Sekretaris RT Bawel Bin Galak

Itulah saya.

Memang begitulah adanya. Saya adalah seorang pengurus RT dengan jabatan sekretaris di RT 008 RW 09, Bukit Cimanggu City, Kel. Mekar Wangi, Kec. Tanah Sareal, Kota Bogor, 16168.

Untuk ketiga kalinya, sejak cluster perumahan itu terbentuk, saya melakoni tugas sebagai seorang pengurus lingkungan. Masa tugas sekarang akan segera berakhir dalam beberapa minggu ke depan karena sudah diemban sejak tahun 2017.

Jangan tanya soal menyenangkan atau tidak karena mengurus warga itu sendiri tidak semudah yang dibayangkan. Padahal, dalam lingkungan dimana saya tinggal hanya ada 70 kepala keluarga saja. Segitu saja sudah bikin kepala nyut-nyutan dan tegangan sering tinggi.

Nggak kebayang ruwetnya pakde Jokowi ngurus ratusan juta orang.

Selama “menjabat” (keren banget yah istilahnya), sejak masa jabatan saya yang pertama, sampai yang ketiga yang sebentar lagi habis, bisa dikata saya terkenal sebagai orang paling bawel, keras kepala, dan galak. Kalau ada pembaca blog Maniak Menulis, yang juga saya asuh, pastinya akan bisa membayangkan seperti apa karakter saya karena memang tidak banyak beda.

Ceplas ceplos. Apa yang ada di pikiran biasanya langsung diungkapkan. Tidak peduli kalau omongan saya bisa bikin orang tersinggung, kalau didasarkan fakta dan yakin akan kebenarannya, saya akan sampaikan.

Keras kepala karena seringkali sulit untuk diyakinkan oleh pandangan orang kalau tanpa dasar yang jelas. Azas “suara mayoritas adalah suara Tuhan” tidak pernah menjadi anutan kalau yang mayoritas tidak bisa memberikan argumen dan landasan berpikir yang jelas.

Galak. Tidak peduli warga, tidak peduli sesama pengurus, bahkan tidak peduli Ketua RT-nya sekalipun, kalau tidak bisa bertindak sesuai aturan dan yang diharapkan, si sekretaris ini akan langsung menegur tanpa tedeng aling-aling.

Tidak heran banyak warga yang memilih “mingkem”, diam, dan sunyi senyap kalau sekretaris RT sudah keluar berkomentar terhadap satu situasi di lingkungan. Mungkin, mereka pilih cari aman daripada harus dipaksa berargumen.

Saya sendiri tidak heran kalau kemudian ada yang memandang bahwa sekretaris RT galak dan menyebalkan. Justru, kalau ada yang berpikiran berkebalikan dari itu, saya akan merasa heran. 

Sejak awal menerima penugasan ini, saya sadar bahwa semua tim butuh orang menyebalkan yang tidak peduli dengan pandangan orang. Butuh badak yang nggak peduli kanan kiri dan terus nyeruduk. Butuh orang yang akan dikecam orang lain, tapi bisa memastikan hambatan yang ada bisa diterobos.

Biasanya, tidak ada yang mau menjadi orang seperti ini. Tidak mau menjadi orang yang dipandang jelek oleh orang lain. Semuanya biasanya senang “bermain aman” atau “jaim (jaga image)”. 

Cenderungnya, kalau semua memilih cara ini, banyak masalah akan tertunda, terhambat, tidak selesai. Semua menjadi stagnan dan tidak ada kemajuan.

Sebuah tim, sebuah masyarakat, akan selalu butuh mereka yang berani menanggung resiko. Sebuah mesin tidak akan bergerak kalau tidak ada orang yang mau berkotor ria membersihkan dan merawatnya. Mesin butuh montir yang belepotan oli dan bukan mereka yang hanya sekedar duduk memberi perintah.

Fungsi itulah yang sejak awal sudah disadari.

Fungsi kerja kotor. 

Kerja Bakti, Bukit Cimanggu City, 2017

Kepada warga, saya memaksa mereka keluar dari kenyamanan rumah dan mau ikut memperhatikan lingkungan. 

Sebelum saya kembali bertugas, warga dininabobokan dengan kebiasaan menyuruh petugas keamanan untuk mengurus segala sesuatu, bahkan untuk meminta Surat Pengantar kepada RT saja, mereka menyuruh petugas yang melakukannya.

Hal itu saya paksa untuk kembali ke asal. Siapa yang butuh, dia yang harus datang sendiri. Lagipula, dengan datang sendiri ke sekretariat atau Ketua RT hal itu akan membantu terbangunnya komunikasi antara pengurus dan warga.

Jadi, saya suruh petugas keamanan menyampaikan kepada warga yang menyuruh agar menemui saya langsung. Kemudian, saya berikan pengumuman di WA grup warga bahwa siapapun yang hendak mengurus administrasi kependudukan, dia harus datang sendiri. 

Beberapa kali petugas keamanan tetap datang karena disuruh warga, dan saya suruh kembali dan saya tekankan bahwa itu bukan tugas mereka.

Via WA Grup yang sama, beberapa hari yang lalu saya menyentil ke seluruh warga saat persiapan Pergantian Pengurus. 

Selama masa tugas saya, tidak sedikit kritik, keluhan, hingga ceramah dan kuliah dari warga tentang bagaimana seharusnya mengelola sebuah RT. Tapi, ketika ditanyakan siapa yang mau menjadi pengurus berikutnya, semua diam seribu basa atau menolak.

Hasilnya adalah sentilan atau tamparan dari saya, karena saya mempertanyakan, “Kenapa selama ini bisa kritik, protes, mengeluh, dan bahkan menguliahi cara menata lingkungan yang baik, tetapi saat diminta membuktikan teorinya tidak mau? Tidak sinkron antara mulut dan tindakan” Saya sampaikan hal itu secara terbuka kepada warga.

Kepada sesama pengurus pun, saya keras. Jika tidak sesuai aturan, saya tidak ragu untuk menegur dan mempermasalahkan, bahkan di depan umum sekalipun. Tidak sekali dua kali Ketua RT mendapat semprotan dari saya karena keputusan yang diambilnya tidak sesuai aturan atau jika dia hanya menyampaikan info tanpa melakukan pengecekan untuk mengetahui rincian dan detailnya.

Berulangkali, saya mengejar dan memaksa Ketua RT keluar dari zona nyamannya, yang slow, lamban, kurang kreatif, dan tidak inisiatif. Bukan sekali dua kali, saya menegur bendahara karena lupa melaporkan posisi keuangan dan terlalu sibuk mengurusi pegawai.

Bagian yang lain pun tidak luput dari berbagai bawelan yang keluar dari saya.

Ada yang tersinggung?

Pasti.

Tamparan-tamparan seperti itu tadi, pasti akan membuat ada yang merasa sebal dan kesal kepada saya. Tidak akan ada orang yang senang diperlakukan demikian.

Sebuah resiko yang harus diambil.

Masalah pandangan orang kepada saya bukanlah sesuatu yang harus menjadi pikiran. Memang sih, bagi si yayang, kadang hal itu menjadi masalah sendiri karena dia tidak rela suaminya dipandang menyebalkan padahal seringnya kesalahan dilakukan oleh yang lain. Seringkali ia melarang saya untuk terlalu frontal dan keras kepala.

Kompromi mas. Ngalah. Udah diem aja. Itu pesan-pesan yang masuk kepada saya dari orang tersayang saya itu.

Cuma suaminya ndableg. Ngeyel. Keras kepala. Nggak mau nurut.

Bagi saya yang terpenting adalah tugas jalan, masalah selesai, dan warga akhirnya bisa menikmati. Pandangan negatif terhadap saya bukanlah masalah saya, itu masalah yang punya pandangan. Kenapa saya harus peduli? Selama sesuai aturan dan bisa dipertanggungjawabkan, ya saya jalan terus.

Yang penting pengurus RT bisa menjalankan tugasnya dan berkontribusi bagi lingkungan.

Silakan saja kalau ada yang mendapat nama harum dan baik akibat itu, saya juga tidak ambil pusing. Malah bagus berarti ke-pengurusan masa ini berjalan dengan baik. 

Dan, tidak masalah jika julukan sekretaris RT bawel bin galak tetap melekat pada diri saya.

Saya terima dengan senang hati.

Meski ternyata, bendahara justru menyampaikan bahwa beberapa ibu-ibu justru menilai beberapa tamparan yang saya berikan lewat WAG memiliki kebenaran. Banyak warga juga menilai apa yang saya lakukan justru diperlukan untuk mengubah dan memperbaiki lingkungan.

Sesuatu yang membesarkan hati. Rupanya cukup banyak warga juga yang bisa melihat tujuan dari sebuah pernyataan atau tindakan. Mereka bisa menilai secara logis berdasarkan data dan fakta. Respon mereka juga justru menjadi positif dalam bentuk pernyataan atau tindakan.

Sesuatu yang memang saya harapkan.

Saya tidak akan pernah bisa mendapatkan semua. Sebagian warga yang menjadi termotivasi dan merasa tergerak sudah lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Pada saatnya, kesadaran itu akan penting bagi lingkungan dimana kami tinggal, baik kini atau di masa depan.

Memang, ada ongkosnya. Saya harus menjadi orang yang “menyebalkan”, tetapi bila hal itu bisa menghasilkan kesadaran dan keterlibatan warga dalam memperbaiki lingkungan, saya rasa ongkosnya murah sekali.

Tidak mahal.

Walau untungnya, masa menjadi Sekretaris RT yang GALAK akan segera berakhir. Satu juli 2020 nanti, masa tugas saya selesai, dan saya bisa kembali menjadi warga yang diurus oleh pengurus. 

Apakah mau lagi menjadi pengurus RT di masa datang? Entahlah. Tidak tahu. Saat ini rasanya capek sekali ngurus warga itu.

Saya ingin istirahat dulu.

Untuk ke depan, bagaimana nanti saja.

13 thoughts on “Sekretaris RT Bawel Bin Galak”

  1. Wah mas Anton keren, bisa menggerakkan warga RT untuk kerja bakti.

    Kami satu cluster berada dalam naungan satu RW dengan jumlah KK hampir 200. Satu RT kira kira 50 an rumah tangga. Kami tidak ada grup RT, melainkan langsung grup RW. Grup WA kami isinya lucu lucu, kadang ada warga yang mencari kucingnya yang hilang, ada yang nawarin dagangan, dan ada pak RW yang sangat telaten sosialisasi isu isu terbaru.

    Saya sering kebagian tugas jadi petugas TPS kalau ada pemilu/pilkada, tukang bikin kuesioner dan laporan untuk warga. Terakhir terlibat dalam Gugus Tugas COVID, dimana saya bertugas menyusun kuesioner dan mengumpulkan data warga terkait kegiatan dan faktor risiko COVID di lingkungan kami. Dengan adanya WA grup kami jadi komunikasiya lebih enak.

    Sebentar lagi pensiun di RT, siapa tahu dipromosikan jadi Sekretaris RW mas, oopsss

    Reply
  2. hahaha.. pan memang tugasnya gitu maksa warga bangun tuk kerja bakti.

    Gede amat mas clusternya. Dua ratus. Pasti seru deh tuh isi 200 KK mah.. Asal jangan ada yang nyari suami atau istri yang hilang saja yah.

    Eang betul WAG bikin lebih cepat. Ternyata mas Cipu juga aktif di lingkungan yah. top dah.

    Ogaaaahhhh… ciaappeekkk…. ini mau pensiun…. capeekkk

    Reply
  3. Wakakakakaka.. Kok tahu sih mas, Saya memang niatnya pensiun supaya punya waktu agak banyakan buat menulis… BIar bacaannya ga seger, tetap saja saya bakalan nulis lebih banyak

    Reply
  4. Keren mas Anton. Sedikit lo orang yang mau diamanahi jadi pengurus rt/rw.
    Apalagi kalo melakoni gaya menyebalkan yang mungkin jadi banyak yang gk suka heheeh

    Reply
  5. Saya sih sepakat dengan perkataan bu Kumendan " Kompromi mas…. Ngalah….. Udah diem aja ". Walau untuk mengatur orang banyak itu sebenarnya susah juga, kalau ngak pakai sikit esmosi.hahaha.

    Ohy , ngomong – ngomong…… " kok aura wajah warga di foto No.02 dan NO.03 kayak asem dan pucat pasi gitu yah ?? Apa ada kaitannya dengan sifat si Sekretaris yangg… gitu dehhhh,hahaha……..

    Saran saya sih, Pak Anton maju lagi jadi sekretaris, bila perlu jadi Pak RT-nya.Saya dukung loh yah… 🙂

    Reply
  6. Wajah warga yang asem dan pucat itu memang mungkin ada kaitannya sama sekretaris yang bawel bin galak. Mereka mungkin malas tapi kepaksa takut dicerewetin… Hahahaha

    Untungnya, kejadian sebenarnya tidak begitu sih. Warga sebenarnya baik-baik saja, cuma mungkin pekerjaan yang dilakukan di lapangan menguras tenaga mereka yang kebanyakan pekerja kantoran. Jadilah agak asem .. sambil bingung mau kabur tapi ga bisa..

    😀

    Reply
  7. Di tempat tinggal saya sekarang nggak ada RT RW mas jadi nggak ada perkumpulan warga, tapi saya bisa related sama sekretaris galak karena salah satu team saya ada yang mirip mas Anton jabatannya 😆 dia ini cewek, tegas, lugas, judes, galak, pokoknya yang pahit-pahit ada di dia sampai staff paling malas kalau berurusan sama dia, tapi dia juga yang sebenarnya berperan penting dalam roda usaha yang dijalankan 😁

    Cuma ya begitu, dia ambil resiko meski dianggap menyebalkan agar usaha tetap berjalan sebagaimana mestinya, dan saya sangat kagum sama sosok dia (dan mas Anton) yang mau ambil resiko demi kepentingan bersama walau kebanyakan orang mungkin nggak sadar betapa pentingnya peran dia dan mas Anton dalam sebuah group karena sudah pada baper dan kesal duluan 🤭✌ Saya doakan semoga mas Anton bisa naik jadi Pak RT yaaah, atau Pak RW sekalian ahahahaa. Tapi kalau mas Anton mau istirahat, saya dukung juga biar bisa lebih sering berbagi cerita seru di blog seperti sekarang 😆🎉

    Reply
  8. Toolonnng jangan doain jadi Ketua RT atau RW dong.. hikkss.. cuapeek.. hahahahahahaha

    Doain supaya brenti jadi pengurus RT biar saya bisa nulis banyakan ..itu lebih didukung.. wkwkwkwkw

    atau doain bisa pindah ke dekat mbak Eno yang ga ada RT RWnya.. kayaknya enak tuh.

    Dalam satu tim, memang perlu orang-orang yang mau melakukan kerja "kotor" seperti itu mbak. Mereka bisa jadi penggebuk dengan gaya mereka. Cuma kadang capek juga ….

    Reply
  9. Termasuk saya orang yang dicap paling menyebalkan di lingkungan sekolah. Kadang saya saat rapat dijadikan tim promosi dan marketing. PAdahal kan saya guru kok disuruh kayak gitu. Dan itu seharusnya sekolah yg bayar karyawan khusus untuk marketing sekolah. Saya menjelaskan ke smua peserta rapat. Banyak dari rekan2 yang kepalanya ‘panas” mendengar ocehan saya. Dan sepertinya mereka tidak nyaman dengan komentar sy yang asal nyeplos kayak mas anton…hehe…tapi saya seneng dengan yang saya lakukan selama itu realistis dan memberi pembelajaran kepada pihak sekolah agar tidak memanfaatkan energi orang lain secara “gratisan”..hehe

    Reply
    • Semangat mas Wahid… Tidak masalah kerjaan jenis apa.. jalani saja.. Justru mas diberi kesempatan belajar sesuatu yang baru..

      Soal tidak nyaman, ya itu resiko jadi orang seperti kita mas.. Bakalan banyak tidak disukai, tetapi jangan sampai kita merubah karakter kita hanya demi orang lain.. jalani saja mas

      Reply

Leave a Comment