Nican

Nini.

Nenek dalam bahasa Sunda. Kata yang seimbang dengan simbah perempuan dalam bahasa Jawa.

Itulah sebutan terbaru saya bagi sang wanita kesayangan di rumah.

Memang, sampai saat ini kami belum momong cucu dan masih harus menunggu beberapa tahun lagi untuk sampai ke tahap itu. Si Kribo, putra semata wayang kami masih belajar di semester dua sebuah universitas. Ia baru sampai tahap memperlihatkan foto cewek manis, mojang Bandung, dan belum menjelaskan statusnya kepada kami orangtuanya.

Jadi, masih bakalan agak lama kami bisa menimang cucu darinya. Meskipun kalau dari saudara “jauh” sekali, saya sudah bisa disebut kakek, dan si kumendan mendapat gelar nini, tapi tidak secara resmi.

Panggilan itu merupakan bagian dari candaan kami belakangan ini.

Pengumuman bahwa mulai bulan Juli 2021, semester, sekolah tatap muka akan dimulai kembali, membuat kami menyadari bahwa pada saat yang sama, rumah kami akan berkurang penghuninya.

Si Kribo yang selama ini menjadi sentral dari rumah tersebut akan bergegas dengan senang hati menuju Kota Kembang, Bandung, dimana si mojang yang fotonya diperlihatkan kepada kami berada.

Kamarnya akan kosong setidaknya selama beberapa bulan setiap harinya. Rumah yang sudah kami tempati selama 16 tahun pun, pastinya akan terkena imbas, terasa kosong juga.

Maklum, selama ini perhatian dan energi kami memang tercurahkan untuk si semata wayang itu, terutama perhatian dan waktu si Yayang. Dia ibunya, si Kribo adalah sentral kehidupannya sejak lahir.

Sebuah kenyataan yang sempat tertunda akibat pandemi, pada akhirnya datang juga.

Yang paling terlihat “runyam” dalam menghadapi situasi ini, ya si Yayang. Sebagai ibu si Kribo, ia yang merasa paling berat untuk menghadapi situasi bahwa putra kesayangannya sedang beranjak dewasa dan sedang meniti jalan menuju dunianya sendiri.

Si Kribonya sendiri bersemangat sekali karena ia seperti menatap dunia luas, yang jelas lebih luas dari kamarnya yang hanya 3 M X 3 M saja, apalagi “mungkin” ada gadis cantik yang sedang menantinya juga si suatu tempat.

Yah, kami menyadari bahwa sebentar lagi kami akan memasuki tahap baru lagi dalam siklus kami sebagai manusia.

Dulu pun kami hanya berdua, sebelum si Kribo lahir, dan sekarang kami akan kembali lagi berdua. Bedanya adalah dengan lebih banyak pengalaman dan kenangan.

Kami sudah tua. Yah, bagaimanapun usia kami sudah memasuki angka 50 (setidaknya saya).

Sebuah fakta yang tidak terbantahkan, meski banyak kawan dan tetangga mengatakan kalau kami tidak seperti berusia demikian. Pernyataan-pernyataan yang kerap membuat si Yayang senang, walau ia tahu ia juga sudah tua, seperti suaminya.

Apalagi, kemarin, dan beberapa hari sebelumnya, kami menyadari betapa badan kami semakin sering pegal-pegal, cepat capek juga kalau mengerjakan sesuatu. Tidak terbayangkan rasa badan si Yayang yang masih harus mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan suaminya yang keseringan males lebih sering berada di depan laptop (WFH soalnya, bukan males beneran).

Ia sering mengeluh kakinya sakit dan pegal. Keesokannya, mengatakan tangannya kayak disetrum. Besoknya lagi, kepala pusing. Hari berikutnya, telapak kaki minta dipijit. Setiap hari ada saja keluhan terhadap badannya.

Biasanya saya tersenyum dan nyengir. Bisa jadi rasa itu semua timbul karena keresahannya menghadapi situasi tak terelakkan, putra kesayangannya akan melangkah membangun dunianya sendiri. Jadi, semua terasa tidak enak.

Namun, saya juga menyadari ada yang tidak terelakkan, fisik kami pun menurun. Jauh sekali kondisinya dibandingkan belasan tahun sebelumnya dimana kami bisa melakukan sesuatu dalam jangka waktu yang panjang. Saat itu kami tidak mudah lelah.

Oleh karena itulah, suatu ketika, beberapa waktu yang lalu, ketika si Yayang mengeluh dan minta dipijit kakinya, saya tertawa .. “ngakak”.

Niii Niniiii. Jompo!“, kata saya sambil tertawa dan menyuruhnya telungkup untuk dipijit.

Ih mas jangan bilang gitu dong!”, timpalnya menyatakan ketidaksetujuan terhadap perkataan saya.

Lah, habis mau gimana lagi? Memang kenyataannya kita berdua sudah tua kok. Iya kan?“, tanya saya tidak mau kalah mengatakan faktanya.

Iya sih. Cuma ya nggak gitu banget dong. Kalau Nini kan kesannya kok kita sudah tuaaa banget. Padahal kan belum juga“, sahutnya sambil cemberut.

Tidak salah juga sih perkataannya. Di lingkungan tempat kami tinggal, masih banyak tetangga yang berusia lebih lanjut dari kami. Juga dari segi penampilan, kami bisa dikata memang terlihat lebih muda dari yang lain #tsah.

Dan, si Yayang kalau melihat wajahnya memang terlihat masih “cantik”, seperti ketika dulu pacaran #tsahlagi. Rupanya keseringan berantem dengan saya membuatnya agak awet muda.

Jadi, apa dong manggilnya?”, tanya saya terkait ia mau dipanggil apa.

Heem… Nican aja deh“, jawabnya setelah berpikir beberapa saat.

“Apaan tuh nican?“, bingung saya terhadap istilah yang dipakainya. Maklum, saya kurang gaul dengan bahasa ibu-ibu.

Nican itu Nini Cantik“, jawabnya sambil senyum dan kemudian tertawa.

Dan, saya pun ikut tertawa ngakak juga. Akhirnya, ia setuju menerima fakta bahwa ia sudah hampir sama tuanya dengan suaminya. Di sisi lain, panggilan itu memang juga tidak terkesan terlalu “tua”.

Lagi pula, seperti dibilang di atas, saya setuju bahwa ia memang cantik dan akan selalu demikian di mata saya.

Jadi, nican adalah panggilan yang pas sekali untuknya.

Meskipun kemudian saya bingung, panggilan apa yang harus saya buat untuk diri sendiri, tidak mungkin kan kican (Aki cantik) atau Kiteng (Aki ganteng). Tidak mau kalah juga saya sama kreatifnya si nican.

Akhirnya saya putuskan untuk mencarinya nanti saja. Toh, waktu kami nanti akan lebih banyak di kala si Kribo sedang di kamar kostnya. Saya akan punya waktu banyak yang bahkan mungkin terlalu banyak untuk berpikir.

Yang jelas, panggilan nican menandai bahwa kami sudah menyadari perjalanan kami akan segera memasuki tahap baru lagi. Tahap menjadi calon nini dan aki.

Belum resmi, tetapi kami sedang harus bersiap dan belajar tentang banyak hal.

Supaya setidaknya nanti kami bisa menjadi kakek dan nenek yang baik, bukan hanya ganteng dan cantik saja, bagi para cucu kami kelak.

(Bogor, 24 Mei 2021, ketika kepala sedang belum on untuk melakukan pekerjaan kantor)

6 thoughts on “Nican”

  1. Wahhh si Kribo udah mulai ngenalin cewek yg di taksir ya hihihi.

    Jangan terlalu dipikirin pak buat sebutannya. Pokoknya apapun sebutan untuk pak Anton nantinya minumnya teh botol sosro #ampuuun.

    Reply
  2. Kreatif juga tuh Nican 😍
    Kata nini sendiri banyak dipakai di berbagai daerah, termasuk di tempat saya.
    Pas denger kata kiteng, saya malah jadi pengen ketawa, hihi..
    Masih ada waktu untuk mempertimbangkannya.

    Reply

Leave a Comment