Ngalun

Ngalun.

Artinya, bukan seperti “ngalun” yang terdapat dalam kalimat, “Rossa mengalunkan lagu-lagu sendu nan merdu”. Jauh beda artinya, mirip seperti perbandingan duren dengan jeruk. 

Meskipun, sebenarnya, kalau pakai ilmu “cocoklogi”, masih bisa dikait-kaitkan. Apa sih yang tidak bisa kalau menurut kaidah per-cocoklogi-an

Dalam kata “mengalunkan” (lagu), biasanya dibayangkan bahwa suara yang keluar dari mulut diibaratkan seperti aliran. Kata ngalun juga memang berkaitan dengan aliran juga, yaitu aliran sungai.

Ngalun yang ini merupakan sebuah kata dalam bahasa Sunda yang artinya “berenang mengikuti aliran sungai/kali”. 

Jadi, menurut kaidah cocoklogi, ya dipas-pasin supaya pas. Mirip dikit lah.

Sungai Cipakancilan
Dipikir-pikir lagi, dalam bahasa Indonesia banyak sekali yang redundan, alias berlebihan. Contoh yang paling sering dipakai adalah Bank BNI, padahal BNI sendiri adalah singkatan dari Bank Negara Indonesia. Jadi, kalau singkatan Bank BNI diuraikan kata perkata, jadinya Bank Bank Negara Indonesia.

Nah, subjudul sungai Cipakancilan sendiri juga menuruti teori redundan. Kata suku kata “ci” di depan Cipakancilan merupakan singkatan dari kata “Cai” yang dalam bahasa orang Sunda berarti Sungai. Jadi, kalau saya menyebutnya sungai Cipakancilan, ya sebenarnya saya “berlebihan”.

Masalahnya, kalau tidak pakai kata sungai, pembaca non Sunda bisa tidak mengerti dan disangka nama kota/tempat (seperti Cilegon, Cikarang)

Lupakan soal tata bahasa yang menyebalkan. Sekarang saja saya bisa ngomong begini, padahal dulu masa sekolah S3 (SD,SMP, SMA), nilai bahasa Indonesia termasuk yang paling ambyar, alias jarak beranjak dari nilai minimum. Soalnya termasuk mata pelajaran paling menyebalkan, apalagi ketika masuk pelajaran mengarang. Hadeuh.

Kembali ke si Cipakancilan.

Sungai kecil ini berada di belakang rumah ibu, di kawasan Pondok Rumput Bogor. Rumah yang selama 23 tahun saya huni sejak pindah dari ibukota, Jakarta, dan sebelum menikah dan pindah ke kontrakan, di tahun 1978. Bulan Juni adalah saat kami meninggalkan kota dan hijrah ke kampung.

Jarak dari rumah ke kali ini cuma sekitar 200-300 meter saja menurut garis lurus, kalau garis bengkok, ya sekitar 600-500 meter. Angka berubah menjadi lebih dari dua kali lipat karena saya harus melewati banyak gang kecil mirip labirin, serta tangga untuk bisa ke sana. Jelas, tidak mungkin juga saya harus naik dari genteng ke genteng supaya bisa menempuh jarak terdekat menurut ilmu geometri. Bisa digetokin orang sekampung. 

Padat sekali lokasi di sepanjang pinggiran kali tersebut. Bahkan, di tahun 1978 sekalipun, pinggiran sungai di Bogor sudah merupakan pemukiman padat. Padahal, jalur menuju ke sungai merupakan tebing yang lumayan curam, tetapi di sepanjang lereng tersebut sudah terdapat rumah permanen yang saling berhimpit.

Sungainya sendiri lumayan besar dengan lebar mencapai 25-30 meter, saat itu, tahun 1978-1980-an . Sekarang mah, sudah lebih sempit lagi.

Airnya coklat. Kotor. Sampah juga sudah terlihat sering nyangkut di berbagai sisi. Bukan kali yang jernih seperti di Belanda. Maklum, kali itu dipergunakan oleh masyarakat sekitarnya untuk beragam aktivitas, mulai mencuci, karamba (tempat memelihara ikan dari bambu) ,sampai tempat nongkrong bernama jamban helikopter.

Anak sungai Cisadane ini termasuk deras airnya dan banyak sekali batu besar bertebaran di sana-sini.

Mungkin, karena itulah ibu selalu melarang saya, si pangeran keluarganya, untuk bermain di sungai. Boleh main kemana saja, asalkan jangan ke kali.

        “Awas ya, Ton. Ketauan main ke kali, ibu bakalan marah!”, begitu larang ibu

Karamba, Cipakancilan, Bogor 2015

Ngalun : Melanggar Larangan
Larangan tinggal larangan.

Seperti ada lorong antara kedua kuping saya, sehingga kata-kata larangan itu seperti masuk kuping kiri dan keluar dari kuping kanan. Mungkin, hanya beberapa hari saja kata-katanya disimpan dalam hati.

Ajakan ngalun “anak-anak kampung” (dulu saya anak kota, dari Jakarta gitu loh, sebelum kemudian menjadi anak kampung juga), terlihat begitu menarik. Pertama kali sih bingung juga ngalun itu apa, karena belum mengerti bahasa Sunda. Baru setelah dijelaskan dalam bahasa Indonesia, saya mengerti.

Maklum, sebagai anak kota, saat itu saya belum pernah melihat kali itu seperti apa. Di rumah petakan saat di Tanah Kusir cuma tembok doang. Kontrakan terakhir sebelum ke Bogor, di Cipulir, kuburan dan kebun. 

Jadi, sungai, kali, atau apalah namanya, sebuah barang baru.

Sambil takut diketahui ibu, saya berangkat bersama para anak kampung itu ke Cipakancilan.

Persis kayak orang bego, dan mungkin saat itu memang bego juga, saya bingung harus mulai darimana ngalunnya. Melihat teman-teman kok sepertinya enak banget. 

Ada yang langsung nyebur dan berenang. Ada yang berani loncat dari tebing ke sungai. Ada yang bertingkah seperti seorang tarzan dan bergelantungan di dahan pohon sebelum kemudian nyebur ke air yang mengalir.

Semua seperti “ahli”. Jagoan.

Dan, saya seperti orang bloon.

Barulah, setelah itu saya memberanikan diri mencoba. Tidak langsung terjun dari tebing, tetapi sekedar “berendam” di tepian saja. Saat itu juga belum bisa berenang karena memang belum pernah diajak ke kolam renang.

Jadi, ngalun pertama kali, ya baru berendam di kali saja.

Barulah, setelah 2-3 kali, saya mulai berani mencoba berenang dan bukan hanya bergantung di tepian saja. Setelah itu, sama dengan yang lain, saya pun mulai berani terjun dari tebing ke sungai dan berenang.

Dari teman-teman masa kecil itulah, saya belajar cara ngalun yang baik dan benar. Tidak nyangka juga perlu sedikit pakai otak saat berenang di kali.

Mereka bilang,

Jangan terlalu ke tengah karena semakin ke tengah arus air semakin deras dan resiko terseret arus sungai semakin besar
Kepala jangan berada di bawah air terus, selain karena nggak bakalan bisa nafas, kita juga harus waspada pada batu-batu besar yang ada di sungai
Kaki usahakan jangan menginjak dasar sungai karena biasanya ada pecahan botol dan benda-benda tajam lainnya
Pelajaran yang terakhir, sebaiknya saat berenang buka baju semuanya saja. Waktu itu tidak jelas juga kenapa harus buka baju, tetapi rupanya resiko ancamannya bukan di sungai. Apalagi, saya malu juga harus tanpa busana meski masih anak-anak (maklum anak kota gitu loh)

Ancamannya ada di rumah.

Sepulang dari ngalun pertama kali, ibu melihat baju anaknya basah kuyup, padahal saat itu tidak hujan. Habislah sudah saya dimarahi dan kena hukuman. 

Saat itulah saya baru mengerti kenapa sebaiknya pakaian semua dibuka.  

Tidak pernah kapok
Berhenti kah setelah dimarahi ?

Ya, nggak lah.

Saya menyukai petualangan kecil itu. Jadi, tetap saja, setiap ada ajakan ngalun, saya bersemangat. Kadang meski di rumah pun, saat dijemput, saya akan menyelinap sambil bilang mau main di lapangan.

Tidak bohong sih, saya memang ke lapangan dekat rumah. Bermain disana beberapa saat, dan kemudian pergi lagi ke sungai.

Ngalun lagi.

Masalah baju, setelah diomelin pertama kali, saya buka, hanya pakai celana saja. Jelas masih basah dong, tetapi pemecahannya, sepulang dari sana, saya main ke lapangan lagi. Sampai celana kering, barulah saya pulang ke rumah.

Nggak kapok.

Resikonya memang harus ditanggung sendiri. Pernah suatu saat, kaki menginjak beling saat ngalun, robek lumayan juga. Cuma, kalau bilang pasti diomelin, saya putuskan menahan sakit sendiri dan mengobati sebelum sampai di rumah.

Jalannya pincang, dan tentunya ibu curiga. Cuma, saya bilang “pegel” habis main bola.

Kapok setelah itu?

Kagak.

Tetap saja ngalun, bahkan jarak tempuhnya terus bertambah. Bila sebelumnya hanya jarak 50-100 meter saja, kami berkelana sampai lumayan jauh. 2-3 kilometer dari titik kami terjun. Biasanya kalau jarak jauh seperti ini kami membawa ban dalam mobil bekas supaya kalau kecapean bisa bergantung.

Pulangnya, jalan kaki lah ke titik awal lagi. Terkadang disambi mencari bambu untuk bahan bebeletokan (pistolan berbentuk tabung bambu dengan peluru kertas koran dibasahin).

Seru.

Rasanya waktu itu seperti berpetualang ala “Jungle Jim” (film masa itu tentang petualang di hutan). Badan jadi hitam dan dekil  bukan sebuah masalah.

Saya pun saat itu menjadi anak kampung, bukan anak kota lagi.

Cipakancilan Dekat Pemakaman Blender, Bogor, 2015

Pengalaman Tak Terlupakan : “Pisang Goreng”
Ada satu pengalaman khusus saat ngalun yang tidak terlupakan sampai saat ini. Memang sih sebenarnya ada beberapa yang lain, seperti ngalun saat puasa. Nah, yang ini memang menyenangkan, sementara orang lain merasa kehausan, kita sih merasa nyaman karena basah terus.

Tapi, yang paling tidak terlupakan adalah sebuah pembuktian atas teori saat ngalun, yaitu biarkan mata tetap berada di atas permukaan air.

Kejadiannya adalah saya mengabaikan teori satu ini. Saya memutuskan menyelam. Saat berhenti dan kepala saya tongolkan ke atas permukaan air, dalam jarak setengah meter terlihat sebuah benda bergerak cepat mengarah ke muka saya.

“Pisang goreng kuning” (hasil produksi dari beberapa jamban di sepanjang sungai itu).

Gelagapan sekali saat itu.

Untung, karena sudah semakin terbiasa, saya masih sempat menenggelamkan kepala ke dalam air lagi. Barulah setelah beberapa detik, kepala saya munculkan lagi. 

Kalau tidak, bisa terbayang itu “pisang goreng” akan mengenai muka. Waduh.

Sampai sekarang, beberapa puluh tahun kemudian, peristiwa itu masih kerap muncul di ingatan dan membuat saya tertawa sendiri. Untung saya cepat dan tidak sedang membuka mulut untuk mengambil nafas. Kalau tidak.. Sulit membayangkan kelanjutan peristiwanya.


Kurang lebih 4 tahun saya ngalun bersama kawan-kawan sesama anak kampung.

Setelah perekonomian keluarga membaik, ibu dan bapak membawa kami ke kolam renang betulan. Bukan buatan alam seperti Cipakancilan. Belum sampai berkunjung ke theme park karena tahun 1980-an, yang namanya theme park belum ada, kecuali di kota, Jakarta. Yang ada hanya 2 kolam renang saja, satu “Mila Kencana” dan satu lagi “Pemandangan”.

Bisa jadi ibu yang meminta bapak mengajak kesana karena tahu anak laki-laki satu-satunya itu kerap melanggar larangannya dan tetap ngalun. Sangat bisa jadi, karena penampilan saya memang jadi dekil dan hitam sebagai akibat sering ngalun..

Saya pikir, ibu memang tahu saya badung seperti itu. Cuma, diam saja karena tahu anaknya tetap akan ngeyel.

Setelah itu, saya tidak lagi pernah ngalun. Kebetulan juga, saya sudah masuk SMP dan agak sibuk dengan kegiatan sekolah.

Sekarang, setelah tua dan hobi hunting foto, saya kerap menjelajahi berbagai sungai yang ada di Bogor. Ingin melihat apakah masih ada yang “ngalun” seperti kami dulu. Saya berharap bisa melihat lagi keceriaan yang sama seperti yang kami rasakan dulu di air sungai yang coklat karena kotornya.

Sayangnya, atau bagusnya,  rupanya anak-anak sekarang lebih tidak jorok  atau sadar kebersihan dibandingkan kami dulu. Mungkin mereka sudah jauh lebih pintar dari kami. 

Rasanya sih lebih pintar, tepatnya. 

Melihat Cipakancilan sekarang tidak berbeda jauh dengan puluhan tahun yang lalu, sama kotornya, sampah juga bertebaran dan nyangkut dimana-mana, batu besar juga belum dipindahkan dan masih nongol dengan gagahnya. Yang beda hanyalah lebarnya yang menyempit saja. Eh.. dan jamban helikopter yang agak berkurang sedikit jumlahnya

Saya jadi berpikir ulang sekarang kalau kebetulan lewat sana.

Sulit terhindarkan ada suara di dalam hat mengatakan, “Saya tuh dulu bego bin bloon, atau gila banget yah. Kok mau berenang dan bersenang-senang di sungai sekotor dan seberbahaya itu” 

Pantas saja, saat itu ibu melarang saya berenang di kali saat itu. Bahayanya besar. 

Biarpun demikian, saya tetap tersenyum, sambil geleng-geleng kepala. Kagum pada kegilaan yang pernah saya lakukan semasa kecil dulu. Sesuatu yang pasti tidak akan pernah saya sarankan kepada si Kribo Cilik untuk menirunya. 

Saya sudah menjadi seperti ibu saya.

Dan, untungnya, si putra semata wayang kami, tidak senakal bapaknya.

Walau, tetap saja, saya tidak akan pernah bisa melupakan keceriaan “ngalun” di Cipakancilan. Seberpaa pun gilanya kata orang, saat-saat itu merupakan saat yang menyenangkan dan penuh keceriaan.

Bogor, 27 Juni 2020.

17 thoughts on “Ngalun”

  1. Maaf, pas baca bagian "lari-lari di genteng" tiba-tiba kebayang adegan lari di genteng ala naruto, dengan tangan mengarah ke belakang, ala ninja gitu 😂😂

    Kenapa sih nama jambannya "jamban helikopter"? 😂😂

    Baca cerita kayak gini kok kebayang serunya ya! Walaupun aku nggak bakal ngelakuin kayak gini juga sih tapi kegembiraan yang ada tuh, sampai banget ke aku sebagai pembaca 😍

    Soal pisang goreng, sayang sekali kak Anton lagi nggak buka mulut saat itu, padahal kalau kelahap kan, jadi ada cerita tambahan saat ini wkwkwk *kurang ajar*

    Terima kasih atas ceritanya kak! Adem benerr bacanya, hati jadi serasa dibawa ke sudut pandang anak-anak yang suka ngalun di sungai, ternyata begini ya kesannya, pantas kalau lihat anak-anak yang ngalun tuh ceria sekali + telanjang bulat juga sih 🙈 ternyata memang sudah ada S&Knya kalau ngalun harus telanjang bulat wkwkw

    Reply
  2. Mungkin, pencipta Naruto itu membaca khayalan saya dan kemudian menerjemahkan dalam bentuk komik. Seharusnya saya dapat royalti nih.

    Jawabannya karena "melayang" di atas aliran sungai, persis kayak helikopter saat hovering.

    Emang seru Lia… hahaha, saya sendiri bergembira saat itu. Takut luka juga nggak. takutnya cuma pas pulang ke rumah saja. Takut dimarahin.

    Nah, itu juga saya sering pikirkan. Bagaimana kalau itu terjadi? Apa yang saya lakukan? Bener banget akan jadi sebuah cerita yang lebih heboh.. hahahaha…

    Yup, dan saya sekarang kalau melihat anak-anak berenang di kali, tidak bisa bilang apa-apa, karena saya tahu pasti betapa senangnya kami saat itu. Iyah, saya juga tahunya dari situ. Alasannya bukan karena sayang baju, tapi supaya nggak ketahuan sama ortu.. wakakaka

    Lebih adem kalau bacanya sambil ngalun Li…

    Reply
  3. Waduh, ternyata penulis naruto itu nyonteknya dari sini ya! Minta dituntut ini!

    Yaampun! Kreatif banget sih pemberian nama jambannya, koplak banget wkwkwk

    Ngomong-ngomong, bentuk pisang gorengnya apakah masih kerekam di memori otak, kak? Wkwkw

    Tetap ya.. Omelan ibu lebih menyeramkan daripada segala hal yanh bisa terjadi ketika ngalun. Memang kekuatan seorang ibu tiada tara 😂

    Waduh, kalau ngalun versi aku mah, ngalun lagu teh Rossa aja. Eh tapi suaraku cempreng… Yauda makan pisang goreng aja deh, tapi pisang goreng beneran wkwkw

    Reply
  4. Untuk istilah redundan macam penggunaan akronim nama Bank juga sempat saya pikirkan. Tapi ngga sampai benar-benae diulik seperti ini.

    Memang, kalo kata orangtua "semakin dilarang, semakin mau dicoba". Saya jadi ingat cerita yang hampir mirip, bedanya saya mau ke laut bersama teman saya. Kami naik perahu kecil yang terbuat dari gabus untuk menghubungkan daratan dengan kapal yang hendak mengangkut. Karena terlalu goyang, kami jatuh dan basah. Sepertinya cukup jelas apa yang akan terjadi selanjutnya.

    Bagian pisang goreng itu the best sih 😅

    Reply
  5. Pisang gorengnya kayak masih mentah Li.. wkwkwkw

    Iyalah, bagaimanapun menakutkan kalau dimarahi ibu. Sampai tua saja juga kepala masih nunduk kalau ditegur sama ibu bapak mah. Ga berani dah.. bisa durhaka saya…

    Ga kedengeran suaranya.. #hoask… mana mana mana..

    Reply
  6. Hahaha.. kecebur ni yee… Yah memang namanya anak-anak keingintahuannya masih gede banget, jadi biar serem dan takut diomelin, tetep aja nekat.. hahaha..

    Iyah, saya sendiri memang beranggapan itu momen tak terlupakan, makanya teringat terus.. hahahaha

    Reply
  7. Habis ini sepertinya aku tidak akan makan pisang goreng dalam waktu yang lama kak. Jadi kebayang terus wkwkwkw

    Bagus atuh kalau kayak gitu kak. Tetap ingat Surga di telapak kaki ibu ya. Hati-hati, jangan sampai salah ibu, nanti ibunya tetangga lagi.

    Tadi udah check sound, masa nggak kedengeran? Apa speakernya tadi lupa dicolok ya? 😆

    Reply
  8. Sama mas Anton, saya dan sepupu juga dulu selalu dilarang ke sungai, malah kalau ketahuan ada yang ke sungai, besoknya di sekolah bakal diumumkan pas apel pagi dan kena hukuman.

    Cuma beberapa kali lolos undetected saat ke sungai hhehehe. Biasanya saya alasan nginap rumah sepupu lalu kita ke sungai.

    Pisang goreng kuning juga sering dapat kalau lagi ke sungai hahahaha. Cuma mungkin saya belum seberuntung mas Anton yang berhadapan langsung dengan pisang gorengnya. Kami biasanya ada tim penjaga yang lihat benda benda yang lewat dan mengirimkan sinyal teriakan early warning system saat pisang goreng kuning lewat hahaha

    Reply
  9. Iyah.. bagian early warning kayaknya emang perlu tuh kalo maen ke sungai. Beruntung sih bener juga jadi bisa punya cerita seperti ini.

    Hahaha.. rupanya pengalaman badung juga yah….

    Reply
  10. Beuh sungainya berkurang banyak yaaa sizenya, mas 🤣 dari 30 meter jadi berapa meter itu sisanya? 5 meter pun kayaknya nggak ada 🙈

    Ehehehe, saya suka baca ceritanya, mas. Jadi bisa ikut membayangkan rasa senang mas Anton dan teman-teman 😆 saya pribadi dulu juga suka main di sungai tapi hanya bisa main di sungai ketika mudik ke rumah simbah ~ alhasil main di sungainya cuma bisa setahun sekali saja saat hari raya 🤭 that's why kegiatan main di sungai merupakan salah satu kegiatan mevvah untuk saya, dan untungnya, saya belum pernah dapat jackpot lihat pisang goreng di sungai seperti pengalaman mas Anton di atas 🤣

    Ohya, saya merasa setiap anak kalau dilarang semakin banyak akalnya hahahahaha. Tapi saya pribadi agak takut sama ibu jadi biasanya kalau ibu bilang 'no' yasudah artinya 'no' 😂 kawatir kalau saya jadi 'yes' nanti dikuncikan di luar rumah hahahaha. Contohnya saat saya ingin main hujan-hujanan while ibu bilang 'jangan' 🤭

    Ps: as usual fotonya bagus mas, jadi bisa membayangkan bagaimana dulu mas Anton dan teman-teman menikmati main di sungai selama 4 tahun lamanya 😁

    Reply
  11. Emang berkurang banyak tuh seinget saya…Makin kemakan sama pemukiman kayaknya.

    Masa yang menyenangkan Mbak Eno.. makanya masih terkenang sama saya. Jackpot itu justru yang bikin susah dilupakan.

    Saya juga takut sebenarnya, cuma dasar badung.. ya gitu deh.. terus ajah.

    Asiikk ada yang muji fotonya.. wkwkwkwk

    Reply
  12. Halo, Mas Anton. Saya baru pertamakali berkunjung ke blognya Mas Anton, nih. Tulisannya renyah dan mengalir sekali, berasa didongengin tapi nggak bikin ngantuk 😀

    Jadi teringat juga masa kecil yang suka kelayapan di sungai, hahaha. Cuma jalan-jalan aja tapi, nggak sampai nyebur kayak Mas Anton dan teman-teman karena takut dimarahin Ibu hehehe.

    Ah, iya. Aku baru tahu kalau "ci" dalam beberapa nama sungai di Jawa Barat tuh artinya sungai 😀

    Terima kasih atas tulisannya ya Mas. Jadi membuat nostalgia 😀

    Reply
  13. Hola Dhira.. salam kenal… Jangan dimakan tulisannya (biar renyah nggak enak ditelen).. hahahahaha Makasih atas pujiannya.

    Mari bernostalgia bersama… blog ini memang niatnya buat nostalgia bloggernya yang sudah tua. Entah kalau berubah , namanya juga manusia.

    Saya juga sudah mampir ke blog si Mbak, cuma lum sempat ninggalin jejak. Ntar ya mbak..

    Reply
  14. Oh kalau di Sunda tuh istilahnya ngalun ya pak, kalau di kampungku dulu ciblon atau adus ning kali…

    ga kali gede sih, tapi irigasi, hahahhaah, dan sama menangin juga yang namanya istilah 'pisang goreng kuning' yang melegenda itu.

    Kalau jamban helikopter ga ada, adanya di blumbang atau kolam yang bawahnya buat miara ikan, hahhahahahhaha…tapi jamban helikopter adanya di desanya mbahku ini, disebutnya bukan helikopter sih tapi wc cemplung wkwkkwkw…

    Btw ngomongin ci, berarti kalau cikarang ci-nya bukan berarti sungai kan pak ? #lah kok malah bahas itu sih gw hahah

    Lanjut, tadi kan mau ngomongin ngalun ya. Kecilku dulu ya suka ngalun juga ternyata. Ciblon di kali, diajakin temen2 sepermainan, temen cewe maupun cowo yang hobinya klayapan. Kalau ga nyolongin buah di ladang/sawah orang atau kantor pertanian, ya ciblon di kali. Eh bukan kali gede sih. Yaitu irigasi. Ga sampe telanjang bulet juga sih, ya paling pake kaos dalem atau celana dalem aja hahahah (namanya juga masih anak bocah sd waktu itu). Bahkan temen ada yang sampai bawain ban segala biar kerasa cem wahana water park aja. kalau lagi hoki di pinggiran semenan pembatas kalinya atau di antara bebatuan biasanya kami nemu rentetan udang buat diseser, kalau pas lagi apes ya mentungul 'pisang goreng kuning yang legendaris' itu atau ular lare angon, hiiiiy serem…wkwkwkkw…

    Tapi ada kejadian nyebelin waktu main di sungai biasa cerita jaman bocah dulu, ada anak cowo naksir aku terus ngejer2 di sungai sambil bergaya ala film-film, ih tapi aku ga suka alhasil jadinya bete deh hahhahahahahha #kebayang sampe sekarang, hahah

    Btw pas baca ngeyelnya bapak suruh ga main ke kali ama ibuk terus abis itu kaki berdarah langsung kebayang ngilunya #anaknya takut darah aku mah ahahhaha

    Reply
  15. Cikarang .. kalau lihat namanya sih sangat mungkin nama itu berasal dari nama sungai juga. Cuma karena sudah lama, jadi nama tempat.

    Nah, rupanya ada yang hobinya sama.. maen di kali.. ada anak kampung juga neh… wkwkwkw.. Dulu juga saya sering maen ke sawah dan nemuin hal yang sama. Mulai dari yang kuning-kuning, sampe uler kadut atau anak angon juga pernah… kebayang kagetnya dah.

    Ehhmm.. rupanya ada kembang desa yah… wakakaka… ceritain dong lanjutannya, pasti seru tuh dikejar-kejar … 😀

    Bukan ngilu.. sakit tauk kena beling.. dah gitu ga bisa minta tolong lagi. Bisa didamprat..

    Tooss dah sesama anak kampung..

    Reply

Leave a Comment