Mengeluh

Mengeluh.

Semua orang pasti pernah melakukan kegiatan yang satu ini. Seberapapun kuatnya seseorang atau pendiamnya dia, pasti pernah sambat (mengeluh) tentang sesuatu.

Jenis yang dikeluhkan banyak sekali dan tidak bisa dirinci. Yang jelas sesuatu yang membuat hati si pengeluh merasa tidak enak, resah, getir atau pahit. Tidak ada yang manis. Keluhan itu khusus buat sesuatu yang tidak enak, kalau istilah buat yang manis-manis, namanya bukan keluhan.

Semua orang. Mau dia terlihat kuat di depan umum, dia bisu dan tidak bisa mengeluarkan suara sekalipun, pasti pernah mengeluh.

Saya juga.

Padahal, saya sejak dulu paling malas mengeluh, apalagi semenjak beranjak dewasa. Tidak ada masalah yang terpecahkan dengan sekedar melonggarkan hati dari “beban”.

Semakin tua, semakin jarang saya mengeluarkan keluhan. Terlalu sadar, apapun yang dialami adalah sebuah resiko hidup, kodrat yang tidak bisa terhindarkan.

Bukan berarti benar-benar berhenti mengeluh, tetapi frekuensinya bisa dihitung dengan jari satu tangan dalam setahun.

Biarpun ada yang bilang mengeluh berguna, tapi saya menolak menelan perkataan itu. Kalau kamu punya masalah, hadapi, temukan solusi, dan nda usah mengeluh.

Bikin polusi udara dan sekaligus menebarkan aura negatif saja.

Meski begitu, saya sadar, “sesekali” manusia harus mengeluh demi membuktikan dirinya masih hidup. Percayalah kalau sudah mati barulah manusia tidak mengeluh sama sekali.

Sesedikit mungkin.

Inginnya mencapai angka 0 keluhan, tapi karena tidak mungkin, 2-3 kali setahun boleh lah.

Tapi…

Entah kenapa, tidak di lingkungan rumah, di kantor, kadang orang tidak dikenal, orang kok yah suka sekali mengeluh kepada saya.

Mungkin sekali di jidat saya tertulis Departemen “SokSial”. Jadi, kalau orang melihat muka saya, tanggul “keluhan” mereka jebol dan semuanya ditumpahkan saat melihat muka saya.

Tidak teman sekantor, tidak saudara, sampai kadang orang tak dikenal di kereta pun pernah ada yang berlinang airmata saat mengeluh kepada saya.

Entahlah, kayaknya ada sesuatu di muka saya yang memicu tombol “mengeluh”.

Seperti yang selalu dilakukan seorang pengojek di depan kantor.

Usianya sudah berumur. Mungkin seumuran saya, mungkin lebih tua sedikit.

Entah sejak kapan mulainya, dia terbiasa menghampiri saya kalau saya sedang beristirahat di depan gedung melihat orang lalu lalang. Mengajak salaman, mengajak bicara.

Pertama-tama sih OK-OK saja karena saya tidak menolak berteman dengan siapapun. Mau tukang sapu jalanan, orang kaya, yang manapun bukan sebuah masalah.

Cuma, menyebalkannya, lama kelamaan, omongannya seperti kaset rusak.

Keluhan terusss…!

Keluhan bahwa ia sejak pagi belum mendapatkan penumpang. Keluhan tidak punya uang sedangkan istri di rumah butuh uang. Keluhan dia berangkat pagi dari Citayam ke Gondangdia untuk mencari nafkah.

Keluhan ini, keluhan itu.

Ujungnya, dia mulai berani minta uang katanya sudah tidak punya uang untuk beli bensin. No problem, saya beri, toh tidak ada salahnya berbagi sedikit rejeki yang saya punya.

Tetapi, kehadirannya semakin lama semakin membuat tidak nyaman. Semakin lama semakin terasa menyebalkan.

Saya tidak bisa lagi bebas menikmati waktu senggang. Tidak bisa lagi sedikit lepas dari tekanan pekerjaan. Tidak ada lagi waktu santai sekedar berbincang dengan pak satpam atau pegawai lain di gedung tersebut.

Begitu saya terlihat di depan gedung, ia menghampiri dan kemudian seperti membaiki saya. Kemudian, berceloteh tentang segala kesusahannya.

Saya tidak bisa lagi menikmati saat sedikit bebas.

Tapi, yang paling menyebalkan itu adalah karena saya pun menjadi seorang pengeluh. Buktinya tulisan ini lahir.

Padahal, saya bisa saja mengatakan dengan jelas, “Pak, semua orang juga sedang susah di masa pandemi pak. Ngeluh juga tidak ada gunanya“. Mungkin, seharusnya saya juga bisa secara jelas bilang kepadanya, ” Yah, kalau tidak ada penumpang di sini, cari tempat mangkal yang lain dong. Kreatif dikit nape!“.

Pingin rasanya bilang, “Ya sudah. Bapak nggak usah maksa berangkat dari Citayam ke sini. Sayang bensin, mendingan dipakai untuk beli beras“.

Banyak sekali kata-kata yang secara teori saya bisa katakan untuk menyelesaikan masalah ini. Saya bisa menghentikannya terus mendekati saya dan membuat saya tidak nyaman.

Sayangnya, saya tahu kalau kalimat-kalimat itu terlontar, dia pasti akan merasa sakit. Segila-gilanya saya, tetap saja saya tidak diajarkan untuk “menyakiti” orang tanpa sebab kecil seperti itu.

Akhirnya, biasanya saya menyudahi pertemuan dengannya secepat cepatnya. Begitu dia muncul mengajak bicara, satu dua menit kemudian saya akan pamit dan kembali ke ruangan.

Lebih baik diam di dalam ruangan saja daripada mendengar ocehannya tentang kerasnya kehidupan. Tidak ada guna juga berbicara panjang lebar menjelaskan supaya dia lebih kreatif dan memiliki semangat juang.

Seorang pengeluh tidak akan punya semua itu. Seorang yang terbiasa memandang dunia kejam dan tidak adil pada dirinya sulit diperbaiki. Ia akan terlalu sibuk mengasihani dirinya sendiri dan tidak peduli pada orang lain.

Buang waktu dan energi untuk mencoba mengubahnya. Kalau ia masih muda, saya mungkin akan mencoba, tetapi dalam usianya? Yah, lebih mudah memecah batu daripada mencoba mengubah karakternya.

Mungkin yang harus saya lakukan adalah agar tidak tertular virus mengasihani diri yang ditebarkannya.

Saya tidak mau jadi pengeluh berkelanjutan.

Jadi, saya akan pakai jatah saya untuk mengeluh dalam tulisan ini. Setelah itu saya akan lupakan dan besok saya akan cari tempat baru untuk menikmati waktu luang yang tidak banyak itu.

Tanpa kehadiran si pengeluh.

10 thoughts on “Mengeluh”

  1. Mengeluh….. Hal yang manusiawi, Karena setiap orang pasti merasakan hal seperti itu. Meski kebanyakan mengeluh juga tidak bagus.😊😊

    Sayapun sering mengeluh bahkan sehari bisa dua kali..🀣 🀣 Tetapi kalau sudah dirumah dan ngeluh saya selain dirumah yaa dimedsos paling.🀣 🀣 🀣

    Kalau diluar rumah Alhamdullilah saya hampir tidak pernah. Memang sangat tidak saya sukai bila mengeluh diluar rumah. Justru malah kebalikannnya jika diluaran rumah saya malah jadi bulan-bulanan untuk tempat orang mengeluh.πŸ€¦β€β™€οΈπŸ€¦β€β™€οΈ

    Sebagai contoh Supplier saya minggu lalu juga mengeluh dari barang naik, Pusing ngurus keluarga, Karyawan dan bla2 lainnya. Kemarin juga sewaktu ngantar ibu kontrol kedokter nggak angin nggak hujan ada seorang anak muda yang mengeluh bahwa dia bosan dengan pekerjaannya yang katanya membuat ia sakit dan hal2 lainnya.

    Dan saya pribadi menyikapi hal itu sederhana saja jika waktu cukup akan saya bantu kasih solusi, Meski sebagai manusia sayapun masih banyak kekurangan. 😊😊 Jika waktu tak cukup lebih baik saya jadi pendengar saja dan berlalu dengan alasan yang kuat.

    Yaa intinya hal wajar juga jika orang mengeluh..Tetapi akan lebih baik carilah sebab musabab yang kita keluhkan, Ketimbang diam meratapinya.😊

    Tadi juga saya niatnya ingin menulis diblog, Karena pulang malam jadi segan dan malah memilih baca blognya si Anton.🀣 🀣

    Ngeluh juga nggak itu kong..🀣 🀣 🀣 🀣 🀣 πŸƒπŸƒπŸƒπŸ’¨

    Reply
    • Berarti dikau pendengar yang baik. kata bu guru Nisa begitu dan saya sepakat. Juga berarti dikau termasuk kalangan SOKSIAL.. hahahaha

      Sama Kang.. saya lebih suka berbicara dengan si Yayang tukar pikiran daripada harus mengeluh pada orang diluar. Hidup itu sudah “berat” dan akan terasa berat sekali kalau kita membuat berat hati kita.

      Reply
  2. Berarti jatah mengeluh Kak Anton tinggal 1-2x lagi. Mohon dipergunakan sebijak mungkin 🀣
    Semoga Kak Anton bisa menemukan tempat lainnya yang nyaman untuk bersantai.
    Aku jadi ingat kisah seseorang yang kejadiannya mirip dengan Kak Anton. Persis sama, sering didatangi seseorang yang suka mengeluh, sampai akhirnya beliau cenderung ingin menghindar setiap lihat orang ini datang untuk makan di daerah dekat rumah beliau. Kok bisa samaan gini nasibnya πŸ˜‚

    Reply
    • Yah, mudah-mudahan nda banyak orang yang seneng ngeluh di dekat kantor yah. Kalau banyak, aku bakalan kehabisan tempat ngadem…

      Iya lah capek juga ngedengerin keluhan Lia. Kita sendiri kan bukan tanpa masalah, dan punya tantangan setiap harinya. Kalau ditambahi dengeran keluhan terus ya cuaapeekk.. wkwkw

      Pasti ada yang sama Li.. di manapun banyak orang yang seperti itu.. yah, nasib..

      Reply
  3. ntar si bapaknya baca tulisan ini piye pak hihihi

    gawat…gawat..#si mbul minta disleding hahhahah

    ah…mungkin aura bapak ada ‘wise wisenya kalik’ jadi bikin orang merasa nyaman untuk syurhat….walau ga memungkiri ditebengi curhatan orang (apalagi yang selintas lalu ga kenal kenal banget banyak betenya)

    betul ugha ya…tulisan ini terbit juga karena mengeluhkan si pengeluh itu sendiri, walau kalau modelannya pak anton aku yakin sih porsi ngeluhnya kalau diprosentasekan ga akan melebihi ambang batas 10%. Pasti di bawah itu…karena ya…makin ke sini untuk mengeluh rasanya kok ya…ah piye gitu…terlebih kalau sampai dibaca atau diketahui banyak orang rasanya kok ya heeeem banget gitu loh hihi..walau ya memang ngeluhpun aku sering juga sih, tapi makin ke sini makin ku rem rem saja…soalnya ga memecahkan masalah juga #kalau aku ya hahahhaha…mungkin bagi yang lain bisa sangat meringankan keempetan hati #duh bahas gw tulung yaaa hahahha

    Reply
    • Betul Mbul, saya pikir ngeluh itu nda menyelesaikan masalah. Cuma melepaskan tekanan di hati sejenak, tapi bukan tanpa resiko.

      Saya sebisa mungkin akan memilih diam dan lebih fokus pada menyelesaikan masalah dibandingkan harus berkeluh kesah. Capek tanpa hasil.

      Hahahaha… iyah Mbul, tulisan ini kan memang keluhan sebenernya. Semoga ga banyak tulisan seperti ini di sini.. lebih baik yang misuh misuh saja.. wkwkwkw

      Reply
  4. Kejelekan akhlak itu menular.

    Terlalu sering mendengar keluhan membuat yang mendengarnya pun jadi ikut mengeluh. Setidaknya di sini bisa menjadi sebuah artikel itu mengeluarkan dan melupakan keluhan tersebut.

    Orang suka cerita ke Pak Anton, berarti Pak Anton adalah pendengar yang baik. Selain itu, bisa dipercaya sehingga orang tidak ragu bercerita. Tapi jadi tempat sampah keluhan setiap hari, ogah juga ya, hehe.

    Padahal Pak Anton suka blak-blakan di blog. Tapi dalam kehidupan nyata, tetap ada filter kata apa yang patut diucapkan. Dari pada terpeleset lidah, lebih baik ditinggalkan.

    Reply
    • Hahaha iya lah Nisa. Tetap saja saya harus memperhitungkan saat berbicara di dunia nyata. Beda kondisi, beda penanganan.

      Hemm.. bisa dikata demikian, saya seorang pendengar yang baik, walau sering kalau sudah sebal bisa jadi pendengar yang menyebalkan karena sering saya merespon dengan sesuatu yang pasti bikin sebal yang mendengarnya.. wkwkwkwk

      Reply
  5. Aku jadi berpikir su’udzon. Itu mah si bapaknya saja yang dikasih hati minta jantung. Sengaja menjual kesusahan buat keuntungan pribadi. Wkwkwk. Aku jahat. Maafkan Kimi, ya Allah.

    Reply
    • Lah ada power ranger nongol di mari.. hahahahaha

      Yah entahlah saya pikir bukan sesuatu yang jahat sih ranger. saya sempat berpikir gitu juga, cuma yo wis lah…Ampuni saya juga Tuhan… hahaha

      Reply

Leave a Comment