Bahagia itu Sederhana

Kata orang, “Bahagia itu sederhana”. Kenyataannya, memang “sederhana”.

Sekitar 10 harian yang lalu, si Kribo cilik, yang dulu suka nemplok di punggung dan kemana-mana maunya digendong bapak dan ibunya, memberikan laporan. Jadwal sidang tugas akhirnya sudah keluar, yaitu tanggal 26 Januari 2024.

Sejak hari itu, meski tidak diperlihatkan, bapak dan ibunya, walau berusaha untuk tenang, merasakan sesuatu yang mungkin sama dengan puluhan tahun yang lalu, masa dimana ketika rajutan tali kasih antar keduanya baru dimulai.

Bisa juga masa ketika keduanya menanti kelahiran buah hati mereka, yang harus melalui operasi Cesar, karena tekanan darah sang ibu meninggi mendadak.

Deg-degan.

Tegang.

Meskipun, kali ini bukan mereka tokoh utamanya, tetap saja, rasa itu hadir di dalam hati keduanya.

Perasaan itu semakin lama semakin tidak keruan, menjelang kemarin, sehari sebelum waktunya si Kribo menjalani sidang tugas akhirnya. Dan, bertambah tidak keruan, sampai seperti menonton film horor di pagi dan siang hari ini.

Rasanya ingin ikut masuk ruang sidang untuk menemani.

Namun, karena jarak, akhirnya, semua rasa itu diputuskan untuk diubah menjadi sekedar doa. Doa dari dua orangtua, yang melihat anaknya sedang menghadapi “tantangan” untuk menuju tahap berikutnya dalam kehidupannya.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan kedua orang tua itu, selain berharap yang terbaik untuk putra semata wayangnya itu.

Sampai akhirnya, sebuah pesan via WA bertuliskan, “Baru beres. Sudah lulus ya! Tugas selesai” masuk.

Dua foto dari si Kribo yang semakin “badung” dan keras kepalanya sama seperti bapaknya menyusul kemudian. Ia memakai jas hitam dan setelan resmi, bukan pakaian seenak udelnya yang biasa dipakai bahkan saat kuliah.

Hanya beberapa patah kata dan dua foto biasa saja, tetapi menghadirkan sebuah perasaan lain dalam hati bapak ibunya. Rasa bahagia yang tidak terkira.

Berbagai kepusingan yang menyertai perjalanan si Kribo belajar di Kota Kembang Bandung, seperti menghilang entah kemana. Yang tersisa hanya rasa bahagia yang sampai saat ini pun seperti tidak mau pergi dari hati.

Semua menjadi tidak terlihat rumit. Semua menjadi terlihat sederhana.

Pemikiran tentang masa depan yang tidak jelas dan pasti, dan sering menakutkan pun, untuk saat ini seperti tahu diri dan tidak nongol. Rupanya “dia” tahu bukan saatnya untuk muncul dan mengganggu dua orangtua yang sedang menikmati kebahagiaan.

Masa depan tahu bahwa ada saatnya dia akan dipikirkan kembali, tetapi bukan hari ini.

Mungkin karena itulah, orang mengatakan bahwa bahagia itu sederhana. Bukan karena benar-benar sederhana, tetapi ketika sang bahagia datang, maka segala sesuatu menjadi terlihat tidak ruwet, setidaknya untuk sesaat, sehari dua, atau sebulan.

Dunia terlihat menjadi begitu menyenangkan.

(Bogor, 26 Januari 2024 – Bapak yang sedang begitu bahagia sampai tidak peduli dengan sistem ngeblog yang ditetapkan dan tidak peduli kepada berbagai teori menulis)

Leave a Comment