Tutup Buku

Nostalgia SMA kita
Indah lucu banyak cerita
Masa-masa remaja ceria
Masa paling indah…

Nostalgia SMA ~ Paramitha Rusady

Masa SMA.

Masa yang paling banyak diingat orang dibandingkan dengan masa-masa bersekolah lainnya. Sekolah pada masa itu rasanya menjadi sebuah tempat yang “menyenangkan”.

Bukan karena pelajarannya. Pelajaran dan guru terkadang tetap menyebalkan seperti biasa.

Banyak sekali hal yang terlihat “lebih menarik”.

Mungkin, semua itu karena orangtua yang sudah memberikan kebebasan “lebih” kepada anak mereka. Bukan tidak mungkin juga karena hormon membuat diri remaja di tingkat usia tersebut merasa dirinya sudah dewasa.

Entahlah, yang mana penyebabnya, tetapi ada satu hal yang rasanya paling membuat SMA menjadi menarik.

Kisah kasih di SMA.

Bukan tanpa alasan tokoh Dilan & Milea atau Galih & Ratna dilahirkan dengan memakai setting masa SMA. Pembuatnya pasti menyadari bahwa kisah cinta anak SMA itu memiliki nilai jual yang luas.

Bukan hanya anak-anak SMA saja yang menjadi target, tetapi juga mereka yang pernah melalui jenjang SMA dan ingin bernostalgia ke masa itu. Yang belum SMA pun akan dibuat ingin segera menikmati keindahan masa SMA.

Apalagi kalau dikemas dengan baik, sebuah kisah cinta masa SMA sudah pasti akan mengharu biru perasaan. Banyak orang akan merepresentasikan diri mereka ke dalam tokoh yang digambarkan.

Bagaimanapun, mayoritas orang pernah melalui masa tersebut dan biasanya akan memiliki kisah cinta masing-masing.

Sayangnya, saya tidak punya kisah kasih itu.

Di masa SMA, saya adalah seorang, yang kalau memakai istilah masa kini disebut Jones, Jomblo Ngenes, alias tanpa pacar.

Bukan karena terlalu sibuk belajar dan kutu buku. Tetap saja, ada keinginan untuk berjalan berdua seperti syair dalam lagu Paramitha Rusady.

Hanya saja, sebuah kesalahpahaman membuat kisah itu tidak pernah terwujud.

Si Imut

1987-1989

Panggil saja si Imut.

Memang begitulah panggilan saya dan teman lain kepadanya semasa SMA.

Teman sekelas sejak kelas 2 SMA di SMA Negeri 1 Bogor ini memang bertubuh mungil. Mukanya yang imut dan kekanakan membuat kami sekelas, baik pria maupun wanita, hampir aklamasi menyematkan label imut kepadanya dan bahkan kadang memanggilnya dengan cara itu.

Rambut sebahunya kerap dikuncir kuda yang kalau ia berjalan akan bergoyang ke kanan dan kiri. Mata yang belo mirip ikan mas koki menambah kuat kesan anak SD yang salah masuk kelas.

Wajahnya selalu menunduk kalau berjalan. Kalau digoda teman cowok, kepalanya akan semakin tertunduk.

Saat berbicara, tangannya akan bergerak mengikuti aliran kata yang keluar dari mulut mungilnya.

Pendiam saat berhadapan dengan kawan pria yang lain, tetapi cerewet kalau sedang ngobrol bersama saya.

Itulah si imut.

Seorang kawan sekelas sejak kelas dua SMA. Seorang gadis yang membuat saya sering berangkat pagi ke sekolah karena saya tahu ia suka sekali datang pagi.

Mau ada jadwal piket atau tidak, saya akan datang sekitar pukul 06.00-06.15, sekedar mencuri 15-20 menit untuk bisa ngobrol bareng dengannya, tentang banyak hal yang seringnya tidak penting. Mulai dari tanaman, hobinya, dan banyak lagi hal-hal remeh lainnya.

Walau tidak jarang juga untuk mencontek PR darinya karena saya memang malas sekali di masa itu, dan dia termasuk anak rajin.

Kami memang teman akrab. Paling tidak begitulah pandangan kami berdua tentang hubungan kami.

Saya adalah “pengawal”nya dalam setiap acara. Biasanya kalau ada dia, maka saya pun akan ada di sana.

Baik untuk karyawisata atau kegiatan kelompok, kami selalu berada dalam satu kelompok (meski ada alasan lain karena biasanya dia yang mengerjakan laporan dan pekerjaan lainnya, saya yang menonton dan menyemangati).

Keluarganya pun sudah mengenal saya karena beberapa kali sempat main ke rumahnya di Asrama IPB yang ditinggali keluarganya karena bapaknya dosen. Adiknya pun sudah akrab dengan saya dan bahkan ibunya kerap ikut ngobrol, terutama karena tertarik dengan cerita saya yang punya ibu penggemar tanaman seperti dirinya.

Kawan akrab. Sohib. Teman dekat.

“Dekat” karena ia banyak bercerita tentang cerita-cerita personalnya yang tidak pernah diceritakannya kepada kawan yang lain, kecuali saya. (Setidaknya begitu menurut saya)

Dan, saya suka mendengarkannya saat mode cerewetnya sedang hadir. Suka melihat gerak tangannya saat berceloteh. Suka melihat wajah imutnya.

Tidak jarang juga, saya menjahilinya supaya bisa melihat rengutan khasnya keluar.

Yah, we are close.

Teman dekat saja.

Karena memang tidak ada ungkapan rasa suka, tidak ada adegan romantis lainnya. Tidak ada apapun yang menunjukkan adanya kisah kasih antar dua anak SMA.

Sekedar dua teman akrab yang kadang saling mentraktir Beng Beng, jajanan yang terjangkau uang saku yang terbatas.

Apalagi, di kelas tiga, suatu saat saya pernah melihatnya diantar pulang oleh teman pria lainnya, sebut saja si C.

Tidak lama berselang, saya mendengar kabar, si Imut sudah jadian dengan teman itu.

Teman-teman sekelas pun ramai membicarakannya.

Saya memilih diam saja. Apalagi tidak ada bantahan keluar dari si Imut dan saya anggap hal itu benar terjadi.

Setelah mendengar kabar itu, saya merubah sikap sedikit terhadapnya.

Tidak banyak dan saya tetap bangun dan berangkat pagi ke sekolah untuk mengobrol. Bagaimanapun, sebagai seorang teman dekat, saya tidak boleh merubah sikap hanya karena ia sudah memiliki pasangan.

Teman dekat ya teman dekat. Terlepas dari ia sudah punya pacar, saya tetap adalah pengawal dan teman dekatnya.

Cuma, saya mulai meluangkan waktu lebih banyak di kegiatan Pramuka. Tentunya, sambil ngeceng dan melirik yang imut-imut dan bening-bening lainnya. Apalagi banyak adik kelas yang tidak kalah cantiknya di masa itu.

Saya berpikir, tidak baik juga kalau terlalu dekat dengan pacar teman. Takutnya malah disangka macam-macam.

Jadilah, saya alihkan sedikit waktu ke kegiatan lain dan mengurangi waktu untuk si Imut.

Untungnya, sebagai kakak senior pembimbing, saya ternyata dianggap cukup baik dan ramah. Adik-adik kelas (terutama yang cewek) itu sering muncul di pintu kelas untuk bertanya ini dan itu atau berdiskusi.

Tentunya, sebagai kakak kelas yang baik (dan supaya terlihat cool dan keren), saya pun akan menghampiri mereka, menjawab pertanyaan dan kemudian bercanda.

Tidak jarang, kalaupun sedang ngobrol dengan si Imut pun, saat itu juga saya akan pamit dan beranjak menemui mereka.

Situasi yang terus bertahan sampai saatnya berpisah tiba.

Saya duduk di sebelahnya di gedung pertemuan saat acara perpisahan. Sesuatu yang menyenangkan sekaligus bikin kacau balau perasaan. Meski akhirnya, perpisahan berlalu tanpa ada peristiwa spesial apapun yang terjadi.

Sesudah perpisahan, saya mengetahui Ia memutuskan untuk kuliah di Universitas Soedirman. Sedangkan saya, karena keberuntungan, bisa berjaket kuning.

Tetap ada rasa galau ketika saat harus berpisah dengan seorang kawan yang sudah begitu akrab dan dekat. Apalagi karena ada “sesuatu” di hati saya yang tidak terungkapkan.

Tidak ada jalan bareng bergandeng tangan. Tidak ada janji romantis. Tidak ada ungkapan sayang atau cinta terucap. Tidak ada wakuncar (waktu kunjung pacar) di malam Minggu (dan memang tidak pernah saya lakukan seterusnya).

Karena memang tidak ada kisah cinta yang saya alami di SMA.

Roman kisah cinta SMA saya hanya sampai pada kata “tidak terucap”.

Reuni

2015

Reuni.

Sebuah kata yang akan membuat banyak orang berusia 45 ke atas gembira. Event yang memberikan menghadirkan kesempatan untuk bernostalgia dan sejenak hidup kembali di masa lalu.

Bukan kata favorit saya.

Sebagai orang yang terbiasa memandang lurus ke depan, menengok ke belakang bukanlah sesuatu yang disukai. Mengingat dan mengenang bukanlah sebuah masalah, tetapi “kembali” hidup di masa lalu bukanlah sesuatu yang saya suka.

Tapi, karena beberapa teman meminta dan kebetulan, saya bisa memotret, jadilah saya terpaksa harus bergabung dan tim kecil, yang termasuk di dalamnya adalah si Imut.

Sebelum acara, saya dimasukkan dalam ke sebuah WAG berisi rekan-rekan sekelas dulu.

Semangat reuni sudah terasa sekali dalam grup WA dimana setiap kenangan masa lalu diungkit dan diulik-ulik lagi.

Ketika, salah seorang teman meledek si Imut dan si C, semua pada akhirnya pun ikut bercanda dan meledek, termasuk saya.

Tidak disangka, teman yang memulai candaan itu tiba-tiba nyeletuk, “Ah, elu Ton. Elu juga ngincer si Imut kan, cuma keduluan sama si C“.

Upss. Rupanya ada yang memperhatikan gerak gerik saya semasa SMA juga.

Saya menjawabnya dengan sederhana sekali dan mungkin tidak disangka oleh semua orang. Jawab saya, “Iya betul. Memang waktu itu saya suka sama si Imut”.

Nekat? Bukan sebenarnya. Karena saya menganggap masa lalu adalah masa lalu. Saya mengakuinya hanya sebagai fakta saja, memang pada saat masa SMA, meski tidak terucap, saya menyukainya.

Yang lain terdiam. Tidak ada komentar dari si Imut sendiri.

Tidak berapa lama berselang, sebagai sesama anggota panitia, dia sebagai bendahara, mau tidak mau saya harus menghubunginya karena suatu hal.

Saat turun di stasiun sepulang kerja, saya menelponnya karena tidak sempat melakukannya di kantor.

Setelah membahas persiapan reuni, saya menyempatkan diri untuk meledeknya, “Mut, tenang ntar mantan pacarmu katanya mau mengusahakan datang kok

Memang siapa yang pacaran?”, suaranya di telpon terdengar sewot.

Lah, ya masak lupa Mut?“, tetap saya meledeknya sambil tertawa.

Ih, siapa yang jadi pacar dia, siapa yang mau juga“, tanggapnya masih dengan nada kesal.

Lah, kan kamu waktu itu aku lihat pulang bareng sama si C?”, tetap saja saya masih nyengir dan berusaha meledek.

Itu mah kerjaan teman-teman saja. Tahu-tahu dia sudah menunggu di depan kelas dan terus pulang bareng saja“, sahutnya dengan cepat.

Dia tidak pernah bilang suka. Kalaupun bilang, saya juga nggak bakalan nerima“, sambungnya.

Belum sempat saya merespon, ia sudah menyambung lagi dengan sebuah pertanyaan.

Ton, kamu memang betul dulu suka sama saya, seperti yang kamu bilang di grup?”

Iya, memang“, jawab saya tanpa ragu karena memang begitulah adanya.

Kok, nggak bilang?”, tanya si Imut.

“Yah, kan harus sadar diri atuh Mut. Kan nggak bagus temen makan temen. Kamu sudah punya pacar, ya sudah, masa saya harus ganggu sih“, jawab saya sambil geleng-geleng kepala.

Idih, siapa juga pacaran. Boro-boro

Kamu tahu nggak? Dulu tuh, saya paling sebel banget kalau lihat adik-adik pramuka datang ke kelas dan manggil kamu. Sebel!”, celetuknya.

Memang kenapa?”, dengan begonya saya bertanya.

Iyah, karena aku waktu itu suka kamu“, jawabnya blak-blakan.

Lah..”, saya hanya bisa bengong dan bingung karena menghadapi situasi tak terduga.

Setelah diam sejenak, saya mendengarkannya bercerita, bahwa pernah saat libur kuliah ia hadir di acara buka puasa bersama dengan kawan-kawan SMA. Ia sempat menanyakan saya (karena saya tidak datang dan memang malas datang.

Hanya, saat itu saya sudah menjalin hubungan dengan salah satu teman SMA lainnya (Baca : Cinta + Patah Hati + Balas Dendam). Teman-teman yang lain memberitahukannya tentang itu.

Ia menjelaskan, setelah itu akhirnya ia memutuskan untuk melupakan dan move on. Menutup buku cintanya.

Saya cuma bisa tambah bengong.

Dan, saya pulang malam itu dengan segala kenangan masa SMA yang seperti diputar ulang.

CLBK – No way

Begitulah slogan reuni kami di tahun 2015. Banyak dari kami yang datang saat reuni punya kisah masing-masing di masa SMA. Ada yang kisah kasihnya terjalin, meski putus selepas SMA.

Saya pun punya kisah sendiri, yang tidak diketahui.

Tema diambil karena menyadari bahwa reuni, meski menyenangkan mengandung bahaya tersendiri. Kemampuannya memutar ulang masa-masa manis kerap menggiring orang melakukan tindakan nekat sekedar untuk menikmati manisnya masa itu.

Dorongan itu besar sekali kalau tidak bijak dihadapi.

Dan, saya pun setuju sekali dengan pandangan itu.

Saya menyukai si Imut di masa lalu, tetapi tidak sekarang.

Tidak ada tempat lagi di hati saya untuk si Imut. Tempat itu sudah penuh untuk dua orang kesayangan saya, si Yayang dan si Kribo.

Tapi, saya menyadari sekali betapa “bahaya” itu akan tetap ada karena buku romansa masa SMA kami sedikit tersibak.

Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mencari waktu berbicara dengan si Imut setelah reuni. Untuk menutup kembali bukunya dan tidak membiarkannya terbuka.

Saya juga tidak ingin kawan-kawan yang lain berpandangan terjadi “sesuatu” antara saya dan si Imut sekarang. Bukan sesuatu yang baik kalau sampai terjadi.

Sebagai jalan keluar, saya merasa harus berbicara langsung secara tatap muka dengannya saat atau setelah reuni. Meng-clearkan semua dengan orangnya langsung.

Kesempatan itu tidak ada saat reuni karena semua orang sibuk berbicara dan bercerita. Barulah setelah acara berakhir, kesempatan itu ada.

Dari semua kawan sekelas yang hadir, ada yang tidak membawa kendaraan sedangkan lokasinya jauh dari angkutan umum. Jadilah, sebagai panitia, kami harus berbagi tugas mengantar.

Salah seorang di antara mereka adalah si Imut sendiri. Suaminya, seorang camat di Bogor, yang juga teman lain kelas semasa SMA, harus berdinas ke sebuah tempat. Ia hanya bisa mengantar tapi tidak bisa menjemput.

Saya mendapat tugas mengantar dua orang teman, termasuk si Imut pulang. Setelah mengantar rekan yang satu ke rumah, saya memanfaatkan waktu saat menuju rumah si Imut untuk berbincang dengannya.

Cerita-cerita yang kami sama sekali tidak tahu kejelasannya di masa lalu mengalir terungkap di saat itu.

Banyak sekali “Oooh gitu” keluar dari mulut kami saat saling mendengar cerita masing-masing.

Tidak jarang kami tertawa ngakak ketika mengetahui kebodohan kami yang sama-sama tidak terbuka satu dengan yang lain.

Tetapi, pada akhirnya, kami sepakat bahwa “buku kisah cinta SMA” kami harus ditutup dan kemudian dikubur dalam-dalam. Kesepakatan yang tidak susah dicapai karena rupanya, si Imut pun menyadari hal yang sama bahwa buku itu tidak boleh terbuka dan harus tetap tertutup.

Tidak ada yang perlu diulang. Semua sudah berlalu. Tidak ada yang boleh tahu juga.

Kami sudah punya jalan masing-masing dan punya orang-orang yang kami sayangi. Rasa yang lebih dari rasa saling suka antar dua anak SMA. Rasa yang lebih dalam.

Kami juga memiliki orang-orang yang terlalu berharga untuk dikorbankan hanya karena sekedar untuk sejenak kembali menikmati manisnya masa lalu.

Buku itu harus ditutup dan tidak akan pernah terbuka lagi.

Kami masih tetap berhubungan lewat WA, termasuk dengan teman-teman yang lain. Tetapi, tidak ada lagi pembahasan mengenai kisah masa lalu. Tidak ada ledekan-ledekan yang mengarah kesana dan memungkinkan buku itu terbuka kembali.

Yang ada adalah percakapan tentang “eh anakmu sekolah dimana”, atau hal-hal lain terkait keluarga atau kegiatan masing-masing saja. Tidak ada lagi celetukan bernada nostalgia membahas kisah berdua di masa lalu.

♥♥♥♥♥

Seorang kawan tim panitia pernah bertanya dengan hati-hati kepada saya setelah acara, “Ton, nggak ada apa-apa kan?” Maksudnya antara saya dengan si Imut.

Saya jawab dengan sangat yakin, “Pasti! Nggak ada apa-apa. Bukunya sudah ditutup

Memang begitulah adanya. Dan, saya bisa yakin karena memang rasa yang dulu saya miliki kepada si Imut sudah tidak ada lagi. Rasa itu sudah terhapus waktu dan juga karena sekarang saya sudah memberikannya kepada si Yayang, wanita yang sudah bersama saya hampir 20 tahun.

Semuanya. Tidak ada sisa sedikitpun.

Itulah mengapa saya percaya diri bahwa memang tidak ada yang namanya CLBK, setidaknya dalam diri sendiri.

Lagipula, saya lebih suka menatap ke depan.

Bukan mengorek lembaran buku masa lalu yang sudah ditutup dan dikubur dalam dalam.

(Bogor, 18 Nopember 2020. Tapi, ternyata keberadaan buku itu diketahui oleh orang lain, si Yayang, karena saya memutuskan untuk menceritakannya, dan tentunya siapapun yang membaca tulisan ini)

9 thoughts on “Tutup Buku”

  1. Tadinya mau komentar di MM, Melihat ada post baru di si Anton mending kita berkomentar disini..🤣 🤣

    Ciiieeeeiilleehh..wuuihh lagunye Paramitha Rusady… Kurang lengkap tuh kong..🤣 🤣 Hayoo ulang dimulai dari nada C.🤣 🤣

    C G
    Kau bercanda lucunya
    A# F
    Yang lain pun tertawa
    Dm G Em
    Seakan saja
    Am Dm G Em Am
    Cerita dan canda kita
    Dm G C
    Tiada habisnya

    C G
    Ada yang saling cinta
    A# F
    Bermesra di sekolah
    Dm G Em
    Selalu berdua
    Am Dm G Em Am
    Berjalan di sela-sela
    Dm G Em Am
    Rumput sekolah kita
    F G C
    Oh indahnya….Lanjutin sendiri..🤣 🤣 🤣

    Yaa, Bicara soal kisah kasih disekolah Baik SMA atau STM Atau SMEA…Kalau dipikir2 Yang pacaran mah pacaran. Yang Jones yaa tetap Jones…Yang memendam cinta yaa tetap memendam. Berani ungkapin pas sudah lulus atau sudah punya keluarga masing2.🤣 🤣

    Dulu kelas 2 STM gw pernah menyesal masuk STM….Alasannya nggak ada ceweknya.🤣 🤣 Terkadang merasa iri sama anak SMEA atau SMA…Padahal mah sama saja sebenarnya..🤣 🤣 Tapi gw tetap bersyukur kong Meski STM gw tetap jor2,ran Goda2 anak SMA, SMEA, Dan SMIP Sekalipun demi mendapatkan pacar. Walau harus kebabalasan juga punya pacar disana, Sini..Yaa hampir sama kaya dirimu, Cuma bedanya gw nggak memendam. Suka bilang suka…Nggak yaa bilang tidaklah… Tapi kalau udah putus cinta zaman Sekolah dulu kalau menurut gw nggak ada bedanya sama yang jones atau yang memendam cinta.🤣 🤣

    Tapi semua itu tetap kenangan indah dimana kita masih berseragam putih abu2..😊😊 Dikubur atau tidaknya yaa tergantung diri kita saja…Kalau gw masalah pacar disekolah dulu, Atau mantan semua gw ceritakan ke istri. Beruntung istri punya pemikiran dewasa jadi nggak mesti melulu resah atau terbebani kalau gwnya ketemu mantan.😊😊

    Berarti ente sama kaya gw…Punya group WA teman sekolah dari SD,SMP, Sampai STM…Meski pas ngumpul kadang suka pada nyebelin karena dadakan waktunya..😊

    Photomu yang mana kong…Jangan2 ngumpet lagi ketakutan sama si Mumun..🤣🤣🤣

    Reply
    • Hahahahah.. iya lah kan memang lagu legendaris masa SMA Tong… wakakakakkaka Iyah iyah tau lengkapnya tapi masa gue isi cuma sama syair lagu.

      Pasti Tong, setiap orang akan memilki kisah sendiri-sendiri dan ada yang cuma dipendem ada yang berhasil dan ada yang gagal. Namanya tetap saja kisah sejarah.. wakakakakakaka

      Gue juga menceritakan semua, cuma yang ini kan gue kagak pernah pacaran Tong, jadi ya lewat sajah. Tapi setelah itu, ya diceritain juga dan ga ada masalah sebenarnya.. Bukan disembunyikan cuma kalo diceritaian sepanjang sejarah mah ya abis 50 buku.. wakakakakakakka

      Gue kagak ada disitu…. eeta mah temen-temen doang …

      Reply
  2. Waaah pak Anton itu beneran bahaya, aku dugdugan dong bacanya, apakah akan ada yang akan berharap setelah mengetahui fakta saat SMA dulu? Walau pun aku yakin sama pak Anton, tapi ini tetap bahaya, haha.

    Mungkin karena inilah masa lalu harus selesai, karena kalau nggak selesai bisa jadi boomerang di masa mendatang, gitu nggak sih pak? 😂😂

    Betewe, dari potret di atas pak Anton yang mana ya? Hahaha penasaran 😁😁

    Reply
    • Iya Sovia, yang saya rasakan bukan berharap tapi khawatir, bahaya. Saya nggak kepikiran sama sekali tuk kembali. Cuma saya melihat bahaya dari sisi satunya. Makanya harus dilakukan penyelesaian dan eliminasi bahaya. Untungnya ternyata dari sisi lain pandangannya sama dan penyelesaian jadi mudah.

      Kadang keadaan yang membuat masa lalu tidak selesai Sovia.. Kita tidak bisa memastikan. Yang diperlukan sih kebijaksanaan dan pikiran logis saat masa lalu itu kembali di hadapan kita.

      Kisah ini terjadi tahun 2015 dan berarti sudah lima tahun berlalu. Keputusan yang diambil ternyata berjalan dengan baik dan tanpa merusak hubungan pertemanan. Langkah lanjutan setelah itu, ya saya menceritakan semuanya ke si Yayang yang bisa mengerti dan memahami. Tidak mempermasalahkan.. Bahaya berhasil dieliminasi dan tidak menimbulkan konflik apapun… Makanya saya berani cerita…

      Ga ada…. kalau mau lihat saya masa SMA, bisa lihat di tulisan sebelumnya. Itupun harus nebak yang mana.. wakakakakak

      Reply
  3. Kak, aku baru menemukan waktu yang tepat untuk membaca blog ini. Seperti yang aku bilang sebelumnya, kalau baca blog Si Anton harus meluangkan waktu sendiri karena udah mirip baca novel 🤭 nggak bisa diburu-buru karena aku ingin menikmati setiap lekuk tulisannya hahaha. Aku baru selesai merapel baca tulisan di blog ini dari mulai Si Fit hingga cerita Tutup Buku ini 😁. Izinkan aku berkomentar rapelan juga ya hahaha

    Tentang Si Fit. Aku jadi ingat motor papaku, motor Honda Legenda yang merupakan motor pertama keluarga kami. Motor yang sangat kuat, bahkan pernah membonceng kami sekeluarga, b5 naik motor tersebut hahahaha. Saat itu, aku dan adik-adik masih agak kecil jadi masih bisa diselip-selip duduknya. Motor itu menemani sampai belasan tahun juga. Jok bangku udah diubah oleh papa menjadi jok yang super empuk. Waktu aku SMA, setiap hari aku bawa motor itu sebagai kendaraanku. Teman-teman selalu suka naik motor jadul itu karena katanya jok motor ini empuk sekali seperti sofa hahaha. Sebenarnya ada motor baru saat aku SMA, tapi 2/3x aku coba bawa ke sekolah, rasanya kok nggak nyaman ya hati ini membawa barang baru. Akhirnya aku putuskan memilih membawa motor Legenda itu ke sekolah dan beberapa kali saat kuliah. Walaupun udah diplester sana sini karena udah sakit dan tuwir tapi aku tetap sayang sama motor itu karena sama seperti Kakak, banyak kenangannya. Namun, sekitar tahun lalu, motor itu dijual ke orang yang lebih akan menggunakannya dibanding kami. Di sini, motor itu hanya jadi pajangan karena kami udah punya motor lain. So, motor itu harus direlakan tapi kenangannya tak lekang oleh waktu eaaaa.

    Mengenai IRT, di rumahku pernah ada pakai beberapa IRT. Rata-rata yang kerja di sini termasuk betah, berhenti karena dipaksa keluarga di kampung menikah atau diambil tetangga hahahaha. Kalau boleh sombong sedikit, meskipun hidup kami sederhana, tapi IRT yang kerja di rumah kami, selalu kami perlakukan seperti anggota keluarga bahkan diperbolehkan duduk di sofa atau makan di meja makan. Malah kalau si emba duduk di lantai, kami yang jadi segen. Rumah kami jadi terkenal di kalangan orang kampung si emba sampai katanya 1 kampung kenal kami dan nggak susah nyari pengganti karena banyak yang mau kerja di rumah kami yang sederhana ini hahaha. Malah ada 1 emba yang sangat kami ingat karena pernah bekerja semenjak masih abg lalu harus menikah sehingga berhenti kerja lalu kembali ke rumah kami saat beberapa lama setelah menikah dan akhirnya harus berhenti karena hamil dan nggak pernah kembali hingga sekarang. Mamaku kadang suka kepikiran, gimana kabar si emba sekarang ya? Semoga si emba sehat-sehat selalu di kampung.

    Perihal tutup buku. Baru aja aku selesai baca novel nyesek, terus baca tulisan Kak Anton jadi nyesek juga wkwkwk dan aku jadi ingin bilang kenapa kisah Kakak seperti di novel yang aku baca?! Mirip banget wkwkwk. Aku salut dengan cara Kakak dan Kak Imut menyikapi ini semua saat tersingkap. Kadang kan banyak orang yang jadi baper gitu, tapi Kakak-kakak berbeda, malah sepakat untuk tutup buku dan tutup mulut hahahaha. So, aku salut dengan cara Kakak-kakak dalam menyikapinya!

    Anyway, jadi panjang ini komentar karena dirapel wkwkwk. Maafkan karena jadi ikutan cerita, soalnya tulisan Kak Anton jadi membuat aku nostalgia juga hiahahaha.

    Reply
    • Makanya dimasukkan ke kolom nostalgia, memang tujuannya mengajak orang menengok ke belakang sedikit tentang perjalanan hidup Kakak Peri…

      1. Legenda : ahhh saya tahu betapa tangguhnya itu motor dan bener Lia bahwa sejatinya, motor itu bukan lagi sekedar motor tapi menjadi pencatat cerita dan kenangan perjalanan hidup. Makanya pasti berat melepas.. tapi yah begitulah tidak ada pesta yang tidak berakhir

      2. IRT : bagaimanapun mereka pernah menajdi bagian keluarga kita Lia dan mewarnai kehidupan kita. Makanya pasti ada “rasa” karena keterikatan antara kita dengan mereka. Semua orang punya sejarah dan kadang sejarah itu harus dibiarkan berlalu.. hahahahaha

      Makasih sudah berbagi nostalgia Lia disini.. senang membacanya Kakak Peri Pemimpi.. 😛

      3. Tutup Buku : iya lah, harus begitu. Baper mah hanya bawa kerusakan Li.. yang kita sukai itu kan dia yang dulu, bukan yang sekarang.

      Reply
  4. Mas Anton, aku baru mampir lagi kesini dan membaca ini. Ahh kisah Mas Anton ini seperti di novel-novel teenlit, lalu di paragraf-paragraf akhir itu masuk ke bagian bab terakhir novelnya, karena ceritanya udah selesai xD

    Duh, memang benar sih kisah yang udah lalu (apalagi tentang percintaan) itu harus dikelola dengan bijaksana, apalagi sekarang sudah ada yang ‘tidak tergantikan’ lagi. Yang penting semua yang sudah berlalu itu bisa dijadikan pelajaran ya, plus cerita yang bisa ditertawakan sekarang hahaha

    Reply
    • Alfiya….

      Saya juga pernah muda lohh… wakakakaka.. cuma tidak dijadikan novel saja. Kalau dijadikan novel, ntar Dilan sama Milea nggak laku.. kalah seru.. wakakakak #PD

      Yup.. yang kita sukai itu DIA di masa lalu, bukan DIA di masa sekarang. Jadi, ya jangan dikait kaitkan… Biarkan saja menjadi sebuah cerita kenangan manis yang akan bikin kita senyum dan tertawa di masa sekarang. Jangan dibawa masa lalu ke masa kini, hasilnya biasanya rusak…hahahaha

      Makasih datang ke sini yah Fiya..

      Reply

Leave a Comment