Kembali ke Awal

Dulu, 9 tahun yang lalu ketika mulai menekuni fotografi, saya melakukannya sebagai penunjang kegiatan sebagai blogger. Dengan tema blog yang membahas tentang kota sendiri, Bogor, saya memerlukan banyak sekali foto untuk menggambarkan kehidupan di dalamnya.

Saat itu, bisa dikata saya tidak begitu peduli terhadap fotografi dalam artian sebagai sebuah “seni melukis dengan cahaya”. Saya tidak terlalu pusing selama sebuah foto bisa menggambarkan tempat, lokasi, atau apa saja yang menurut hati dan kepala saya menarik.

Dokumentasi, kalau menurut para teoretis sekarang, adalah genre yang diambil.

Lama kelamaan, untuk memperbaiki kualitas foto, saya nyemplung lebih jauh lagi. Peralatan yang lebih baik dibeli. Pengetahuan tentang fotografi diperdalam terus menerus dan latihan.

Semua itu menggeser pola pandang saya tentang fotografi. Pengetahuan yang bertambah, skill yang bertambah juga, menghadirkan keinginan untuk menghadirkan keindahan dalam foto juga. Tiga empat tahun belakangan, jika diperhatikan stok foto yang masih ada, selalu ada usaha untuk menghadirkan foto yang “indah”.

Banyak pujian saya dapatkan untuk itu.

Namun, saya sendiri menyadari kalau hal itu membawa konsekuensi, saya meninggalkan tujuan awal sebagai blogger tentang kota sendiri dan beralih menjadi fotografer. Fotografi bukan lagi menjadi penunjang. Posisi menjadi seimbang antara keduanya.

Menjadi blogger, pada akhirnya juga menggiring saya ke sebuah dunia lain, bisnis. Terjun ke dunia blog memperlihatkan kepada saya bahwa banyak uang bisa didapat, baik secara langsung atau tidak. Dan, saya tertarik.

Berdasarkan pemikiran bahwa bisnis berbasis blog itu “perlu” dan “penting” bagi masa pensiun nanti, saya mencoba menggeluti kuadran bisnis dari kehidupan sebagai blogger.

Saya melahirkan LB Digital, bersama dengan putra semata wayang, si Kribo dan sejauh ini berjalan lumayan. Job mulai mudah dicari dan uang pun perlahan mengalir.

Lagi-lagi, pemikiran ini mendorong saya pergi lebih jauh lagi dari tujuan awal. Satu gelar lagi ditambahkan ke saya, seorang wirausahawan, pebisnis. Lumayan banyak tetangga yang menyebut demikian.

Sayangnya, ada rasa sedih menerima semua itu.

Blog Lovely Bogor yang saya lahirkan perlahan tapi pasti terabaikan. Waktu yang memang tidak banyak memaksa saya menempatkannya pada prioritas, yang entah ke berapa. Semakin lama blog ini semakin tidak terurus dan efeknya pengunjung sudah malas datang.

Sudah pasti kebanyakan orang akan merasa hal itu wajar dan tidak masalah karena uang tetap datang dan bisnis berkembang. Itu konsekuensinya dan saya sadar sekali tentang itu.

Namun, tetap saja, saya seperti membuang cita-cita, idealisme saya dan menukarnya dengan uang. Hal itu membuat hadirnya rasa tidak nyaman dalam hati dan mungkin merupakan masalah terbesar dari kesulitan saya kembali ke dunia blog.

Saya agak malu ketika melihat blog-blog, terutama blog pertama, si Lovely Bogor. Ada rasa berdosa sudah menelantarkannya cukup lama.

Mungkin karena itulah, ada sedikit pemikiran hadir di kepala beberapa hari ini. Saya mungkin akan berbalik arah. Saya akan coba kembali ke awal lagi.

Kembali sebagai blogger, khususnya blogger untuk Lovely Bogor.

Tidak selayaknya saya meninggalkan blog yang sudah membantu saya berkembang sejauh ini dan membiarkannya terbengkalai.

Walau mungkin, akan tetap ada konsekuensi dari hal itu, tetapi saya rasa, seperti mayoritas orang, terkadang “mudik” itu diperlukan untuk merefreshing diri. Sebuah ziarah psikologis untuk menata hati kembali.

Dan, saya rasa akan mudik ke Lovely Bogor.

(Jakarta, 31 Agustus 2023, ketika rasa kangen membawa kamera dan berkeliling wilayah Bogor melanda dan ketika rasa sedih bin kangen muncul dalam hati saat melihat blog Lovely Bogor)

Leave a Comment

Cerita Lagi