejak dia masih kecil. Ibu bilang kasihan harus diberhentikan.

Dan, saya sendiri, secara sembunyi-sembunyi, senang beli PosKota. Koran “berdarah” yang kalau direndem di air katanya air berubah menjadi merah karena isinya tentang kriminalitas semua. 

Saya suka beli karena senang bagian Lembar Bergambarnya yang penuh komik dan kartun, seperti si Doyok.

Intisari dan Kompas lah yang kemudian menentukan jenis pekerjaan yang saya tekuni selama 25 tahun lebih dan membuat saya menjauh dari memakai ilmu yang diajarkan saat kuliah, Bahasa Jepang.

Incarannya, iklan di Intisari dong.

Saat itu, Intisari termasuk majalah bergengsi dan elite karena isinya banyak pengetahuan. Jadi, siapa tidak tertarik bergabung dengan perusahaan sebesar itu.

Yang paling bikin bungah (gembira), lowongan yang ditawarkan pas banget dengan pendidikan.

Penerjemah bahasa Jepang!

Biar nggak pinter urusan yang ini, ijazah menyebutkan saya Sarjana Sastra Jepang, dari UI lagi. Peluang lolosnya tinggal masalah tes kemampuan dan wawancara saja.

Langsung, saat itu lamaran ditulis (bukan diketik karena komputer belum umum), di atas kertas folio. Foto disiapkan dan dirapikan, kemudian direncanakan besok ke kantor pos di Jalan Juanda Bogor. Kirim pakai Kilat Khusus biar sehari sampai.

Kesempatan tidak boleh dibuang sia-sia.

Cuma, pas selesai menyelesaikan surat lamaran kerja itu, saya melihat ada 1 lembar folio + 1 pas foto + 1 Ijazah + 1 lembar sertifikat kursus komputer.

Sayang banget.

Ongkosnya maksudnya.

Lumayan juga kalau nanti harus balik lagi ke kantor pos cuma untuk mengirim satu surat lamaran kerja. Pelit memang jadinya kalau orang tidak punya duit itu. Mikirnya kalau soal duit jadi efisien sekali.

Akhirnya, saya mengambil koran Kompas terbitan 2-3 hari sebelumnya.

Bolak-balik lembaran sampai mata tertumbuk pada satu iklan. Iklan itu menyebutkan

“A joint venture textile company urgently needs a sales executive, bla bla bla..” dan di ujungnya ada alamat PO BOX.

Terbayang pekerjaannya kayak apa? Boro-boro. Soal tekstil yang saya tahu cuma baju yang dipakai itu masuk produk tekstil.

Cuma, saat itu saya pikir ukuran iklannya 5-6 kali ukuran iklan baris biasa. Berarti berani bayar agak mahalan dikit.

Ditulis dalam bahasa Inggris yang saya tahu sepatah dua patah kata.

Cocok lah untuk satu set berkas lamaran kerja.

Dan, satu surat lamaran kerja pun disiapkan untuk dikirim bersama dengan “harapan” saya, lamaran Intisari.

Wawancara Kerja
Surat lamaran kerja terkirim.

Kilat Khusus, dua duanya.

Beriring doa, semoga hati para pengiklan tersentuh dengan kata-kata di surat lamaran tadi.

Tidak sampai satu minggu, doa itu terkabul.

Tapi, tidak memenuhi harapan saya.

Bukan dari Intisari.

Sebuah surat datang ke rumah. Di amplopnya tertulis, PT Unilon Textile Industries. Isinya, surat panggilan untuk tes. Alamatnya di gedung Skyline Building (sekarang Menara Cakrawala), Jalan MH Thamrin no 9, Lantai 11.

Bingung juga saat itu karena yang saya tahu PT Unilon itu memproduksi pipa PVC, kok sekarang pakai kata Textile? 

Hanya saja, karena sudah ngebet pengen kerja dan cari duit sendiri, semua disisihkan. Yang penting ada yang memberi kesempatan.

Bapak lah yang biasa bolak balik Jakarta setiap hari yang jadi sasaran pertanyaan. Gimana cara ke gedung itu, harus naik apa, dan berhenti di stasiun apa?

Sekaligus, minta pinjem celana dan baju. Maklum, anak muda, yang ada cuma jins dan kaos doang. Tidak punya baju resmi.

Untung juga masih ada sepatu non kets, sisa masa penataran P4 awal kuliah dulu yang cuma dipakai 2-3 kali saja. Untung kaki tidak membesar, jadi masih cukup biar sudah tidak bisa mengkilat walau disemir Kiwi berulangkali.

Sehari sebelum tes, saya diongkosin bapak dan ibu untuk survey lokasi. Kata bapak, jangan sampai kamu terlambat datang ke tes, tidak bagus buat penilaian. Daripada nantinya kesasar dan terlambat datang, mendingan cari lokasinya dulu.

Dan, ketemulah.

Sambil kagum melihat Jakarta. Bikin saya mengerti perasaan Kabayan Saba Kota (Kabayan Berkunjung ke Kota).

Maklum lah anak kampung datang ke kota besar.

Melihat McD Sarinah yang sekarang sudah almarhum saja bikin hati senang juga. 

Ohh, begini toh Jakarta.

(Biasanya cuma sampai Depok saja).

Gembira ketika menemukan gedungnya berada di jalan utama dan mudah dicapai dari stasiun Gondangdia. Tidak perlu naik bajaj, jalan kaki juga bisa.

— Tes Bahasa Inggris dan Matematika —
Keesokan harinya, dengan semangat 45, saya sudah sampai ke kantornya 1 jam sebelum waktu yang ditentukan. Biar celana ngatung karena bapak lebih pendek, saya semangat berangkat. Tas ransel ditinggal di rumah dan hanya map lamaran yang dibawa, beserta ballpoint.

Daripada terlambat, lebih baik menunggu.

Kantornya dari luar tidak terlihat karena terhalang partisi kuno. Cuma terlihat sebuah ruang kecil dan gulungan kain menyembul di salah satu sudut. 

Yah, namanya juga perusahaan tekstil.

Tidak lama, pelamar lain hadir. Jumlahnya sekitar 10 orang.

Seorang wanita, dari bagian personalia kemudian menggiring kami ke dalam ruang pertemuan, yang lebih mirip gudang dibandingkan meeting room. Penuh dengan gulungan kain.

Berantakan banget.

Tidak lama, si wanita personalia menjelaskan bahwa kami gelombang pertama dari 2 gelombang tes yang akan ada. Berarti pelamar ada sekitar 20 orang.

Dia juga memberitahukan bahwa kami harus mengerjakan tes berupa bahasa Inggris dan Matematika, dengan jatah waktu 1 jam untuk setiap tes.

Ia memberikan lembaran kertas tes pertama.

MATEMATIKA.

Lima puluh soal. Iyah, 50.

Saya memandang 3 lembar kertas tes dan melirik sedikit, semua orang langsung sibuk. Saya pun merasa bersalah kalau tidak ikut sibuk.. Langsung juga mengerjakan soal-soal tadi.

Lima belas menit kemudian, saya tutup ballpoint dan kertas tes dibalik.

Selesai.

Hebat?

Tidak juga.

Semua itu karena saya tahu, saya sedang tegang. Kalau saya periksa ulang, hasilnya malah bisa salah karena keragu-raguan. Jadi, saya putuskan untuk mengisi dan tidak melakukan recek. Daripada sudah bena rmenjadi salah karena ragu-ragu, lebih baik ambil resiko saja.

Selesai ya selesai.

Empat puluh menit sisanya, saya pakai celingukan melihat pelamar lain berkonsentrasi dan menghitung.

Bosen juga sebenarnya.

Setelah 45 menit usai, kertas tes saya kumpulkan di bawah tatapan si personalia yang mungkin memperhatikan bagaimana saya bingung harus ngapain selama 45 menit tadi.

Tes kedua kemudian dimulai.

Tiga lembar berisi 50 soal bahasa Inggris diserahkan.

Kali ini tidak banyak omong, saya langsung konsentrasi mengerjakan tes. Tidak celingukan dulu. Satu persatu saya baca dengan teliti. Niatnya supaya menghabiskan waktu lebih lama dari tes sebelumnya.

Selesai.

Rasanya sudah agak lamaan dari yang tadi. Cuma pas melihat jam, ternyata sama, hanya 15 menit saja.

Waduuh.

Bingung mengisi waktu 45 menit menunggu yang lainnya selesai.

Untung saja, si wanita personalia mengatakan, mungkin karena melihat saya kebingungan, bahwa yang tesnya sudah selesai dipersilakan mengumpulkan dan keluar ruangan.

Kesempatan yang tidak disia-siakan. Daripada bengong di dalam, saya serahkan lembaran ujian dan keluar ruangan.

Sekeluarnya dari gedung, saya pingin menggetok kepala sendiri. Kenapa tadi nggak ngecek dulu itu tes? Jangan-jangan ada yang salah.

Bete pada diri sendiri.

Cuma apa daya, nasi sudah menjadi lontong, dan saya pulang ke rumah.

Saat ibu menanyakan bagaimana tesnya, jawaban standar keluar, “Lumayan, bu”. Padahal, saat itu boro-boro yakin akan hasilnya. 

Penyesalan tidak bersikap lebih sabar dan teliti masih menggumpal dalam hati.

— Wawancara I —

Pasrah.

Begitulah suasana psikis (ceile) dan mental saya keesokan harinya. Perasaan galau masih terus berkecamuk dalam hati. Empat puluh lima menit dikali yang terbuang kemarin masih terus menusuki pikiran dan hati di kala itu.

Kenapa kok saya bisa begitu bodoh dan cerobohnya dalam sebuah ajang yang penting, buat kehidupan saya? 

Biarpun memang nggak pinter, kok ya bisa sepayah itu dalam tes kemarin.

Setengah hari saya habiskan untuk membaca majalah saja. Kebiasaan jelek kalau sedang kacau, membaca agar pikiran teralihkan. 

Rupanya berhasil juga, sanpai dering telpon pun saya abaikan.


“Kriiinnng Kriiinngg Krinnngg…”, si telpon menjerit-jerit minta diangkat

(Terdengar suara omelan kakak merutuki adiknya yang malas)

“Halo?”, suara si mbak terdengar. Telpon sudah diangkat.

“Toonnnn…, angkat!”, teriak si mbak dari bawah. 

“Iya, mbak…”, sambil bermalas-malasan saya menuju telpon paralel yang ada di dekat kamar kecilku.

“Halo..?”

“Dengan Anton Ardianto?”, sahut suara di seberang.

“Iya betul, saya sendiri..”, jawab saya.

“Saya Pipih (terdengarnya Fifi saat itu) dari Unilon Textile Industries”, kata wanita itu.

“Oh iya. Ada apa ya mbak?”, darah terkesiap juga. Cepet banget padahal baru tes kemarin. 

“Besok diminta datang wawancara jam satu siang, bisa?”, jawab suara tadi.

“Bisa mbak. Jam 1 yah?”, jawab saya dengan semangat. Tidak tahu saja si mbak kalau sejak kemarin saya galau karena “dirinya”.. eh kebodohan saya sendiri.

“Ok, kalau begitu ditunggu yah, selamat siang”, lanjut si mbak Pipih sambil menutup telpon.


Saya masih memegang gagang telpon sambil agak terbengong. Loh, saya sepertinya lulus tes. Kok bisa?

Tidak lama pertanyaan itu muncul di otak, saya langsung turun ke lantai bawah. Perlu nanya ibu, apa ada baju dan celana bapak lagi yang bisa dipinjam. Mau sekalian minjem sepatu nggak bisa karena ukurannya beda.

Bersiap.

Hari berikutnya, dengan semangat dan pertanyaan di kepala yang sama besarnya, saya berangkat menggunakan kendaraan andalan, KRL Jabodetabek. Seperti biasa, disiapkan spare waktu 1 jam supaya tidak terburu-buru.

Sesampainya di kantor Unilon, saya duduk di tempat yang sama seperti kemarin, di lobby memandang tumpukan kain yang semakin dilihat semakin berantakan.

Tidak lama berselang dua orang , seorang wanita dan laki-laki, datang. Duduk di tempat yang sama.

Wah, sesama pelamar nih. Begitu pikiran saya saat melihat mereka membawa map dan berpakain ala pencari kerja.

Benar saja.

Setelah beberapa saat kami berkenalan dan ngobrol sambil menunggu. Sebut saja si perempuan A dan si laki-laki B.

Kita berbincang tentang lumayan banyak hal, termasuk pendidikan.

Si A menjelaskan, “Saya baru lulus dari sekolah AAA di Australia. Tiga tahun saya belajar disana” 

Si B mengatakan, “Saya tinggal 17 tahun di Singapura dan sekolah disana. Baru kembali tahun ini dan mulai mencari pekerjaan”

Tidak ada nada sombong dari keduanya. Sekedar mengungkapkan fakta karena ditanya oleh si A. 

Jleb.

Ampun Tuhan.

Saya mingkem. Tidak berani bersuara. Untung keduanya tidak bertanya saya lulusan mana. Lokalan saja.

Semangat yang sempat naik di kereta, langsung turun ke titik minus 150 mendengar latar belakang pendidikan keduanya. Bahasa Inggris pasti luar biasa dong. Tiga tahun di Aussie dan 17 tahun di Singapura yang masyarakatnya memakai bahasa Inggris, sulit dibandingkan dengan bahasa Inggris hasil belajar otodidak.

Untung saja, tidak berapa lama kemudian, si wanita personalia, yang saya duga sebagai mbak Fifi itu muncul dan memanggil sebuah nama. Si B yang mendapat giliran pertama diwawancara dan mereka masuk ke dalam ruang meeting kecil di sebelah ruang “gudang” kemaren.

Tiga puluh menit kemudian, barulah pintu ruang meeting terbuka. Si B terlihat akrab berdiskusi dengan seorang wanita paruh baya, lebih tua dari si mbak Fifi.

Giliran kedua, si A.

Ia masuk dengan si wanita paruh baya.

Dua puluh menit kemudian, keluar. Tidak seperti si B, tidak ada obrolan tambahan. Si B hanya pamit ke saya dan kemudian berlalu, keluar dari kantor.

Dan, giliran saya.

Si wanita paruh baya memperkenalkan diri sebagai Widya dan dia memperkenalkan si wanita personalia sebagai Pipih, bukan Fifi (seperti yang saya dengar). Ia memulai wawancara dengan melihat lembaran berkas lamaran.

Kemudian menjelaskan secara singkat bahwa PT Unilon Textile Industries adalah perusahaan tekstil dengan saham 33% Toyobo Corp, 33% Itochu (C. Itoh), dan 33% PT Sarihasta, 1 % lagi entah siapa, saya tidak ingat sampai sekarang pun.

Perusahaan joint venture Indonesia-Jepang atau Jepang Indonesia.

Lalu,  mulai mengajukan pertanyaan dalam bahasa Inggris. Di bawah ini adalah terjemahan saja.


“Apa yang kamu tahu tentang tekstil”, begitu katanya dengan suara tenang.

“Saya tidak tahu apa-apa”, sama sekali tidak meyakinkan, tetapi memang begitulah saya saat itu. Tidak punya pengetahuan apa-apa tentang tekstil. 

“Oh, OK”, sahutnya pendek.

“Lalu, kalau kamu mau kerja disini, kamu naik apa? Soalnya dijelaskan disini rumah kamu di Bogor?”, tanyanya lagi.

“Jangan khawatir bu, saya bisa hadir tepat waktu. Sekarang saja, saya sudah hadir 1 jam sebelum waktu”, yakin saya. Toh memang saya sudah terbiasa tepat waktu dalam segala hal.

“OK. Lalu, berapa gaji yang kamu minta kalau diterima bekerja disini?”, tanyanya lagi.

“Sesuai standar disini saja bu”, jawab saya polos. Memang sama sekali saya tidak punya gambaran berapa besaran gaji yang saya harus minta.

“Coba kamu ajukan saja jumlah yang kamu inginkan”, paksanya.

“Benar-benar tidak bisa bu, saya tidak punya gambaran apapun soal gaji”, jawab saya sambil merasa diri saya sepertinya tambah kerdil.

“Ya sudah kalau begitu”, menyerah juga si Bu Widya melihat kebodohan saya.

“Terus kamu punya pertanyaan tentang perusahaan ini?”, sambungnya lagi.

“Tidak ada bu”, jawab saya polos bin bego. Habis memang tidak tahu harus bertanya apa.

“Ok kalau begitu wawancara selesai”, tukasnya.


Mbak Pipih yang bukan Fifi mengantar saya ke pintu sambil berkata nanti kalau ada keputusan ia akan menelpon.

Saya melewati pintu sambil merasa orang terkerdil, terbego, dan terbodoh di dunia.

Lima menit saja.

Hanya itu waktu yang dibutuhkan untuk mewawancarai saya. Itupun termasuk proses dipersilakan duduk dan perkenalan saja.

Pendek.

Tapi, saya harus mengakui saat yang paling menyebalkan dan membuat saya merasa kampungan, orang bodoh dan kudet banget.

GAGAL.

Saya pulang sambil menyerah. Bukan rejeki saya.

Sesampainya di rumah, ibu bertanya seperti biasa tentang hasil wawancara. Jawab saya, “Ya begitu deh. Nunggu hasil saja”.

Terus terang tidak yakin sama sekali akan ada telpon berikutnya.

— Wawancara II —
Tiga hari kemudian, di saat galau sudah tidak ada. Bahkan, sebenarnya, saya sudah tidak mau ingat lagi pengalaman wawancara kemarin, telpon berdering.

Suara Mbak Pipih yang bukan Fifi mengatakan bahwa saya diminta hadir untuk wawancara dengan Direktur Sales dan Keuangan. keduanya orang Jepang.

Bengong bin kaget. Saya cuma bisa menjawab, “Baik mbak!”.

Saya turun ke lantai bawah. Biasa meminjam baju dan celana lagi.

Esok harinya, seperti biasa, saya sudah sampai kali ini hanya 1/2 jam sebelum jam yang ditentukan. Langsung masuk ke lobby dan sudah tidak terlalu peduli dengan kacau balaunya tumpukan roll kain disana.

Kali ini, tidak lama.

Hanya beberapa menit saja, mbak Pipih keluar dan kemudian menggiring saya ke sebuah ruangan lain. 

Berbeda dari dua sebelumnya, ruangan yang didatangi kali ini, rapi, bersih, tertata, dan ada sebuah meja kerja di dekat jendela. Pemandangan jalan Thamrin terlihat jelas sekali..

Bukan ruangan staf biasa.

Satu dua menit menunggu, dua orang Jepang memasuki ruangan dan duduk di sofa. Yang stau tinggi jangkung, yang satu lebih pendek dan berisi. Mirip angka 10.

Setelah memperkenalkan diri, yang satu bernama Horie (Direktur Sales) dan satu lagi saya lupa namanya, berkacamata, Direktur Keuangan.

Saat Horie-san berbicara, terus terang saat itu saya merasa orang yang bahasa Inggrisnya paling bego. Logat dan dialek Jepangnya susah digambarkan mempersulit saya menangkap apa yang dikatakannya. 

Terkadang, saya harus meminta bantuan si mbak Pipih karena bingung dengan apa yang ditanyakan. Ampun deh.

Tapi, akhirnya wawancara berjalan setelah saya semakin terbiasa dengan dialeknya. Inti pertanyaannya hanya dua.

Horie-san mempermasalahkan dan khawatir saya tidak bisa datang tepat waktu karena berangkat dari Bogor. (Dalam bahasa Inggris)

“Kenapa kamu tidak kos saja seperti Pipih-san, dia juga rumahnya di Bogor, tetapi kos di dekat sini (Kebon Kacang). Saya khawatir kamu tidak datang tepat waktu”, kata Horie-san.

(Baru tahu saya si mbak Pipih orang Bogor juga – dalam hati) 

“Jangan khawatir, saya akan datang selalu tepat waktu. Silakan nanti dibuktikan”, jawab saya.

Dia tidak melanjutkan.

Pertanyaan berikutnya.

“Kapan kamu siap untuk bekerja?”, tanya si Jepang yang satu lagi.

“Besok juga saya siap!”, dengan gagah saya mengatakan demikian. Padahal sebenarnya, ya kapan saja memang siap daripada bengong di rumah. 

“Hitungan gaji kita disini mulai tanggal 26 dan gajian tanggal 25, jadi tidak perlu buru-buru”, timpal si Jepang satu lagi.

“Bukankah kamu harus diskusi dengan orangtua dulu?”, tambah Horie-san.

“Semua keputusan menerima pekerjaan ini atau tidak ada di tangan saya. Jika PT Unilon menerima saya bekerja, saya bersedia mulai besok juga!”, jawab saya dengan keras kepala.

Beberapa saat , kedua orang Jepang itu berdiskusi dengan Mbak Pipih. Mereka bertanya apakah bisa dilakukan pengaturan khusus.

Mbak Pipih menjelaskan bisa. Status saya dihitung sebagai pegawai harian sampai tanggal 25. 

Kemudian, Horie-san menjelaskan bahwa saya hanya akan mendapat 80% dari gaji selama masa percobaan yang saya jawab dengan yakin, “Tidak masalah”. Informasi jam kerja, dan berbagai info lainnya juga disampaikan.

Tidak lama kemudian, Horie-san mengatakan, “Anda kami terima bekerja disini. Kami tunggu besok”

Wawancara sendiri hanya berlangsung 15 menit saja. Tiga kali lebih lama dari wawancara sebelumnya.

Dan, saya mendapat pekerjaan.

Keesokan harinya, saya membuktikan janji saat wawancara. Jam kerja PT Unilon dimulai pukul 08.30 dan saya jam 7 sudah datang ke kantor. Menunggu.

Horie-san yang datang jam 07.30, tersenyum dan bilang, “I like your attitude” (Saya suka sikapmu)

Perjalanan saya dengan perusahaan yang saya dapat dari iklan tidak jelas bermula dari sini dan berlangsung sampai 11 tahun kemudian. Hubungan ini baru berakhir saat perusahaan tersebut tutup akibat perseteruan pemegang saham Indonesia dan Jepang.


Satu minggu setelah bekerja di PT Unilon, kakak memberitahukan bahwa ada panggilan dari INTISARI. 
Mereka mengundang untuk melakukan tes dan wawancara.

Impian saya menghampiri.

Tapi, saya memutuskan untuk menolaknya karena saya merasa harus konsekuen dengan pilihan untuk segera bekerja. Tidak sopan kalau keluar setelah baru seminggu bekerja.

Mau ditaruh dimana muka saya.

Dan, saya meneruskan karir saya di perusahaan joint venture ini. Mulai sebagai seorang asisten sales membantu mengetik PO dan sebagainya, sampai terakhir, menjadi manajer bagian sales sampai tutupnya.

Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak naik turunnya, tetapi saya masih mendapat pengalaman berharga di perusahaan ini. 

Bukan hanya ilmu pertekstilan, ilmu pemasaran, tetapi juga kesempatan untuk menginjakkan kaki di belahan dunia lain didapat. Setidaknya 11 negara pernah saya datangi saat menjalankan tugas pemasaran.

Pengalaman yang membuat saya seperti sekarang ini.

(Di hari terakhir saya bekerja untuk Unilon, saat hendak meninggalkan kantor, saya tidak bisa menahan rasa haru ketika harus pulang dan tidak akan kembali kesana. Banyak kenangan yang saya buat disana. Tidak terhitung pelajaran yang saya dapatkan. Banyak suka duka yang saya rasakan dan membuat saya menjadi lebih dewasa)

Epilog :
Ada satu rasa penasaran dalam hati tentang alasan mengapa mereka menerima saya. Bagaimanapun, saingan saya saat itu rasanya jauh lebih baik.

Beberapa tahun kemudian, setelah mbak Pipih memilih tidak kos lagi dan ikut bolak balik Jakarta Bogor setiap hari, saya sempatkan bertanya.

“Mbak, kok Unilon nerima aku. Padahal, ada calon yang lebih baik (saya sebutkan dua orang lulusan luar negeri yang sempat ngobrol bersama)”, tanya saya.

“Oh, gini, waktu itu, habis tes, hasilnya langsung diperiksa dan kamu cuma salah satu dalam Matematika dan Bahasa Inggris. Nilai tes kamu paling tinggi. Pantes kamu percaya diri waktu itu, baru 15 menit sudah beres”, jawab mbak Pipih.

(Dia tidak tahu bahwa saya begitu bukan karena percaya diri)

“Horie-san sampai bilang bahwa dia saja belum tentu sanggup dapat nilai segitu kalau disuruh mengerjakan tesnya. Padahal, dia lulusan sastra Inggris di Jepang”, lanjut mbak Pipih.

Ia masih melanjutkan dengan penjelasan bahwa mbak Widya, si wanita paruh baya, manajer bagian sales saat itu punya nilai baik atas kejujuran saya yang mengaku tidak tahu. 

Sementara, kedua direktur Jepang itu terkesan dengan sikap saya yang tegas saat memutuskan menerima pekerjaan. Bagi mereka hal itu menunjukkan semangat dan kemauan bekerja.

“Ohh…”, saya tidak bisa bersuara.

Berbeda dari pandangan saya yang menganggap sikap “ketidaktahuan” sebagai kelemahan, rupanya pewawancara punya penilaian lain. Karakter. Rupanya karakter saya memberikan kesan baik kepada mereka. 

Padahal, saya saat itu menjadi diri sendiri. Tidak pakai teori apapun. Kalau tahu ya bilang tahu, tidak ya tidak. Kebetulan memang saya tidak tahu apa-apa saat itu. Jadi, ya dikatakan saja bahwa saya tidak tahu.

Mungkin, pekerjaan itu didapat karena saya tidak mencoba tampil sebagai orang pandai.

Dan, soal nilai tes sedikit mengubah jalan pikiran saya.

Ternyata saya nggak bego-bego amat dalam hal ini dan ternyata produk lokal tidak selalu kalah dari produk luar negeri. 

Bogor, 18 Juli 2020 

9 thoughts on “Iklan Baris + Lamaran Kerja”

  1. Wah, aku baru mau lahir saat kak Anton lulus sidang skripsi 😅 *pakai dibahas lagi*

    Ngomong-ngomong, kak Anton keren sekali. Dari mulai niat datang pagi ke tempat kerja sampai pengisian lembar ujian yang walaupun hanya sebentar tapi isinya 99% benar, hebat ih! Dan bisa bertahan selama itu bekerja di satu perusahaan, sepertinya adalah hal yang sulit dilakukan oleh anak-anak jaman sekarang yang baru 1 atau 2 tahun saja sudah nggak sanggup.

    Bahasa Inggris orang Jepang memang agak aneh logatnya. Aku pun pernah bingung pas komunikasi dengan orang Jepang yang berbahasa Inggris, otak aku jadi harus bekerja 2x lebih keras waktu awal-awal sebelum beradaptasi 😅

    Sayang perusahaan tempat kerja kakak harus tutup. Kebayang sedihnya gimana saat hari terakhir bekerja di sana 😫

    Oiya, apakah direktur Jepang yang wawancara kakak, sempat bekerja bersama dengan kakak?

    Reply
  2. What an inspiring story. Keren banget om Anton, memang "be yourself" itu adalah koentji. Mungkin kejujuran dan memilih bersikap apa adanya dan tidak dibuat buat yang membuat orang orang yang mewawancarai terkesan.

    Saya takjub dalam waktu 15 menit bisa menyelesaikan soal matematika dan bahasa Inggris yang sudah 5 tahun tak diulang, cuma salah satu. Salut banget Om Anton.

    Reply
  3. Hahahaha…. memang dikau mah tsepantaran anakku Lia…

    Yah, bukankah memang kalau niat itu harus ditunjukkan dengan sungguhg-sungguh. Dan, saya memang terbiasa begitu. Jadi, waktu itu memang niat kerja, ya berarti saya harus berusaha yang terbaik.

    Soal tes mah, kebeneran saja soalnya cocok untuk saya. Saya sendiri agak heran dan takjub mendengar penjelasan cerita saat lamaran itu. Nggak nyangka.

    Nah, soal lama kerja, ya begitu deh saya orangnya, setia… hahahaha… maksud saya, kebiasaan juga bahwa saya tidak selalu mengejar soal duit. Gaji mah dicukup cukupin, tapi karena suasananya nyaman, ya saya enjoy.

    Yah, tiada pertemuan tanpa perpisahan.. wkwkwkwk.. biar tetap saja sedih banget.

    Iyah, saya bekerja bersamanya selama 3 tahun sebelum dia kembali ke Jepang.

    Reply
  4. Hahahaha.. rejeki nggak kemana Mas.. Mungkin pas mood ajah ngerjainnya dan sebenarnya saya sendiri nggak yakin. Cuma nekad juga sih.. hahahaha

    Yah, saya belajar sampai sekarang untuk tetap apa adanya. Mungkin karena saya bagian marketing dan sering harus jaim demi branding perusahaan, jadi saya males banget bersikap pura-pura… Hahahahah

    Reply
  5. Luar biasa, wawancara tahap pertama cuma 5 menit.

    Saya tak banyak punya pengalaman wawancara, tapi ada satu pengalaman dengan orang Jepang juga. Waktu itu saya melamar untuk ikut pendidikan yang dibiayai pemerintah Jepang selama 2 bulan di Jepang.

    Tapi sesi wawancara malah tidak membahas apa-apa terkait pengetahuan saya, malah membahas isian formulir pendaftaran dimana saya menjawab poor untuk kemampuan berbahasa Inggris. Hehe.

    Dia bilang, kalau bahasa Inggrismu poor, bagaimana kami bisa meloloskanmu. Saya jawab ya tak perlu dipaksakan.

    Tapi saya perhatikan bahasa Inggrismu baik selama wawancara kita ini. Saya diam, hanya menggerakkan bahu yang kurang lebih berarti, ya terserah saja.

    Kamu mau ganti jawaban kamu di formulir ini menjadi good untuk bahasa Inggris? Saya bilang tidak.

    Kalau anda bilang bahasa Inggris saya bagus, ya anda dong yang seharusnya mengisi form itu. Lalu dia manggut-manggut.

    Sebulan kemudian, saya berangkat ke Kyoto untuk memulai pendidikan. Hehe.

    Reply
  6. Bukan luar biasa mas.. Sebenarnya karena memang tidak tahu apa-apa, jadi ya saya tidak bisa jawab apa-apa. Mau bagaimana lagi pengetahuan saya soal tekstil saat itu benar-benar nol besar. Jadi, ya saya ceritakan apa adanya.

    Nah kan, bahwa menjadi diri sendiri itu sering memberikan keuntungan tak terduga. Kalau ternyata hasilnya bagus, berarti kita seperti merendahkan diri, kalau pun jelek, berarti tidak berbohong.

    Keren tuh mas bisa belajar di Jepang selama dua bulan…

    Reply
  7. kirain tadinya mbak fifi dibaca dengan logat sunda jadinya mba pipih, ternyata memang benar namanya mba pipih….

    #postingan ini mengandung kesumbungan terselubung bahwasannya si bapak aslinya pinter beud tapi lagi lagi bilang diri sendiri payah, dudul, ceroboh dsb, deng ga becandaaaa bapaaak…ih bapak mah emang jenius dari sananya mereun kayak yang udah aku bilang di postingan nomor ujian seleksi yang ketutupan. ckckck…stand up deh gw buat kecwrdasan intelektual bapak hahhaha

    eh apa mungkin 2 lulusan yang dari luar nda diterima gegara ngajuin nomilal angka salarynya ya wakakka, ternyata tidaa pemirsa….ternyata memang si bapak diterima karena attitude + kecerdasan + on time + yakin + PD (walaupun ngakunya nda pede haha) + jujur atau malah polos apa adanya hahhahaha

    oh berarti bapak udah hapal dengan area kebon kacang dunk…area sarinah HI dan tenabang juga pesti sering liwat kan pak, dulu aku ngekos di tenabang 3
    atau abdul muis kalau dari depan pas masih kerja, udah hampir 5 tahun yang lalu #tetiba kangen jakartaaaa

    sekarang habis dari unilon pindah kemana Pak? #iiishh rahasia si bapak kali ah, si mbul mah kepowww haha, becanda

    untung siapa cepat dia dapat ya…unilon yang kala itu prestisius tentunya bangga punya sdm berkualitas seperti bapak ^______^

    mana pengalamannya sampai bisa belajar dan dinas ke 11 negara lagi, kan amat sangat berharga…lagi lagi salam hormat pake banget buat pak anton xixixi

    pengalamannya amat sangat keren untuk dibagikan kepada adik adik fresh graduate kita pak, supaya ada bayangan saat saat test dan kerja untuk pertama kalinya seperti apa, sikap yang diperlihatkan kiranya seperti apa, dll

    #betewe, oot dikit ah….aku dulu suka baca majalah intisari loh, majalahnya kayak komik tapi agak besaran dikit, nah aku suka baca segmen kriminalnya, jadi malah bukan dari pos kota aku ngematin true story kriminalnya, tapi dari majalah intisari 😀

    #aku masih ngalamin nglamar kerja pake amplop coklat dan surat lamaran tulis tangan, juga pas foto 3×4, 4×6, beberapa masih ada yang memakai po box haha

    #bapak template yang sekarang mengapa fontnya halus sekali ya, huhu

    Reply
  8. Hahahaha… Sumpah, bukan niat sumbung. Cuma bercerita apa adanya. Begitulah saya di masa lalu. Sebagian sifat itu masih ada sampai hari ini.

    Ceroboh.

    Mungkin saya termasuk orang yang beruntung dalam hal ini, pilihan ini membawa saya bisa melihat dunia lebih banyak.

    Soal Intisari, kok sama sih hobinya. Bagian kesukaan saya juga memang cerita kriminal. Cuma sayang sekali belakangan kualitas tulisan bagian ininya berkurang, jadi sudah tidak ngefans lagi.

    Kupikir kau sudah tidak ngalami ngirim lamaran memakai amplop coklat. Rupanya masih yah…

    Reply
  9. Soal font.. terlalu halus yah.. Padahal sudah 18 PX, sudah besar seharusnya. Ini template bawaan blogger saja kok si Notable Light. Saya sudah naikkan menjadi 19 px.. Kalau masih kurang besar, berarti puyeng lagi deh

    Reply

Leave a Comment